Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.
Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.
Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.
Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.
Seorang penegak hukum menikahi penjahat?
Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Takdir yang Tak Terduga
Bryan berjalan menuju sofa, lalu menuang wine dalam sebuah gelas kristal. Setelah itu, ia menyandarkan tubuhnya. Tatapannya kembali menelanjangi tubuh Saras yang bahkan lekukannya sudah terlihat jelas.
"Kemari," katanya sambil menepuk pahanya sendiri.
Saras menelan ludahnya. Perlahan ia mendekat dan berhenti di depan Bryan.
"Akh!" pekik Saras.
Tiba-tiba Bryan menarik tangannya. Dalam sekali sentak, pria itu membuat Saras duduk di pangkuannya. Berhadapan.
Saras menelan ludah kasar. Tangannya yang bertumpu di pundak Bryan sedikit mendorongnya. Tapi Bryan menahan pinggangnya.
"Minum ini." Bryan menyodorkan sebutir pil.
"Apa ini?" tanya Saras penuh selidik.
Bryan mendekatkan bibirnya di telinganya Saras. "Penyemangat." Ia menggigit cuping Saras membuat gadis itu tersentak. "Aku suka yang liar."
Saras terdiam. "Jangan-jangan... obat perang sang?"
Bryan berdecak karena Saras tak kunjung mengambil obat itu.
"Emph..."
Saras mencoba memalingkan wajahnya saat Bryan memaksa memasukkan obat itu ke mulutnya.
"Apa kau sudah lupa?" Bryan mencengkram pipi Saras. "Jika kau membuatku tak senang, investasi itu--"
"Aku tahu," potong Saras berusaha menyingkirkan tangan Bryan dari wajahnya.
"Kalau begitu, menurutlah." Bryan melepaskan cengkeramannya. "Lepaskan bajuku."
Dengan perasaan benci, dan dendam yang ditahan, Saras melepaskan jas yang dikenakan Bryan, lalu kemejanya. Akhirnya tubuh pria itu terlihat. Dadanya memang bidang, perutnya rata dengan otot-otot yang tersusun sempurna.
"Tubuhnya lumayan bagus," batin Saras sebenarnya enggan mengakui. Ia melirik wajah pria itu. "Tapi wajahnya sama sekali bukan tipeku. Terlalu standar."
Namun sesaat kemudian kepalanya terasa pusing, suhu tubuhnya perlahan meningkat. Pandangannya mulai berputar.
"Kau--"
Kalimat Saras tak selesai kala Bryan sudah melahap bibirnya, menciumnya penuh hasrat. Jemari pria itu bergerak menyusuri kulit Saras.
Saras yang terpengaruh obat pada akhirnya membalas ciuman pria itu. Mereka bergumul di atas sofa, penuh nafsu yang menggebu.
Saras benar-benar seperti kucing liar yang diinginkan Bryan. Bergerak tak tentu arah, bahkan mencakar punggung Bryan kala pria itu menghentakkan pinggulnya menyatukan tubuh mereka.
Malam itu, Saras terjebak dalam permainannya sendiri. Karmanya begitu cepat datang. Dan ia melakukannya demi sebuah investasi, dan posisi."
***
Sinar matahari menembus dinding kaca melalui celah gorden yang sedikit terbuka, lalu jatuh tepat di wajah Chantika.
Kelopak matanya bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka. Kepalanya masih terasa berat, tetapi tubuhnya justru diselimuti kehangatan yang asing.
"Di mana aku...?" gumamnya lirih. Suaranya serak, nyaris hanya terdengar sebagai bisikan.
Ia berusaha mengingat apa yang telah terjadi.
Hotel... Bryan... Wine... Perkelahian... Lalu... Ia menabrak seorang pria.
Puzzle demi puzzle di dalam kepalanya mulai tersusun.
Deg!
Jantungnya berdegup kencang. Matanya langsung terbuka lebar. Refleks ia berusaha bangun, tetapi sesuatu menahan tubuhnya.
Pandangannya perlahan beralih ke lengan kekar yang melingkar erat di pinggangnya.
Saat itulah ia menyadari sesuatu.
"Aakh!"
Chantika memekik pelan saat menyadari tubuhnya tanpa sehelai benang pun, sementara seorang pria memeluknya dari belakang.
"Jangan berteriak...."
Suara berat dan serak itu terdengar tepat di dekat telinganya.
Chantika langsung menoleh.
Pria itu masih memejamkan mata. Namun, pelukannya belum juga terlepas. Beberapa detik kemudian, kelopak matanya perlahan terbuka.
Tatapan mereka pun bertemu untuk pertama kalinya dalam keadaan yang sama-sama tidak pernah mereka bayangkan.
"Kamu...."
Chantika tiba-tiba kehilangan kata-kata.
Pria di hadapannya terlalu tampan hingga membuatnya terpaku. Garis wajahnya tegas, hidungnya mancung, dan sorot matanya begitu tajam meski baru saja bangun tidur.
