King Stone (27 tahun) bisa dengan mudah melupakan ratusan wanita yang pernah singgah di hidupnya selama menjadi playboy.
Namun, gadis di hadapannya ini adalah pengecualian mutlak.
Olivier Martinez merupakan cinta pertama sekaligus mantan kekasih King selama tiga tahun di masa high school—gadis yang dulu ia tinggalkan begitu saja demi ego remaja agar tidak terikat oleh seorang wanita di masa depan.
Kini, roda kehidupan berputar. Di dalam rumah sakit mewah miliknya sendiri, King sama sekali tidak memiliki kuasa atas Olivier.
Di hadapan sang mantan kekasih yang menatapnya penuh kebencian dan kini bersenjatakan sumpah medis sebagai dokter residen, King harus menghadapi kenyataan pahit. Ia sadar bahwa luka penyesalan di hatinya jauh lebih sulit disembuhkan daripada luka sayatan parah di perutnya.
Pertemuan tak terduga ini menjadi awal dari karma masa lalu yang siap menghancurkan keangkuhannya.
~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#20
Ketegangan di dalam kamar VIP nomor satu mencapai titik nadir yang paling menyakitkan. Kata-kata dingin Olivier Martinez yang menolak mentah-mentah ajakan untuk kembali bersama seolah menjadi vonis mati bagi harapan yang selama sepuluh tahun ini dipelihara oleh King Stone di balik dinding kegelapan hidupnya.
Olivier membalikkan tubuhnya, mencengkeram papan klip medis di dadanya dengan tangan yang bergetar hebat.
Rasa takut yang menjalar di sekujur tubuhnya—takut akan keselamatan Nora, takut akan cakar klan Stone yang bisa merenggut putrinya—membuatnya tidak memiliki pilihan selain melangkah pergi. Ia mengayunkan kakinya menuju pintu elektronik, ingin segera keluar dari ruangan yang mendadak terasa seperti ruang interogasi yang menyesakkan itu.
Namun, belum sempat jemari Olivier menyentuh panel sensor pintu, suara bariton King kembali terdengar.
Kali ini, tidak ada nada ketegasan, tidak ada keangkuhan klan Stone, dan tidak ada bualan playboy yang menyebalkan. Suara itu terdengar begitu rapuh, pecah, dan sarat akan keputusasaan yang teramat dalam.
"Boleh aku pamit untuk yang terakhir kalinya, El?"
Langkah kaki Olivier mendadak membeku di atas lantai marmer. Dada wanita itu berdenyut ngilu, seolah ada seutas benang tak kasat mata yang ditarik paksa dari jantungnya.
"Seperti caraku selama ini bersamamu... Untuk yang terakhir kalinya, El," bisik King dari arah belakang.
Pria bertubuh tegap itu menundukkan kepalanya, menyembunyikan sepasang mata elangnya yang kini mulai digenangi lapisan air mata tipis. "Demi Tuhan... sekali ini saja. Aku benar-benar merindukanmu."
Olivier terdiam selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Udara di sekitarnya mendadak terasa membeku. Kalimat "seperti caraku selama ini bersamamu" menghantam ingatan masa mudanya dengan hantaman yang begitu telak.
Itu adalah kode rahasia mereka sepuluh tahun lalu, sebuah ritual perpisahan kecil setiap kali dirinya harus pergi meninggalkan apartemen.
Olivier perlahan membalikkan tubuhnya. Ia berusaha keras memperketat topeng sedingin es di wajahnya, mengabaikan debaran gila di dalam dadanya.
"Kau akan pulang besok, Tuan Stone," ucap Olivier, suaranya diusahakan tetap datar meskipun ada getaran samar di ujung kalimatnya. "Pamit saja besok pada tim medis saat jam pulang."
King Stone mendongak, menatap wanita di depannya dengan tatapan pasrah yang teramat menyedihkan. "Aku tidak perlu menunggu besok. Aku akan segera pulang malam ini setelah kau keluar dari pintu itu."
Olivier Martinez tertegun. Sepanjang karier kedokterannya, ia telah melihat ribuan tatapan mata pasien, namun tatapan mata King saat ini memancarkan binar kegelapan yang berbeda.
Ada keputusasaan yang murni di sana, sebuah tanda bahwa pria itu tidak sedang berdrama atau mencari perhatian seperti hari-hari sebelumnya. King benar-benar berada di titik nadir batinnya.
