Di bawah rindangnya pohon randu angker di sudut kampung, seorang pemuda bernama Langit tumbuh dewasa tanpa mengenal siapa orang tua kandungnya. Setiap senja, ia merenung di sana, merasa namanya seluas langit namun tak punya pijakan. Ia tak tahu, takdirnya sudah "terjerat" sejak hari ia ditemukan sebagai bayi di bawah pohon keramat itu oleh Nenek Wati.
Sembilan belas tahun kemudian, rahasia kelam masa lalu mulai terkuak, menyeret Langit pada sebuah pencarian identitas yang tak hanya mengancam hidupnya, tapi juga menguji perasaannya. Ketika ia dihadapkan pada sosok Intan, wanita yang sudah "terjerat" pernikahan namun begitu "layak diperjuangkan", akankah Langit mampu melepaskan diri dari belenggu masa lalu dan menemukan tempat sejatinya? Atau justru semakin dalam "terjerat" dalam takdir yang tak pernah ia minta?
Ikuti perjalanan Langit menemukan jati diri, cinta, dan rahasia yang terkubur di dalam novel TERJERAT.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 6: SURAT PERPISAHAN DAN JANJI KUE
Malam semakin larut, jarum jam tepat menunjuk angka 00.30.
Di dalam kamar yang remang-remang, Langit masih terjaga. Matanya tak sedikit pun mengantuk. Pikirannya berkecamuk hebat, terus memutar ulang setiap kata yang tertulis di atas kertas kuno yang baru saja ia baca berulang-ulang kali.
Ia tak percaya...Bahwa dirinya adalah anak yang "tidak diharapkan". Bahwa ibunda tercintanya pernah terjebak dalam konspirasi jahat ibu tirinya, diberi obat perangsang, dan hampir dijual kepada lelaki tua hidung belang.
Untunglah ada seorang pemuda yang menyelamatkan ibunya dari kejaran "bandot" cabul itu. Namun naas, efek obat yang sudah masuk ke tubuh ibunya tak bisa hilang begitu saja. Demi meredakan rasa panas yang membakar tubuh, terpaksa terjadilah hubungan itu di luar nikah.
Takdir sungguh kejam. Seorang gadis bangsawan TERJERAT dalam cinta satu malam, dan hanya sekali itu saja... benih kehidupan berhasil ditanamkan.
Dengan tangan gemetar, Langit kembali membaca tulisan tangan yang indah namun penuh air mata itu:
Dear.: LANGIT
Untuk bayi yang seharusnya tidak terlahir ke dunia ini...
Maafkan Ibu, Nak... Maafkan segala kesalahan Ibu... Maafkan keegoisan Ibu... Kamu harus menanggung akibat dan hukuman yang seharusnya jatuh kepada Ibu sendiri.
Nama kamu LANGIT JANTA PRATAMA. Keren kan namanya, Nak? Tapi sayangnya, hidupmu tidak akan seindah dan sekeren nama itu. Maafkan Ibu... Ibu harus membuangmu. Seharusnya Ibu yang merawatmu, membesarkanmu dengan kasih sayang... Tapi Ibu tidak mampu. Dengan posisi Ibu saat itu, jika kamu dibesarkan bersamaku, Ibu yakin... kamu tidak akan bertahan lama di dunia yang kejam ini.
Anakku yang kelak akan tumbuh gagah dan tampan... Sekarang usiamu sudah menginjak 19 tahun. Sudah waktunya kamu tahu kebenaran hakiki kenapa Ibu tega membuangmu.
Nama Ibu BINTANG SRI LANGIT. Nama "Langit" yang kamu sandang sekarang, Ibu ambil dari nama belakang Ibu, warisan dari Kakek Buyutmu. Sedangkan nama panjangmu, "Janta Pratama", itu adalah nama pemuda yang telah menyelamatkan Ibu dari kejahatan ibu tiriku... Dialah ayah kandungmu, PRATAMA.
Kelahiranmu murni karena konspirasi jahat. Ibu dijebak, dijerat agar nama baik Ibu ternoda dan Ibu diusir dari keluarga besar. Rencananya hampir berhasil... Ibu diracuni obat perangsang, lalu dibawa ke gedung terbengkalai untuk diperkosa oleh lelaki tua tak tahu malu.
Tapi Tuhan berbaik hati... Ayahmu, Pratama, datang tepat waktu menyelamatkan Ibu. Namun, racun itu sudah terlalu kuat mengalir di darah Ibu. Akhirnya... demi keselamatan nyawa Ibu, terjadilah pergumulan malam itu... Dan kamulah hasil dari cinta yang terpaksa itu.
"Anakku... maafkan Ibu ya... Maukah kamu memaafkan Ibu? Mungkin jawabannya tidak... Karena kesalahan Ibu terlalu besar untuk dimaafkan..."
Sebelum surat ini berakhir, Ibu punya satu permohonan. JANGAN PERNAH MENCARI KEBERADAAN IBU DAN AYAHMU. Itu demi kebaikanmu sendiri. Hiduplah sebagai orang biasa, jalani hidupmu dengan tenang dan aman selamanya.
BRUK!!!
Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah juga. Menelusuri pipi putihnya yang tampan, membasahi surat itu. Selama di depan Nenek Wati, ia berusaha tegar, ia berusaha kuat. Tapi begitu sendirian di kamar, benteng pertahanannya runtuh total.
