NovelToon NovelToon
Maira : Suamiku Menikahi Pembantuku

Maira : Suamiku Menikahi Pembantuku

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:4.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Sujie

Ketika kepercayaan sudah ternodai, akankah hati masih bisa bertahan?

Sebuah perjalanan cinta dan pernikahan antara Maira dan Agam yang diwarnai kehadiran orang ketiga yang sama sekali tak diharapkan oleh keduanya.

Diantara Maira dan Agam maupun Sita yang merupakan orang ketiga disini, tidak ada yang menghendaki hubungan ini sama sekali.

Lalu bagaimanakah akhirnya hubungan ini bisa terjadi?

Bagaimana Agam berjuang meyakinkan Maira dan merebut kembali hatinya yang terluka? Namun selain itu, mampukah Agam menjaga hatinya setelah menikahi Sita?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sujie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasaan Tidak Enak

Aku tidak tahu kenapa hari berlalu begitu lama sekali. Padahal baru dua hari aku ada disini. Pikiranku terus tertuju pada mas Agam. 

Maira yang sedang duduk sendiri di cafe hotel itu menatap pemandangan malam Kota Surabaya yang tak kalah gemerlap dengan ibukota tempatnya tinggal. Ditemani secangkir hot cappucino, ia menunggu bosnya yang belum juga menampakkan batang hidungnya.

Hari ini ia dan pak Hardi akan menghadiri undangan peresmian mall baru milik rekan bisnis bosnya di salah satu sudut kota itu. Sebenarnya peresmiannya sudah tadi pagi, tapi yang namanya orang kaya tidak akan lengkap jika tidak mengadakan pesta pribadi bersama rekan-rekan bisnis yang lainnya. Mungkin begitulah cara mereka menghabiskan uangnya agar tidak terlalu menumpuk. Haha ... miris sekali memang hidup ini. Di satu sisi ada orang yang harus jungkir balik untuk mendapatkan sepeser uang, sementara disisi yang lain ada yang bahkan bingung bagaimana cara menghabiskan uang.

Maira merasa bersalah, pasalnya di hari yang sama ini. Suaminya pun juga mendapat undangan dari perusahaannya. Tapi ia tidak bisa menemani suaminya dan justru pergi menjalankan tugas di luar kota. Pergi ke pesta lain bersama lelaki lain yang tak lain adalah bosnya. 

"Maira," panggil seseorang untuk ketiga kalinya, seseorang yang suaranya sudah familiar ditelinga Maira.

"Pak Hardi ..., maaf ... maafkan saya, saya melamun tadi." Maira berdiri dan membenarkan pakaiannya. Tersenyum hormat pada bosnya. Malam ini ia mengenakan baju yang sangat tertutup. Namun diluar itu keanggunannya masih bisa terpancar dengan jelas. Hardi bahkan sampai terkesan saat melihatnya tadi. Ah, sayangnya wanita ini sudah memiliki suami.

"Tidak masalah, aku hanya mengingatkanmu jika acara di rumah pak Richard sebentar lagi dimulai." Seperti biasa, pak Hardi berbicara dengan ekspresi datar, dingin dan suaranya penuh aura kekuasaan.

"Baik, Pak. Saya sudah siap, kita bisa berangkat sekarang." Maira menundukkan kepalanya.

Lelaki berkuasa bernama Hardi Hermawan itupun melangkahkan kakinya menuju sebuah mobil mewah berwarna hitam yang akan membawa mereka ketempat tujuan. Maira hanya mengikuti saja, ia segera masuk dan duduk dengan sopan setelah pengemudi itu membukakan pintu untuknya.

Tidak banyak obrolan disepanjang perjalanan selain hanya urusan pekerjaan. Hardi juga bahkan berusaha tak menoleh ataupun melirik sekertarisnya sedikitpun. Profesionalisme diantara keduanya memang benar-benar terjaga sejak dulu. Sejak Maira mulai bekerja padanya.

