NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
​Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Ayat-Ayat di Balik Pintu

Dua minggu telah berlalu sejak malam berdarah yang hampir meratakan mansion Xavier. Debu-debu kehancuran telah dibersihkan, dan dinding beton yang hancur mulai ditutup dengan konstruksi baru yang lebih kokoh. Namun, di dalam relung hati penghuninya, bekas luka tidak bisa ditambal semudah semen dan bata.

Masa pemulihan Arkan Xavier adalah masa yang paling sunyi sekaligus paling berisik di dalam mansion itu. Sunyi karena Arkan memerintahkan seluruh aktivitas bisnis ilegalnya dihentikan sementara, dan berisik karena suara batin Aisyah yang tak henti-hentinya berperang.

Setiap pagi, Aisyah akan datang ke kamar utama dengan nampan berisi obat-obatan dan peralatan medis. Ia menjalankan tugasnya dengan profesionalisme seorang dokter, namun dengan jarak seorang asing. Ia tidak banyak bicara, hanya memeriksa tekanan darah, mengganti perban di dada Arkan, dan memastikan infus terpasang dengan benar.

Arkan, di sisi lain, menjadi jauh lebih pendiam. Mata elangnya yang biasanya tajam kini sering terlihat melamun menatap ke arah jendela besar yang menghadap ke hutan pinus. Ia menepati janjinya: ia tidak lagi memaksa Aisyah bicara, tidak lagi menawarkan uang, dan tidak lagi menatapnya dengan obsesi yang menakutkan. Ia menatap Aisyah dengan sesuatu yang lebih berbahaya—penghormatan.

"Tekanan darah Anda sudah normal, Tuan Arkan. Luka di bahu juga mulai menutup. Jika dalam tiga hari tidak ada demam, Anda bisa mulai latihan fisik ringan," ucap Aisyah sambil merapikan stetoskopnya.

Arkan mengangguk pelan. Ia menyandarkan punggungnya di bantal sutra kelabu. "Terima kasih, Aisyah. Dan... maaf."

Aisyah berhenti sejenak. "Untuk apa?"

"Untuk membuat tanganmu yang seharusnya memegang kitab suci, harus memegang jarum bedah di tengah suara tembakan. Aku tahu kau tidak akan pernah melupakan bau darah itu."

Aisyah tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil dan segera keluar dari kamar. Ia butuh udara segar. Ia berjalan menuju musala kecil yang disiapkan Arkan untuknya. Di sana, ia menemukan kedamaian yang ia rindukan.

Namun, sesuatu yang aneh mulai terjadi setiap malam.

Saat jarum jam menunjukkan pukul tiga pagi—saat Aisyah bangun untuk menunaikan salat Tahajud—ia sering mendengar suara samar dari balik pintu kamarnya. Awalnya ia mengira itu adalah Leo atau penjaga yang berpatroli. Namun, saat ia mendekat ke pintu, ia mendengar suara parau yang mencoba mengeja sesuatu.

"Al-ham-du lill-lahi rab-bil 'ala-min..."

Jantung Aisyah berdegup kencang. Itu suara Arkan. Pria itu berdiri di lorong yang gelap, tepat di depan pintu kamar Aisyah, mencoba mengikuti bacaan Al-Fatihah yang sering Aisyah lantunkan dengan lembut saat salat.

Aisyah tidak berani membuka pintu. Ia hanya bersandar di balik kayu jati yang tebal itu, air matanya jatuh tanpa suara. Seorang pria yang tangannya telah menghabisi nyawa banyak orang, kini sedang mencoba mengeja nama Tuhan dengan lidah yang kaku. Ada getaran ketulusan dalam suara parau itu yang jauh lebih menyentuh daripada rayuan apa pun di dunia.

Keamanan mansion mungkin sudah ditingkatkan, namun serangan tidak selalu datang dalam bentuk peluru. Pagi itu, sebuah paket mewah berwarna putih bersih tiba di gerbang depan.

Tanpa nama pengirim, hanya tertulis: "Untuk Nona Aisyah, Malaikat di Sarang Serigala."

Leo yang sangat waspada segera memeriksa paket itu dengan detektor logam dan anjing pelacak. Setelah dinyatakan aman, ia menyerahkannya kepada Aisyah di ruang makan, di mana Hamdan juga sedang duduk dengan wajah masam.

"Jangan dibuka, Aisyah. Bisa saja itu bom kimia," cetus Hamdan.

"Ini hanya kotak kayu, Bang," Aisyah membukanya perlahan.

Di dalamnya bukan perhiasan atau uang. Melainkan selembar foto lama yang sudah menguning dan sebuah surat kabar dari dua puluh tahun yang lalu. Aisyah mengambil foto itu, dan seketika wajahnya memucat.

Foto itu memperlihatkan seorang pria paruh baya yang sangat mirip dengan Hamdan, sedang berdiri di depan sebuah gudang tua dengan beberapa pria berseragam polisi. Judul berita di koran itu berbunyi: "Kasus Korupsi Dana Panti Asuhan: Rahman Malik Menghilang dengan Miliaran Rupiah."

"Rahman Malik..." bisik Aisyah. "Itu... itu nama Ayah, Bang?"

Hamdan menyambar foto itu dari tangan Aisyah. Wajahnya yang biasanya tenang kini berubah menjadi ketakutan yang nyata. Tangannya gemetar hebat saat membaca isi surat kabar itu.