HUAAAAAA!!!
Ia menjerit sekuat tenaga, tapi suaranya ditahan oleh bantal guling agar tidak terdengar keluar. Tubuhnya gemetar hebat menahan rasa sakit hati, kecewa, dan bingung yang bercampur menjadi satu.
'Jadi selama ini... aku hanyalah anak hasil kesalahan? Anak yang tidak diharapkan?'
Dua puluh menit berlalu...
Air matanya sudah kering, tenggorokannya terasa sakit dan serak-serak basah.
Langit mencoba bangkit dari duduknya, berniat pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang sembab.
Namun...
TOK... TOK... TOK...
Suara ketukan pelan terdengar dari arah jendela kamarnya.
"Mungkinkah... Teh Intan?" bisik Langit pelan.
Ia mendekat, lalu perlahan membuka daun jendela itu. Benar saja! Di luar, di bawah cahaya rembulan, berdiri sosok wanita yang sangat dikenalnya dengan senyum manisnya. Teh Intan.
"Ini kuenya Ngit..." bisik Intan pelan seraya menyodorkan sebuah kantong plastik hitam. "Teteh nggak bisa lama-lama, takut suami bangun."
Tiba-tiba mata Intan menyipit, menatap wajah Langit dengan seksama.
"Eh... Loh? Kenapa matamu kok merah dan bengkak gitu? Abis nangis ya?" tanyanya curiga. Tidak biasanya bocah polos ini memiliki wajah sedingin dan semenyedihkan ini.
Langit terkejut, ia buru-buru mengusap wajahnya dan berpura-pura menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
'Apa yang terjadi malam ini... adalah rahasia terbesar hidupku. Tidak boleh ada orang lain tahu, apalagi Teh Intan.'
"Enggak kok Teh..." jawabnya berusaha tenang. Ini adalah kebohongan pertama dalam hidupnya. "Tadi kan habis pulang dari rumah Teh, Langit mau manjat ambil sarang burung di pohon depan pake tongkat panjang. Eh sialnya, sarangnya jatuh kena kepala, isinya banyak semut merah! Merayap sampai ke mata, pedih banget Teh..."
"Oh..." Intan mengangguk-angguk percaya. "Ih dasar jahat! Burung aja diganggu, pantaslah kena karma! Udah enak-enak punya rumah, mau diambil orang. Jadi gatal kan matanya?"
Langit hanya bisa menggaruk tengkuknya salah tingkah, merasa bersalah karena telah membohongi wanita baik hati ini.
"Hehehe... iya deh..."
Untuk mengalihkan pembicaraan, Langit pun bertanya,
"Teh Intan mau langsung pulang atau... mau masuk dulu?"
"JLEEB!
Jantung Teh Intan berdetak kencang tak beraturan.
'Wah... bocah ini ternyata berani juga! Ini kesempatan emas buat melampiaskan dahaga yang tertahan karena suamiku yang loyo itu!'
Pikiran wanita yang usianya hanya terpaut dua tahun dari Langit itu langsung menerawang jauh. Imajinasinya liar membayangkan skenario indah:
'Seandainya aku masuk ke kamar ini... Duduk manis di tepi ranjang... Lalu Langit datang menghampiri, tangannya yang besar dan hangat membelai leherku, lalu turun perlahan... menuju gunung kembarku yang sudah meradang ini... Dia mulai memainkannya dengan lembut namun pasti, lalu berbisik mesra...'
"Sayangku Teh Intan, bolehkah aku mencium bibir mu yang mungil itu..."
'Aku pun tak perlu menjawab, cukup dengan anggukan kepala. Langit langsung mendekat, melayangkan ciuman hangat dan mesra... Duh, rasanya bahagia sekali sampai ke ubun-ubun!'
'Setelah itu, aku akan mulai memancing dan mengajarkan pemuda tampan ini cara menjadi lelaki sejati...'
"Ngit... Teteh mau memberikan kenikmatan yang sangat luar biasa... Apakah kamu mau?!"
'Pasti dia akan bertanya polos... "Bagaimana caranya Teh Intan mendapatkan kenikmatan itu?"
'Aku pun dengan senang hati akan mengajarkannya. Pertama-tama, aku suruh dia berdiri tegak, lalu aku berjongkok di hadapannya... Setelah itu aku turunkan celananya... Dan Tuhan... aku pasti kaget setengah mati!'
"Wow... Itu apa ya kok besar sekali seperti itu... Muat gak ya masuk ke dalam?"
"Teh........ Teh........ Teh........."
Langit terus menerus memanggil Intan yang sedari tadi diam dan hanya senyum-senyum sendiri melamun jauh!
"Eh.... Mana Ngit, pentungannya..."
Intan tersentak kaget, lamunannya buyar seketika ketika Langit memanggilnya kembali ke dunia nyata.
CATATAN PEMBACA:
SESUDAH MEMBACA JANGAN LUPA KLIK LIKE YA!
SYUKUR-SYUKUR DAPAT VOTE DAN GIFT KALAU KALIAN SUKA DENGAN CERITA INI.
JANGAN LUPA JUGA ADD KE LIBRARY / FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATE SELANJUTNYA!
SALAM DARI ANAK KAMPUNG,
ARIS.
Bersambung...