NovelToon NovelToon
Gadis Milik Tuan Dingin

Gadis Milik Tuan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Helena Fox

Aliora Amerta gadis cantik 19 tahun. Hidupnya berubah ketika pamannya berhutang besar pada Saga. Untuk melunasi hutang itu, Liora dipaksa menikah dengan Saga, pria yang sangat ditakutinya.

Sagara Verhakc berusia 27 tahun. Di dunia bisnis ia dikenal sebagai CEO jenius dan juga kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 18

Pagi datang lebih cepat dari biasanya. Liora terbangun dengan napas pelan. Matanya masih setengah terbuka saat ia menyadari ada sesuatu yang hangat masih melingkar di pinggangnya.

DEG.

Saga. Masih memeluknya. Ia langsung menegang. Namun tidak bergerak.

Hanya diam.Menatap wajah pria itu dari jarak yang sangat dekat.

Tenang.

Dingin. Seolah tidak pernah melakukan apa pun semalam.

Lalu memberanikan diri ,Tangannya membelai wajah saga.

" Kalau tidur kenapa dia ganteng, coba aja bangun langsung menyeramkan "

Perlahan.

Liora mencoba melepaskan diri. Secara perlahan ia mencoba melepaskan tangan saga di perutnya.

Hati-hati, Sangat pelan takut membangunkan saga.

Namun..

“Bangun.”

Suara rendah itu membuatnya langsung kaku. Saga sudah membuka mata.

Menatapnya. Tanpa ekspresi.

“I-iya…”

Liora langsung duduk. Menjauh sedikit.

" I want morning kiss"

Liora terbengong." Haa?"

Melihat liora yang hanya diam tak bergerak membuat saga menggeram kesal. Lalu tanpa aba-aba ia menarik dira mendekat ke dekapannya.

Cup.

Langsung mencium bibir liora bukan ciuman biasa , Saga semakin memperdalam ciumannya. Bahkan menyesapnya rakus, menggigit-gigit pelan bibir liora.

"Hmph!....."

Liora mendorong-dorong dada saga, Ia mulai kehabisan napas.

Saga melepaskan ciumannya melihat wajah liora mulai memerah kekurangan oksigen.

" Biasakan!"

Tegas seperti perintah. Liora hanya diam belum terbiasanya.

Lalu saga beranjak dari kasur.

“Siap-siap.”

“Ada perjalanan.”

DEG.

“Perjalanan…?”

“Kota lain.”

Jawaban singkat. Tidak memberi ruang untuk menolak.

“Dan kamu ikut.”

Jantung Liora langsung berdegup. Ia ingin bertanya. Ingin menolak.

Namun..

tatapan Saga sudah cukup.

“Iya…”

***

Selesi membersihkan diri liora sekarang berdiri di depan pintu ruang makan, jantungnya berdetak tidak karuan. Ia tahu… pria itu pasti sudah menunggunya.

Dan benar saja.

Saat pintu terbuka perlahan. Saga sudah duduk di kursi utama.

Rapi. Dingin. Tatapannya lurus ke depan, seolah sudah tahu liora akan datang.

Liora menelan ludah.

Ia berjalan pelan, langkahnya ringan tapi terasa berat. Tatapannya ia tundukkan, tidak berani menatap wajah pria itu.

"Tenang… cuma makan… cuma makan…" batinnya mencoba menenangkan diri.

Ia berhenti di kursi seberang Sagara.Tangannya baru saja hendak menarik kursi.

“Duduk sini.”

Suara itu datar. Tapi jelas perintah.

liora membeku.

“Hah…?” ia mengangkat wajahnya sedikit, ragu.

Sagara menepuk pelan pahanya.

“Di sini.”

DEG!

Wajah liora langsung memerah.

“A-aku bisa duduk di sini aja…” gumamnya gugup.

Sunyi.

Detik berikutnya.

Sagara menggeram pelan.;Dan sebelum liora sempat bereaksi.

Tangannya ditarik.

“Ah–!”

Tubuhnya langsung berpindah, duduk di pangkuan Sagara.

Liora langsung menegang.

“SA-SAGARA!”

Tangannya refleks mencengkeram kemeja pria itu agar tidak jatuh.

Para pelayan yang berdiri di sekitar langsung menelan ludah.

Mereka saling berpandangan.

Ini… sangat berbeda.

Tuan mereka biasanya dingin, kejam, tidak tersentuh. Tapi sekarang…

liora tidak berani bergerak. Jarak mereka terlalu dekat.

Ia bisa merasakan napas Sagara di dekat lehernya.

“Jangan bergerak,” bisik Sagara rendah.

liora langsung diam seperti patung.

Wajahnya semakin merah.

