Riyan Sadewa, seorang kuli bangunan di Bandung, hidup pas-pasan hingga sebuah kecelakaan di lokasi kerja mengubah segalanya. Sebuah sistem misterius muncul, memaksanya menghabiskan uang dengan syarat tidak boleh mendapatkan keuntungan sedikit pun. Jika ia untung, nominal uang yang harus dibuang justru berlipat ganda. Riyan terjebak dalam permainan ekonomi yang absurd, membeli aset besar hanya untuk merusak harganya demi memuaskan sistem. Di tengah tekanan ini, ia harus belajar bahwa membuang uang ternyata jauh lebih sulit daripada mencari nafkah, dan ia harus menemukan cara untuk menghentikan siklus ini sebelum hidupnya hancur.
"Sistem gila. Bukannya berkurang, duit gua sekarang malah bertambah."
"Gua cuma mau miskin, Ya Tuhan! Kenapa susah banget buat bangkrut di dunia ini?!"
Bagaimana kelanjutannya..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Riyan melangkah keluar dari area pangkalan angkot dengan rambut yang sudah acak-acakan akibat dia jambak sendiri sejak tadi. Napasnya memburu. Jam digital transparan di sudut matanya kini berkedip kejam: [20 Jam : 15 Menit : 40 Detik].
Angka itu terus berjalan mundur tanpa memedulikan rasa frustrasi Riyan yang sudah berada di ubun-ubun.
"Tiga triliun rupiah..." gumam Riyan dengan bibir gemetar.
"Sistem gila. Bukannya berkurang, duit gua sekarang malah setara sama APBD satu kabupaten!"
Riyan menyadari satu hal. Membeli barang tunggal yang memiliki bentuk fisik seperti mobil atau tanah sangat rentan dideteksi oleh Sistem sebagai aset.
Sistem sialan di otaknya itu memiliki algoritma yang terlalu kreatif untuk mengubah kesialan menjadi investasi jangka panjang. Jika dia ingin benar-benar rugi, dia harus mengeluarkan uang untuk sesuatu yang habis dikonsumsi saat itu juga, lenyap tanpa bekas, dan tidak bisa dijual kembali oleh siapa pun.
Mata Riyan menyipit saat melihat gerbang sebuah pasar tradisional di ujung jalan. Pasar itu tampak sangat ramai, becek, dan dipenuhi oleh ratusan emak-emak yang sedang sibuk menawar harga kebutuhan pokok. Senyum licik kembali terukir di wajah kuli bangunan itu.
Jasa makanan! pikir Riyan riang.
'Kalau gua beli makanan terus gua suruh orang makan sampai habis, makanannya kan berubah jadi kotoran. Gak bakal bisa dijual lagi, gak bakal bisa jadi barang antik di Hollywood! Mampus lo, Sistem!
Dengan langkah mantap dan penuh percaya diri, Riyan berjalan membelah kerumunan pasar. Bau khas terasi, ikan asin, dan sayuran segar langsung menyambut indra penciumannya.
Dia mengabaikan tatapan heran dari beberapa orang yang melihat baju kaus kulinya yang masih bernoda semen kering. Target pertamanya adalah sebuah lapak pedagang daging ayam potong yang paling besar di area tengah pasar.
Di balik meja kayu besar yang dipenuhi potongan daging ayam segar, seorang wanita paruh baya bertubuh gempal yang biasa dipanggil Ceu Inah sedang sibuk memotong cakar ayam menggunakan pisau daging besar.
"Ceu! Saya borong semua daging ayam yang ada di lapak Ceu Inah sekarang juga!" teriak Riyan lantang, mengalahkan bisingnya suara tawar-menawar di sekitarnya.
Ceu Inah menghentikan ayunan pisaunya. Dia mendongak, menatap Riyan dengan pandangan malas dari balik kacamata yang melorot di hidungnya.
"Jangan bercanda siang-siang gini ya, Kasep. Ceu Inah lagi sibuk. Ini ayam totalnya ada seratus lima puluh kilo lebih, baru diturunin dari mobil box."
