NovelToon NovelToon
Transmigrasi Figuran

Transmigrasi Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Ana

Lia, seorang pembaca setia novel populer berjudul Cinta dan Bayang Kekuasaan, tiba-tiba terbangun dan mendapati dirinya telah bertransmigrasi masuk ke dalam tubuh seorang tokoh figuran yang nyaris tidak disebutkan namanya dalam cerita aslinya. Tokoh ini adalah putri satu-satunya dari keluarga Adhitama—kelompok mafia sekaligus konglomerat terkaya nomor dua di dunia.

Dalam alur cerita asli, tokoh ini hanya berfungsi sebagai alat pengikat alur semata. Ia dijodohkan dengan Arjuna Dirgantara, pewaris keluarga Dirgantara, kekuasaan nomor satu di dunia yang juga dikenal sebagai sang antagonis utama yang dingin, kejam, dan dijuluki “Malaikat Maut” di dunia bawah tanah. Takdir tokoh ini sangat tragis: ia akan dibunuh secara diam-diam tak lama setelah pertunangan, menjadi korban pertikaian antar keluarga dan rencana licik tokoh-tokoh utama.

Sekarang dengan ingatan sebagai pembaca novel, Lia menyadari bahaya besar yang mengancam nyawanya. Tujuannya hanya satu: membatalkan pertunangan ini sece

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12 figuran tunangan antagonis

Seminggu sebelum acara olahraga resmi dimulai, suasana di SMA Adiwangsa benar-benar terasa berbeda. Setiap sudut sekolah dipenuhi warna-warni spanduk, catan papan pengumuman, dan suara riuh siswa yang sibuk melatih diri atau menyiapkan perlengkapan. Lapangan utama sudah ditandai garis-garis pertandingan, tribun penonton mulai dipasang, dan udara pagi pun terasa lebih segar semangatnya.

Elena tiba lebih awal bersama Luna. Hari ini mereka membawa beberapa kotak peralatan untuk melengkapi meja panitia di sudut lapangan. Rambut Elena sedikit tergerai terkena angin, dan liontin bulan sabitnya terlihat berkilau samar saat bergerak.

“Wah, makin ramai saja ya,” kata Luna sambil meletakkan kotak di atas meja, napasnya sedikit terengah. “Tadi pagi sudah ada yang latihan lari, main bola, bahkan kelompok seni juga sudah mulai menghias panggung.”

Elena tersenyum sambil membuka daftar tugas. “Iya, semuanya antusias. Kita juga harus cepat menyelesaikan jadwal terakhir, nanti sore sudah mulai latihan pembukaan.”

Belum lama mereka duduk, sebuah mobil sport hitam berhenti rapi di tempat parkir dekat gerbang. Semua mata yang ada di sekitar langsung melirik ke arah sana—tak lain dan tak bukan adalah Damian. Ia turun dengan pakaian olahraga yang lebih santai, rambutnya sedikit basah terkena embun pagi, dan wajahnya terlihat lebih segar dibanding hari-hari sebelumnya.

“Datang lebih pagi juga,” sapa Damian sambil berjalan mendekat, matanya langsung tertuju pada Elena. “Ingin melihat apakah panitia bekerja dengan baik atau malah asyik mengobrol saja.”

“Wah, pengawas ketat datang,” goda Elena sambil menahan senyum. “Tenang saja, semuanya sudah teratur rapi.”

Damian tertawa kecil, lalu menyerahkan dua botol air dingin yang baru saja ia ambil dari mobil. “Ini untuk kalian. Pagi-pagi sudah beraktivitas, takutnya cepat lemas.”

Luna yang melihat interaksi itu langsung menyeringai nakal, lalu dengan cepat berpamitan, “Aku ke ruang perlengkapan dulu ya, cek jumlah bendera. Kalian berdua saja di sini sebentar!” Sebelum sempat dijawab, ia sudah melangkah cepat pergi.

 

Di Bawah Naungan Tenda: Obrolan Santai

Tinggal berdua saja, suasana terasa lebih tenang meski masih terdengar suara keramaian dari arah lapangan. Damian bersandar di tiang penyangga tenda, sementara Elena duduk di kursi sambil memeriksa daftar nama peserta.

“Kamu ikut cabang apa nanti?” tanya Elena tiba-tiba.

“Lari jarak pendek dan lempar lembing,” jawab Damian santai. “Sudah biasa sejak SMP, jadi tidak terlalu sulit. Kamu sendiri?”

“Cuma lari estafet dan ikut kelompok pembukaan saja,” jawab Elena sambil mengangkat bahu. “Tidak terlalu kuat untuk olahraga berat, tapi cukup bisa diandalkan kalau dibutuhkan.”

Damian menatapnya sebentar, lalu berkata dengan nada lembut, “Tidak masalah. Yang penting kamu senang dan tidak memaksakan diri. Lagipula, melihatmu berjalan saja sudah lebih menyenangkan daripada melihat orang lain berlari cepat.”

