NovelToon NovelToon
Pita Hitam Kala Senja

Pita Hitam Kala Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Persahabatan / Trauma masa lalu
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Shourizzz BP

Semua sudah berakhir. Aku yang sulit dalam bergaul, pasti akan mudah dilupakan oleh orang – orang. Tidak dekat dengan siapapun, mau itu teman atau bahkan keluarga, pasti membuat kematianku sama seperti angin yang berlalu. Tidak dikenang oleh siapapun. Hanya kesendirianan yang tersisa. Akhir yang pantas bagi orang sepertiku. Seharusnya begitu, tapi …,
Kenapa aku bisa merasakan tetesan air mata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shourizzz BP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TUJUAN CLARISSA

Setelah kuhabiskan makanan. Kami memutuskan melanjutkan aktivitas. “Masih ada waktu sekitar 1 jam, gimana kalau kita naik sepeda air?” Saran Awan setelah kami berjalan tanpa arah selama beberapa detik. Aku dan Clarissa menerima saja saran darinya. Saat dilokasi, petugas melarang kami naik bertiga dalam satu sepeda air, ketika mendengar larangan tersebut, Awan tiba – tiba mengangkat telepon, dia membiarkanku dan Clarissa naik berdua. Padahal aku sangat yakin kalau dia hanya pura – pura. Entah apa yang dia rencanakan, sekarang aku terjebak dengan Clarissa.

Angin – angin berhembus kecil, sinar matahari yang tidak begitu menyilaukan, suasana yang begitu damai. Menatap air mengalir seraya mengayuh sepeda, melengkapi hal tersebut. Hal baru yang terasa aneh. Tidak kusangka perubahan kecil yang kulakukan membawaku sampai kesini. Terlibat dengan orang – orang yang tidak terbanyangkan olehku, mulai dari mantan teman, kenalan baru, sampai dengan jalan bersama teman sekelas. Membuatku berpikir, kalau saja aku memberanikan diri sejak dulu, perubahan seperti apa yang terjadi padaku? Apa mungkin hidupku akan jauh lebih baik? Atau justru lebih buruk? Tidak ada yang tau. Kalau saja aku bisa menentukan sendiri kemana hidupku akan berjalan, pasti semua akan mudah. Memilih sendiri sifat yang diinginkan, mengatur penampilan terbaik, semua hal yang bisa meningkatkan nilai dalam diriku, kalau bisa dikendalikan, pasti akan aku penuhkan semua. Tapi, aku tidak boleh berpikir begitu, diberi kesempatan kedua saja, aku sangat bersyukur. Aku masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri.

“Udah sore ya.” Clarissa yang dari tadi diam akhirnya mulai bicara, aku hanya mengangguk ketika dia mengatakannya. “Oh iya, gimana setelah lulus?” Dia menanyakan sesuatu yang tidak jelas. Aku mencoba memastikan maksudnya. “Kamu mau langsung kerja atau kuliah dulu?”

“Aku …, belum tau. Rencana kuliah dulu kalau bisa. Kamu sendiri?”

“Sama, rencana aku mau daftar teknik lingkungan.”

“Begitu ya. Semangat.”

“Iya, makasih. Hehe.”

Percakapan singkat yang mudah berakhir. Sepertinya Clarissa memaksakan dirinya untuk bicara denganku. Selama hampir seharian, ada Awan yang menengahi kami berdua, dia yang menghubungkan ketidakcocokan antara aku dan Clarissa. Sekarang dia tidak ada, hanya ada kami berdua. Pasti Clarissa merasa canggung berduaan denganku. Ditambah dia terlihat gelisah. Entah bagaimana menjelaskannya, hanya saja itu terlihat jelas diwajahnya. “Apa kita balik aja?”

“JANGAN!” Clarissa menolak mentah – mentah saran dariku. “Maaf.” Dia menunduk ketika mengatakannya. “Ada sesuatu yang mau aku omongin.” Aku sengaja diam, menunggu dia melanjutkan kalimatnya. Aku tidak tau apa yang ingin dia bicarakan. Terlintas beberapa kemungkinan, hanya saja aku tidak begitu yakin. Tidak bicara dengannya dikelas adalah bukti hubungan kami yang tidak terlalu dekat.

