Aku hanya ingin memiliki keluarga. Namun, takdir justru menyeretku ke dalam cinta yang mustahil. Terjebak di antara pria yang kucintai dan kakak angkat yang diam-diam menginginkanku, aku dipaksa menghadapi rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Saat kebenaran terungkap, bukan hanya hatiku yang hancur, tetapi seluruh hidupku ikut berubah. Akankah cinta menjadi penyelamat... atau justru awal dari kehancuranku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andinirhein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Yang Tak Tersampaikan.
Minggu pagi memang waktu terbaik untuk beristirahat.
Aroma masakan Hwi Sol Oppa berhasil membangunkan tidur nyenyakku pagi itu.
"Selamat pagi, adik Oppa."
Suara lembutnya menyambutku begitu aku memasuki dapur. Ia sedang mengaduk secangkir kopi sambil sesekali memperhatikan bulgogi yang masih dimasak di atas kompor.
"Selamat pagi juga, Oppa. Wah... hari ini Oppa masak apa? Aroma masakan Oppa sampai membuatku bangun, tahu."
Hwi Sol tersenyum tipis.
"Kalau begitu berarti masakan Oppa berhasil."
Tak lama kemudian ia menyajikan bulgogi hangat di atas meja makan. Di sampingnya sudah tersedia semangkuk nasi dan segelas matcha latte hangat, minuman favoritku.
"Wah... bulgogi! Kelihatannya saja sudah enak. Terima kasih, Oppa."
"Makan yang banyak, ya."
Aku langsung mengangguk semangat.
"Oh ya," lanjutnya, "hari ini Oppa mau mengajakmu ke suatu tempat."
Aku menatapnya penasaran.
"Mendadak sekali. Memangnya kita mau ke mana?"
"Rahasia."
Ia mengusap pelan puncak kepalaku.
"Pokoknya kamu pasti suka."
Aku hanya bisa tersenyum penasaran.
Pukul sepuluh pagi.
Mobil kami berhenti di depan gerbang Everland.
Mataku langsung berbinar.
"Oppa! Kita ke Everland?"
Hwi Sol tersenyum melihat reaksiku.
"Apa kamu masih ingat? Waktu kecil kamu pernah menangis karena ingin sekali diajak ke sini."
"Tentu saja ingat. Sudah lama sekali kita tidak ke sini. Terakhir... waktu aku masih SMA, kan?"
"Iya."
Aku tersenyum kecil.
Kalau dipikir-pikir, sejak kecil aku memang lebih banyak menghabiskan waktu bersama Hwi Sol Oppa dibandingkan teman-temanku.
Terlalu banyak kenangan yang kami lalui bersama.
Saking dekatnya, tidak sedikit orang yang mengira kami sepasang kekasih, bukan kakak dan adik.
Padahal kami memang hanya sangat menyayangi satu sama lain.
Jika aku sedih, Oppa akan menjadi orang pertama yang ikut merasakan sakitnya.
Begitu pula sebaliknya.
Aku benar-benar bersyukur memiliki kakak seperti dirinya.
"Oppa! Aku mau naik T-Express!"
Aku menunjuk roller coaster kayu favoritku.
"Ayo."
Tanpa banyak bicara, kami langsung mengantre.
Sesaat sebelum wahana mulai berjalan, Hwi Sol mengulurkan tangannya.
"Pegang tangan Oppa."
Aku langsung menggenggamnya.
"Jangan dilepas."
Wahana mulai melaju.
Jeritan para pengunjung memenuhi udara.
Namun berbeda dengan kami.
Aku dan Oppa justru menikmati setiap lintasan tanpa berteriak sedikit pun.
Angin kencang menerpa wajahku hingga rambutku berantakan ke mana-mana.
Tiga menit kemudian kami turun.
"Hahaha... apa Oppa sedang jalan-jalan bersama singa?"
Aku langsung memonyongkan bibir.
"Aish... Oppa!"
Ia tertawa pelan.
Tanpa berkata apa-apa, jemarinya mulai merapikan rambutku yang berantakan.
Gerakannya begitu hati-hati.
Aku menatap wajahnya.
Entah kenapa, aku selalu menyukai tatapan mata Hwi Sol.
Tatapannya hangat, tetapi selalu menyimpan kesedihan yang tidak pernah bisa kujelaskan.
"Oppa..."
"Hm?"
"Apa Oppa tidak ingin punya pacar?"
Tangannya berhenti sesaat.
"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"Oppa kan sudah dewasa. Setahuku juga Oppa belum pernah pacaran."
Ia tertawa pelan.
"Siapa bilang Oppamu yang tampan ini belum punya seseorang yang disukai?"
Aku langsung membelalak.
"Hah? Jadi Oppa sudah suka seseorang?"
"Iya."
"Kenapa Oppa tidak pernah cerita? Siapa orangnya? Aku kenal? Cantik? Baik? Dia tinggal di mana?"
Pertanyaanku beruntun membuatnya terkekeh.
"Tenang."
Ia mengusap kepalaku lagi.
"Dia memang bukan pacar Oppa."
"Lalu?"
