NovelToon NovelToon
James Reaper: Pembalasan Tanpa Ampun

James Reaper: Pembalasan Tanpa Ampun

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:23.1k
Nilai: 5
Nama Author: BRAXX

Setelah pertempuran di hutan Sylven melawan Elias dan para pemburu harta karun, James Brook kembali ke Crescent Bay dan kehidupan di Pearl Villa perlahan kembali normal. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama ketika ia menemukan sebuah paket misterius di dalam mobilnya.

Di dalam paket tersebut terdapat foto lama kakeknya, Timothy Brook, bersama seorang wanita yang tidak dikenal. Petunjuk ini membawanya pada Olivia Pierce, yang kemudian mempertemukannya dengan Edna Winslow, kakak dari nenek kandung James.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pager!!!

Van hitam itu melaju kencang di jalanan menuju bagian kota yang lebih sepi. Bangunan-bangunan mulai jarang, digantikan oleh tembok rusak, gerbang berkarat, dan bangunan yang terbengkalai.

Suara Paula terdengar dari sambungan, "Van itu baru saja belok kiri menuju rumah sakit terbengkalai. Itu tempat yang sempurna untuk mereka. Aku akan kirim koordinatnya sekarang."

Mata Reaper menyipit saat ia menatap jalan di depan. "Terima kasih. Aku akan menangani sisanya."

Marcel, yang duduk di belakang kemudi, tidak bertanya siapa yang ada di telepon. Ia sudah cukup lama bekerja dengan Reaper untuk memahami bahwa pertanyaan tidak diperlukan.

Reaper sedikit condong ke depan. "Belok kiri."

Mobil langsung bergerak.

Dalam beberapa menit, mereka sampai di area tersebut.

"Berhenti di sini."

Marcel memarkir mobil agak jauh, sebagian tersembunyi di balik tembok yang runtuh.

Reaper membuka pintu dan keluar, tatapannya tertuju pada bangunan itu. "Beri aku pistol."

Marcel menoleh, sedikit terkejut. "Pistol? Biar aku ikut denganmu, Komandan."

Reaper menggeleng pelan. "Terima kasih, Marcel. Tapi ini bukan pekerjaan The Veil. Ini masalah pribadi."

Ia menatapnya langsung. "Aku tidak bisa menyeretmu ke dalam bahaya. Kau aset penting di sini."

Ia mengulurkan tangan. "Berikan pistolnya."

Marcel ragu sejenak sebelum mengangguk. "Mengerti."

Ia membuka laci depan dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Di dalamnya terdapat pistol, bersama tiga magazen yang sudah terisi.

Reaper mengambilnya, memeriksa senjata itu sebelum menyimpannya. "Tetap di sini. Tunggu aku."

Marcel mengangguk. "Baik. Hati-hati, Komandan."

Tanpa berkata lagi, Reaper langsung bergerak.

Ia berlari ringan, lalu melompati dinding pembatas rumah sakit.

Ia mendarat tanpa suara.

Ia menyelinap ke semak dekat pintu masuk, membungkuk sambil matanya menyapu sekitar.

...

Di tempat lain di Spinarc.

Sebuah telepon berdering.

Seorang pria yang duduk di balik meja rapi mengangkatnya. "Allô ? (Halo?)"

Suara di seberang langsung terdengar. "Ta fille ne rentrera pas aujourd’hui. (Putrimu tidak akan pulang hari ini.)"

Pria itu membeku.

"Quoi… qui êtes-vous ? (Apa... siapa kau?)" Suaranya sedikit bergetar. "De quoi parlez-vous ? (Apa yang kau bicarakan?)"

Suara itu tertawa pelan.

"Tu m’as bien entendu. (Kau dengar aku.)"

Sejenak hening.

"Cette pauvre fille est en train de prier sur la tombe de sa mère. (Gadis malang itu sedang berdoa di makam ibunya.)" Tawa kecil terdengar lagi. "Quel genre de père laisse sa fille aller seule au cimetière ? (Ayah macam apa yang membiarkan anaknya pergi sendirian ke pemakaman?)"