“Apa?” Meski dia bilang ada yang mau dibicarakan, dia hanya diam selama beberapa saat. Menunggu dia mulai bicara bukan pilihan yang tepat. “Jangan bilang kamu mau malak aku?”

“Bukan!” Dia menjawab dengan cepat. “Apa yang kamu bayangkan tentangku?” Sekarang dia menatap sinis padaku.

“Orang yang selalu berusaha.” Kulirik kearah Clarissa, tatapannya padaku berubah, mungkin dia tidak memprediksi jawabanku. Sama seperti dia, aku bahkan juga tidak menyangka kalau aku mengatakannya. Padahal aku hanya niat bicara dalam hati. Karena sudah terlanjur, sekalian saja kuteruskan, daripada hanya diam – diam tidak jelas. “Kamu orangnya selalu maksimalin tenaga sama waktu buat sesuatu yang kamu anggap benar. Kamu gak akan nyerah cuman gara – gara hal kecil. Bahkan, kalau ada masalah besar, kamu tetap perjuangin. Kamu pernah juara badminton kan? Itu salah satu buktinya.”

“Kok kamu bisa tau? Padahal aku ikut lomba diluar sekolah.”

Kenapa ya? Aku juga mempertanyakannya. Aku yang jarang berkomunikasi, seharusnya tidak tau apa – apa tentangnya. Aku hanya bisa diam dan melihat sekitar – Begitu ya. Justru karena aku tidak bicara dengannya atau siapapun, aku memiliki waktu lebih banyak ketimbang orang lain untuk memperhatikan. Melihat kebiasaan orang – orang yang mungkin tidak mereka bicarakan. Meski tidak tau banyak, aku tau beberapa hal kecil. Aku pernah melihat Clarissa datang sangat pagi untuk berlatih badminton, aku juga pernah melihatnya menolak ajakan untuk bermain demi latihannya. Dari semua hal yang kulihat, kucoba spekulasikan sendiri kemungkinan yang terjadi, hingga mendapat sebuah kesimpulan. “Kebetulan tau aja.” Clarissa terlihat bingung. Sepertinya alasanku terlalu dibuat – buat. Aneh juga aku bisa tau. Tapi, memang begitu adanya. Tidak ada orang lain yang memberitauku. Aku tau dengan sendirinya. “Kok diam?”

“Maaf. Aku gak nyangka kalau ada yang tau. Padahal aku gak cerita ke siapa – siapa loh.”

“Maaf. Aku gak tau kalau itu rahasia.”

“Eh? Gakpapa. Bukan rahasia kok, aku cuman gak tau aja kapan mau cerita ke temen – temen. Takut dikira pamer. Hehe.”

“Ternyata kamu peduli sama tanggapan orang ya.”

“Iyalah! Kamu juga – Kamu ternyata banyak bicara juga ya.”

Aku yakin kalau Clarissa mau bilang, “Kamu juga pasti peduli kan?” tapi dia sadar, untuk orang sepertiku, pertanyaan itu sedikit kasar. Aku yang sering sendiri, tidak memperdulikan apapun, termasuk tanggapan mereka tentangku. Sebenarnya aku juga tidak marah kalau dia bertanya begitu, tapi karena dia memilih menjaga perasaanku, akan aku abaikan kata – kata dia diawal. “Aku kan juga manusia.”

“Bukan gitu. Soalnya kamu selalu diam dikelas. Aku kira kamu emang gak suka bicara.” Clarissa tertawa kecil, entah apa yang dia bayangkan. “Waktu Awan ajak bicara, kamu juga kebanyakan diam.”

Ternyata begitu orang – orang kelas mengganggapku selama ini. Aku baru tau. Awan tidak pernah membahasnya saat bersamaku. Aku bukannya tidak suka bicara, aku tidak membencinya, bukan berarti juga aku menyukainya, hanya saja kalau bisa memilih, lebih baik aku bisa banyak bicara daripada hanya diam. “Itu perlakuan khusus buat dia. Kalau orang lain ajak bicara, ya aku respon, kaya kita sekarang.”

