Ketika perbedaan kasta memaksa mereka berpisah dan amnesia menghapus ingatan Neya, akankah kisah cinta delapan tahun yang mereka rajut sejak SMP benar-benar berakhir atau takdir punya cerita lain ?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Garis Merah
Bulan-bulan berikutnya berjalan seperti putaran roda yang konstan di dalam kediaman utama keluarga Kusuma. Rencana biologis yang disusun dengan rapi oleh Mama Casandra dan dieksekusi dengan ketekunan luar biasa oleh Sherly setiap pagi mulai menunjukkan hasil psikologis yang mereka inginkan. Cairan tanpa aroma yang menyatu dalam cangkir kopi Kinan secara perlahan namun pasti telah mengubah peta fokus di kepala pria itu.
Kinan kini tidak lagi memiliki energi atau waktu luang di dalam benaknya untuk memikirkan ke mana Neya pergi atau bagaimana nasib gadis itu di luar sana. Setiap kali matanya terbuka di fajar hari, kabut gairah murni yang disulut oleh ramuan herbal itu selalu menyambutnya, disusul oleh penyerahan diri Sherly yang tanpa batas. Tubuh indah Sherly, aroma parfum vanilanya yang pekat, serta pelayanan domestik yang begitu intens telah menjadi candu harian yang melumpuhkan naluri detektif Kinan.
Di bawah kuasanya di atas ranjang beledu itu, Kinan benar-benar terbuai. Setiap kali ia merasa penat oleh tekanan bisnis Kusuma Group, ada Sherly yang siap menyuguhkan kehangatan fisik yang nyata, mengikis sisa-sisa rasa bersalah atau kerinduan masa lalu yang pernah mencabik jiwanya. Keberadaan Neya yang semula menjadi luka menganga, kini perlahan tertutup oleh lapisan-lapisan kepuasan fisik dan kenyamanan instan yang sengaja disediakan oleh istrinya. Naluri maskulin Kinan telah sepenuhnya dijinakkan; ia kini begitu menginginkan Sherly, membutuhkan kehadiran wanita itu setiap kali ia membutuhkan ketenangan dari kerasnya dunia luar.
Sore itu, bias cahaya matahari terbenam berwarna jingga kemerahan menerpa jendela ruang makan utama. Sherly duduk dengan keanggunan seorang ratu yang baru saja memenangkan pertempuran besar. Di hadapannya, sebuah benda kecil berbentuk batangan putih dengan dua garis merah tegas terletak di atas meja nakas.
Dua garis merah. Simbol mutlak kekuasaan yang telah ia perjuangkan selama satu tahun terakhir.
Pintu kamar utama terbuka, memperlihatkan Kinan yang baru saja pulang dari kantor dengan setelan jas yang sedikit longgar. Wajahnya masih menyiratkan kelelahan, namun begitu matanya menangkap sosok Sherly, ada perubahan radar emosi yang instan di tatapannya. Ia berjalan mendekat, seolah ditarik oleh magnet kenyamanan yang selama ini mengikatnya.
"Kamu kelihatan bahagia sekali sore ini, Sher," ucap Kinan dengan suara baritonnya yang berat, seraya duduk di samping istrinya dan melingkarkan lengannya di pinggang ramping Sherly tanpa ragu.
Sherly tersenyum manis, sebuah senyuman yang sarat akan kemenangan dinasti yang sempurna. Ia mengambil batangan putih itu dan meletakkannya dengan lembut di atas telapak tangan Kinan yang besar.
"Aku punya hadiah terbaik untukmu, Mas," bisik Sherly tepat di telinga Kinan. "Aku hamil. Penerus dinasti Kusuma yang selama ini dinantikan oleh Mama dan Papa... akhirnya ada di sini, di dalam rahimku."
Kinan tertegun sejenak, menatap dua garis merah di tangannya. Di dalam kepalanya, tidak ada lagi bayangan Neya yang muncul untuk memprotes atau menangis. Kabut fajar yang ditiupkan Sherly selama berbulan-bulan telah berhasil menghapus jejak masa lalu itu sepenuhnya. Yang ada di hadapannya kini adalah kenyataan hidupnya: seorang istri sah yang sempurna, sebuah janin yang membawa darah murninya, dan masa depan Kusuma Group yang kini terkunci rapat di bawah kendalinya.
Kinan menarik Sherly ke dalam dekapan hangatnya, mengecup kening istrinya dengan penuh rasa kepemilikan yang mutlak. "Terima kasih, Sherly. Kamu telah memberikan apa yang paling berharga untuk hidupku."
