Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Kembali Lagi?
Mobil sedan mewah itu melaju membelah malam, namun suasana di dalam kabin tidak lagi sedingin pagi tadi. Hanya saja, kali ini Liam tidak banyak bicara.
Wajahnya yang tadi memerah karena pedas, kini mulai berubah menjadi sedikit pucat. Ia berulang kali membetulkan posisi duduknya, sementara tangan kirinya tanpa sadar menekan perut bagian atas.
"Liam? Kau oke?" tanya Cassie, mulai menyadari perubahan ekspresi pria di sampingnya.
"Aku sudah bilang padamu... saus radioaktif itu... bukan untuk pencernaan manusia normal," gumam Liam dengan suara yang sedikit tertahan.
Rahangnya mengatup rapat, menahan sesuatu yang bergejolak di dalam sana.
Cassie menggigit bibir bawahnya, merasa bersalah sekaligus ingin tertawa. "Mungkin karena kau langsung menghabiskan dua porsi ayam madu dan tteokbokki itu sekaligus. Perutmu kaget, Liam."
"Kaget? Perutku merasa seperti baru saja menelan lava cair," Liam mendesis saat mobil melewati polisi tidur, membuatnya sedikit meringis.
Cassie menepuk lengan Liam pelan. "Sebentar lagi sampai rumah. Aku akan buatkan teh jahe hangat untukmu."
Liam tidak menjawab, ia hanya fokus menatap jalanan, berusaha menyetir secepat mungkin namun tetap halus agar guncangan tidak memperparah kondisi perutnya.
Begitu mobil memasuki gerbang rumah, Liam bahkan tidak menunggu mesin mati dengan sempurna. Ia segera keluar, berjalan cepat menuju rumah dengan langkah kaku.
Di ruang tengah, Jino yang sedang asyik menonton TV bersama Marco langsung menoleh.
"Wah, Bos sudah pul— lho, Bos? Kenapa mukanya pucat begitu?" Jino bertanya dengan wajah polosnya. "Habis lihat hantu di jalan?"
"Diam kau, Jino!" sentak Liam sambil terus berjalan menuju kamarnya tanpa menoleh.
Marco menatap Cassie yang baru masuk di belakang Liam dengan wajah penuh tanya. "Apa yang terjadi?"
"Dia mencoba menjadi anak muda," bisik Cassie sambil menahan tawa. "Dan sepertinya perutnya tidak setuju dengan keputusan itu. Tolong ambilkan air hangat ke atas ya, Jino!"
Sementara itu, di lantai atas, terdengar suara pintu kamar mandi yang tertutup dengan keras.
Cassie masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan berisi segelas teh jahe hangat dan kompres air panas.
Ia menemukan Liam sedang berbaring telentang di atas tempat tidur, masih mengenakan kemeja kantornya yang sudah dibuka tiga kancing teratasnya. Lengan bajunya digulung kasar, dan satu tangannya menutupi matanya sendiri.
"Tuan besar, bagaimana kabarnya?" goda Cassie pelan sambil meletakkan nampan di nakas.
Liam hanya mengerang rendah tanpa membuka matanya. "Jangan mengejekku, Cassie."
"Salah siapa yang tadi makannya paling semangat sampai piringku saja mau diambil?" Cassie duduk di tepi tempat tidur, lalu perlahan menarik tangan Liam dari wajahnya. "Minum ini dulu. Jahe bagus untuk menenangkan perut."
Liam membuka matanya yang tampak sedikit sayu, menatap Cassie dengan tatapan yang terlihat pasrah. Ia bangun dengan perlahan, menyeruput teh jahe itu sambil sesekali meringis.
"Enakan?" tanya Cassie lembut.
"Sedikit," gumam Liam. Ia menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. "Tapi kepalaku masih sedikit pusing karena rasa pedas itu."
Cassie kemudian mengambil kompres air panas dan menempelkannya di perut Liam. Gerakannya yang telaten membuat Liam terdiam. Pria itu menatap Cassie yang sedang fokus merawatnya, dan perlahan-lahan kemarahan serta rasa frustrasi yang ia rasakan sejak pagi tadi benar-benar menghilang.
Hantu tentang kelembutan Amanda yang sempat menghantuinya, kini digantikan oleh perhatian nyata dari Cassie. Cassie mungkin tidak selembut Amanda yang selalu diam, tapi Cassie ada di sini, merawatnya dengan caranya sendiri yang ceria dan penuh perhatian.
"Tidurlah," bisik Cassie sambil mengusap rambut Liam. "Besok pagi pasti sudah sembuh."
