NovelToon NovelToon
Kabur Ke Gunung Kawi Nyasar Ke Pelaminan Yang Di Dua Kan

Kabur Ke Gunung Kawi Nyasar Ke Pelaminan Yang Di Dua Kan

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Pernikahan Kilat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Sinar matahari pagi yang hangat perlahan menerobos masuk melalui celah gorden jendela kamar hotel VVIP, membelah keremangan dan menyinari ranjang luas tempat dua anak manusia itu terlelap.

Diaz perlahan membuka kelopak matanya. Efek obat perangsang jahanam semalam telah sepenuhnya hilang dari tubuhnya, menyisakan kondisi fisik yang jauh lebih bugar dan pulih.

Namun, begitu kesadarannya terkumpul sepenuhnya dan menyadari posisi dirinya yang tengah tertidur tanpa sekat di dalam dekapan hangat dada bidang Ganda, hati Diaz mendadak mencelos.

Rasanya campur aduk; ada rasa bersalah, canggung, dan rasa malu yang teramat mendalam atas kejadian malam maut tersebut.

Diaz perlahan menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya yang mendadak memerah.

Setetes air mata penyesalan luruh membasahi dada suaminya.

Mengingat bagaimana liarnya ia semalam akibat pengaruh zat kimia, Diaz berbisik dengan suara yang teramat lirih dan bergetar, "Ganda... maaf... maafkan aku. Karena aku, kamu terpaksa melanggar perjanjian kita..."

Mendengar bisikan dan tetesan air mata di dadanya, Ganda terbangun.

Ia membuka mata, menatap wajah sendu istri pertamanya dengan tatapan yang teramat teduh dan penuh pengertian.

Ganda mengukir senyum tipis, lalu tangan kokohnya bergerak lembut mengusap sisa air mata di pipi Diaz.

"Kamu tidak salah, Diaz. Kenapa harus minta maaf?" ucap Ganda, suaranya terdengar berat khas orang baru bangun tidur namun sarat akan ketulusan.

"Semalam aku melindungimu dari bahaya, dan apa yang kita lakukan semalam adalah mutlak halal di mata Allah. Tidak ada perjanjian yang dilanggar jika itu demi keselamatan nyawamu, Dek."

Ganda menjeda kalimatnya, menatap lekat-lekat sepasang mata Diaz yang masih berkaca-kaca.

"Jadi, setelah malam mendebarkan kemarin, apakah sekarang aku sudah boleh memeluk istri pertamaku dengan tenang?" tanya Ganda dengan nada sedikit menggoda untuk mencairkan ketegangan.

Mendengar pertanyaan itu, jantung Diaz berdegup dua kali lebih cepat.

Namun, rasa hangat dan ketulusan yang dialirkan Ganda perlahan meruntuhkan dinding pembatas di hatinya.

Diaz akhirnya menganggukkan kepala kecil dengan malu-malu.

Melihat respons itu, Ganda langsung menarik tubuh Diaz mendekat, mendekap erat tubuh istrinya ke dalam pelukan hangatnya.

Pelukan yang begitu protektif, menyalurkan rasa aman, kepemilikan, dan kedamaian yang belum pernah Diaz rasakan seumur hidupnya.

Di dalam dekapan itu, Diaz memejamkan mata, merasakan badai di jiwanya perlahan-lahan mereda.

Setelah beberapa menit menikmati momen kebersamaan yang intim itu, Ganda mengecup pucuk kepala Diaz dengan lembut sebelum perlahan mengendurkan pelukannya.

"Sudah siang, Dek. Ayo mandi dan bersihkan dirimu, lalu kita bersiap-siap untuk pulang ke rumah baru kita," pinta Ganda lembut, mengingatkan bahwa mereka harus segera kembali tanpa tahu bahwa badai fitnah baru telah menanti di teras rumah mereka.

Mobil Ganda melambat lalu berhenti di halaman rumah baru.

Begitu mesin dimatikan, Ganda merasakan atmosfer yang tidak biasa.

Di sana, mobil sedan tua milik Abah Kiai sudah terparkir rapi.

Di teras rumah, sosok Abah yang berwibawa, Umi Maryam yang menatap tajam, dan Laura yang berdiri dengan seringai kemenangan sudah menunggu. Aura ketegangan menyelimuti pekarangan.

Diaz turun dari mobil dengan perasaan tenang, namun langkahnya terhenti saat melihat wajah

Umi Maryam yang merah padam karena murka.

Tanpa memberi kesempatan bagi Diaz atau Ganda untuk menyapa, Umi Maryam merangsek maju dengan kecepatan yang tak terduga.

Plakkk!

Suara tamparan keras itu menggema di halaman rumah, membuat pipi Diaz seketika berpaling ke samping dengan bekas kemerahan yang mencolok.

"Perempuan murahan! Tidak tahu diri!" teriak Umi Maryam histeris, napasnya memburu penuh kebencian.

