“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”
Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Kertas Diagnosis dan Pil Sembunyi-Sembunyi
Jarum jam menunjukkan pukul sembilan pagi saat Narendra, CEO Artha Group, duduk di ruang kerjanya. Sambil menyesap espreso ganda, matanya terpaku pada lampiran PDF di layar komputer yang baru dikirim oleh dr. Hendrawan lima belas menit sebelumnya.
Laporan Laboratorium Pemeriksaan Darah Rutin atas nama Nyonya Alika Pradipta menunjukkan angka hemoglobin (Hb) sebesar 9.2 g/dL yang menandakan anemia moderat. Kadar leukosit atau sel darah putih berada di angka 14.500/mcL, mengindikasikan adanya peradangan atau infeksi ringan. Sementara itu, kadar gula darah puasa serta fungsi ginjal dan hati masih dalam batas normal. Kesimpulan medis menyatakan pasien mengalami anemia akibat asupan nutrisi yang kurang baik dan tingkat stres (cortisol) yang tinggi, sehingga memicu inflamasi ringan pada lambung atau otot. Tidak ditemukan tanda-tanda penyakit menular atau kondisi darurat. Dokter menyarankan perbaikan gizi, konsumsi suplemen zat besi, dan istirahat yang cukup.
Narendra mendengus gusar. Ia menyandarkan punggung pada kursi kulit mahalnya sembari menatap layar dengan pandangan meremehkan. "Hanya anemia. Sialan, dia cuma kurang makan," gumamnya dengan nada kekecewaan yang aneh.
Dalam benaknya, Narendra sempat menduga Alika mengidap sesuatu yang jauh lebih serius untuk membenarkan kepanikan luar biasa dr. Raditya di lorong hotel malam itu. Namun, setelah melihat hasil laboratorium ini, egonya langsung mengambil kesimpulan mutlak: Raditya hanya berlebihan. Dokter muda itu dianggap sengaja mendramatisasi keadaan demi mencari celah untuk mendekati istrinya, mencoba tampil sebagai pahlawan padahal Alika hanya butuh asupan nutrisi dan tidur.
"Bermain drama murahan untuk menarik simpati pria lain," desis Narendra dengan rahang mengeras. Ia segera meraih ponsel dan menghubungi nomor telepon rumah.
Di saat yang bersamaan, suasana tegang menyelimuti dapur kediaman Pradipta. Murni baru saja kembali dari pasar swalayan. Jantung asisten paruh baya itu berdegup kencang saat meletakkan keranjang belanja di atas meja pantri (pantry). Ia melirik ke kanan dan ke kiri, memastikan asisten rumah tangga lainnya sedang sibuk di area belakang rumah.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Murni mengorek dasar tas belanja kanvasnya, di balik tumpukan kangkung dan brokoli. Ia mengeluarkan sebuah kantong plastik kecil dari apotek dan segera menyembunyikannya ke dalam saku celemek. Murni bergegas menaiki tangga menuju lantai dua. Ia mengetuk pintu kamar utama tiga kali—sebuah kode rahasia yang telah disepakati bersama Alika.
Pintu segera terbuka. Alika menarik Murni masuk dan mengunci pintu kembali. Pagi ini Alika tampak pucat dengan ruam kemerahan di wajah yang coba ditutupi pulasan foundation tipis, sementara kepalanya masih terlilit turban modis.
"Dapat?" tanya Alika dengan bisikan serak yang penuh keputusasaan.
Murni mengangguk cepat seraya menyerahkan kantong plastik tersebut. "Sudah, Bu. Tadi apotekernya sempat bertanya nama pasien, saya jawab sesuai pesanan dr. Raditya atas nama Murni. Ini obatnya."
Alika membuka plastik itu. Di dalamnya terdapat dua botol obat tanpa label merek, hanya tertera tulisan tangan mengenai dosis pemakaian. Botol pertama berisi kortikosteroid dosis tinggi untuk meredam sistem imunnya yang sedang mengamuk, dan satu lagi adalah obat pereda nyeri sendi yang spesifik. Sebuah carikan kertas kecil terselip di antaranya.
