NovelToon NovelToon
JANJI TANPA CINTA

JANJI TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / CEO / Percintaan Konglomerat / Romantis / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Malolo

Nara Setianingrum, guru SMA berusia 25 tahun yang cantik, anggun, dan teguh berprinsip, menghadapi murid bermasalah bernama Karin Setiawan. Karin adalah adik dari Danu Setiawan, seorang CEO muda berusia 28 tahun yang berpengaruh di dunia bisnis. Karena dimanjakan, Karin tumbuh sombong, seenaknya, dan sering membuat kekacauan di sekolah bersama gengnya: bolos, membully, hingga berkelahi. Banyak guru tak sanggup menghadapi Karin, karena masalah selalu diselesaikan dengan uang atau campur tangan Danu yang dingin dan berkuasa. Namun, Nara berbeda—ia menolak kompromi dan sogokan. Merasa dipermalukan, Karin melapor pada kakaknya. Danu pun bersekongkol menjebak Nara agar malu, namun rencana itu justru terbongkar oleh orang tua Danu. Mereka memaksa Danu menikahi Nara. Dari pernikahan penuh intrik ini, lahirlah perjalanan emosional: keteguhan hati Nara, usaha Danu menemukan cinta sejati, dan akhirnya kesadaran Karin yang berbalik menyayangi kakak iparnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25: Malam Pertama

Malam itu, Jakarta tampak lebih tenang dari biasanya. Di balik dinding kokoh Mansion Setiawan, tepatnya di dalam kamar utama yang luas, suasana terasa begitu sakral. Tidak ada lagi ketegangan yang menyesakkan dada, tidak ada lagi bayang-bayang kontrak yang menghantui setiap sudut ruangan. Hanya ada aroma lilin aromaterapi sandalwood yang lembut dan wangi bunga sedap malam yang baru saja diganti oleh Nara sore tadi.

Nara berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke taman. Ia mengenakan baju tidur sutra berwarna putih salju, tertutup oleh outer panjang yang senada. Rambutnya yang biasanya tersembunyi di balik kerudung, kini terurai indah hingga ke pinggang hitam, berkilau, dan harum.

Ini adalah pertama kalinya ia merasa benar-benar "pulang" ke dalam dirinya sendiri sejak pernikahan penuh air mata itu dimulai.

Di atas ranjang besar yang kini terasa hangat, Danu duduk bersandar pada tumpukan bantal. Kemeja tidurnya sengaja tidak dikancingkan sepenuhnya agar tidak menekan bekas luka di pundaknya yang masih dalam masa pemulihan. Matanya tidak lepas menatap punggung Nara. Baginya, pemandangan di depannya jauh lebih indah daripada deretan angka saham atau cakrawala kota Paris yang dulu sering ia banggakan.

"Nara..." panggil Danu lirih. Suaranya rendah, serak, namun penuh dengan getaran kerinduan yang dalam.

Nara menoleh, memberikan senyum paling tulus yang pernah Danu lihat. Ia berjalan pelan menuju ranjang, lalu duduk di tepinya, tepat di samping suaminya.

Danu meraih tangan Nara, membawa jemari lentik itu ke bibirnya dan mengecupnya lama. "Bolehkah aku bertanya sesuatu?"

Nara mengangguk kecil, matanya menatap mata Danu dengan keberanian yang baru. "Apa, Mas?"

"Apakah kamu benar-benar sudah memaafkanku? Bukan karena Papa, bukan karena yayasan itu, tapi karena hatimu sendiri?" Danu menatapnya dengan pandangan yang rapuh, seolah ia masih takut bahwa semua kebahagiaan ini hanyalah mimpi yang akan menguap saat ia terbangun.

Nara menghela napas panjang, jemarinya membelai rahang Danu yang tegas namun kini terasa halus. "Mas Danu... hidup ini mengajarkan saya bahwa satu kesalahan bisa merusak seluruh kebaikan yang telah di bangun. Hidup juga mengajarkan saya bahwa pengampunan adalah variabel yang bisa mengubah segalanya menjadi benar kembali."

Nara mendekatkan wajahnya, hidungnya bersentuhan dengan hidung Danu. "Saat Mas berdiri di depan peluru itu untukku, saat itulah aku tahu bahwa pria sombong yang dulu memaksaku sudah mati. Yang ada di depanku sekarang adalah suamiku, pelindungku. Aku tidak hanya memaafkanmu, Mas. Aku sudah mengubur masa lalu itu bersama abu kontrak yang Mas bakar."

Danu memejamkan mata, merasakan setetes air mata haru jatuh di pipinya. "Aku dulu begitu bodoh, Nara. Aku mengira bisa memilikimu dengan uang dan kekuasaan. Tapi ternyata, aku baru benar-benar memilikimu saat aku tidak punya apa-apa selain nyawaku untuk diberikan padamu."