Pipi Elena langsung terasa hangat. Ia memalingkan wajah sedikit agar tidak terlihat tersipu, lalu membalas dengan nada setengah bercanda, “Wah, sejak kapan kamu jadi pandai bicara manis begini? Dulu saja kalau bicara seperti sedang memberi perintah.”

“Karena dulu aku belum tahu cara bicara yang benar pada orang yang penting,” jawab Damian jujur, tanpa ragu sedikit pun.

Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat detak jantung Elena berdegup lebih kencang. Ia menoleh lagi, dan melihat pandangan Damian yang tulus—tidak ada paksaan, tidak ada sandiwara, hanya perasaan yang mulai terungkap pelan-pelan.

“Terima kasih, Damian,” ucapnya pelan. “Rasanya setiap hari makin banyak hal baru yang aku pelajari dari kamu.”

“Begitu juga aku,” jawab Damian sambil tersenyum tipis. “Elena yang dulu diam dan takut, sekarang berani bicara, memimpin, dan bahkan menghadapi masalah besar. Kamu juga mengajarkanku bahwa kekuatan tidak harus selalu keras.”

 

Tanda-Tanda Aneh: Kejadian di Lapangan

Saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba terdengar suara gaduh dari arah lapangan sebelah. Beberapa siswa berlarian mendekat, wajahnya terlihat panik.

“Ada apa itu?” tanya Elena sambil berdiri.

Mereka berdua segera berjalan mendekati kerumunan. Di tengah lapangan, seutas tali pembatas yang seharusnya kuat justru terlepas dan terputus di tengah, membuat tiang penyangga papan informasi miring dan hampir jatuh. Untungnya tidak ada orang yang terluka, tapi kejadian itu cukup mengejutkan.

“Kemarin masih terpasang rapi, kok bisa putus begini?” gumam salah satu siswa yang bertugas memasangnya.

Damian berjongkok memeriksa ujung tali yang terputus. Matanya menyipit, lalu ia mengangkat salah satu ujungnya dan menunjuk ke arah Elena. “Lihat ini. Bukan putus karena beban atau usia tali. Ini terpotong dengan benda tajam, tapi dipotong sedemikian rupa agar terlihat seperti putus sendiri.”

Elena mengerutkan dahi. “Kamu yakin?”

“Pasti,” jawab Damian tegas. “Ujungnya rapi, bukan serabut seperti tali yang lepas sendiri. Ada yang sengaja melakukannya.”

Mendengar itu, hati Elena sedikit terasa berat. “Apakah ini ulah orang yang sama… Arjuna?”

“Bisa jadi,” jawab Damian sambil berdiri. “Ia ingin mengganggu persiapan, menimbulkan kekacauan, dan membuat semua orang waspada. Kalau acara ini berantakan, namanya klan kita akan tercoreng lagi.”

Tidak lama kemudian Arga datang menghampiri setelah mendengar kabar. Ia juga memeriksa keadaan, lalu mengangguk setuju dengan pendapat Damian.

“Aku juga melihat ada tanda aneh di pintu gudang peralatan tadi pagi,” kata Arga. “Gemboknya tergores seolah dipaksa dibuka, tapi akhirnya tidak berhasil masuk. Sepertinya dia baru mulai bergerak, menguji keamanan kita.”

“Kalau begitu kita harus lebih waspada,” ucap Elena tegas. “Jangan biarkan dia mengacaukan semuanya yang sudah kita bangun dengan susah payah.”

 

Siang di Kantin: Rencana Bersama

Saat jam istirahat tiba, keempatnya—Elena, Luna, Damian, dan Arga—duduk di meja pojok kantin yang sama seperti biasanya. Suasana yang tadinya santai kini sedikit berubah menjadi lebih serius, tapi tetap terasa nyaman.

“Kita tidak bisa langsung menuduhnya tanpa bukti jelas,” kata Arga sambil mengaduk minumannya. “Kalau kita bertindak sembarangan, justru dia yang bisa memutarbalikkan keadaan.”

“Betul,” sambung Damian. “Kita akan mengamati setiap gerak-gerik di sekitar sekolah dan lingkungan rumah. Tim pengawas dari Aditya dan Rendra sudah mulai berjaga di titik-titik penting, tapi kita tetap harus waspada sendiri.”

Luna yang mendengarkan dengan saksama kemudian bertanya, “Apakah dia berani bertindak di siang hari seperti ini? Sekolah ini ramai sekali, pasti dia takut ketahuan.”

“Dia tidak akan melakukan hal yang mencolok,” jawab Elena dengan pandangan tajam. “Dia lebih suka merusak dari belakang, membuat masalah kecil yang lama-kelamaan membesar. Itu cara kerjanya selama ini.”

Setelah membahas hal itu, suasana kembali menjadi santai. Luna tiba-tiba tertawa kecil, “Tapi lihatlah kita ya. Dulu saling curiga, bahkan hampir bermusuhan, sekarang malah duduk bersama merencanakan hal-hal penting. Siapa sangka?”