Lebih dari tiga puluh menit melaju, mobil yang membawa mereka pun berhenti di halaman luas sebuah rumah yang sangat mewah milik rekan bisnis Hardi. Rumahnya berdiri dengan sangat megah, membuat takjub bagi siapa saja yang bertandang kesana.

Setelah Hardi turun, Maira pun juga ikut turun sesaat setelah pengemudi membukakan pintu untuknya.

Terlihat disana suasana pesta nampak meriah dan mewah. Tamu-tamu yang datang diundang pun bukanlah orang-orang sembarangan. Mengingat Richard adalah salah satu crazy rich di kota pahlawan ini.

"Kau bisa membaur dengan siapa saja, tidak perlu mengikuti ku sepanjang acara ini berlangsung," ujar Hardi sesaat sebelum memasuki rumah itu.

"Baik, Pak. Terimakasih," jawab Maira.

Namun apa mau dikata, jangankan untuk berbaur dengan kalangan sosialita itu, menyapa mereka saja rasanya Maira tidak percaya diri. Dibandingkan dengan tamu undangan lainnya, penampilan Maira menunjukkan jika kastanya tidaklah sebanding dengan mereka. Terlihat dimata Maira mereka mengenakan gaun mewah, tas merk dunia dan juga jangan lupakan perhiasan yang nampak elegan dan berkelas yang entah berapa harganya.

Merasa tidak percaya diri, akhirnya ia pun memilih untuk menikmati jalannya acara dengan mengambil tempat di sudut ruangan yang agak jauh dari kerumunan orang-orang berkelas itu. 

Satu jam berlalu.

Dua jam berlalu.

Maira mulai bosan. Namun lebih dari rasa bosannya, hatinya kembali terasa tidak enak seperti ada yang mengganjal di dalam sana. Teringat kembali pada sosok suaminya. Entahlah ... mungkin ini hanya perasaan bersalahnya karena meninggalkan suaminya di hari-hari pentingnya.

Ya Allah, kenapa perasaanku nggak enak sekali seperti ini? gumamnya.

Setelah waktu semakin berlalu, Maira pun menengok arloji ditangannya yang menunjukkan waktu sudah lewat tengah malam.

Ia berdiri dan berjalan keluar ruangan itu untuk mencari udara segar diluar.

Kaki jenjangnya terus melangkah menyusuri area luar rumah besar itu dengan perlahan. Maira mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya guna mengurangi rasa sesak yang terasa menghimpit di dadanya.

Ya Allah, ada apa ini? Kenapa aku teringat mas Agam terus? Mungkinkah mas Agam sedang kenapa-napa? Hhh ... lindungilah setiap langkah suami hamba ya Allah. Jauhkan dia dari segala bahaya yang mengancam, doanya dalam hati.

Maira membuka tasnya dan memeriksa ponselnya, memeriksa pesan yang ia kirimkan pada suaminya sejak tadi.

Namun jangankan dibalas, dibaca saja belum. Lalu dengan perasaan cemas Maira mencoba meneleponnya.

Satu panggilan, lalu dua panggilan, hingga panggilan kesepuluh pun Agam tak kunjung menjawab teleponnya. Membuat Maira semakin khawatir pada suaminya.

Mas Agam kemana sih? Tumben sekali pesanku tidak dibalas, ditelepon juga susah sekali.

"Maira," panggil Hardi dari arah belakang.

"Iya, Pak," jawabnya dengan ekspresi sedikit terkejut.

"Acara sudah selesai, jika kau ingin kembali ke hotel, kembalilah! Aku masih ada urusan pribadi dengan Richard, jadi kau tidak perlu menunggu." Hardi berbicara dengan sedikit lebih santai.

"Baik, Pak."

Maira pun tak berpikir panjang lagi, ia langsung memilih kembali ke hotel tempatnya menginap dengan diantar oleh sopir yang mengantarkannya tadi. Ia terus mencoba menghubungi suaminya tapi hasilnya nihil. Entah sudah berapa kali ia menelepon Agam malam itu.