“Apa yang kamu lakukan…” gumamnya pelan, setengah kesal setengah gugup.

Sagara mengambil sendok. Lalu… menyerahkannya ke tangan liora.

“Suapi aku.”

liora langsung menoleh cepat.

“APA?!”

Nada suaranya terlalu keras. Para pelayan langsung menunduk.

liora panik sendiri.

“A-aku tidak mau.......kamu bisa makan sendiri bukan !”

Sagara menatapnya.

Dalam.

Tajam.

“Ulangi.”

liora langsung ciut.

“…nggak jadi,” gumamnya pelan.

Sagara kembali bersandar santai.

“Suapi.”

liora menggigit bibirnya. Dengan tangan sedikit gemetar, ia mengambil makanan.

Pelan… sangat pelan… ia menyuapkannya ke arah Sagara.

Namun karena gugup.

Sendok itu berhenti di udara.

Tidak sampai. Sagara menghela napas kesal.

“Lambat.”

Tiba-tiba tangannya memegang pergelangan tangan liora. Mengarahkan sendok itu langsung ke mulutnya.

liora membeku.

Jantungnya berdegup kencang. Sagara mengunyah santai… seolah semua ini hal biasa.

Sementara liora…

ingin menghilang dari dunia.

***

Para pelayan di sudut ruangan benar-benar syok.

Salah satu dari mereka bahkan hampir menjatuhkan nampan.

Tuan… disuapi…?

Hal yang mustahil.

Dan yang lebih mengejutkan..

Tatapan Sagara pada liora…tidak sepenuhnya dingin.

“Lagi,” ucap Sagara.

liora langsung menatapnya tidak percaya.

“Lagi?!”

Sagara hanya menaikkan alis.

liora mendengus pelan.

“Tuan ini bener-bener nyebelin…”

Tanpa sadar ia menggerutu.

Dan.

“Dengar.”

liora langsung kaku.

Sagara mendekatkan wajahnya ke telinga liora.

“Kalau kamu terus mengeluh…”

suara rendah itu membuat bulu kuduknya merinding.

“…aku punya banyak cara untuk membuatmu diam.”

DEG!

liora langsung diam total. Wajahnya merah padam. Tangannya kembali menyuapi dengan patuh.

Namun di balik semua itu…

Sagara memperhatikan setiap ekspresi liora.

Gugupnya.

Kesalnya.

Ketakutannya. Dan entah kenapa…

itu membuat pagi yang biasanya hambar… menjadi sedikit lebih hidup.

Sementara liora…

hanya bisa berpikir satu hal.

Ini bukan sarapan…

Ini siksaan. bukanya bisa menghindar malah......

***

Sekitar dua jam kemudian..

mobil hitam kembali melaju. Kali ini menuju bandara pribadi.

Semua terasa cepat.

Tanpa jeda.

Tanpa pilihan. Liora hanya bisa menurut.

Duduk diam di samping Saga. Sesekali melirik ke arahnya.

Masih tidak terbiasa. Namun juga… tidak lagi sepenuhnya menjauh.

" Ngantuk?"

"I–iya.."

Saga mengangkat tubuh liora dan mendudukan nya di pangkuannya. Memeluknya.

"Eh!–"

" Tidurlah!"

Liora hanya mengangguk karna sudah benar-benar mengantuk.

***

Perjalanan panjang itu akhirnya berakhir di sebuah kota besar.

Gedung-gedung tinggi.

Udara yang berbeda. Dan hotel mewah yang sudah menunggu.

Saga turun lebih dulu.

Aura dinginnya langsung terasa bahkan di tempat baru itu.

Liora sudah terbangun saat di perjalanan tadi ,dan mengikuti di belakang.

Sedikit gugup. Matanya mengamati sekitar.

Baru saja mereka masuk ke lobi langkah Saga terhenti. Seseorang berdiri di sana. Seorang wanita.

Anggun.

Cantik.

Berpakaian elegan. Matanya langsung tertuju pada Saga.

Dan senyum itu.

terlihat manis.

Namun… tajam.

“Saga.”

Suaranya lembut.

Namun penuh arti.Liora berhenti di belakang. Menatap bingung.

Saga menatap wanita itu.

Datar.

“Yena.”

Satu kata.

Namun cukup untuk membuat wanita itu tersenyum lebih lebar.

Ia melangkah mendekat. Matanya tidak lepas dari Saga.

Namun.

kemudian bergeser. Ke arah Liora.

DEG.

Tatapan mereka bertemu.

Dan dalam satu detik. Liora bisa merasakan sesuatu.

Tidak suka.

Dingin. Dan… merendahkan.

“Ini siapa?” tanya Yena pelan.