"Bagaimana bisa ada pria setampan ini?" batinnya.
"Kenapa?" tanya Enzo.
Chantika baru tersadar. Wajahnya langsung memanas.
"Tolong... lepaskan aku," ucapnya pelan sambil memalingkan wajah.
"Lepaskan?" ulang Enzo. "Setelah semalam kau menerobos masuk ke kamarku, menggodaku, lalu sekarang ingin kabur begitu saja?"
"Aku...."
Ingatan Chantika kembali berputar. Ia yang memasuki kamar ini. Ia yang lebih dulu memeluk pria itu. Bahkan...
Ia yang lebih dulu menciumnya.
"Aku diracuni," katanya cepat. "Seseorang mencampurkan obat ke dalam minumanku."
"Itu bukan alasan." Enzo menatapnya datar. "Karena apa yang terjadi semalam, kau harus bertanggung jawab."
"Apa?!"
Chantika langsung menoleh dengan mata membulat.
"Jelas-jelas aku yang dirugikan. Kenapa malah dia yang minta pertanggungjawaban? Apa dia gak salah bicara?" dumel Chantika dalam hati.
"Kau harus bertanggung jawab," ulang Enzo tenang. "Kau telah merampas keperjakaanku."
Chantika menarik napas panjang. "Bagaimana aku harus bertanggung jawab?"
"Tentu saja..." Sudut bibir Enzo perlahan terangkat. "...menikah denganku."
"Hah?!"
"Kenapa?" tanya Enzo. "Gak mau?"
"Aku..." Chantika mengembuskan napas pelan. "Bagaimana aku harus menjelaskan kepada keluargaku kalau tiba-tiba menikah dengan orang yang baru kukenal?"
Enzo mengangkat bahu. "Tinggal bilang saja kecelakaan."
"Kamu..." Chantika menatapnya tak percaya. "Bagaimana bisa menganggap pernikahan seperti kecelakaan?"
"Memang kenyataannya begitu, bukan?"
"Memang... tapi ini memalukan."
"Lalu maumu bagaimana?"
"Kita bicarakan nanti. Sekarang lepaskan aku dulu."
"Nggak bisa." Enzo akhirnya bangkit duduk. "Masalah ini harus ada pertanggungjawabannya. Hari ini juga kita ke catatan sipil."
"Aku gak bisa."
"Kenapa?"
"Aku harus mengajukan izin kawin kepada atasan. Kalau permohonannya disetujui, barulah aku boleh menikah."
Enzo terdiam beberapa detik. "Kamu... abdi negara?"
Chantika mengangguk kecil. "Aku seorang polwan."
Enzo justru tertawa pelan. Bukan tawa mengejek, melainkan tawa yang dipenuhi rasa tidak percaya.
"Menarik."
Ia menggeleng kecil.
"Dari sekian banyak wanita di dunia, aku justru harus bertanggung jawab kepada seorang penegak hukum."
"Kenapa memangnya?"
"Gak ada apa-apa." Enzo kembali menatapnya. "Ajukan saja izin itu. Aku ingin menikah denganmu secepatnya."
"Kamu yakin?"
"Yakin."
"Kita bahkan baru bertemu. Aku juga belum tahu namamu."
Enzo mengulurkan tangan. "Enzo Arkan Pradana."
Chantika menyambut uluran tangan itu. "Chantika Putri Rahardja."
Enzo mengangguk pelan. Namun, beberapa detik kemudian, tatapannya berubah. Sorot matanya meneliti wajah Chantika, seolah sedang memastikan sesuatu.
"Kau masih perawan?"
Chantika langsung mengernyit. "Apa maksudmu?"
"Jawab saja. "Kau yakin masih perawan?"
"Tentu saja." Chantika menatapnya tak senang. "Jelas-jelas semalam kamu yang...."
Kalimat itu terhenti di bibirnya. Wajahnya seketika memerah.
Enzo masih menatapnya dalam diam. Tatapannya tajam, seolah ada sesuatu yang mengusik pikirannya.
"Aneh...."
"Apa yang aneh?" tanya Chantika.
Enzo mengerutkan dahi. Tatapannya berubah serius. "Kalau begitu... kenapa semalam keluar ASI?"
...🔸🔸🔸...
..."Kesalahan satu malam bisa menjadi awal penyesalan, atau justru awal dari takdir yang tak pernah dibayangkan."...
..."Ada pertemuan yang lahir dari kebetulan, tetapi mengubah seluruh jalan kehidupan."...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Chantika masih mempertimbangkan untuk menggunakan cincin pemberian Enzo. Menunggu saat dan tempat yang tepat. Jangan sampai keputusannya salah.
Enzo dari jarak jauh mengenali gerakan kecil ibu jari Chantika
Duuh Chantika disandra - badannya, lehernya disikep tangan kekar lawan, ditodong pistol tepat di pelipisnya.
Penyandera minta disiapkan kendaraan.
Penyandera menyeret tubuh Chantika mundur selangkah demi selangkah.
Duuuuh malah terjadi tembak menembak.
