Malam sebelum pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Ambar berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki Jayden, calon suaminya, berkhianat dengan Gea, adik tirinya sendiri. Alih-alih mendapat pembelaan, Ambar justru diusir dalam kehinaan oleh ayahnya yang menganggapnya "wanita kuno" dan tidak becus menjaga pria.
Di titik nadir kehidupannya, di atas sebuah jembatan kelam, Ambar bertemu dengan Baskara Mahendra, seorang pria di kursi roda yang nyaris mengakhiri hidup karena merasa tak berharga. Dalam sisa-sisa harga diri yang hancur, Ambar menawarkan sebuah kesepakatan nekat: sebuah pernikahan kontrak untuk saling menyelamatkan.
Ambar tidak tahu bahwa pria lumpuh yang ia selamatkan adalah penguasa tunggal keluarga Mahendra yang sangat disegani. Kini, tepat di jam yang sama saat mantan kekasih dan adiknya merayakan pesta mereka, Ambar siap kembali—bukan sebagai korban, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya mampu meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Lampu neon di ruang VVIP itu terasa lebih redup saat Om Edward menutup berkas medis Ambar dengan desahan berat.
Di hadapannya, Baskara duduk mematung di kursi roda, mencengkeram pegangan besi hingga buku-bukunya memutih.
"Ini adalah amnesia disosiatif, Baskara," ucap Om Edward dengan nada rendah yang sarat akan keprihatinan.
"Trauma dari penculikan dan kecelakaan itu terlalu besar. Otaknya melakukan mekanisme pertahanan diri yang ekstrem—ia menghapus seluruh memori tentang masa kini, tentang pernikahan kalian, dan tentang rasa aman yang kamu berikan. Baginya, dunia masih merupakan tempat yang kejam, sama seperti saat ia disiksa ayahnya dulu."
Baskara merasa dunianya runtuh. Semua perjuangannya untuk bisa berdiri kembali, semua air matanya di jalan tol, seolah tak berarti di depan tatapan asing istrinya.
Perlahan, Ambar yang masih bersandar di bantal putih melirik ke arah Baskara.
Tatapannya tidak lagi histeris seperti tadi, namun penuh dengan kecurigaan yang tajam.
Ia mengamati garis rahang Baskara yang tegas, bahunya yang lebar, dan sorot mata pria itu yang meskipun terlihat sedih, tetap memancarkan kekuatan yang mengintimidasi.
Ambar memiringkan kepalanya sedikit, menatap Baskara dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan bibir yang melengkung tipis—sebuah senyum pahit yang asing bagi Baskara.
"Kamu pembunuh yang tampan," ucap Ambar tiba-tiba. Suaranya halus namun dingin, menusuk tepat di ulu hati Baskara.
Baskara tertegun, napasnya tertahan. "Ambar... aku bukan pembunuh. Aku suamimu."
Ambar tertawa kecil, suara tawa yang terdengar hampa.
"Suami? Jangan bercanda. Papa tidak mungkin membiarkan aku memiliki suami seperti kamu. Kamu pasti orang bayaran yang dikirim untuk menghabisiku setelah aku tidak berguna lagi bagi mereka, kan? Sayang sekali, wajah setampan itu harus melakukan pekerjaan sekotor ini."
Baskara memejamkan mata, menahan sesak yang luar biasa.
Ia adalah naga yang ditakuti di dunia bisnis, namun di depan Ambar yang kehilangan ingatan, ia tak lebih dari seorang pria yang tidak berdaya.
"Thomas, Gabby. Keluar," perintah Baskara dengan suara parau.
Begitu pintu tertutup, Baskara mengerahkan seluruh tenaganya.
Dengan bantuan tongkat kayunya, ia memaksa dirinya berdiri.
Meski kakinya bergetar hebat karena sarafnya yang belum pulih benar, ia melangkah maju satu langkah.
"Kalau memang aku pembunuhmu," bisik Baskara sambil menatap mata Ambar yang kosong, "maka aku sudah melakukannya sejak dulu. Tapi lihat tanganku, tangan ini yang menarikmu dari gudang gelap itu. Tangan ini yang memangkumu di tengah jalan tol saat kepalamu bersimbah darah."
Ambar terdiam, sorot matanya sedikit goyah melihat ketulusan yang menyakitkan di mata Baskara. Namun, tembok trauma di pikirannya masih terlalu kokoh.
Ia hanya menatap Baskara dengan tatapan dingin yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
"Teruslah mendongeng," sahut Ambar datar.
"Tapi setidaknya, jika kamu benar-benar akan membunuhku, lakukan dengan cepat. Aku sudah bosan merasa takut."
Kamar VVIP itu kini dipenuhi dengan barang-barang yang tampak asing bagi Ambar.
Di atas meja nakas, Baskara meletakkan beberapa lembar sketsa desain butik yang pernah dibuat Ambar dengan penuh semangat, serta sebuah pemutar musik kecil yang mengalunkan melodi lembut—lagu favorit yang sering mereka dengarkan saat berdansa di ruang tengah rumah mereka.
Ambar menatap benda-benda itu dengan kening berkerut.
"Kenapa kamu membawa sampah-sampah ini ke sini? Apa ini bagian dari cara kamu menyiksaku?"