Danu mengulurkan tangannya yang sehat, membelai rambut panjang Nara dengan penuh pemujaan. "Malam ini... aku tidak ingin ada kontrak. Tidak ada paksaan. Aku ingin kita memulai lembaran baru sebagai suami istri yang sesungguhnya. Atas dasar cinta, atas dasar kerelaan. Apakah kamu siap, Nara?"

Nara merasakan jantungnya berdegup kencang, namun bukan karena ketakutan. Ada rasa hangat yang menjalar dari ujung kakinya hingga ke ubun-ubun. Rasa yang disebut dengan pengabdian seorang istri yang telah menemukan muara cintanya.

"Aku adalah milikmu, Mas Danu. Sejak ijab kabul itu diucapkan, aku sudah menjadi milikmu secara agama. Tapi malam ini, aku memberikan hatiku, jiwaku, dan seluruh keberadaanku kepadamu karena aku mencintaimu."

Nara kemudian membantu Danu berbaring perlahan. Dengan gerakan yang sangat syahdu, ia melepaskan outer tidurnya, menampakkan bahunya yang putih bersih di bawah cahaya lampu tidur yang temaram.

Danu menahan napas. Kecantikan Nara malam ini terasa begitu suci. Ia merasa tidak pantas menyentuh makhluk seindah ini, namun Nara justru yang memulai. Ia menunduk dan mengecup bekas luka tembak di pundak Danu sebuah ciuman yang sarat akan rasa terima kasih dan penyembuhan.

"Biarkan aku menyembuhkan semua lukamu, Mas," bisik Nara di telinga Danu.

Danu menarik Nara ke dalam pelukannya. Meskipun gerakannya terbatas karena luka, kekuatan cintanya terasa sangat dominan. Ia mencium kening Nara lama sekali, menyalurkan janji setianya yang tidak terucap. Kemudian turun ke mata, pipi, dan akhirnya berlabuh di bibir Nara.

Ciuman itu tidak lagi terasa kasar seperti di awal pernikahan mereka. Ciuman malam ini terasa manis, lembut, dan penuh dengan permohonan maaf serta janji masa depan. Nara membalasnya dengan kerelaan penuh, tangannya melingkar di leher Danu, menarik suaminya itu lebih dekat ke dalam dunianya.

Di atas ranjang itu, dialog-dialog cinta tidak lagi dibutuhkan. Suara napas yang bersahutan menjadi musik yang paling indah. Setiap sentuhan Danu adalah bentuk penghormatan, dan setiap sambutan Nara adalah bentuk penerimaan yang tulus.

"Nara... terima kasih sudah menjadi rumah bagiku," bisik Danu di tengah keintiman mereka.

"Dan terima kasih sudah menjadi pelindung bagi duniaku, Mas," jawab Nara dengan suara yang bergetar karena emosi yang meluap.

Malam itu, di bawah saksi bisu dinding-dinding mansion yang kini terasa hangat, mereka menjalankan ritual malam pertama yang sesungguhnya. Bukan sebuah transaksi, bukan sebuah kewajiban pahit, melainkan sebuah ibadah tertinggi dari dua manusia yang telah melewati badai hebat untuk menemukan pelangi di pelukan satu sama lain.

Beberapa jam kemudian, saat malam mulai mencapai puncaknya, keheningan kembali menyelimuti kamar tersebut. Nara tertidur lelap dengan kepala bersandar di dada bidang Danu, tertutup selimut tebal yang menyembunyikan keintiman mereka.

Danu masih terjaga. Ia menatap langit-langit kamar dengan perasaan syukur yang luar biasa. Tangannya mengusap bahu Nara yang halus, memastikan istrinya itu merasa aman dalam tidurnya.

Ia teringat betapa dulu ia sangat membenci ide pernikahan ini. Ia teringat betapa ia ingin segera mengakhiri kontrak itu. Namun sekarang, ia bahkan tidak sanggup membayangkan hidup satu hari saja tanpa suara lembut Nara atau aroma tubuhnya yang kini melekat di kulit Danu.

"Aku bersumpah, Nara," bisik Danu pada keheningan malam. "Mulai besok, tidak akan ada lagi air mata kesedihan. Hanya akan ada kebahagiaan yang akan kita bangun bersama. Aku akan menjadi suami yang layak untukmu, selamanya."

Nara sedikit menggeliat dalam tidurnya, memeluk pinggang Danu lebih erat seolah mendengar sumpah suaminya. Senyum kecil tersungging di bibir Nara yang kemerahan.

Fajar mungkin masih beberapa jam lagi, namun bagi Danu dan Nara, matahari sudah terbit di dalam hati mereka. Konflik telah mereda, dendam telah sirna, dan yang tersisa hanyalah dua jiwa yang kini telah benar-benar menjadi satu.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!