"Minum ini setelah makan. Jangan sampai terlewat. Obat ini akan meredakan ruam dan nyeri dalam beberapa hari, tapi ini BUKAN penyembuh. Begitu pengawasan suami Anda longgar, Anda harus segera melakukan tes ANA dan Anti-dsDNA. Waktu kita tidak banyak, Alika. - Raditya."
Mata Alika memanas saat membaca pesan singkat itu. Ia segera melangkah menuju dispenser kecil di sudut kamar, menuangkan air, dan menelan pil-pil yang ia anggap sebagai penyelamat. Obat itulah yang akan memaksanya untuk tetap berdiri tegak dan menjadi boneka pajangan yang sempurna, meski bagian dalam tubuhnya perlahan mulai hancur.
Tiba-tiba, suara nyaring interkom di dinding kamar mengejutkan mereka berdua. Alika memberi isyarat agar Murni tetap diam, lalu menekan tombol komunikasi. "Ya?"
"Nyonya, ada telepon dari Tuan Narendra," lapor kepala pelayan dari seberang sana. "Beliau meminta agar sambungannya diteruskan ke kamar Anda."
"Sambungkan," jawab Alika sembari menarik napas panjang untuk menata suaranya agar tidak terdengar bergetar.
"Halo, Sayang," sapa Narendra. Suaranya terdengar manis, namun Alika paham betul itu adalah muslihat sebelum ia menyerang.
"Ya, Mas? Ada apa menelepon jam segini?"
"Saya baru saja membaca laporan dari dr. Hendrawan," Narendra menjeda kalimatnya, membiarkan keheningan yang mengintimidasi menggantung di udara. "Anemia, Alika? Hanya kurang gizi dan stres?"
Alika tertegun. Otaknya berusaha memproses informasi itu. Ternyata dr. Hendrawan memang tidak melakukan tes autoimun. Raditya benar. "Itu... memang itu yang dikatakan dokter, Mas," jawab Alika dengan sangat hati-hati.
Terdengar tawa sinis di seberang telepon. "Luar biasa. Kamu sukses mengacaukan malam gala Artha Group, membiarkan dokter berjas abu-abu murahan itu menerjang dan menceramahi saya di depan staf hotel... hanya karena kamu lupa cara makan dan terlalu manja mengurus dirimu sendiri?"
"Mas, saat itu aku benar-benar tidak bisa merasakan kakiku—"
"Simpan alasanmu!" potong Narendra kasar, suaranya berubah setajam belati. "Saya sudah tahu permainanmu, Alika. Kamu sengaja terlihat rapuh agar dokter muda itu punya alasan untuk terus menghubungimu, kan? Kamu menikmati perhatian darinya? Apa kamu ingin memakai aturan open marriage kita untuk membenarkan perselingkuhan murahan ini?"
"Demi Tuhan, Mas, tidak ada perselingkuhan! Kenapa kamu selalu mengartikan semuanya seperti itu?!" Alika setengah berteriak dengan air mata keputusasaan yang mulai menggenang. Murni yang berdiri di sudut kamar hanya bisa menunduk lesu sambil meremas ujung celemeknya, tak berani mengeluarkan suara sedikit pun.
"Karena saya tidak bodoh!" desis Narendra. "Dengar baik-baik, Alika. Karena ternyata kamu hanya menderita anemia yang menyedihkan, masa istirahatmu berakhir hari ini. Besok malam akan ada jamuan makan malam tertutup dengan investor dari Singapura. Kamu harus menemani saya. Pastikan kamu memakai riasan yang benar agar tidak terlihat seperti mayat hidup. Jangan permalukan saya lagi."
Klik. Sambungan telepon diputus secara sepihak.
Ponsel di tangan Alika merosot jatuh ke atas karpet. Ia memejamkan mata, membiarkan sebulir air mata jatuh melewati ruam di pipinya yang terasa panas dan perih. Obat dari dr. Raditya mungkin sanggup meredam rasa sakit fisiknya untuk sementara waktu, namun kata-kata suaminya baru saja meruntuhkan sisa-sisa kewarasannya. Narendra, dengan egonya yang setinggi langit, telah mengunci pintu kebenarannya sendiri. Pria itu baru saja memastikan bahwa ketika kenyataan tentang penyakit ini akhirnya meledak, ledakan tersebut tidak akan menyisakan apa pun selain kehancuran total.