"Ini fitnah! Ini pasti kerjaan mafia sialan itu untuk menghancurkan keluarga kita!" teriak Hamdan, namun matanya tidak bisa berbohong. Ada rahasia yang selama ini ia kunci rapat-rapat dari adiknya.

Di saat yang bersamaan, Arkan masuk ke ruang makan dengan bantuan tongkat penyangga. Ia melihat kekacauan itu. "Ada apa?"

Hamdan berbalik dan mencengkeram kerah kemeja Arkan yang masih lemah. "Kau! Kau yang mengirim ini, kan?! Kau ingin menunjukkan bahwa ayah kami juga seorang pencuri agar kau merasa lebih baik dengan dosa-dosamu?!"

Arkan mengerutkan kening, ia memberi isyarat pada Leo untuk tidak bertindak kasar pada Hamdan. Ia mengambil potongan koran itu. Matanya menyipit saat melihat simbol kecil di sudut amplop—sebuah gambar kalajengking kecil yang hampir tak terlihat.

"Bukan aku," ucap Arkan dingin. "Ini dari Luciano. Pemimpin baru klan Scorpio."

Arkan menatap Aisyah yang kini terduduk lemas di kursi. "Luciano tidak bermain dengan senjata jika dia bisa bermain dengan pikiran. Dia ingin merusak fondasi hidupmu, Aisyah. Dia ingin kau tahu bahwa 'pahlawan' dalam hidupmu—ayahmu dan kakakmu—memiliki noda yang sama denganku."

"Apa maksudnya ini, Bang?" Aisyah menatap Hamdan dengan tatapan menuntut. "Selama ini Abang bilang Ayah meninggal karena sakit di luar kota. Tapi koran ini bilang Ayah buronan?"

Hamdan jatuh terduduk, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Isak tangis pecah dari pria konservatif itu. "Ayah... Ayah terjebak, Aisyah. Dia ditipu oleh rekan bisnisnya yang ternyata bagian dari sindikat. Dia lari bukan karena mencuri, tapi karena dia tahu jika dia menyerah, mereka akan membunuh kita semua. Aku merahasiakannya agar kau bisa tumbuh menjadi wanita yang bangga pada keluargamu."

Aisyah merasa dunianya runtuh. Selama ini ia memandang Arkan sebagai simbol dosa, namun ternyata keluarganya sendiri tumbuh di atas tumpukan rahasia gelap.

Arkan mendekati Aisyah, ia mengabaikan rasa sakit di bahunya dan berlutut di samping kursi wanita itu. Ia tidak menyentuhnya, namun kehadirannya terasa seperti jangkar di tengah badai.

"Dengarkan aku, Aisyah," suara Arkan sangat lembut, memenuhi ruangan yang tegang itu. "Masa lalu ayahmu tidak menentukan siapa dirimu. Sama seperti masa laluku tidak seharusnya menentukan bagaimana aku mencintaimu. Luciano ingin kau merasa kotor agar kau kehilangan pegangan. Jangan biarkan dia menang."

Aisyah menoleh pada Arkan. "Dan Anda? Apa Anda tahu tentang ini sebelumnya?"

"Aku tahu," jawab Arkan jujur. "Aku sudah melacak sejarah keluargamu sejak malam di pelabuhan. Tapi aku tidak pernah

menggunakannya untuk mengancammu, karena bagiku, kau adalah Aisyah—bukan putri dari Rahman Malik. Kau adalah wanita yang menyelamatkanku saat semua orang ingin aku mati."

Tiba-tiba, suara tawa terdengar dari interkom rumah yang telah diretas.

"Bagus sekali, Arkan. Drama yang sangat menyentuh," suara Luciano menggema di seluruh ruangan, dingin dan licik. "Tapi apakah Nona Aisyah tahu, bahwa pria yang menjebak ayahnya dua puluh tahun lalu... adalah ayahmu sendiri? Xavier Senior?"

Hening. Ruangan itu mendadak menjadi sangat dingin hingga es seolah membeku di udara.

Aisyah menatap Arkan dengan tatapan yang menghancurkan hati pria itu. "Tuan Arkan... apakah itu benar?"

Arkan terdiam. Rahangnya mengeras. Ia menundukkan kepalanya, tidak mampu menatap mata jernih yang selama ini menjadi kompas hidupnya. "Aku... aku baru mengetahuinya kemarin, Aisyah. Aku sedang mencari cara untuk memberitahumu tanpa menghancurkanmu."

Aisyah berdiri, langkahnya gontai. Ia merasa dikelilingi oleh monster dari segala sisi. Pria yang ia selamatkan, pria yang mulai ia kagumi karena usahanya untuk bertaubat, ternyata adalah putra dari pria yang menghancurkan hidup ayahnya.

"Jangan dekati saya," bisik Aisyah saat Arkan mencoba berdiri. "Jangan pernah dekati saya lagi."

Aisyah berlari keluar ruangan, meninggalkan Arkan yang terjatuh kembali ke lantai karena luka bahunya yang kembali berdarah akibat gerakan mendadak. Hamdan pun hanya bisa terpaku, menyadari bahwa takdir telah mempermainkan mereka dengan cara yang paling kejam.

Di luar, hujan mulai turun membasahi bumi Jakarta yang berdebu. Di dalam kegelapan kamarnya, Aisyah bersujud, menangis sejadi-jadinya. Ia berada di dalam rumah musuh bebuyutan keluarganya, dilindungi oleh pria yang ayahnya adalah penghancur ayahnya.

1
Amiera Syaqilla
salam sejahtera author🤗
sefira🐼: salam juga😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!