NovelToon NovelToon
Ibu Susu Sang CEO

Ibu Susu Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyelamat / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Violet adalah gadis desa yang diusir oleh pacar setelah melahirkan bayinya, dia yang Luntang lantung dijalan tepaksa menjadi ibu susu seorang CEO tampan yang mendapatkan kutukan. Ternyata CEO itu adalah paman dari mantan pacar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14.

Semakin lama, Violet merasa tubuhnya itu gerah.

Jadi, dia berjalan ke arah kesana kemari guna mencari remot AC didalam ruangan kantor Romeo.

Tapi, Violet tidak mendapatkan apapun.

Setelah tadi dia merasa tubuhnya sangat ringan, sekarang Violet malah kecapean karena habis mencari remot AC yang memang tidak ketemu.

Akhirnya Violet duduk di sofa dan malah ketiduran.

Tak berselang lama, pintu ruangan Romeo dibuka.

Romeo memasuki ruangannya dengan langkah kaki yang ringan, namun seketika terhenti saat netranya tidak melihat bayang-bayang Violet.

Pandangannya berkeliling mencari, hingga akhirnya dia mendapati Violet tertidur pulas di atas sofa yang terletak di sudut ruangan.

Cahaya senja yang menerobos masuk melalui jendela kantor menerangi wajah Violet yang memerah, menciptakan pemandangan yang tak sengaja menawan.

Romeo tidak bisa menahan senyum yang menghiasi wajahnya.

Ketika dia melangkah lebih dekat, matanya jatuh pada botol wine dengan kandungan alkohol tinggi yang tergeletak kosong di atas meja.

Sejenak, kebingungannya terjawab mengapa Violet bisa tertidur begitu lelap.

Romeo berdecak pelan, menggelengkan kepala dengan rasa iba sekaligus geli.

Dengan perlahan, Romeo mendekati Violet, berniat membangunkannya agar mereka bisa berbicara dan mungkin memberi sedikit teguran atas kecerobohannya.

Namun, sebelum dia sempat berbicara, Violet tiba-tiba terbangun.

Dalam keadaan setengah sadar, ia meregangkan tangannya dan dengan spontan memeluk Romeo.

Bibirnya yang setengah terbuka itu mengucapkan kata-kata yang mungkin tidak akan ia ingat saat terjaga, "Tuan Meo yang tampan, anda adalah penolongku."

Kata-kata itu membuat Romeo terkesiap bingung.

Bahkan Violet malah semakin berani mendekatkan bibirnya pada bibir Romeo, dan memeluk Romeo begitu erat.

Wajah Romeo memerah, bahkan tubuhnya membeku.

Ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

Di satu sisi, dia ingin memisahkan diri, tapi di sisi lain, kehangatan dari pelukan Violet memberikan kenyamanan yang aneh.

"Violet, sadarlah! Kamu mabuk," tegur Romeo, saat berusaha menolak ciuman Violet.

Sementara Violet malah menggeleng seraya berkata, "aku gak mabuk kok!"

Violet menindih ....

Dengan wajah yang memerah dan terlihat begitu menggoda, Violet malah menindih tubuh kurus Romeo.

"Tuan Romeo, jadi orang jangan sok jual mahal! Nanti gak ada yang suka lho!" kata Violet disertai dengan tawa cekikikan.

Tak berselang lama, Yasa pun masuk ruangan kantor Romeo.

Asisten pribadi Romeo itupun langsung membalikkan badan.

Kedatangannya seolah menjadi bumbu tambahan dalam suasana yang sudah memanas.

Yasa, yang semula ingin melaporkan sesuatu, langsung terhenti langkahnya saat melihat posisi Violet yang tidak senonoh di atas meja Romeo.

Wajah Yasa memerah, matanya membesar tak percaya melihat adegan di depannya.

Dia mencoba untuk membalikkan badan, berusaha menghindari pandangan yang tidak layak itu, namun sudah terlambat.

"Tuan, maafkan saya!" ucapnya dengan suara yang bergetar, penuh rasa takut.

Romeo, yang merasa situasi semakin tidak terkendali, langsung mengusir Yasa dengan nada tinggi.

"Pergilah!" perintahnya dengan tegas.

Yasa, yang merasa sangat cemas dan takut akan kemungkinan hukuman dari Romeo, buru-buru meninggalkan ruangan.

Langkahnya cepat, wajahnya masih memperlihatkan ketakutan yang mendalam, refleksi dari kejadian memalukan yang baru saja ia saksikan.

Yasa selama ini tidak pernah pacaran, jadi melihat apa yang barusan terjadi membuat jantungnya benar-benar dibuat berdegup kencang.