Tangan pria itu mencengkeram gagang telepon.

"Tu mens. (Kau bohong.)" Nada suara itu berubah tajam.

"Je ne suis pas là pour prouver quoi que ce soit. (Aku tidak di sini untuk membuktikan apa pun.)"

Hening sesaat.

"Allume les infos. (Nyalakan berita.)"

Napas pria itu menjadi berat saat ia meraih remote dan menyalakan televisi.

Layar berkedip.

Berita darurat muncul.

Seorang reporter berdiri di depan pemakaman.

"Il y a quelques instants, un incident choquant s’est produit au cimetière de Spinarc. Selon des témoins, cinq hommes masqués armés de fusils automatiques ont pénétré dans la zone et ont commencé à tirer en l’air, provoquant la panique parmi les civils. (Beberapa saat lalu, sebuah insiden mengejutkan terjadi di pemakaman Spinarc. Menurut saksi, lima pria bertopeng bersenjata senapan otomatis memasuki area dan mulai menembak ke udara, menyebabkan kepanikan di antara warga sipil.)"

Pria itu menatap layar, wajahnya memucat.

Reporter itu melanjutkan. "Ils ont enlevé une adolescente et ont pris la fuite à bord d’une camionnette. Heureusement, aucune perte humaine n’a été signalée. Les autorités enquêtent actuellement sur l’identité de la victime et les motivations derrière cette attaque. (Mereka menculik seorang gadis remaja dan melarikan diri menggunakan van. Untungnya, tidak ada korban jiwa dilaporkan. Pihak berwenang saat ini sedang menyelidiki identitas korban dan motif di balik serangan ini.)"

Pria itu mematikannya perlahan, tangannya kini gemetar. "Qu’est-ce que tu veux ? (Apa yang kau inginkan?)"

Suara itu kembali, lebih dingin dari sebelumnya. "Que veux-tu que je veuille d’autre ? La vie de ta fille est entre mes mains maintenant. (Apa lagi yang kuinginkan? Sekarang nyawa putrimu ada ditanganku.)"

Suara pria itu pecah. "Tu… tu ne peux pas… (Kau... kau tidak bisa...)"

Suara diseberang memotongnya. "Tu as une heure. N’implique pas la police, ou ta fille sera enterrée à côté de sa mère. (Kau punya waktu satu jam, jangan libatkan polisi. Atau putrimu akan dikubur di samping ibunya.)"

Mata pria itu membelalak.

"Je veux ce pager. (Aku ingin pager itu.)"

Tubuh pria itu langsung kaku. "Ça… je ne peux pas te le donner. (Itu... aku tidak bisa memberikannya.)"

Suaranya menjadi putus asa. "Demande ce que tu veux. De l’argent… je te donnerai de l’argent. (Minta apa saja. Uang... aku akan memberimu uang.)"

Tawa terdengar dari seberang telepon. "Je viendrai le prendre moi-même. (Aku akan mengambilnya.)"

Pria itu menelan ludah. "Combien ? (Berapa?)"

Suara diseberang berbicara perlahan, "Laisse-moi réfléchir. (Biar aku pikirkan dulu.)"

Sejenak hening.

"Que dirais-tu d’un million de dollars… et je te rendrai la tête de ta fille. (Bagaimana kalau satu juta dolar. Dan aku akan mengembalikan kepala putrimu.)"

Napas pria itu tidak teratur.

"Cette offre te plaît ? (Kau suka tawaran itu?)" Suara itu mengejek. "Ne fais pas le malin, vieux, apporte ce pager. Westfield Mall. Ta fille rentrera après la transaction. Souviens-toi : pas de police… ou elle mourra d’une façon atroce. (Jangan sok pintar, pak tua, bawakan pager itu. Westfield Mall. Putrimu akan pulang setelah transaksi selesai. Ingat. Jangan ada polisi. Atau putrimu tewas dengan mengenaskan.)"

Pria itu berusaha menenangkan diri.