Baskara menarik napas panjang, mencoba menahan rasa perih di dadanya.
Ia duduk di kursi di samping ranjang Ambar, menatap mata istrinya dengan dalam.
"Kita bertemu di jembatan malam itu, saat aku berniat untuk bunuh diri," ucap Baskara pelan, suaranya terdengar sangat jujur.
Mata Ambar membelalak. Ia berhenti mengamati sketsa di tangannya dan menatap Baskara dengan tidak percaya.
"Kamu? Pria sombong dan tampan sepertimu mau bunuh diri?"
Baskara menganggukkan kepalanya dengan getir.
"Malam itu aku merasa hidupku sudah tidak ada artinya. Aku kehilangan segalanya karena pengkhianatan. Tapi ternyata, di jembatan itu, aku tidak sendirian. Ada seorang wanita dengan gaun putih yang tampak hancur, berdiri di sana dengan alasan yang sama."
Ambar terdiam. Sebuah kilatan samar melintas di matanya, namun ia masih tampak bingung.
"Siapa wanita itu?"
"Wanita itu kamu, Ambar," jawab Baskara lembut.
"Malam itu kamu hancur karena Jayden. Kamu memergokinya berselingkuh dengan Gea, adik tirimu sendiri, di hari yang seharusnya menjadi hari penting bagi kalian. Kamu merasa dunia mengkhianatimu, dan kita berdua berdiri di ambang kematian yang sama sebelum akhirnya kita memutuskan untuk saling menyelamatkan."
Ambar mencengkeram sprei ranjangnya. Nama "Jayden" dan "Gea" seolah memicu alarm di kepalanya.
Rasa sakit di hatinya terasa nyata, meski ia belum bisa menyusun kepingan ingatannya dengan sempurna.
"Jayden... Gea..." gumam Ambar. Wajahnya meringis menahan sakit di kepalanya yang diperban.
"Aku ingat rasa sakit itu. Aku ingat bau hujan di jembatan..."
Baskara segera menggenggam tangan Ambar, kali ini Ambar tidak menolaknya meski tubuhnya masih kaku.
"Ingatlah rasa aman saat aku menarikmu menjauh dari tepian itu, Ambar. Ingatlah bagaimana kita berjanji untuk membalas dendam bersama, hingga akhirnya rasa dendam itu berubah menjadi cinta yang nyata."
Ambar menatap tangan Baskara yang menggenggamnya.
Untuk pertama kalinya sejak ia sadar, tatapan tajam dan penuh kecurigaan itu mulai melunak.
Ada kehangatan familiar yang mulai merayap masuk ke hatinya, mencoba meruntuhkan tembok trauma yang dibangun oleh otaknya.
"Aku tidak mengingatnya," bisik Ambar lirih.
Suaranya terdengar sangat lelah, seolah-olah memaksa kepingan ingatan itu masuk justru membuat kepalanya semakin pecah.
Ia kembali memejamkan mata, memutus kontak visual dengan Baskara dan tenggelam dalam kegelapan pikirannya sendiri.
Baskara terdiam membeku. Harapan yang sempat melambung saat Ambar merespons ceritanya kini jatuh terhempas ke lantai marmer yang dingin.
Ia menghela napas panjang—sebuah napas yang sarat akan beban hidup yang kian menghimpit.
Dengan langkah berat yang dibantu tongkatnya, ia berbalik dan meninggalkan ruang perawatan VVIP, memberikan Ambar ruang untuk bernapas tanpa intimidasi kehadirannya.
Baru saja ia keluar dan duduk di kursi tunggu, ponsel di saku jasnya bergetar.
Nama "Gea" muncul di layar. Baskara menjawabnya dengan tatapan dingin yang mampu membekukan siapa pun.
"Apa lagi maumu, Gea?" suara Baskara terdengar seperti geraman rendah.
"Aku hanya ingin tahu keadaan kakakku, Baskara. Bagaimana kondisi Kak Ambar? Apakah dia sudah sadar?" tanya Gea di seberang telepon, nada suaranya terdengar dibuat-buat, penuh kecemasan palsu.
Baskara menyandarkan punggungnya ke dinding rumah sakit, matanya menatap tajam ke arah pintu kamar Ambar yang tertutup.
"Dia baik-baik saja. Dan perlu kamu tahu, dia ingat semua pengkhianatanmu. Ingat, kamu sudah berjanji untuk menjauh dari sini. Jika kakimu atau pria pecundangmu itu terlihat di radius satu kilometer dari rumah sakit ini, aku tidak akan segan-segan menghancurkan apa pun yang tersisa dari hidupmu."
"Tapi, Bas—"
"Jangan panggil namaku," potong Baskara tajam.
"Jangan pernah muncul lagi. Ambar adalah duniaku, dan aku baru saja kehilangan ingatannya karena ulah kalian. Jika aku kehilangan dia sepenuhnya, pastikan kamu adalah orang pertama yang akan merasakan neraka di dunia ini."
Baskara memutus sambungan telepon secara sepihak. Ia menatap Thomas yang berdiri siaga tak jauh darinya.
Mampir dan dukung karyaku, yuk!
- TRUST ME
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Jangan lupa juga untuk Like, Komen, Share, dan Subscribe, ya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