Arga Pratama, seorang mekanik tangguh yang hidupnya sederhana namun penuh prinsip, tak sengaja bertemu dengan Clara, wanita cantik pewaris perusahaan besar yang sedang lari dari perjodohan. Karena suatu keadaan terpaksa, mereka harus terikat perjanjian kontrak palsu. Siapa sangka, dari bau oli dan mesin, tumbuhlah benih cinta yang tak pernah disangka-sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olshop sukses Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu yang Menghantui
Hari-hari pertama sebagai suami istri palsu terasa begitu aneh namun hangat. Rumah sederhana di belakang bengkel itu kini terlihat lebih bersih dan rapi berkat tangan terampil Clara. Bau oli yang biasanya mendominasi kini bercampur dengan wangi masakan rumah yang menggugah selera.
Arga duduk di meja makan kecil itu, menatap piring berisi nasi goreng buatan istrinya. Wajahnya datar, tapi hatinya merasa aneh. Selama ini ia makan seenaknya, seringkali hanya roti atau mie instan. Tapi sekarang, ada seseorang yang menyiapkan makanan hangat untuknya.
"Makan dulu Mas, nanti dingin," kata Clara lembut sambil menuangkan air putih ke gelas Arga.
Arga mengangguk, lalu mulai menyendok makanannya. "Enak," ucapnya singkat namun tulus.
Wajah Clara langsung berseri-seri mendengar pujian itu. "Syukurlah kalau enak. Aku takut Mas Arga kurang suka."
"Kau masak apa pun aku suka," jawab Arga tanpa sadar.
Clara tersenyum malu, pipinya merona merah. Baru saja suasana ingin menjadi semakin romantis, tiba-tiba suara derum mobil yang sangat keras dan mengganggu terdengar dari luar.
BRUUUMMM!!!
Sebuah mobil sedan mewah warna hitam berhenti mendadak tepat di depan pintu bengkel. Kaca jendelanya diturunkan, memperlihatkan wajah seorang pria paruh baya dengan tatapan tajam dan sinis. Di sebelahnya duduk seorang pria muda yang tampak sombong dan angkuh.
Jantung Clara serasa berhenti berdetak saat melihat sosok itu. Wajahnya pucat pasi.
"Itu... itu Ayahku!" bisik Clara gemetar, tubuhnya langsung merosot turun menyembunyikan diri di bawah meja makan. "Arga... tolong sembunyikan aku! Mereka menemukanku!"
Arga langsung waspada. Ia menaruh sendoknya perlahan, lalu berdiri. Tatapannya berubah dingin dan keras.
"Tenang. Jangan keluar. Biar aku yang hadapi mereka," ucap Arga tegas.
Arga melangkah keluar menuju pintu depan. Ia menyandarkan tubuhnya di kusen pintu, menatap kedua orang yang baru datang itu dengan tatapan menantang.
Pria paruh baya itu adalah Tuan Wijaya, ayah Clara. Sedang pria muda di sampingnya adalah Hendra, pria yang dijodohkan dengan Clara.
"Wah, wah... Siapa ini? Bengkel tambal ban ya? Atau tempat tongkrongan preman?" ejek Hendra dengan nada meremehkan sambil tertawa sinis. Ia menatap baju kaos dan celana jeans yang dikenakan Arga dengan pandangan menghina.
"Apa keperluan kalian di sini?" tanya Arga datar, suaranya rendah namun penuh wibawa.
Tuan Wijaya menatap Arga dari atas ke bawah dengan wajah jijik. "Aku mencari anakku, Clara. Dia ada di dalam kan? Keluarkan dia sekarang! Dasar penculik murahan!"
"Clara tidak ada di sini," jawab Arga tenang meski tangannya mengepal kuat menahan amarah. "Dan aku bukan penculik. Aku suaminya."
BRAKK!!!
Tuan Wijaya menepel keras kap mobilnya hingga bunyi memekakkan telinga.
"APA KATA KAU?! SUAMI?!" teriak Tuan Wijaya tidak terima. "Jangan berani-berani kau mengaku-ngaku! Kau tahu siapa kami?! Kau ini cuma mekanik kotor! Tidak pantas menyentuh anakku!"
Hendra turun dari mobil, berjalan mendekat hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Arga.
"Dengar baik-baik ya kawan, ambil uang ini," Hendra mengeluarkan segepok uang tunai dan melemparkannya ke wajah Arga. Uang kertas itu berhamburan berserakan di lantai yang kotor. "Ini uang buat kau pergi jauh-jauh. Jangan pernah dekat-dekat sama Clara lagi. Gadis selevel Clara tidak mungkin mau sama lelaki miskin dan bau oli sepertimu!"
Arga menatap uang yang berserakan di kakinya. Lalu ia mendongak, menatap mata Hendra dengan tatapan yang sangat mengerikan dan tajam.
Harga dirinya terpijak. Kehormatan keluarganya diinjak-injak.
"Ambil kembali uang sampah ini," ucap Arga pelan tapi menakutkan.
"Apa? Kau kurang?" ejek Hendra.
"Aku bilang... AMBIL KEMBALI UANG ITU!" bentak Arga.
Dengan satu gerakan cepat, Arga mendorong dada Hendra hingga pria muda itu terhuyung mundur hampir jatuh.
"Berani kau menyentuhku?!" Hendra marah besar. "Tangkap dia! Hajar dia sampai babas!"
Beberapa preman bayaran yang tadi bersembunyi di dalam mobil langsung turun dan mengepung Arga.
Dari celah jendela, Clara melihat semua itu dengan mata terbelalak dan air mata mengalir deras. Ia memegang dadanya yang sesak.
"Argaaa...!" jeritnya dalam hati.
Arga tersenyum miring, siap menghadapi mereka semua. "Kalian pikir aku akan membiarkan kalian mengganggu istriku sembarangan? Mimpi!"