NovelToon NovelToon
Kukira Kita Spesial

Kukira Kita Spesial

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat
Popularitas:224
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha Aprila

Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.

Semua terasa nyata. Terasa spesial.

Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.

Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.

Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mesin yang Kembali Menyala

Pagi ini aku terbangun bahkan sebelum alarm berbunyi. Langit di luar masih kebiru-biruan, belum sepenuhnya terang, tapi tubuhku terasa segar.

Entah kenapa, bahkan sebelum benar-benar bergerak, aku sudah merasa ini adalah awal dari suatu perubahan.

Aku melangkah keluar menuju balkon di samping kamar. Dari sana, terlihat balkon kamar Cila yang posisinya sedikit lebih tinggi.

Aku menatap ke arahnya.

“Lihat aku, Cila… aku akan berusaha berubah untukmu,” pikirku dalam hati.

Senyumku mengembang. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya cepat.

“Huh…”

Setelah itu, aku kembali masuk ke kamar dan keluar melalui pintu yang mengarah ke dalam rumah. Aku menuruni tangga pelan-pelan. Suasana masih sepi—sepertinya yang lain masih tertidur.

Di dapur, Bi May sedang mencuci piring bekas makan semalam.

“Dek Rendra, tumben sudah bangun,” sapanya.

“Iya, Bi. Lagi semangat nih. Ada pisang nggak?”

“Ada, di kulkas.”

Aku membuka kulkas, mengambil dua buah pisang, lalu minum segelas air. Setelah itu, aku kembali ke kamar.

Namun, begitu sampai di dalam, aku justru terdiam.

“Sekarang ngapain?” tanyaku dalam hati.

Mau lari… tapi aku belum punya sepatu yang cocok. Yang ada cuma sepatu sekolah.

Saat itulah rasa malas mulai datang.

“Ngapain juga pagi-pagi begini…”

Aku menghela napas pelan.

Ini pasti bakal sering kejadian, pikirku.

Tapi aku tidak mau berhenti di sini.

Aku keluar lagi, kali ini lewat pintu depan rumah. Di luar masih gelap samar, udara pagi terasa dingin dan sepi.

Bisikan itu datang lagi.

“Mau ngapain pagi buta kayak gini…”

Aku mengabaikannya.

Aku melangkah menuju gerbang, membukanya, lalu mulai berlari kecil di jalan kompleks depan rumah.

Jalannya masih sepi. Hanya suara langkah kakiku yang terdengar.

Awalnya ringan.

Tapi beberapa menit kemudian, napasku mulai berat. Kakiku terasa sedikit pegal.

Aku melambat, tapi tidak berhenti.

Aku terus berlari bolak-balik di jalan itu selama sekitar dua puluh menit.

Keringat mulai keluar, napasku tak lagi teratur.

Tapi di dalam hati…

aku merasa puas.

“Kurasa dua puluh menit cukup untuk hari ini,” pikirku.

Selain hari yang mulai terang, napasku juga sudah ngos-ngosan. Dadaku naik turun cepat, keringat mulai membasahi pelipis.

Aku pun berjalan kembali ke rumah.

Saat hendak membuka pintu gerbang, kulihat Mang Tatang sudah ada di halaman, bersiap menyapu dengan sapu lidi di tangannya.

“Weh, abis ngapain ngos-ngosan gitu, Ndra?” tanyanya heran.

“Enggak, Mang… abis iseng aja, hehe,” jawabku sambil tersenyum kecil, napasku masih belum sepenuhnya teratur.

Mang Tatang mengangguk pelan, masih memperhatikanku sebentar, lalu mulai menyapu halaman seperti biasa.

Saat hendak masuk ke dalam rumah, mataku tertuju pada sebuah motor tua yang terparkir rapi di garasi.

Catnya masih terlihat mulus.

“Kayak nggak asing…” pikirku.

Aku menoleh ke arah Mang Tatang.

“Mang, ini motor siapa ya?” tanyaku.

Mang Tatang berhenti menyapu sebentar, lalu menoleh.

“Itu motor Dek Rendra. Kemarin lusa ibu minta mamang ambil dari kampung,” jawabnya santai.

Aku terdiam sejenak.

“Oh…” sahutku pelan.

Tapi di dalam hati, rasanya berbeda.

Ada rasa senang yang tiba-tiba muncul. Seolah semuanya berjalan perlahan ke arah yang lebih baik.