"Mau kamu apain sebanyak itu? Mau bikin hajatan satu kecamatan?"
"Saya gak bercanda, Ceu."
"Saya borong semuanya," kata Riyan sambil mengeluarkan ponsel layarnya yang retak seribu.
"Tapi ada syaratnya."
"Tuh kan, pasti ada maunya. Mau utang ya?" tebak Ceu Inah ketus.
"Bukan utang. Syaratnya, setelah saya bayar, Ceu Inah bagikan semua daging ayam ini secara gratis."
"Potong-potong, masukin kantong plastik, kasih ke siapa aja emak-emak yang lewat di depan lapak ini. Jangan ada yang tersisa satu potong pun, dan Ceu Inah gak boleh ambil untung dari pembagian gratis itu. Jelas?"
Ceu Inah melongo. Beberapa emak-emak yang sedang memilih ceker ayam di dekat situ langsung menoleh secara serentak, menatap Riyan seperti melihat orang yang baru saja lepas dari rumah sakit jiwa.
"Kasep... kamu sehat?" tanya Ceu Inah dengan nada suara yang melunak, berubah menjadi kasihan.
"Kalau kepala kamu pusing karena panas matahari, mending berteduh dulu di warung es kelapa sebelah."
Riyan tidak membalas ucapan Ceu Inah dengan kata-kata. Dia langsung mengarahkan kamera ponselnya ke kode QRIS barcode yang tertempel di tiang kayu lapak.
Dengan gerakan cepat, Riyan mengetik nominal angka di aplikasi Mobile Banking-nya: seratus juta rupiah. Tanpa ragu, jempolnya menekan tombol konfirmasi transfer.
Tring!
Mesin EDC kecil di atas meja Ceu Inah tiba-tiba mengeluarkan suara nyaring, disusul oleh selembar kertas struk yang keluar secara otomatis.
Di saat yang sama, ponsel milik Ceu Inah berdering keras, menampilkan notifikasi dana masuk dengan jumlah angka nol yang membuat mata wanita paruh baya itu hampir melompat keluar.
"S... seratus juta?! Demi Allah, ini beneran seratus juta masuk?!" pekik Ceu Inah histeris. Wajahnya mendadak memerah, pisaunya sampai terlepas dan menancap di meja kayu.
"Seratus juta, Ceu. Buat bayar semua ayam ini, plus ongkos capek Ceu Inah buat bagi-bagiin gratis," kata Riyan dengan senyum santai.
"Sekarang, buruan bagiin! Waktu saya gak banyak!"
Ceu Inah seperti mendapatkan kekuatan gaib. Dia langsung berteriak sekuat tenaga menggunakan suara melengkingnya yang sanggup memecah kaca.
"Ibu-ibu! Emak-emak sekalian! Sini berkumpul! Lapak Ceu Inah digratisin total hari ini sama Mas Kuli Ganteng ini! Borong semuanya! Gratis! Kagak usah bayar satu perak pun!"
Mendengar kata "Gratis", barisan emak-emak yang tadinya berada di blok sayuran dan blok ikan asin langsung berbalik arah.
Dalam waktu kurang dari tiga puluh detik, lapak Ceu Inah sudah dikepung oleh lautan manusia yang saling sikut demi mendapatkan daging ayam gratis. Suasana pasar mendadak pecah dan ricuh oleh teriakan histeris penuh kegembiraan.
Riyan yang melihat kekacauan itu langsung mundur perlahan, menyelinap di antara kerumunan dengan senyum kemenangan yang tertahan di bibirnya.
Dia berjalan menuju lapak tukang sayur, tukang jengkol, tukang bumbu giling, hingga tukang daging sapi. Taktiknya sama: Riyan menembak mereka masing-masing dengan transferan puluhan hingga ratusan juta rupiah menggunakan QRIS, dengan perintah mutlak untuk menggratiskan seluruh barang dagangan hari itu juga.
Hanya dalam waktu lima belas menit, seluruh area pasar tradisional Dago berubah menjadi zona perang sembako gratis.