Melihat gurat kepasrahan yang teramat sangat itu, benteng pertahanan es di dalam diri Olivier mendadak retak di satu sudut terkecil. Rasa kemanusiaan dan sisa-sisa cinta masa lalu yang ia kubur dalam-dalam di bawah ketakutannya sebagai seorang ibu mendadak mengambil alih kendali tubuhnya.
Dengan langkah yang perlahan bergeser cepat, Olivier mendekat kembali ke arah ranjang medis tempat King berdiri. Ia berhenti tepat satu langkah di depan pria itu.
"Lakukanlah..." kata Olivier singkat, suaranya nyaris berupa bisikan yang pasrah.
Mendengar izin itu, King Stone langsung menegakkan tubuhnya sejenak. Tanpa membuang waktu, ia melangkah maju memotong sisa jarak di antara mereka.
Namun, alih-alih merengkuh tubuh Olivier ke dalam dekapan dada bidangnya atau melakukan tindakan agresif lainnya, King justru perlahan menurunkan tubuh tegapnya.
Pria yang ditakuti oleh seluruh dermaga Chicago itu menekuk lututnya, berlutut dengan satu kaki di atas lantai dingin di hadapan Olivier.
King menundukkan kepalanya tepat di depan perut ramping Olivier yang terbungkus jubah putih kedokteran.
Tidak ada ciuman di perut. Tidak ada pelukan posesif yang memaksa.
King hanya mengangkat kedua tangan kekarnya yang dipenuhi rajahan tinta hitam tebal, lalu menempelkan kedua telapak tangannya dengan sangat lembut di sisi kiri dan kanan perut ramping Olivier. Tindakan itu begitu kaku, namun sarat akan penghormatan dan rasa sayang yang teramat sakral.
Di masa lalu, setiap kali mereka selesai menghabiskan malam di apartemen lantai enam belas, King selalu berlutut seperti ini di depan Olivier.
Pria itu selalu meletakkan tangannya di perut Olivier, berkhayal tentang masa depan di mana mereka akan memiliki keluarga kecil yang bahagia, jauh dari bayang-bayang keluarga Stone.
Seakan sedang berbicara pada masa depan yang pernah mereka impikan dulu—masa depan yang ia kira telah musnah, tanpa tahu bahwa fajar masa depan itu sebenarnya telah menjelma menjadi sosok Nora Amelie di Lincoln Park—King berbisik dengan suara yang bergetar menahan tangis.
"Heyyy... anak-anak Daddy di masa depan..." ucap King, suaranya serak, bergetar tepat di depan jubah putih Olivier. "Terima kasih sudah menjaga Mommy selama ini, ya..."
Jempol tangan King yang dihiasi tato hitam bergerak mengelus kecil, sangat pelan, di atas kain jubah putih yang menutupi perut ramping itu.
Hanya sebuah elusan kecil yang sarat akan kerinduan mendalam dari seorang pria yang jiwanya telah mati selama sepuluh tahun terakhir.
Tidak ada elusan besar yang lancang, tidak ada ciuman yang menuntut. Hanya sebuah sentuhan penuh kepatuhan dari seorang pria yang sedang melepas belahan jiwanya.
Olivier Martinez berdiri kaku di tempatnya. Demi Tuhan, air mata yang sejak tadi ia tahan mati-matian di sudut kelopak matanya kini mulai merebak, membuat pandangannya mendadak kabur dan berkaca-kaca.
Sentuhan tangan King di perutnya mengirimkan gelombang rasa bersalah yang teramat besar hingga dadanya terasa seperti dihantam palu godam.
Dia sedang berbicara pada anaknya... Dia sedang berterima kasih pada masa depan kami, tanpa dia tahu bahwa anak itu benar-benar ada dan hidup di kota ini, batin Olivier menjerit histeris dalam kesunyian.
Rasa takutnya sebagai seorang ibu mendadak berbenturan hebat dengan rasa bersalahnya sebagai seorang wanita yang menyembunyikan kebenaran sebesar itu dari ayah kandung anaknya.
Di tengah keheningan yang sarat akan kepedihan itu, King perlahan mendongak tanpa mengubah posisinya yang masih berlutut. Mata elangnya yang kini kemerahan menatap wajah Olivier yang berkaca-kaca.
"Apa boleh aku mencium mereka?" tanya King dengan nada memohon yang teramat sangat, merujuk pada bayangan anak-anak mereka di perut itu.