Nada suaranya tetap lembut. Namun jelas… tidak ramah.

Saga tidak menunda.

Tangannya langsung menarik Liora sedikit ke depan.

“Istriku.”

DEG!

Liora kaget.

Namun tidak bergerak.

Sementara.

senyum Yena membeku. Hanya sesaat. Sangat singkat. Namun terlihat.

“Istri…?” ulangnya pelan.

Matanya kembali menatap Liora.

Lebih tajam.

Lebih dalam.

Seolah menilai.

Menghakimi.

Lalu. ia tersenyum lagi.

Lebih tipis.

“Menarik.”

Ucapnya pelan.

Namun ada sesuatu di balik kata itu. Sesuatu yang… tidak baik.

***

Beberapa menit kemudian.

mereka sudah berada di dalam suite hotel.

Liora duduk di sofa..Masih memikirkan tatapan wanita tadi.

“Aku… gak suka dia…” gumamnya tanpa sadar.

Saga yang berdiri di dekat jendela.

melirik sekilas.

“Jangan dekat dengannya.”

Suaranya datar.

Namun kali ini ada peringatan di dalamnya.

Liora menatapnya.

“Dia siapa?”

“Sepupuku.”

Jawaban singkat.

Namun cukup membuat Liora terdiam.

Dan entah kenapa..itu justru membuat perasaannya semakin tidak tenang.

***

Di sisi lain Yena berdiri di kamarnya.

Menghadap cermin. Namun pikirannya jelas tidak di sana.

Tangannya mengepal pelan.

“Istri…?”

Ia tertawa kecil.

Namun tidak ada kehangatan di sana.

Matanya gelap. Penuh sesuatu yang berbahaya.

“Apa yang kau lihat dari gadis itu, Saga…”

bisiknya pelan. Tatapannya berubah.

Licik.

Dingin.

Lalu.

ia mengambil ponselnya. Menekan sebuah nomor.

“Awasi dia.”

Perintahnya singkat.

“Gadis itu.”

Senyumnya perlahan muncul kembali. Namun kali ini.

penuh racun.

“Aku ingin lihat… seberapa kuat dia bertahan.”

Di kota yang asing itu. bahaya baru mulai muncul.

Bukan dari peluru. Bukan dari musuh lama.

Namun dari seseorang, yang tersenyum manis di permukaan. Dan menyimpan rencana gelap di baliknya.

***

" Tetap di sini . Jangan kemana-mana!" Perintah saga.

" Bolehkah aku ikut saja?"

" Tidak. disana berbahaya, Kamu tetap disini tunggu aku sampai kembali"

Liora mengangguk " Baiklah. "

Siang itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Suite hotel yang luas itu…

kosong.

Saga pergi bersama Ben untuk urusan bisnis.

Dan untuk pertama kalinya. Liora benar-benar sendiri.

Ia duduk di sofa.

Memeluk lututnya. Matanya menatap jendela besar di depannya.

Kota asing.

Tempat yang tidak ia kenal. Dan perasaan tidak nyaman…

yang sejak tadi tidak mau pergi.

“Aneh…” gumamnya pelan.

Namun ia mencoba mengabaikannya.

Bangkit. Berjalan pelan ke arah dapur kecil.

Mencari minum.

klik.

Suara pintu terbuka. Liora menoleh cepat. Jantungnya berdegup.

“S-Saga…?”

Namun.

bukan. Yang berdiri di sana....

Yena.

Dengan satu pria di belakangnya.

Bodyguard.

DEG.

Tubuh Liora langsung menegang. Tatapannya berubah.

Takut.

“Sendirian?” tanya Yena santai.

Senyumnya manis.

Namun matanya… dingin. Liora mundur satu langkah.

“Iya…”

Suaranya kecil. Naluri di dalam dirinya langsung memberi peringatan.

Berbahaya.

Yena melangkah masuk. Pintu tertutup di belakangnya.

Perlahan.

Terkunci.

DEG!

“Ka-kamu mau apa…?” Liora mulai panik.

Yena tidak langsung menjawab.

Ia mendekat.

Pelan.

Anggun. Namun setiap langkahnya terasa menekan.

“Harusnya kamu tahu diri,” ucapnya lembut.

“Tahu posisi.”

Liora menggeleng cepat.

“Aku gak—”

Belum sempat selesai.

BRUK!

Bodyguard di belakang Yena langsung bergerak.

Menangkap pergelangan tangan Liora dengan kasar.

“Ah—lepaskan aku!” Liora meronta.

Namun tenaganya kalah jauh.

Ia diseret.

Paksa.

Menuju kamar mandi.

“Berani sekali kamu… dekat dengan Saga,” bisik Yena di dekat telinganya.