Rizal kena sasaran tembak. Bersyukur mengenakan rompi anti peluru, kalau tidak sudah terlentang tinggal nama. Tapi peluru kedua menyerempet bahu kirinya.
Kalau Chantika tidak tepat waktu menerobos hujan peluru untuk melindungi Rizal dari dua pria bersenjata, tamat sudah riwayatnya.
Tembakan Chantika tepat sasaran, salah satu pria bersenjata langsung roboh. Yang satunya lagi berlindung.
Kuat ya Chantika menyeret Rizal dengan satu tangan untuk di bawa ke balik kontainer.
Enzo masih membiarkan istri dan anggota Resmob berlari keluar dari kejaran lawan yang semakin bertambah dari arah belakang.
Belum saatnya Enzo turun.
Chantika dan tim sudah terdesak, sekarang saatnya anting dilepas dan dilempar ketengah kerumunan.
Gelombang suara berfrekuensi tinggi efeknya luar biasa untuk mengalihkan perhatian lawan.
Seluruh pria bersenjata jadi terlihat kacau.
Chantika tidak menyia-nyiakan kesempat yang ada. Ia memberikan perintah menyerang.
Chantika memberikan tembakan perlindungan. Menyuruh anggotanya keluar.
Duuuh Chantika kehabisan peluru lagi. Rizal juga pelurunya tinggal sedikit.
Chantika membagikan penyumbat telinga pada rekan-rekannya. Dipakai nanti kalau terdesak kali.
Duuuhhh IPTU Chantika sudah dikenali oleh pemimpin lawan.
Saatnya timnya memakai penyumbat telinga, setelah Chantika bilang - sekarang.
Chantika dan timnya sudah dikepung
Waduuuh - komandannya tidak melihat situasi yang dihadapi Chantika dan timnya. Kelamaan datangnya tim bantuan.
Enzo si The Ghost dan seluruh tim yang sudah siap menolong Chantika.
Tak ada pilihan keluar selain mundur ke dermaga.
Waduh anggota perempuan terkena serpihan peluru dikakinya. Chantika segera menarik rompi rekannya.
Lawan lebih dari dua puluh orang.
Lawan yang dipanggil Bos meremehkan polisi, melihat cuma satu tim yang datang.
Melarang anak buahnya menghabis Chantika dan timnya. Instruksinya tangkap hidup-hidup.
Menatap Chantika yang berada dibawah hujan peluru memimpin anggotanya mundur dengan tenang.
Titik berdiri Enzo jauh amat. Beberapa ratus meter dari Chantika berada.
Jangan sampai tidak bisa memberikan perlindungan untuk Chantika.
Vito saja sangat khawatir dengan keselamatan Chantika.
Sepertinya yang buka pintu kontainer nomor tujuh belas anak buah Vito. Anak buah Vito jadi tahu isi kontainer minyak goreng.
Yang kena getahnya Chantika dan timnya ini.
Duuuh Chantika dan timnya dalam bahaya. Kepala Chantika hampir kena sasaran tembak.
Seruuuuu...ikut sport jantung membacanya
Enzo sendiri tahu lawan Chantika dan timnya bukan orang biasa.
Semoga saja Enzo tiba di kawasan pelabuhan belum terlambat.
Enzo pasti tahu apa resiko yang akan dihadapi Chantika serta timnya di sana.
Bagaimana bisa dengan tepat menyelesaikan laporan, kalau Saras sering meninggalkan kantor di jam kerja.
Kapok kau Saras. Tiga puluh menit belum ada di kantor, dianggap mengundurkan diri.
Akhirnya Saras mesti harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan laporan evaluasi proyek.
Jangan harap bisa mengetahui siapa Enzo.
Tanggung jawab kerjaan diabaikan. Keperluan pribadi kepo siapa Enzo diutanakan. Dasar Saras. Macam begini kok mau jadi manajer.
Tidak bisa menjawab cepat pertanyaan dari Papanya. Keperluan pribadi.
Weleeehhh Saras
Enzo menyuruh Marco yang turun menemui Saras. Dan mengatakan tidak mengenal Saras.
Saras sangat kesal terhadap Marco yang tidak mengenalnya.
Mau ketemu kakak ipar kok sulit ya Saras 😁. Dianggurin satu jam di ruang tunggu.
Bisa jadi tuh Enzo yang menghubungi Papa mertua.
Di depan meja resepsionis, Saras bilang mau bertemu Enzo. Belum ada janji. Dia bilang adik iparnya.
Marco yang sudah dihubungi resepsionis, memberi tahu Enzo.
Dokumen pengiriman menyebutkan muatan berupa mesin industri.
Anak buah Vito sudah memastikan isi kontainer minyak goreng.
Pemiliknya belum diketahui. Pengawalnya kelompok bersenjata.
Chantika memimpin tim surveillance.
The Ghost dan anak buahnya malam nanti juga akan menggagalkan penyelundupan minyak goreng.
Pertempuran nanti malam bakal seru.