Olivier dengan cepat mengedipkan matanya, berusaha menghalau air mata yang hampir jatuh agar tidak terlihat lemah di depan pria itu. Ia menarik napas pendek yang bergetar, lalu menggelengkan kepalanya dengan tegas.
"Cium apa?" kata Olivier, suaranya diusahakan tetap ketat meskipun terdengar parau.
"Jangan serakah, King. Perut itu... tidak ada anak-anakmu di sana. Jangan gila."
Mendengar jawaban dingin itu, King Stone menarik napas panjang, sebuah senyuman getir terukir di bibirnya yang tampak pucat. Ia perlahan menurunkan kedua tangannya dari perut Olivier, melepaskan satu-satunya kehangatan yang tersisa di hidupnya.
"Baiklah... maafkan aku," jawab King rendah, penuh kepatuhan yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun di dunia ini.
Namun, sebelum King Stone sempat bangkit berdiri dari posisinya yang berlutut, rasa sakit, cemburu, dan tumpukan emosi yang selama beberapa hari ini berkecamuk di dalam dada Olivier mendadak pecah begitu saja.
Mengingat reputasi King sebagai playboy internasional yang kerap diberitakan bersama wanita-wanita klan Eropa selama sepuluh tahun terakhir, Olivier tidak bisa menahan lidahnya untuk tidak meluncurkan kalimat sinis yang sarat akan luka hati.
"Entah berapa puluh wanita yang sudah kau tiduri selama sepuluh tahun ini, dan kau katakan ucapan modus yang sama seperti itu pada mereka..." ucap Olivier, suaranya bergetar hebat saat air mata pertamanya akhirnya luruh membasahi pipinya. "Mengingat semua itu... rasanya aku mual, King."
Deg.
King Stone terpaku di tempatnya. Kata-kata itu menghantam tepat di jantungnya. Ia mendongak sepenuhnya, menatap lurus ke dalam sepasang mata bulat Olivier yang kini telah basah oleh air mata.
King tidak merasa sakit hati atau tersinggung oleh tuduhan kejam tersebut. Demi Tuhan di langit, di balik semua berita miring, foto-foto di majalah bisnis, dan citra buruk yang sengaja ia pelihara untuk mengelabui dunia, King Stone tidak pernah menyentuh atau tidur dengan wanita mana pun selama sepuluh tahun terakhir ini.
Satu-satunya wanita yang pernah memiliki seluruh tubuh dan jiwanya adalah wanita yang saat ini dengan mata memerah di hadapannya.
Melihat mata Olivier yang berkaca-kaca, dan mendengar tuduhan yang terdengar begitu emosional—tuduhan yang sangat mirip dengan kemarahan seorang istri yang sedang terbakar cemburu—sebuah senyuman murni yang teramat tulus perlahan terbit di wajah tampan King.
Rasa haru mendadak membuncah di dadanya karena ia tahu, di balik kemarahan itu, Olivier masih sangat memedulikannya.
King bangkit berdiri perlahan, menyejajarkan kembali tubuh tegapnya di depan Olivier.
"Hanya padamu, El. Aku tidak pernah tidur dengan mereka."
Olivier memalingkan wajahnya ke samping, mengusap air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangannya, menolak untuk mempercayai ucapan itu. "Alasan. Pria seperti mu tidak akan pernah bisa hidup tanpa wanita di ranjang."
King Stone memajukan wajahnya sedikit, menatap Olivier dengan binar mata yang mendadak berubah menjadi intens, dalam, dan dipenuhi oleh kegilaan cinta yang absolut—sebuah kegilaan yang membuktikan bahwa seluruh kewarasannya telah habis terbakar oleh nama Olivier Martinez.
"Dia nggak hidup, El," jawab King dengan nada suara yang rendah namun sarat akan penekanan yang mengerikan.
"Bagian tubuhku yang ini... jiwaku... semuanya tidak pernah hidup untuk wanita lain selain dirimu. Jika bukan kau yang menyentuhnya, maka semuanya mati. Aku tidak pernah menyentuh mereka, karena bagiku, tidak ada wanita lain di dunia ini yang berhak memilikiku selain kau."
Mendengar jawaban yang begitu gila namun sarat akan kejujuran mutlak dari bibir King, Olivier Martinez hanya bisa terdiam seribu bahasa.
mudah2an si Nora tiap malem minta tidur sm emak bapaknya 🤣🤣🤣