"Berani-beraninya kamu membawa selingkuhan ke dalam rumah pemberian Abah! Kamu kotori rumah ini dengan zina! Pantas saja anak saya selalu kamu tahan-tahan, ternyata kamu sibuk melayani lelaki lain di belakangnya!"

Diaz mematung, menahan perih di pipinya dengan kepala tertunduk, sementara Laura di belakang Umi Maryam tampak membuang muka, mencoba menyembunyikan senyum liciknya.

Ganda yang melihat kejadian itu langsung melompat keluar dari mobil.

Wajahnya yang semula tenang berubah menjadi pias karena syok, lalu dalam hitungan detik berubah menjadi kemarahan yang meluap.

Ia langsung pasang badan, menahan tubuh ibunya agar tidak lagi mendekati Diaz.

"Selingkuhan apa, Umi?! Siapa yang berselingkuh?!" bentak Ganda dengan nada tinggi, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan.

"Jangan asal bicara, Umi! Umi tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi semalam!"

Abah Kiai yang sejak tadi berdiri mematung dengan tatapan dingin, akhirnya melangkah maju.

Suasana semakin mencekam saat beliau menatap putranya dan Diaz dengan sorot mata yang sulit diartikan.

"Ganda, cukup. Kamu bicara apa? Semalam kamu tidak pulang ke rumah, dan menurut laporan yang kami terima, seorang pria asing terlihat berlari dari rumah ini dalam keadaan babak belur. Apa itu yang kamu sebut tidak tahu apa-apa?"

Ganda terdiam sejenak, tatapannya beralih dari Abah ke Laura yang terlihat begitu tenang namun penuh tipu daya.

Ia menyadari sepenuhnya bahwa fitnah ini sudah dirancang dengan sangat rapi.

Ganda berbalik menatap Laura dengan tatapan kilat amarah yang begitu mengerikan, seolah-olah siap mencabik-cabik siapa saja yang menghalangi jalannya.

Detik itu juga, Ganda tahu betul siapa dalang utama di balik kepanikan dan sumpah serapah Umi Maryam pagi ini.

Tanpa membuang waktu, Ganda langsung membongkar kejadian asli malam itu di depan Abah dan Umi dengan suara menggelegar.

"Pria semalam itu Bramasta, Umi! Mantan pacar sekaligus bajingan yang dulu menghancurkan hidup Diaz! Dia menyusup ke sini secara senyap untuk memerkosa dan menculik Diaz saat saya keluar! Bukan selingkuhan!"

Ganda kemudian mengarahkan telunjuknya tepat di depan wajah Laura yang langsung memucat.

"Kamu, Laura! Sampai kapan kamu mau terus memfitnah dan mencari celah untuk menjatuhkan Diaz?! Kamu tahu ada orang asing terluka keluar dari rumah, tapi bukannya memeriksa keadaan madumu, kamu malah memutarbalikkan fakta demi memuaskan nafsu egomu!"

Laura seketika panik. Air mata kepalsuannya kembali runtuh, ia menangis histeris sembari menggelengkan kepala, mencoba menyangkal tuduhan suaminya di depan mertua.

"Enggak, Mas! Demi Allah aku enggak berniat memfitnah! Aku cuma mengatakan apa yang aku lihat semalam! Aku takut, Mas. Aku tidak tahu kalau itu orang jahat!" bela Laura dengan suara gemetar, mencoba kembali berakting sebagai korban.

Melihat sandiwara murahan yang berulang, batas kesabaran Diaz habis total.

Tamparan di pipinya tadi seolah menjadi pemantik yang membakar habis sisa-sisa ketahanannya.

Sisi gelapnya sebagai wanita kota yang keras, mandiri, dan tidak bisa ditindas begitu saja, akhirnya keluar sepenuhnya.

Ia tidak akan lagi diam dan mengalah seperti saat berada di bawah kungkungan santri di pondok pesantren.

Diaz melangkah maju. Tatapan matanya teramat dingin, tajam, dan menghunjam, membuat Laura yang sedang menangis mendadak menghentikan suaranya karena ketakutan.

Plakkk!

Satu tamparan yang jauh lebih keras dan bertenaga mendarat telak di pipi mulus Laura hingga wajah istri kedua itu terhempas ke samping.

"Jan**k kon!!" umpat Diaz kasar, meluapkan seluruh dialek asalnya dengan nada yang menusuk.

Laura mematung, memegangi pipinya yang terasa panas dan berdenyut hebat.

Ia menatap Diaz dengan mata terbelalak syok, tidak menyangka wanita kota itu berani melayangkan fisik di depan Abah Kiai.

Diaz tidak memberi celah bagi Laura untuk merengek.

Ia maju satu langkah lagi, mengintimidasi Laura dengan telunjuknya sendiri.

"Kalian semua selalu menganggapku kotor, tidak beradab, dan tidak punya tata krama! Tapi lihat dirimu sendiri, Laura! Jilbabmu lebar, pakaianmu syar'i, tapi hatimu lebih busuk dari sampah kota! Kamu menggunakan air mata palsumu yang menjijikkan itu hanya untuk mengemis perhatian dari Ganda!"