*****

Sementara itu di kota yang lain, di ibukota. Di sudut sebuah kamar yang gelap gulita, Sita duduk dengan melipat kedua lututnya dan memeluknya. Ia masih belum memakai apa-apa ditubuhnya dan hanya membalutnya dengan selimut.

Ia terus menangis tersedu-sedu hingga tubuhnya ikut terguncang, sama terguncangnya dengan batinnya saat ini.

Pakaian yang dipakainya tadi sudah tidak berbentuk karena majikannya merobek pakaian itu dengan brutal hingga kancing bajunya hampir semuanya terlepas.

Sita tidak pernah bermimpi ataupun membayangkan hal ini akan menimpanya. Ia sangat tertekan saat ini, bagaimana ia akan menghadapi hari esok? Bagaimana jika dia sampai hamil? Bagaimana jika hal itu benar terjadi? Lalu bagaimana ia akan mengatakannya pada bapaknya?

Buliran bening terasa tidak bisa berhenti menetes dari pelupuk matanya yang sudah mulai membengkak. Rasa sakit di bagian bawah tubuhnya masih sangat terasa perih sekali.

Kenapa aku harus mengalaminya, ya Allah? Kenapa harus aku? Kesucian yang selama ini ku jaga dengan sangat hati-hati kenapa harus berakhir di tangan lelaki yang bahkan sedang hilang kesadarannya? Kenapa?!

Sita terus menangis hingga tubuhnya lelah dan membuatnya secara tidak sadar telah berpindah ke alam mimpi, dengan tetap berada di lantai di sudut kamarnya.

1
Vindy swecut
keren👍🏻
Enung Samsiah
pokonya yg kasihn disini yg pling mnderita cuma sita,, agam pengecut
Enung Samsiah
endingnya nggk seru, sita ksihn ggk pernah bhgia, apalagi agam pengecut nggk punya hatii bngett
Enung Samsiah
tpi yg lbh kasihn itu sita, sakit hatinya tidk bisa marah pd siapapun, nyesekkk,,,
Enung Samsiah
kasim nggk punya hati,,,
Enung Samsiah
pk kasim ngebiarin dosa nggk punya hati bngett brengsekkkk,,
Enung Samsiah
susah hamil karena kecapean mungkin pada sibuk pagi pergi pulang mlm,,
Anonymous
Ppp p0..00.0
Armi Armi
cari tu yg agak tuaan, ini mah si meira yg cari penyakit....
Hasian Marbun Ian ayurafanisa
bnyak yg coment masalah pembantu yg masih muda, menurut aq bkn masalah pembantu tua ato mudanya tapi agamnya yg salah karena gk teguh pendirian
Tut Eny
lanjut
i am wiyya
kasihan sita.. walaupun rela tp nyatanya maira agam dan orangtunya agam jahat dan egois... bukan kesalahan sita sepenuhnya...
~R@tryChayankNov4n~
blm rilis ya thor novel barunga....
gw intip koq gk ad🙃
~R@tryChayankNov4n~
otw ngintip...👍👍💛💛
Helsey Khalila
bikin sita ama reza thorr kasian sita
Keiza Alfaro
sebenarnya yg salah disini adalah Maira kalau dia sudah merelakan Agam untuk menikah dengan Sita seharusnya dia juga memberikan hak yg sama dengan Sita.tp nyatanya apa hanya ketidak adilan yg diterima oleh Sita hingga menyakiti hati Sita dan Agam lah yg menanggung dosa karena tidak bisa berbuat adil kepada kedua istrinya.kalau kita tidak rela berbagi ranjang dengan wanita lain jgn pernah meminta suami kita menikah lagi.kalau maira wanita yg terpilih pasti dia akan ridho untuk dimadu,pasti dia akan ridho membagi suaminya dengan istri keduanya.
Helsey Khalila
seorang istri yg berhati mulia
sari emilia
mk nya kl ga pernah minum ga usah so so an ikut kaim dajal jd double kn dosanya mabok n berzinah untunh ga sekalian spt kisah zurais
Melianvi
lanjut thor, lagi nyimak
Juan Sastra
suka endingnya..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!