Clarissa tertawa, begitu juga denganku. Tidak lama, dia mulai diam, aku juga. Mungkin sudah saatnya dia membahas sesuatu yang benar – benar ingin dibicarakan. Sesuatu yang terus – terusan dia tahan selama percakapan kami, atau mungkin sejak pertama bertemu di taman? Entahlah.

Clarissa menarik napas dan menghembuskannya. Dia menatapku dengan serius. “Aku sengaja gak langsung nanya waktu ketemu tadi, tapi kalau boleh tau, kenapa kamu luka - luka?” Dibalik tatapannya yang serius, terlihat ekspresi khawatir. Kemungkinan dia sudah bisa menduga penyebab luka diwajahku. Aku bingung harus menjawab apa. Kalau kujawab jujur, dia pasti akan merasa bersalah. Sebaliknya, kalau aku bohong, dia akan menganggap aku mengasihinya. Siapa sangka? Ternyata pembahasan terkait aku dan dirinya yang sangat ingin dia bahas. Sempat terlintas dipikiranku sebenarnya, hanya saja tidak aku sangka kalau ternyata memang soal itu.

“Kamu tau? Dulu sekali, waktu kita baru masuk SMA. Kamu pernah nyelamatin aku.”

“Kapan? Kenapa malah bahas yang lain?”

Aku tau kalau dia sudah meyakinkan diri untuk memulai pembahasan, dan itu tidak mudah. Aku tau, tapi aku tetap harus mengatakannya. Meski terlihat tidak berhubungan, sebenarnya kata – kataku memiliki kaitan yang sangat erat. Aku menyuruh Clarissa untuk mendengarkan terlebih dulu. Meski terlihat kalau dia ingin menolak, untungnya dia tetap menurut. “Aku tau kalau kamu pasti gak akan sadar. Bagimu, hari itu cuman hari – hari biasa yang gampang dilupain. Dan, itu gak masalah. Kamu gak harus ingat. Lagian kamu juga gak sadar kalau udah bantu aku. Aku cuman mau kamu tau, kalau kamu adalah penyelamat aku.”

“Nggak – nggak! Bukannya aneh kalau gitu?”

“Apa yang aneh?”

“Ya aneh! Aku gak ngerasa pernah nolong kamu.”

“Kamu itu orang baik, pasti sering nolong banyak orang tanpa sadar, termasuk waktu nolong aku.” Clarissa tidak merespon, dia hanya menggelengkan kepalanya setiap menolak pendapatku. “Waktu itu aku lagi ada masalah sama orang, terus kamu datang, kamu ngucapin kalimat yang buat aku yakin akan sesuatu. Hubungan gak harus dipaksakan. Aku ingat jelas waktu kamu bilang kalau aku gak cocok sama dia. Berkat kamu, aku jadi bisa bebas dari masalah.” Clarissa tidak merespon. Mungkin dia bingung harus menanggapi seperti apa. “Waktu itu aku gak kenal kamu, kamu juga gak kenal aku. Walau gitu, kamu tetap nolong aku. Baru pertamakali aku kaya gitu, jadi bingung harus ngapain. Waktu itu aku harusnya bilang ke kamu kalau –

“NGGAK!” Clarissa terlihat sangat kesal. Orang – orang sekitar yang juga menaiki sepeda air menatap kearah kami. Bukannya membuat dia merasa lebih baik, aku malah memperburuk suasana hatinya. “Aku gak tau siapa yang kamu bicarain. Yang aku tau, gara – gara aku, kamu jadi kena masalah.”