Meski… di sisi lain, aku masih merasakan sedikit perseteruan dalam diri.

Antara semangat dan rasa malas yang kadang datang tiba-tiba.

Aku menarik napas pelan.

Lalu melangkah masuk ke dalam rumah.

Aku ingin menemui Ibu.

Aku pun bergegas menemui ibu.

Aku masuk melalui pintu depan dengan langkah cepat, hampir berlari kecil sambil mencari keberadaan ibu.

“Buu, Bu…” panggilku.

“Iya, apa sayang?” jawab ibunya dari dapur. Ibu sedang sarapan sambil tetap menatap layar laptop di depannya.

Aku segera menghampiri.

“Makasih ya untuk hadiahnya,” ucapku sambil tersenyum, napasku masih sedikit terengah. Aku lalu duduk di dekat ibu.

“Oh, motor itu?” sahut ibu santai.

Ibu mengambil HP yang tergeletak di meja, lalu menunjukkannya ke arahku.

“Nih,” ujarnya.

Aku menatap layar itu. Seketika alisku sedikit terangkat. Nominal yang tertera jelas bukan angka kecil.

“Apa ini, Bu…?” tanyaku pelan, masih menatap layar.

“Berhubung kamu nggak mau dibelikan motor baru, jadi Ibu kasih uangnya saja,” jawab ibu sambil tersenyum tipis, menatapku.

Aku terdiam sejenak.

“Bukannya ini terlalu besar…?” ucapku pelan, sedikit ragu.

Ibu tersenyum, lalu mengusap pelan kepalaku.

“Udah, nggak apa-apa. Ibu percaya kamu bisa pakai itu dengan bijak.”

Aku hanya tersenyum kecil. Masih ada rasa kaget yang belum sepenuhnya hilang, tapi aku tidak banyak berkata.

Suasana sempat hening sejenak. Hanya terdengar suara peralatan makan yang disentuh pelan.

Tak lama, ibu mulai membereskan barang-barangnya.

“Ya udah, Ibu berangkat dulu ya. Nanti keburu siang,” ujarnya sambil berdiri.

Sebelum benar-benar pergi, ibu sempat menunduk sedikit dan mencium pipiku.

Aku hanya mengangguk pelan, masih duduk di tempat, memikirkan apa yang baru saja terjadi.

Tak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka dari lantai atas, diikuti langkah kaki yang menuruni tangga perlahan.

Aku masih duduk di meja makan, pikiranku belum lepas dari uang yang tadi Ibu berikan. Jumlahnya cukup besar. Bahkan, yang sebelumnya saja sudah terasa banyak.

Dalam diam, aku mulai menghitung-hitung di kepala—apa saja yang perlu kubeli, mana yang penting, dan mana yang bisa ditunda.

Langkah kaki itu semakin mendekat.

“Lho, tumben kamu, Rendra. Jam segini udah bangun?”

Suara Kak Marisa membuyarkan pikiranku.

Aku menoleh. Kulihat dia sudah berdiri di dekat meja makan, rambutnya masih sedikit berantakan, tapi wajahnya terlihat segar.

“Kok Kakak belum bersiap?” tanyaku balik, sedikit mengernyit.

Kak Marisa menarik kursi, lalu duduk santai sambil mengambil piring.

“Pelajaran lagi kosong, jadi nggak masuk hari ini,” jawabnya ringan, lalu mulai mengambil makanan.

Aku mengangguk pelan. Kami pun mulai sarapan.

Suasana sempat hening sejenak, hanya terdengar suara sendok yang bersentuhan dengan piring.

Aku meneguk air sebentar, lalu menoleh ke arah Kak Marisa.

“Kak, aku mau beli sepatu buat lari… yang bagus di mana ya?” tanyaku sambil sedikit condong ke depan.

Kak Marisa melirik sekilas, lalu tersenyum tipis.

“Ya di toko sepatu,” jawabnya santai, sedikit menggoda. “Nanti deh, sama Kakak aja.”

Aku ikut tersenyum kecil.

“Oh iya… kalau susu buat nambah berat badan atau pertumbuhan, Kakak tahu nggak?” tanyaku lagi, kali ini sambil menggaruk belakang kepala.

Kak Marisa berhenti mengunyah, lalu menatapku lebih serius.

“Widih… tumben banget,” katanya sambil menyipitkan mata, seolah menilai.

Aku tertawa kecil.

“Hehe… tadi Ibu ngasih uang. Katanya buat ganti motor baru,” jelasku sambil sedikit mengangkat bahu.