Diaz kemudian membalikkan badannya, menatap lurus ke arah Umi Maryam yang juga ternganga syok.

"Dan Umi, berpikiran lah jernih sedikit sebagai orang tua! Anakmu hampir kehilangan istrinya semalam karena dikerjai bajingan, tapi kalian di sini justru sibuk menghakimi korbannya tanpa mencari tahu kebenaran!" cecar Diaz, napasnya memburu, suaranya lantang menembus halaman rumah.

"Di mana otak dan hati nurani kalian yang katanya ahli agama, hah?!"

Suasana seketika membeku bak es. Angin pagi seolah berhenti berembus.

Seisi rumah—termasuk Abah Kiai yang biasanya tenang—terdiam seribu bahasa, syok berat mendengar keberanian luar biasa dan kata-kata pedas Diaz yang menelanjangi kemunafikan serta ego tersembunyi keluarga ndalem pagi itu.

1
merry yuliana
hmmmmm jangan bolak balik kak
sri hastuti
akhirnya ketemu, ayo diaz, pelan2 hilangkan trauma mu, ganda mencintaimu sungguh2 itu, ayo bangkit lg diaz, raih kebahagiaanmu kembali, umi yg kyk iblis sdh pergi, dan madumu jg sdh dicerai 🙏
sri hastuti
waduuh diaz, kenapa km buru2 keluar rumah sakit, ayo km hrs kuat hadapu semua, ganda sdh mencintaimu , 😭😭 ayo thor pertemukan kembali dng ganda ,kasihan diaz ,msh trauma dng umi yg kyk iblis kelakuannya 😡😡

😡😡😡😡😡😡😡😡
Elia Rosa
syukurin buat kalian berdua.. ibu mertua Dan menantu durjana🤭
sri hastuti
lanjuuttt thor sdh gak sabar topeng istri pemilik pondok yg spt iblis dibuka dan istri durhaka yg dengki di libas 😡😡😡
Elia Rosa
tambah seru NIH.. di tunggu kelanjutannya Thor 💪👍
sri hastuti
istri pemilik pondok kyk iblis ya, kelakuan nya , hiiihhh ngeri juga ,penuh tipu muslihat dan kejam , 😡😡😡😡
sri hastuti
ayo ganda kmnhrs tegas ,meski itu umi mu yg kelakuannya spt iblis, kyai jg hrs tegakkan keadilan ,meski itu istrimu ,yg sdh kyk iblis
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
sri hastuti
kelakuan umi kok kyk iblis 😡😡😡
Ana Yasrotin
Serius tanya..memang dipondok ada kelakuan se orang yg disebut umi dan dihormati py watak yg tdk manusiawi begitu 🤔
Ana Yasrotin
Terus terang thor dr awal novel saya br koment ini..saya bukan tipe orang yg suka dg novel genre poligami..tp sejauh ini saya ikuti alur cerita krn aktor pria tegas..semoga akhirx Ganda bisa memilih salah satu antara Diaz dan Laura krn mmg si Laura tdk pantas bersanding dg Ganda..mdhn diakhir cerita bs memuaskan pembaca 🙏
sri hastuti
bagus diaz, buka semua kedok kemunafikan mereka, terutama umi yg jd orang tua gak tau diri, cm ego saja yg dibesar besarkan, dan umi yg gak jd contoh baik 👍👍😡😡😡
sri hastuti
ahh lama2 pengen tak huhhh ,umi sm menantu laknat semua , thor , bikin jengkel aja, orang kok gak punya belas kasih, apalagi katanya umi , tp kelakuan e kyk 😡😡😡🤭
merry yuliana
💪💪💪😍👍🙏
Asra
Cerita kamu bagus, Kak. Bintang 5 nih, kayak kurang hhuhu, kamu berhasil bikin orang (terutama aku) bisa mendalami ceritamu, dibikin kesel, dibikin sedih, dan seterusnya^^✨

Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
sri hastuti
thor, aku kok jd jengkel dan mual dng kelakuan umi , gitu kok istri pemilik pondok to ??, trus anak didik e spt apa itu, ???? arogan ,apalagi laura itu. wanita yg bikin jengkel 😡😡😡
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
merry yuliana
ganda pdhl peluk obat termanjur buat diaz...ga salah sebuah pelukan utk hati yang patah...semangat crazy upnya kak...please crazy up banyakkan dikit boleh ya😍💪💪💪🙏👍
sri hastuti
bagus Abah,hrs tegas , umi nya juga ternyata spt itu, bikin 😡😡
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
sri hastuti
blm tentu ganda bisa adil dng 2 istri, kasihan biar lepas dari Ganda, kecuali Ganda bisa melindungi dng baik, kl tdk pendreritaannya semakin menjadi nanti 🙏🙏
sri hastuti
kasihan diaz thor, blm nanti menghadapi nyai nya ganda dan laura yg sdh punya rencana jahat, biarkan diaz bahagia thor, 🙏🙏🙏
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!