"Je comprends… (Aku mengerti...)" Suaranya gemetar. "mais le centre commercial est loin d’ici. (Tapi mal itu jauh dari sini.)"

Jawaban datang seketika.

"Une heure. (Satu jam.)"

Sambungan terputus.

Pria itu berdiri membeku sesaat, lalu tiba-tiba bergerak. Ia bergegas menuju brankas tersembunyi di balik lukisan, tangannya gemetar saat membukanya.

.....

Rumah sakit Terbengkalai.

Reaper mengamati dengan hati-hati dari posisinya. Tidak ada penjaga yang terlihat berpatroli di perimeter luar, tidak ada pergerakan di dekat gerbang yang rusak. Hanya satu pria bersenjata berdiri di pintu masuk, memegang senapannya dengan santai.

Reaper bergerak, ia memanjat melalui jendela yang pecah dan menyelinap masuk ke dalam bangunan.

Lalu suara langkah kaki terdengar.

Ia langsung berhenti. Tubuhnya menempel di sudut dinding di koridor sempit.

Suara itu semakin dekat.

Seorang pria mendekat. Penjaga bersenjata itu berjalan santai, tidak curiga, senapannya tergantung longgar saat ia berbelok menuju sudut.

Reaper tetap diam.

Pria itu melangkah maju.

Kini tepat di depannya, tatapannya lurus ke depan.

Reaper berdiri tepat di sisi kirinya.

Pria itu berbalik

Sebuah kilatan. Pisau meluncur melintasi tenggorokannya sebelum ia sempat bereaksi.

Suara cekikan pelan keluar saat darah langsung mengalir. Tubuhnya roboh tanpa perlawanan.

Reaper menangkapnya, menurunkannya tanpa suara. Lalu menarik tubuh itu, menyembunyikannya.

...

Di sisi lain kota, kemacetan tidak memperlambat ayah Celiné.

Ia mengendarai motor melewati jalanan yang ramai, helm menutupi wajahnya, tangannya mencengkeram erat saat ia menerobos lalu lintas.

"Tiens bon, Celiné… (Bertahanlah, Celiné...)" Suaranya hampir tak terdengar. "J’arrive bientôt. (Aku akan segera tiba.)"

...

Kembali di dalam rumah sakit, Reaper melangkah lebih dalam ke dalam bangunan.

Lalu suara percakapan. Awalnya samar, lalu semakin jelas.

Ia berhenti di dekat dinding retak, mendengarkan dengan cermat.

"Je vais aller au centre commercial. (Aku akan pergi ke mall.)" Salah satu pria berkata. "La police remontera sûrement les caméras jusqu’ici. (Polisi pasti akan melacak jejak CCTV ke sini.)"

Suara lain menjawab. "Alors dans une heure, on évacue. (Jadi dalam satu jam, kita evakuasi.)"

Pria pertama melanjutkan. "Attendez mon ordre… puis tuez la fille. (Tunggu perintahku... lalu bunuh gadis itu.)"

"Compris. (Dimengerti.)"

Seorang pria keluar dari ruangan, berjalan menuju pintu keluar.

Reaper menghitung dengan cepat. Lima pria di pemakaman, satu mati di gerbang, satu menuju mall, tersisa tiga di dalam.

Ia mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu dengan cepat. Pesan itu dikirim ke Marcel.

Beberapa saat kemudian, pria lain keluar dari ruangan, melepas topengnya.

"Je l’ai attachée. (Aku sudah mengikatnya.)" Ia menyeringai. "Cette fille est plutôt coriace. (Gadis itu cukup tangguh.)"

Pria lain juga melepas topengnya. "Une adolescente… du Sang de rebelle. (Gadis remaja... darah pemberontak.)"

Mata Reaper menangkap semuanya. Ia mengambil foto diam-diam dari kedua pria itu.

Lalu salah satu dari mereka berbicara lagi. "T’as du feu ? (Ada korek api?)"

Yang lain menggeleng. "Non. Celui à la porte en a. (Tidak. Yang di gerbang punya.)"