Damian melirik Elena, lalu tersenyum. “Memang takdir suka mengubah arah jalan. Kadang apa yang kita anggap beban, justru menjadi jembatan yang mempertemukan kita dengan orang yang tepat.”

Elena tersenyum membalas pandangannya. Ia merasa bersyukur sekali memiliki teman-teman seperti ini—bukan sekadar teman biasa, tapi orang-orang yang bisa dipercaya dan saling melindungi.

 

Sore Hari: Latihan Pembukaan & Momen Manis

Sore harinya, seluruh siswa berkumpul di lapangan untuk latihan upacara pembukaan. Elena termasuk dalam kelompok penari yang akan membuka acara dengan tarian tradisional sederhana. Saat ia berlatih di tengah lapangan, Damian berdiri di pinggir lapangan, mengamati dengan pandangan yang tenang.

“Kamu terus melihatnya saja, tidak mau ikut latihan lari?” goda Arga yang berdiri di sebelahnya.

“Melihat dia lebih menyenangkan daripada berlari mengitari lapangan,” jawab Damian santai tanpa ragu, membuat Arga hanya bisa menggeleng sambil tertawa.

Saat latihan hampir selesai, Elena tidak sengaja tersandung ujung kain penutup panggung. Tubuhnya terhuyung ke depan, tapi sebelum jatuh, seseorang sudah menangkap pinggangnya dengan cepat dan lembut.

“Hati-hati,” suara Damian terdengar tepat di telinganya.

Elena mengangkat wajah, dan mendapati dirinya berada dalam pelukan ringan Damian. Jarak wajah mereka sangat dekat, napas masing-masing terasa hangat. Detak jantung Elena berpacu cepat, bukan karena takut, tapi karena perasaan hangat yang menyebar ke seluruh tubuhnya.

“Terima kasih… lagi-lagi kamu yang menolong,” bisiknya pelan.

Damian tersenyum lembut, lalu menegakkan tubuhnya perlahan sambil tetap memegang bahu Elena agar seimbang. “Selama aku ada di sini, kamu tidak perlu khawatir jatuh. Aku akan selalu menangkapmu.”

Kata-kata itu sederhana, tapi terdengar seperti janji yang kuat. Elena hanya bisa mengangguk sambil tersenyum, merasakan keamanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

 

Malam Hari: Pesan Rahasia & Kewaspadaan

Malam itu, saat Elena sedang duduk di kamarnya membaca buku, ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, tapi isinya membuatnya segera duduk tegak:

“Kalian sudah membuka masa lalu, tapi belum tahu seluruh kebenaran. Jangan terlalu percaya pada siapa pun, karena musuh terberat bisa jadi yang paling dekat. Acara olahraga nanti akan menjadi panggung untuk membuktikan siapa yang benar-benar berkuasa.”

Elena segera mengirim pesan itu ke Damian dan Arga. Tidak lama kemudian, Damian meneleponnya.

“Kamu baik-baik saja?” tanyanya segera setelah telepon terhubung.

“Baik, hanya kaget saja,” jawab Elena. “Ini pasti dari Arjuna, kan?”

“Kemungkinan besar,” jawab Damian. “Dia ingin membuat kita gelisah sebelum hari H. Tapi ingat, dia hanya berani mengancam lewat pesan, bukan secara langsung. Itu tandanya dia masih takut menghadapi kita secara terbuka.”

“Jadi kita harus tetap tenang dan melanjutkan rencana?”

“Benar,” jawab Damian tegas. “Besok kita akan memasang pengawasan tambahan di sekolah dan sepanjang jalan pulang-pergi. Jangan membawa barang berharga secara mencolok, dan kalau ada yang terasa aneh, segera hubungi aku atau Arga.”

Setelah telepon selesai, Elena duduk di tepi tempat tidur sambil memegang liontin bulan sabitnya. Ia tahu, kedamaian yang baru saja tercapai belum sepenuhnya aman. Arjuna masih mengintai, menunggu celah untuk menyerang.

Tapi saat ia melihat pesan terakhir dari Damian yang masuk: “Tidur nyenyak. Aku sudah menjaga jalan menuju rumahmu. Besok kita lanjutkan bersama.”, ia merasa tenang kembali.

Di tempat lain, di ruang kerja yang remang-remang, Arjuna membaca laporan dari anak buahnya. Wajahnya tersenyum sinis.

“Mereka sudah mulai waspada… bagus sekali,” gumamnya pelan. “Semakin mereka berhati-hati, semakin terasa tegangnya. Dan di tengah ketegangan itulah kesalahan akan terjadi. Tunggu saja hari acara olahraga nanti… semuanya akan terungkap.”

Namun, apa yang tidak diketahui Arjuna: Elena dan Damian tidak lagi berjalan sendiri. Mereka memiliki kebenaran, kepercayaan, dan persahabatan yang semakin kuat. Apa pun rencana yang disiapkan musuh, mereka akan menghadapinya bersama-sama.

 

(Bersambung )

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!