"Oppa sudah menyimpan perasaan itu cukup lama."
"Kalau begitu kenapa tidak ditembak saja?"
Hwi Sol tersenyum tipis.
"Karena Oppa tidak ingin mempermainkan perasaan perempuan."
Aku memandangnya bingung.
"Kalau memang berjodoh, Oppa tidak akan mengajaknya berpacaran."
"Lalu?"
"Oppa akan langsung memintanya menjadi istri."
"Wah... ternyata Oppa romantis juga."
Aku terkekeh geli.
Namun beberapa detik kemudian wajahnya kembali serius.
"Makanya..."
Ia menatapku dalam.
"Kalau nanti ada pria yang mendekatimu, jangan mudah percaya."
"Hah?"
"Kalau dia benar-benar serius, dia akan datang untuk melamarmu. Bukan mengajakmu berpacaran."
Aku mengangguk pelan.
"Lagipula..."
Ia tersenyum tipis.
"Semua pria itu pada dasarnya sama."
Aku langsung tertawa.
"Kalau begitu Oppa juga sama dong?"
Tanpa menunggu jawabannya, aku langsung berlari menuju stan es krim.
"Oppa! Cepat!"
Hwi Sol hanya bisa menggeleng sambil tersenyum tipis sebelum menyusulku.
Saat kami sedang menikmati es krim, seseorang tiba-tiba memanggil.
"Hwi Sol?"
Kami berdua menoleh bersamaan.
Seorang wanita cantik berdiri beberapa langkah dari kami.
"Eoh... Bora?"
Wajah Hwi Sol tampak sedikit terkejut.
Aku langsung mengingat siapa wanita itu.
Bukankah dia teman SMA Oppa?
"Halo, Seolhwa. Kamu sudah sebesar ini rupanya."
"Iya, Eonnie."
Aku membungkukkan badan sopan.
"Kamu sendiri sedang apa di sini?" tanya Hwi Sol.
"Aku janjian dengan sepupu-sepupuku."
Mereka mengobrol beberapa menit.
Baru kali ini aku melihat Oppa berbicara cukup santai dengan seorang wanita.
"Seolhwa," kata Oppa, "Bora sekarang menjadi dokter kecantikan di Gangnam."
"Pantas saja Eonnie cantik sekali."
Bora tersenyum malu.
"Ah, kamu bisa saja."
Sekitar lima menit kemudian kami berpamitan.
Namun sepanjang perjalanan, pikiranku terus dipenuhi satu pertanyaan.
Apa jangan-jangan...
Wanita yang Oppa cintai selama ini adalah Bora Eonnie?
Kalau benar begitu...
Mereka terlihat sangat cocok.
Setelah mencoba beberapa wahana dan makan bersama, kami memutuskan pulang saat sore menjelang.
Sesampainya di rumah, aku langsung membawa tasku ke ruang keluarga.
"Aku mandi dulu ya, Oppa."
"Hm."
Aku segera naik ke lantai atas.
Sementara itu, Hwi Sol duduk santai di sofa sambil menonton pertandingan sepak bola.
Beberapa menit kemudian...
Drrrrttt... Drrrrttt...
Sebuah ponsel bergetar di atas meja.
Hwi Sol melirik sekilas.
"Eoh... Seolhwa meninggalkan ponselnya?"
Ia sempat berniat mengabaikannya.
Namun layar yang terus menyala membuat matanya tak sengaja menangkap nama pengirim.
Eun Dam.
Keningnya langsung berkerut.
Nama itu terasa asing.
Tanpa sadar, ia mengambil ponsel tersebut.
Sebuah pesan baru muncul di layar.
"Terima kasih untuk hari ini. Aku benar-benar senang bisa menghabiskan waktu bersamamu. Sampai bertemu lagi, Seolhwa."
Tatapan Hwi Sol perlahan berubah.
Jemarinya mengepal kuat.
"Jadi... ini alasan kenapa akhir-akhir ini kamu sering tersenyum sendiri?"
Dari lantai atas terdengar suara langkah kaki Seolhwa yang baru selesai mandi.
Tak lama kemudian, dering telepon itu pun berhenti.
Namun, tidak dengan rasa penasaran Hwi Sol.
"Wah, segarnya..." gumamku setelah selesai mandi.
Aku mengeringkan rambutku dengan handuk sebelum keluar dari kamar.
"Eoh? Ponselku di mana, ya?" gumamku pelan.
Beberapa detik kemudian aku baru teringat.
"Ah! Tadi aku meninggalkannya di ruang TV."
Aku pun bergegas menuruni tangga.
Belum sempat mengambil ponsel, suara Hwi Sol Oppa lebih dulu menghentikan langkahku.
"Seolhwa."
Aku menoleh.
"Tadi ada panggilan masuk di ponselmu."
Jantungku berdegup sedikit lebih cepat.
"Siapa Eun Dam?"
Pertanyaan itu membuat tubuhku membeku.
"E-Eun Dam...?"
Aku menggenggam ujung bajuku dengan gugup.
Bagaimana ini?
Apa sekarang saatnya aku mengatakan yang sebenarnya?
Aku menarik napas panjang...