Teriakan nama "Riyan" dan "Mas Kuli" menggema di mana-mana. Ibu-ibu menangis haru sambil mendekap karung beras, sementara para pedagang sujud syukur di atas meja lapak mereka karena dagangannya lunas dengan harga berkali-kali lipat dari omzet bulanan mereka.
Riyan berdiri di sudut luar pasar yang agak teduh, menyandarkan punggungnya di tiang listrik sambil menyeka keringat yang bercucuran di lehernya. Dia melihat ke dalam pasar yang masih heboh dengan perasaan lega yang luar biasa.
Kali ini gua pasti berhasil, batin Riyan penuh keyakinan. Uang ratusan juta habis dalam sekejap. Makanannya langsung dimasak dan dimakan, gak ada sisa aset, gak ada barang yang bisa dijual lagi besok. Sistem... lu gak bakal bisa nyari celah keuntungan dari perut emak-emak pasar!
Riyan memejamkan matanya, bersiap menunggu suara dari Sistem yang menyatakan bahwa misinya berhasil atau minimal saldonya berkurang drastis. Dia sudah tidak sabar ingin melihat angka seratus miliarnya menyusut.
Namun, alih-alih suara notifikasi keberhasilan, yang terdengar di dalam kepalanya justru adalah suara sirine peringatan yang jauh lebih melengking dan bernada gawat darurat dari sebelumnya.
[Peringatan! Peringatan Tingkat Tinggi!]
[Deteksi Tindakan Inang: Aksi pembagian sembako gratis skala massal di pasar tradisional perkotaan secara instan.]
[Analisis Dampak Lingkungan oleh Sistem: Tindakan Inang berhasil menyelamatkan daya beli masyarakat kelas bawah di wilayah Dago dari ancaman inflasi mikro mingguan sebesar 12%. Tingkat kepuasan dan kebahagiaan warga sekitar melonjak drastis hingga menyentuh angka 95%.]
Riyan langsung membuka matanya dengan paksa.
"Hah?! Apa-apaan lagi ini?!" gumamnya panik.
[Efek Samping Reputasi Sosial: Tindakan Inang tanpa sengaja direkam dan disiarkan secara langsung oleh beberapa akun media sosial pedagang. Aksi ini memicu pergerakan saham dari Induk Perusahaan Ritel Bahan Pangan yang mengira ada program subsidi korporat baru. Sebagai kompensasi atas peningkatan kesejahteraan sosial dan indeks kebahagiaan masyarakat yang dipicu oleh Inang, Sistem secara otomatis mengonversi poin reputasi menjadi dana pasif.]
[Kalkulasi Selesai: Rekening tabungan Inang mendapatkan suntikan dana investasi sosial sebesar lima ratus miliar rupiah! Saldo Anda saat ini bertambah!]
DEGG!
Riyan rasanya ingin langsung pingsan di tempat. Dia buru-buru membuka ponselnya, dan benar saja, angka di layar M-Banking-nya justru semakin memanjang dan membesar bagikan deretan gerbong kereta api.
"Duit gua... duit gua malah nambah lagi setengah triliun?!" Riyan menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangan.
Air mata frustrasinya benar-benar hampir tumpah.
"Gua cuma mau miskin, Ya Tuhan! Kenapa susah banget buat bangkrut di dunia ini?!"
Di saat Riyan sedang meratapi nasibnya yang semakin kaya secara paksa, dia tidak menyadari bahwa di seberang jalan pasar, beberapa orang dengan pakaian batik rapi dan kamera profesional sedang memperhatikannya dengan tatapan penuh kekaguman.
Salah satu dari mereka memegang mikrofon dengan logo stasiun televisi lokal, sementara yang lainnya sibuk mengetik berita di laptop mereka dengan judul: "Viral! Seorang Miliarder Dermawan Menyamar Jadi Kuli Bangunan untuk Selamatkan Ekonomi Pasar Dago!"
Riyan Sadewa, sang kuli proyek, kini resmi menjadi pusat perhatian seluruh kota Bandung, dan penderitaannya menghadapi Sistem baru saja dimulai.