Dentang waktu yang terus berputar, menyisakan kesunyian di gelap malam. Deru nafas yang memburu buatnya lupa akan kelamnya dunia.
Sunyi bukan sepi yang melanda, luka bukan duka yang datang. Un All Neat Each Time !
...
Derap langkah kaki di sudut kasino.
"Hei bung!, serahkan dia padaku, i'm sure you quiet". Sarkasnya
"Oh,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maulidiyahdiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ini Harus Bagaimana
Disisi gadis bersurai coklat tengah beradu dengan lembar kertas di meja belajarnya, ia memeberi perhatian intens pada puluhan lembaran tersebut, sudah sejak siang tadi ia menghadap benda itu. Tak lama ia beralih menatap laptop yang sedari tadi sudah menyala, ribuan data ia masukkan hingga tak terasa jarum jama berputar dengan cepat, dan larut malam pun sudah menyapa, akan tetapi sudah selarut ini pekerjaannya belum usai juga, berkali-kali ia melirik jam di sudut bawah layar laptop. Tak berselang lama pintu kamarnya terbuka.
“Sudah larut malam istirahatlah”. Tegur seorang pria dari ambang pintu.
“Diamlah kau, aku ini sedang mengerjakan tugas”. Timpal gadis itu dengan nada kesal.
“Memangnya tugas apa yang kau kerjakan?”. Tanya pria itu tapi tak ada jawaban dari gadis itu.
“Haiih, terserah kau, kalau memang lelah tidurlah”. Ujar pria itu yang tampaknya sudah malas untuk menegurnya lagi, akhirnya pria itu menutup pintu kamar lagi.
“Sampai kapan ini semua akan selesai”. Keluhnya dalam hati menatap apa yang ia kerjakan belum juga ada tanda-tanda selesai, pada akhirnya ia memutuska untuk menutup laptopnya dan mengistirahatkan seluruh tubuh dan juga jiwanya.
***
Aku berlari ke kamar bunda, ini masih sangat pagi tapi keadaan mansion sudah dibuat segaduh ini, kulihat tampaknya ada banyak orang di kamar bunda.
“Bunda, ada apa ini?”. Tanyaku kepada bunda, namun tidak ada jawaban apapun dari bunda, bunda hanya terdiam saja dengan tatapan kosong.
“Kaisar cucuku”. Suara yang familiar, aku sempat berkerut siapa itu. Tatkala aku menoleh kulihat kakek yang masih setia dengan jenggot putihnya.
“Bundamu bilang ke kakek, kalau terkena teror dan ada pembunuhan di bangunan sayap kanan”. Sontak aku membelalak, mengapa hal ini terjadi secara tiba-tiba, apalagi papa yang tampaknya tak tahu-menahu soal ini.
“Sepertinya orang itu mulai aksinya lagi”. Gumam papa yang mampu kudengar. “Ck”. Mereka semua terlalu memikirkan kemungkinan tanpa melihat apa yang sudah terjadi sebelum kejadian ini, tak banyak bicara lagi aku keluar dari kamar bunda menuju garasi mansion.
“Tuan muda akan pergi kemana?”. Tanya salah satu bodyguard keluarga Pradipta, tapi aku tak menggubris pertanyaannya, kuraih kunci dan memakai helm full face, sebenarnya aku tidak ada tujuan, namun aku berfirasat ada sesuatu, kutarik gas motor Ducati buatan Italia ini dengan versi Panigale
Dalam perjalanan kuakui emosiku masih terkendali, Ducati ini masih kulajukan secara normal menyusuri kawasan perumahan elite Sakura Residence, aku memasuki kawasan itu dan menemukan mansion keluarga Bumantara disana. Ducati yang kubawa terparkir persis di depan taman bunga mansion Bumantara, kulihat pintu utama sudah terbuka sedikit, oh no, nenek sembrono sekali membiarkan pintu terbuka, apakah para pembantu tidak menutupnya?. Berbagai pertanyaan muncul di otakku, aish, sebaiknya aku masuk saja ke dalam. Di meja ruang tamu kulihat ada permainan sudoku yang tergeletak. Sepi , sepi seperti tak ada kehidupan, tidak seperti biasanya mansion Bumantara seperti ini, biasanya keluarga ibuku penuh dengan kehangatan, bahkan satu suara pun tak ada, dimana paman-pamanku ini, kuamati kalender jadwal kegiatan Keluarga Bumantara di kamar pamanku yang pertama, ck hari ini mereka semua ada jadwal dinas semua. Beralih aku ke kamar nenek, disanalah aku terkejut bukan main, kulihat nenek sudah terbujur kaku di bathtub kamar mandi, aih sudah kuduga bahwa nenek yang menjadi sasaran, sialnya aku tidak membawa ponsel atau apappun itu. Aku keluar dari kamar nenek mencari sesuatu yang bisa untuk menghubungi papa, tak berselang lama aku menemukan telepon rumah, sepuluh sampai lima belas kali aku menelfon tapi tak diangkat, baru ke enam belas diangkat.
‘HOME IS CALLING’
‘Halo’ terdengar suara Kadek di seberang sana.
‘Kadek ini aku Kaisar, tolong katakan pada papa kalau nenek masuk rumah sakit dekat perumahan, rumah sakit pelita harapan’ Ucapku panjang, tidak ada jawaban dari Kadek “Ck, lama”. Kumatikan komunikasi itu, dengan sigap kupanggil ambulance untuk membawa nenek ke rumah sakit.
