Merasa kesal karena ada yang mengatakan bahwa dirinya tidak akan laku bahkan akan terus menjomblo seumur hidup, tidak ada satu pun pria yang tertarik padanya.
"Enak aja dia bilang begitu padaku! Awas saja kau! Akan aku buktikan diriku ini bisa memiliki seorang kekasih dan layak untuk dicintai!" geramnya wanita cantik itu.
Ia bersumpah pada dirinya sendiri, setelah mendapatkan kekasih justru ia akan langsung memamerkan kemesraannya terhadap orang yang telah berani berkata seperti itu.
"Tapi tunggu! Dari mana aku akan mendapatkan seorang kekasih!?" ia gelisah dan mondar-mandir.
"Astaga..." dirinya mengusap wajah dengan kasar.
"Hah, semoga dapat ya?" batinnya berdoa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xeynica_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode Sembilan
"Eh, Aren..." sang kekasih memanggil dirinya.
"Ya?" lantas Aren menatap ke arah wanita itu.
"Mau tanya, deh"
"Silakan tanyakan saja, Sayang. Aku akan sanggup menjawabnya kalau pun banyak juga nanti pertanyaannya" ucap Aren.
"Ini sebenarnya rumah siapa?" tanya Cellsyia.
"Rumahku" jawab singkat Aren.
"Oh, terus kamu tinggal sama siapa disini?"
"Sendiri" mendengar jawaban itu Cellsyia merasa janggal.
"Sendiri? Kamu serius?" wanita itu tak percaya jika Aren tinggal sendiri.
"Ya, tinggal seorang diri disini tanpa siapapun" jawab Aren.
"Begitu, ya. Rumah sebesar ini ditempati oleh satu orang? Luar biasa" wanita itu berkata.
"Apakah tidak cape?" kekasihnya bertanya lagi.
"Cape" jawaban pria itu amat singkat.
"Lalu kenapa tidak mencari pekerja saja? Atau seorang maid?" lalu dijawab oleh pria itu.
"Aku tidak menyukainya" jawabannya terdengar membingungkan.
"Tidak suka?" anggukkan kepala sebagai jawaban.
"Aku orangnya mandiri, apa-apa mandiri dan selalu dilakukan oleh sendiri" pria itu berkata.
"Jika kamu ingin tinggal disini silakan saja lagi pula aku tidak melarangnya, Sayang" ucapan Aren kali ini membuat wanita itu terdiam.
"Hah? Dia dengan entengnya mengatakan itu?" batinnya Cellsyia.
"Kenapa kamu mengizinkan aku tuk tinggal disini? Lagi pula kita tidak terlalu dekat" kata wanita itu.
"Sayang" perlahan Aren mengambil mengambil tangan sang kekasih lalu ia genggam erat.
"Dengarkan aku, ya" ucap pria itu, Cellsyia menganggukinya.
"Dulu kita berdua memang tak dekat, aku sebagai ketua OSIS yang dikenal dingin, datar, cuek, tidak berperasaan, dan galak. Ketahuilah ketika saat kamu datang ke ruang OSIS, aku tengah duduk sendirian terdiam di kursi empuk lalu aku mengabaikanmu. Tapi setelah kamu membawa sesuatu yang diperintahkan oleh Pak Damin, entah hantu apa yang merasuki diriku dan disitu aku menghentikan langkahmu kemudian mempersilakan kamu untuk duduk, kita berdua kala itu duduk saling berhadapan. Jantungku berdetak tak biasanya ketika bertatapan denganmu" kata Aren dengan panjang lebar.
Pria itu menatap lekat sang kekasih hatinya, Cellsyia ditatap seperti itu tampak gugup.
"Tiba-tiba aku menanyakan siapa namamu, lalu mengajakmu untuk pulang bersama, dan malam harinya aku membawamu pergi ke taman kota" lanjutnya pria itu berkata.
"Setelah dari taman kota semuanya kembali seperti semula, aku ke setelan awal, dan kita menjadi orang asing yang bertemu tanpa menyapa" ujar Aren sambil mengelus pipi sang kekasihnya.
"Lulus sekolah kita melanjutkan pendidikan tinggi, aku kuliah di sini sementara kamu kuliah di luar negeri. Walau pun dulu aku pindahan dari Jepang, aku tak ada niat untuk kuliah di luar negeri" ucap pria itu, lalu Aren beralih menjadi mengelus rambut kekasihnya.
"Ketika kamu disana, aku disini tetap jomblo, dan tidak menjalin hubungan apapun dengan seorang wanita"
Setelah berkata demikian, pria bule tersebut mendekati kekasih lalu membawanya ke dekapan. Ia bercerita kembali seraya kembali mengelus rambut panjangnya sang kekasih.
"Jadi selesai lulus kuliah dan sudah bekerja, aku inisiatif sendiri untuk mencari keberadaan kamu" pria itu berkata.
"Dan pada akhirnya aku menemukanmu, Sayang" bisiknya Aren.
"Alasan aku mengizinkanmu tinggal disini karena diriku melarang orang lain masuk ke rumah ini, hanya kamu saja yang aku bolehkan tinggal dan kita sekarang bukan orang asing lagi, Sayang" ucap pria itu.
"Tidak cinta, it's okay. Tolong jangan pergi"