Liam menarik tangan Cassie, menggenggamnya erat, lalu menarik gadis itu agar ikut berbaring di sampingnya. "Tetaplah di sini. Jangan ke mana-mana."
"Aku tidak akan ke mana-mana, Liam."
Liam menarik napas panjang, mencium puncak kepala Cassie, dan akhirnya memejamkan mata dengan tenang.
***
Pagi itu, suasana di ruang tengah masih diwarnai sisa-sisa ledekan Jino tentang insiden tteokbokki. Liam baru saja hendak membalas sindiran tajam Jino saat langkah kaki Cassie terdengar menuruni tangga.
Cassie sudah siap dengan tas kuliahnya, tampak segar namun sedikit heran melihat Liam yang sudah "kembali" ke mode bos besarnya.
Tepat saat itu, pintu depan terbuka. Sosok wanita dengan langkah anggun dan aura yang sangat tenang masuk ke dalam ruangan.
Seluruh suasana seketika membeku. Jino dan Marco langsung berdiri tegak, sementara Liam mematung, matanya melebar saat melihat sosok yang kemarin malam muncul di mimpinya kini berdiri nyata.
Itu dia. Amanda.
Namun, sebelum Liam sempat bersuara, Amanda sudah melangkah maju dengan senyum yang sangat tulus. Tatapannya langsung jatuh pada Cassie.
"Lho, kita bertemu lagi?" ucap Amanda lembut. Suaranya persis seperti memori di kepala Liam—halus, dewasa, dan sangat sopan.
Amanda?" tanya Cassie ragu.
"Kau masih ingat rupanya," Amanda mendekat, menyapa Cassie dengan keramahan yang begitu alami. "Senang melihatmu lagi."
Cassie hanya bisa mengangguk kaku. Ia merasa heran, bagaimana bisa ada orang selembut Amanda? Auranya begitu bersih, sangat kontras dengan dunia Liam yang keras.
"Maaf aku datang mendadak," Amanda kini menoleh pada Liam, memberikan senyum yang sopan namun berjarak.
"Aku hanya ingin mengabarkan kalau proses legalitas perusahaan rokokmu sudah hampir selesai. Sedikit lagi, semua izinnya keluar dan bisnis itu akan resmi legal. Kau tidak perlu lagi mengandalkan jalur belakang."
Liam terdiam, rahangnya mengeras. Ia tidak menyangka Amanda masih membantunya secara diam-diam selama ini, mengurus birokrasi yang paling rumit sekalipun.
"Kenapa kau melakukan ini, Amanda?" tanya Liam dengan suara berat yang tertahan.
Amanda hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sulit diartikan. Ia tidak menjawab pertanyaan Liam, melainkan kembali menatap Cassie.
"Mau berangkat kuliah? Ayo, biar aku antar sekalian. Aku searah, dan sepertinya Liam butuh waktu untuk mencerna berkas-berkas ini dengan Marco."
Cassie menatap Liam, meminta kepastian. Di tengah rasa bingungnya, ia merasa tidak enak untuk menolak kelembutan wanita di depannya ini.
"Pergilah bersama Amanda," ucap Liam akhirnya, suaranya terdengar kaku.
Di dalam mobil, suasana sangat tenang. Aroma parfum Amanda yang lembut seperti bunga lili memenuhi kabin.
"Kau pasti ingat saat melihatku mengobrol dengan Liam waktu itu," Amanda membuka percakapan sambil menyetir dengan sangat halus.
"Maaf ya, waktu itu kami hanya basa-basi menanyakan kabar."
Cassie menoleh, memperhatikan profil samping wajah Amanda yang tampak sangat sempurna.
"Amanda... kenapa masih membantu Liam? Padahal kalian sudah... tahu sendiri kan?"
Amanda terkekeh pelan, suara tawa yang sangat sopan.
"Dulu aku yang meminta putus. Liam terlalu sibuk dengan dunianya, dan aku tidak bisa mengimbanginya. Tapi, aku tidak ingin dia terus berada di jalan ilegal. Aku membantunya diam-diam karena aku ingin dia punya hidup yang lebih tenang. Bukan karena aku ingin kembali."
Amanda melirik Cassie sekilas. "Kau berbeda dariku. Kau punya api yang bisa menemaninya di tengah badai. Itu sebabnya dia memilihmu, dan aku hanya ingin memastikan jalan yang kalian lalui sedikit lebih mudah dengan legalitas ini."
Cassie terdiam, merasa sangat kecil sekaligus kagum.
npd jangan2 nih si liam