"Apakah wanita memang seliar itu?" gumam Yasa tanpa sadar.

Melihat sikap Violet pada Romeo yang terlihat diluar nulur.

Seingatnya Violet sosok polos, lemah dan lembut, tapi kenapa bisa bertingkah seperti itu?

Itu adalah hal yang sekarang ini mengganjal didalam benak Yasa.

Sementara Romeo, masih berusaha menyadarkan Violet.

Tapi karena Violet sudah menghabiskan satu botol penuh wine, dia benar-benar sudah mabuk berat.

Kasar dengan wanita? Itu bukanlah sikap Romeo.

Senja telah meredup di kota besar, membawa kegelapan yang menyelimuti kantor mewah milik Romeo.

Lampu-lampu mulai padam satu per satu, meninggalkan ruangan itu dalam remang-remang cahaya yang hanya sisa dari sinar bulan yang menerobos jendela besar di sisi ruangan.

Yang aneh, dibalik cahaya bulan.

Wajah Violet yang penuh keringat malah terlihat sangat bercahaya.

Romeo, yang biasanya penuh kendali dan dingin terhadap lawan jenisnya, kini terbaring lemah di bawah tubuh Violet, seorang gadis desa yang polosnya hampir seperti lembaran buku yang belum tersentuh tinta.

"Violet sadarlah! Nanti kamu bisa menyesal kalau sudah sadar? Kamu gak sadar kalau tadi minum wine?" bisik Romeo dengan nada khawatir, matanya menatap tajam ke arah Violet, mencoba menyadarkan gadis itu.

"Wine? Apa itu?" balas Violet dengan tawa kecil, suaranya bergetar antara ketidaktahuan dan kepolosan yang mendalam.

Kepolosannya itu, bagai hutan belantara yang belum pernah dijelajahi, membuat Romeo terperangah, namun dalam kebingungannya, tubuhnya seolah tak mampu mengikuti perintah otaknya.

Violet, dengan mata yang berbinar kekaguman dan mungkin setitik rasa penasaran, mendekatkan wajahnya ke wajah Romeo.

Bibirnya yang manis kini mencari dan menemukan bibir Romeo.

Ciuman itu, lembut namun penuh keinginan untuk mengenal, semakin dalam dan menggairahkan.

Romeo, yang selama ini menjaga jarak dengan wanita, kini merasakan sesuatu yang aneh.

Tubuhnya yang biasanya responsif dan sigap, kini hanya bisa pasrah menerima cumbuan Violet.

Di balik kebingungan dan ketidakmampuannya untuk bergerak, ada secercah rasa yang belum pernah ia kenal sebelumnya—rasa yang menghangatkan bahkan mungkin menggugah hatinya.

Di luar sana, lampu-lampu kantor mulai dinyalakan kembali, tapi di dalam ruangan itu, dua hati, satu yang polos dan satu yang berhati es, mulai menemukan ritme mereka sendiri dalam dunia yang hanya mereka yang mengerti.

*****

Pagi pun menjelang, Violet terbangun dari tidurnya dan merasakan tubuhnya terasa begitu remuk.

Tiba-tiba kedua bola matanya langsung membuka sempurna dengan perasaan yang terguncang, naluri kebingungan menyelimutinya saat dia merasakan kehangatan dari tubuh lain di sampingnya.

Mata hazelnya terbuka menyesuaikan dengan cahaya pagi yang merembes masuk melalui celah jendela.

Teriakan panik terlontar dari bibirnya, "Ya Tuhan, apa yang terjadi?" suaranya memecah keheningan pagi itu, cukup keras untuk membangunkan Romeo yang terlelap di sampingnya.

Romeo, yang tidak memakai baju, perlahan membuka matanya dan menatap Violet yang terlihat ketakutan dan bingung.

Dengan tenang, dia mencoba mengingatkan, "Sttt, apa kamu lupa? Tadi malam kamu mabuk, kamu yang memintaku untuk tidur seranjang denganmu?" ujarnya dengan nada yang mencoba menenangkan.

Kata-kata Romeo seakan jadi pukulan membangunkan bagi Violet yang langsung sontak berdiri, tubuhnya hanya terbalut dalaman, terpapar oleh sinar pagi yang membuatnya tampak semakin vulnerable.

Romeo, meski baru terbangun, tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok Violet yang terlihat begitu rapuh dan mempesona, cahaya pagi memberikan siluet yang menggoda pada lekuk tubuhnya.

"Mabuk?" tanya Violet bingung dengan wajah polosnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!