Di sudut koridor luar kamar, Mama Casandra berdiri dalam diam dengan senyum kemenangan dingin yang terukir di wajah paruh bayanya. Sandiwara telah usai, dan takhta keluarga Kusuma kini telah aman, kokoh berdiri di atas fondasi beton yang tidak akan pernah bisa digoyahkan oleh siapa pun lagi.
Kehamilan Sherly yang baru menginjak minggu-minggu awal membawa atmosfer baru di dalam mansion Kusuma. Sesuai dengan ambisi besar dinasti, Mama Casandra langsung memperketat pengawasan di dalam rumah. Mulai dari menu makanan khusus, jadwal pemeriksaan dengan dokter kandungan terbaik, hingga pembatasan aktivitas fisik Sherly semuanya diatur dengan presisi yang militeristik. Bagi Casandra, janin di dalam rahim Sherly adalah aset berharga yang akan mengunci dominasi keluarganya di dunia bisnis.
Namun, di balik perayaan semu itu, sebuah bom waktu psikologis perlahan mulai berdetak.
Efek harian dari perubahan hormon dan ketergantungan fisik yang selama ini mengikat Kinan ternyata tidak mereda begitu saja setelah kabar kehamilan itu diumumkan. Selama berbulan-bulan, fokus pikiran Kinan telah dikondisikan sedemikian rupa untuk selalu mencari pelampiasan penat dan gairah pada raga Sherly. Ketika kini Sherly harus membatasi diri demi menjaga kondisi kandungannya yang masih sangat rentan, Kinan justru merasakan sebuah pergolakan batin yang aneh dan tidak wajar.
Setiap pagi, saat melihat secangkir kopi hitam yang kini dibuatkan oleh pelayan—karena Sherly diminta beristirahat total oleh Mama Casandra—Kinan merasa ada sesuatu yang hilang. Tubuhnya didera rasa jenuh yang luar biasa, sementara emosinya menjadi jauh lebih tidak stabil. Naluri kelelakiannya yang sempat dijinakkan oleh kenyamanan konstan kini menuntut pemenuhan yang sama, membuat Kinan sering kali pulang dari kantor dengan kilat mata yang frustrasi.
Malam itu, hujan turun membasahi jendela kaca kamar utama. Sherly sedang berbaring di atas ranjang sembari membaca majalah parenting ketika Kinan melangkah masuk. Pria itu langsung melepaskan jasnya dan duduk di tepi ranjang dengan napas yang terasa berat.
Sherly menyadari ada perubahan intensitas pada tatapan suaminya. Posesifitas Kinan yang biasanya tersalurkan lewat kedekatan fisik yang intim kini terasa menuntut, namun kondisi tubuh Sherly yang sedang beradaptasi dengan awal kehamilan membuatnya sering merasa mual dan kelelahan luar biasa.
"Mas... kamu baru pulang?" tanya Sherly lembut, mencoba mengalihkan intensitas suasana dengan senyuman terbaiknya.
Kinan tidak menjawab. Ia mengulurkan tangannya, mengusap pipi Sherly dengan ibu jarinya, lalu menunduk untuk mengecup bibir istrinya. Namun, kecupan itu tidak lagi terasa seperti kehangatan pelindung, melainkan sebuah tuntutan emosional dari seorang pria yang sedang kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Sherly menahan napas, dengan perlahan ia memegang dada Kinan dan mendorongnya sedikit menjauh. "Mas, tolong... kata dokter, di trimester pertama ini kita harus sangat berhati-hati. Kandunganku masih lemah, aku tidak boleh terlalu lelah."
Mendengar penolakan halus itu, Kinan tertegun. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, kabut di kepalanya seperti tersibak oleh udara dingin yang tajam. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang sedikit bergetar, lalu menatap Sherly yang tampak cemas di hadapannya.
Sebuah kesadaran rasional yang selama ini tenggelam mendadak mencuat ke permukaan pikiran Kinan. Sebagai pria yang cerdas dan selalu memegang kendali atas setiap keputusan bisnisnya, Kinan mulai merasakan adanya kejanggalan yang sangat besar pada dirinya sendiri. Mengapa ia bisa begitu ketergantungan pada kehadiran fisik Sherly hingga melupakan seluruh prinsip hidupnya? Mengapa emosinya bisa begitu mudah dikendalikan oleh siklus harian yang terjadi di dalam kamar ini?
lalu Kinan ?