Nada suaranya berubah.

Lebih tajam.

Lebih dingin.

“Dia bukan untukmu.”

“Dia suamiku!” teriak Liora reflek.

DEG.

Hening satu detik.

Lalu..

PLAK!

Tamparan keras mendarat di wajah Liora.

Tubuhnya terhuyung. Hampir jatuh. Pipi kirinya langsung memerah.

Air mata langsung menggenang.

“Jangan pernah bilang itu lagi,” desis Yena.

Matanya penuh amarah.

“Karena kamu… tidak pantas.”

Liora menangis kesakitan di tangannya.

Namun tetap menatap.

Tajam. Dan juga… menahan.

" Aku tidak ada urusan denganmu!"

“Masukkan dia.”

Perintah Yena dingin. Bodyguard itu langsung menyeret Liora ke dalam kamar mandi.

Pintu dibuka paksa. Tubuh Liora didorong masuk.

Ia jatuh ke lantai.

“Ah—!”

Belum sempat bangun.. rambutnya dijambak.

Keras.

“AAH! SAKIT!”

Kepalanya ditarik ke belakang.

Air matanya jatuh tanpa henti. Yena menatapnya dari atas.

Tanpa belas kasihan.

“Lihat dirimu,” ucapnya sinis.

Lalu..

ia mengambil ember.

Menuangkan air dingin. Belum sempat liora menghindar bodyguard tadi menahan tangannya kembali.

BYUR!

Air mengguyur tubuh Liora.

Membuatnya menggigil. Napasnya tersengal.

Tubuhnya lemas.

“Ini tempatmu,” lanjut Yena pelan.

“Menyedihkan.”

Ia melepas rambut Liora dengan kasar.

Lalu berdiri.

“Biarkan dia di sini.”

Perintahnya.

Bodyguard itu mengangguk. Pintu kamar mandi ditutup.

Terkunci dari luar.

Di dalam.

Liora tergeletak. Basah kuyup.

Tubuhnya gemetar. Kepalanya pusing.

Air mata terus mengalir.

“Saga…” bisiknya lirih.

Namun tidak ada jawaban. Tidak ada siapa-siapa.

Hanya dingin.

Dan sunyi.

Perlahan. penglihatannya mulai kabur. Tubuhnya terlalu lemah.

Terlalu lelah.

Dan akhirnya..

gelap.

***

Beberapa jam kemudian.

pintu suite terbuka.

Saga masuk. Langkahnya cepat.

Ben di belakangnya.

Namun.

ia berhenti. Tatapannya langsung berubah.

“Liora.”

Tidak ada jawaban. Ruangan kosong.

Sunyi.

Aura dingin langsung memenuhi udara.

“Di mana dia.”

Bukan pertanyaan. Lebih seperti ancaman.

Ben langsung bergerak. Memeriksa setiap ruangan.

“Tidak ada di sini, Tuan.”

DEG.

Rahang Saga mengeras. Tatapannya berubah gelap.

Sangat gelap. Ia berjalan cepat. Membuka satu per satu pintu.

Kamar.

Dapur.

Ruang lain.

Kosong.Namun saat ia mendekati kamar mandi.

langkahnya terhenti. Instingnya berbicara. Tangannya langsung memutar gagang pintu.

Terkunci.

DEG.

Tanpa ragu.

BRAAK!

Ia menendang pintu itu. Hingga terbuka paksa.

Dan..

matanya langsung membeku.

Liora.Tergeletak di lantai.

Basah.

Pucat.

Tak bergerak.

DEG!

“Liora!”

Untuk pertama kalinya.

suara Saga berubah. Ia langsung berlutut. Mengangkat tubuh Liora dengan cepat.

Tangannya menyentuh pipinya.

Dingin.

Terlalu dingin.

“Bangun…”

Suaranya rendah.Namun ada sesuatu di dalamnya. Sesuatu yang jarang muncul.

“Liora.”

Tidak ada respon.

Napasnya lemah. Hampir tak terasa.

Di belakang.

Ben berdiri kaku. Matanya menyipit.

Marah.

Sangat marah.

Sementara.

Saga hanya menatap gadis di pelukannya. Dan untuk pertama kalinya.

ketenangan itu…

retak.

Hancur.

Digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Amarah. Yang siap menghancurkan siapa pun. yang berani menyentuh miliknya.

" Panggil dokter . Dan Cari tahu siapa pelakunya!"

" Baik Tuan."

Ben keluar meninggalkan ruangan itu. Saga mengangkat dan membaringkan tubuh liora ke ranjang.

Saga mulai mengganti pakaian liora yang basah.

" Bagun lio....."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bersambung......................

1
park jongseong
cerita yang menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!