Sudah kuduga Clarissa akan menyalahkan dirinya. Aku tidak tau harus berbuat apa dalam situasi yang rumit seperti sekarang. Sekilas aku melihat tetesan air mata. “Maaf.” Aku terlalu sibuk pada diri sendiri, sampai – sampai melupakan perasaan Clarissa. Rasa bersalah membuat orang tidak yakin pada dirinya sendiri. Bahkan, jika itu adalah kebenaran, orang tersebut akan menolak karena rasa bersalah yang begitu besar. Seharusnya aku tau. Seharusnya aku gak maksain diri buat kasih tau kebaikan dia. Tapi, aku juga gak bisa diam ngeliat dia yang gak percaya diri hanya gara – gara aku. “Kamu boleh anggap ceritaku cuman karangan, Kamu juga boleh anggap aku pembohong, tapi aku gak mau kalau rasa bersalahmu buat kamu ngerendahin diri sendiri.” Kutatap matanya agar dia bisa melihat dengan jelas kedalam bola mataku, bahwa sama sekali tidak ada kebohongan dari setiap kata yang aku ucapkan. “Kamu pasti gak tau seberapa berharganya tindakan yang kamu lakuin buat aku waktu itu. Tindakan tanpa alasan yang kamu lakuin, beneran nyelamatin aku.

Sama kaya kamu yang bantu aku tanpa sebab, aku juga nolong kamu bukan karena itu kamu, bukan juga karena orang lain, aku lakuin karena aku emang mau. Resiko apapun yang terjadi setelahnya, itu adalah sesuatu yang harus aku tanggung, bukan orang lain. Jadi kamu gak perlu ngerasa bersalah.”

Clarissa mengalihkan pandangan, dia menghindariku. Keraguan dalam dirinya masih lebih kuat dibandinkan kata – kata yang keluar dari mulutku. "Tapi tetap aja, kamu gak akan luka gini kalau gak nolong aku ….”

Benar yang Clarissa katakan. Itu fakta yang tidak bisa dibantahkan. Aku yang tidak terlibat dengannya dulu, tidak pernah diserang oleh siapapun. Aku yang penakut, tidak pernah bertemu lagi dengan Dimas dan gengnya. Hidupku yang damai tidak pernah akan terganggu. Tapi, jika aku tidak pernah menolong Clarissa, aku juga tidak akan pernah tau seberapa berharganya Awan menganggapku, tidak akan pernah bertemu dengan orang dewasa sebaik Bang Nanang, juga tidak akan pernah jalan bersama seperti sekarang. Lebih banyak hal menyenangkan yang terjadi padaku. Aku tidak pernah menyesal memutuskan untuk berani menolong Clarissa. “Aku mungkin gak berhak buat bilang ini, tapi seharusnya kamu gak ngeliat sesuatu dari sisi negatifnya.”

“Apa maksudnya?”

“Aku diserang pacar Yasmine. Benar penyebab lukaku karena ngebela kamu.” Clarissa seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi kupotong sebelum dia sempat bicara. Ku teruskan kalimat yang belum selesai agar tidak terjadi kesalahpahaman. “Tapi! Kamu juga harus tau, berkatmu aku bisa mendapatkan pengalaman berharga, sesuatu yang belum bernah aku rasain sebelumnya. Aku ngerasa hidup. Untuk pertamakalinya aku beraniin diri, lakuin sesuatu yang benar, buat orang yang pernah nolong aku. Aku rasanya kaya jadi pahlawan. Aku yang sering gak peduli sama sesuatu, bisa bermanfaat buat orang lain. Aku ngerasa keberanian yang aku perjuangin ada hasilnya. Selama aku tau kalau kamu baik – baik aja, selama aku tau kalau kamu ngerasa bahagia, aku juga ikut bahagia. Makanya, aku mau kamu tetap senyum, supaya aku tau kalau keberanian yang aku lakukan gak sia – sia.” Clarissa masih tetap tidak bicara. Dia benar – benar kehabisan kata – kata. “Lagian berkat ngebela kamu, aku jadi bisa bertemu temen lama. Hehe.”

“Kamu yakin gakpapa?”

“Iya. Gara – gara kejadian itu, kita bahkan bisa jalan bareng.” Kutunjukkan senyuman tulus agar dia mengerti kalau aku sama sekali tidak mempermalasahkan apapun. “Makasih, Clarissa.” Ungkapan terimakasihku bukan hanya untuk kejadian sekarang, tapi juga untuk mengungkapkan perasaanku di masa lalu saat dia menolongku. Ungkapan yang hanya tersimpan dalam hati selama ini. Kata yang sangat sulit kuucapkan padanya selama beberapa tahun, akhirnya bisa kukatakan secara langsung padanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!