Kak Marisa mengangguk pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Hm… gimana kalau sekalian beli suplemen aja. Tapi kamu harus gym,” ucapnya.

Aku langsung menggeleng cepat sambil tersenyum.

“Gym aku nggak bisa, Kak. Rencananya mau di rumah aja, biar bisa kapan pun. Gimana kalau beli alatnya?” kataku, nadaku sedikit lebih semangat.

Kak Marisa menatapku beberapa detik, lalu tiba-tiba tersenyum lebar.

“Cie… mau berubah nih. Kenapa ya?” godanya sambil sedikit menyenggol lenganku.

Aku langsung meringis.

“Ih, apaan sih. Emang nggak boleh kalau aku jadi lebih baik?” balasku setengah kesal, tapi tetap tersenyum.

Kak Marisa tertawa kecil.

“Haha… ya udah, nanti kita belanja sekalian keperluan kamu. Setelah sarapan, kita bersiap,” ujarnya sambil kembali mengambil makanan.

Aku langsung mengangguk cepat.

“Oke!” sahutku semangat.

Setelah selesai sarapan dan perbincangan itu, aku berdiri sambil menarik napas kecil.

“Kakak masih lama, kan?” tanyaku sambil menoleh.

“Emang kenapa?” jawab Kak Marisa tanpa berhenti makan, sendoknya masih bergerak pelan.

“Aku mau coba motor dulu. Takutnya ada yang harus diperbaiki,” ucapku dengan senyum semangat.

Kak Marisa melirik sekilas.

“Kakak udah lihat kok. Menurut Kakak sih… nggak terlalu buruk,” jawabnya santai.

Aku mengangguk cepat, lalu bergegas menuju depan rumah. Namun langkahku terhenti saat suara Kak Marisa kembali terdengar.

“Kuncinya di Mang Tatang!”

“Oh iya!” sahutku, lalu berbalik arah menuju garasi.

Di sana, Mang Tatang sedang menyiram tanaman. Air dari selang mengalir pelan, membasahi tanah yang masih terlihat lembap.

“Mang, kunci motor aku di mana ya?” tanyaku sambil mendekat.

Mang Tatang menoleh, lalu mematikan aliran air.

“Oh iya, Dek. Bentar…” ujarnya sambil berjalan ke arah rak kecil di sudut garasi. Ia mengambil sebuah kunci, lalu menyerahkannya padaku.

“Nih.”

“Makasih, Mang,” ucapku sambil menerima kunci itu.

Aku pun berbalik menghadap motor itu.

Diam sejenak.

Tatapanku menyusuri setiap bagian.

Catnya masih rapi. Beberapa bagian terlihat mengilap terkena cahaya pagi. Tidak banyak goresan—hampir seperti baru, padahal usianya sudah tidak muda.

“Masih dirawat banget sama Abah…” gumamku pelan.

Tanganku menyentuh setang motor, lalu perlahan mengusap bagian tangki.

Motor ini…

Aku masih ingat saat Abah memberikannya.

Motor ini diberi nama **Si 73 Biru**—karena lahir di era 70-an dan warnanya yang khas.

Semua masih original. Tidak banyak yang diubah.

Aku menarik napas kecil, lalu duduk di atas jok. Kunci kumasukkan, kuputar perlahan.

Mesin menyala.

Halus.

Aku tersenyum tipis.

Perlahan, aku mulai mengendarainya keluar dari garasi, lalu menyusuri jalan kompleks yang masih cukup sepi.

Angin pagi menyentuh wajahku.

Mesinnya terasa ringan. Suspensinya juga masih nyaman. Bahkan, untuk ukuran motor setua ini, semuanya terasa terawat.

“Masih enak banget…” batinku.

Aku memutar beberapa kali di sekitar kompleks, mencoba merasakan setiap tarikan dan suara mesin.

Tidak ada yang aneh.

Semuanya… terasa pas.

Beberapa menit kemudian, aku kembali ke rumah. Mesin kumatikan, lalu aku turun pelan dari motor.

Tanganku kembali menyentuh setang sebentar.

Entah kenapa, ada rasa berbeda.

Bukan sekadar senang.

Tapi… seperti menemukan kembali sesuatu yang lama hilang.

Aku tersenyum kecil, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.

Hari ini… sepertinya akan jadi awal yang baru.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama—

aku benar-benar ingin melangkah maju.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!