Usai nenek dibawa ke rumah sakit, aku bersandar di tembok mansion, apa maksudnya seperti ini?, aku tahu tidak ada cara lain jika bukan di mulai kali ini.
‘TING’
Suara notitikasi yang entah itu dari ponsel siapa, kucari sumber suara tersebut ternyata ada di laci, kubuka ponsel itu.
‘ANAKKU 2 IN ROOM CHAT’
Anakku 2 : gawat yah, pedang seribu naga keluarga kita yang di hongkong diambil salah satu orang yang berkuasa di jerman
Anakku 2 : bagaimana agar pedang itu kembali
Ini ponsel kakek dan pesan yang masuk datang dari pamankuyang kedua, kutatap langit-langit mansion keluarga Bumantara yang dipenuhi gemerlapan lampu, aku keluar dari mansion itu dan kembali kulajukan Ducati ini menuju mansion Pradipta. Kali ini aku mengendarai dengan kecepatan yang tidak wajar, aku butuh berpikir, aku harus bagaimana?.
***
Kubelokkan Ducati Panigale ini persis di depan camp pelatihan, tanpa turun dari motor aku memanggil salah satu anak buah keluarga Pradipta, aku menyuruhnya untuk memanggilkan Kadek. Tak butuh waktu lama Kadek sudah datang dan menghadap kepadaku.
“Pesankan aku tiket ke Jerman sekarang juga”. Titahku tanpa banyak basa-basi, dengan cekatan Kadek melihat tiket pesawat.
“Maskapai Pradipta Air akan berangkat ke Jerman satu jam lagi, sedangkan ada maskapai Spencer Wings akan berangkat lima belas menit lagi”. Kadek menjelaskan kepadaku jadwal pemberangkatan pesawat ke Jerman di hari ini.
“Aku mau Spencer Wings saja”. Sahutku, Kadek hanya menghela nafas pasrah.
“Tuan muda tiket di maskapai Spencer Wings sudah habis, mengapa tidak di Pradipta Air saja?”. Ucap Kadek diiringi pertanyaan.
“Kau mempertanyakan apa yang kulakukan”. Tukasku dengan tatapan tajam yang kuhunuskan kepadanya, dia tidak akan berani melawanku.
“Tapi kan tuan muda, lima belas menit itu sangat dekat”. Tam[aknya Kadek masih bersikukuh agar aku tidak mengikuti maskapai Spencer Wings. Aku tak peduli, kuabaikan Kadek dengan menanggalkan helm di kepalaku. “Aku yang melakukan jadi kau jangan terlalu repot berpikir”. Ucapku diakhir sebelum akhirnya aku melajukan Ducati Panigale ini keluar dari mansion keluarga Pradipta menuju bandara.
Kecepatan dua ratus kilo meter per jam kutempuh di perjalanan menuju bandara, berkali-kali lampu merah kuhiraukan, banyak pasang mata pengendara menatapku tidak suka, oh, maaf aku tidak peduli, banyak pula dari mereka yang memarahiku, aku sangat terburu-buru, meski sebenarnya tidak hanya aku yang dikejar waktu.
Kulirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku, sialnya sepuluh menit lagi pesawat akan take off, tidak ada pilihan lain selain melewati jalan itu. Kubelokkan setir Ducati ini melewati jalan di sawah, hingga kulihat jalan tol yang masih berada di dekat gerbang masuk tol. Aku tak peduli, kutabrak pagar pembatas jalan tol ini dan melajukan cepat di jalan tol ini. Aku tahu ini bukan tempatnya, namun ini cara agar cepat sampai di bandara dalam waktu kurang dari sepuluh menit., kucari gerbang keluar tol yang terdekat dengan bandara. “Tujuh puluh dua international airport”. Batinku membaca tulisan. Akhirnya aku menemukannya, kuambil jalur tersebut dan lagi-lagi aku menabrak pembatas jalan tol tatkala akan sampai di gerbang tol.
Ducati panigale terparkir di sebelah taxi blue yang ada di bandara, aku tidak membawa apapun selain ponsel dan pistol yang berada di saku celanaku. Saat aku menuju tempat check-in, dan masih mengantri, kulempar pistolku yang terbungkus dengan wadah berwarna abu-abu, lemparan tadi hingga pistol melewati petugas imigrasi.
“Excusme sir, saya minta tolong agar anda mengambil barang yang dilempar tadi”. Ujar petugas itu sebelum memeriksaku, dia cukup jeli untuk mengawasi setiap orang. Kemudian aku mendekat padanya, kuletakkan satu tangan di pundaknya.
“Aku ingin bicara denganmu dan...”. Aku tidak melanjutkan ucapanku sampai aku beralih berbisik kepadanya.
“Kamu hanya seorang petugas di bandara ini, jadi jangan berlagak”. Dia terdiam sejenak sebelum melihat kartu nama yang kusodorkan.
“oh, silahkan maaf saya tidak mengetahui jika itu anda”. Ucapnya sigap, tampaknya dia cukup profesional untuk menghadapi orang-orang sepertiku, berarti tidak satu ataupun dua kali hal seperti ini terjadi. Kuambil pistol tadi, aku tidak yakin bisa mendarat dengan selamat kali ini, semoga baik-baik saja.