Pria pertama menghela napas. "Alors allons-y. (Kalau begitu, ayo kita kesana.)"

Sedikit ragu. "Mais… (Tapi...)"

"T’inquiète, elle est attachée. (Tenang, dia sudah diikat.)"

Keduanya berjalan menuju pintu keluar, pergi ke luar untuk merokok.

Reaper mengawasi mereka pergi.

Inilah saatnya, momen yang sempurna. Tanpa ragu, ia bergerak.

Ia mencapai pintu dan membuka kuncinya, memastikan tidak menimbulkan suara.

Lalu ia mendorongnya terbuka.

Di dalam cahaya redup, Celiné di sana

Tangannya terikat erat pada sebuah furnitur berat.

Kain disumpalkan di mulutnya.

Matanya terbuka lebar karena ketakutan.

Saat ia melihatnya, ia membeku.

Ia tidak mengenalinya. Ketakutan di matanya semakin dalam.

Reaper langsung bergegas maju, ia berlutut di depannya. Suaranya merendah. "Celiné… n’aie pas peur. (Celiné... jangan khawatir.)"

Tangannya bergerak cepat, membuka ikatan. "On va sortir d’ici. (Kita akan keluar dari sini.)"

Reaper melepas kain dari mulutnya.

Celine terengah pelan, akhirnya bisa bernapas dengan benar.

Lalu Ia menatap ke atas, tatapan mereka bertemu.

1
Was pray
baru sadar bahaya setelah semua terjadi, kemarin2 James terlalu percaya diri bahwa semua bisa diatasi dengan mudah, akhirnya kewaspadaan hilang, kakek Gordin aja hampir celaka karena terlalu kepedean james
Was pray
flashvacknya jangan terlalu panjang thor
MELBOURNE: udah selesai kok guyss
total 1 replies
Xenovia_Putri
.akhirnya selesai juga itu flashback
MELBOURNE: jangan lupa baca cerita terbaruku yang berjudul Kebangkitan Pewaris Rahasia
total 3 replies
Marya Dina
d tunggu thorr,,
james jangan lemah..
cinta akan menemukan kebenaran nya😁😁😁😁
MELBOURNE: jangan lupa baca cerita terbaruku yang berjudul Kebangkitan Pewaris Rahasia
total 2 replies
L A
kenapa Ndak selesaikan yg ini dulu thor
MELBOURNE: aman guyss tetap lanjut kokk
total 1 replies
L A
klo bahasa Perancis nya dikurangi ato dihapus saja sekali lebih enak bacanya thor ...cuma berarti mengurangi jumlah tulisanmu 😄🤭
MELBOURNE: Jangan lupa baca cerita terbaruku yang berjudul
Kebangkitan Pewaris Rahasia
total 2 replies
L A
wooow seru🔥🔥
L A
banyakan nama Thor jadi pusing nginget2 🤣
MELBOURNE: hahahaaa🙏🙏, yang penting seru kan 🤣🤣
total 1 replies
Arystides
alur cerita nya bagus dan menarik
MELBOURNE: Jangan lupa baca cerita terbaruku yang berjudul
Kebangkitan Pewaris Rahasia
total 2 replies
L A
bukan jam biasa, tapi jam tangan penuh sejarah
Arystides
semangat terus min, bagus banget ceritanya..😍
MELBOURNE: Jangan lupa baca cerita terbaruku yang berjudul
Kebangkitan Pewaris Rahasia
total 1 replies
carat28
Hai kak, boleh follback saya? Saya mau kirim inbox terkait penawaran kepenulisan. Terima kasih
MELBOURNE: Jangan lupa baca cerita terbaruku yang berjudul
Kebangkitan Pewaris Rahasia
total 1 replies
Noer Asiah Cahyono
jodoh reaper kah itu celine
MELBOURNE: Jangan lupa baca cerita terbaruku yang berjudul
Kebangkitan Pewaris Rahasia
total 2 replies
Irvan (イルヴァン)
👍👍
MELBOURNE: Jangan lupa baca cerita terbaruku yang berjudul
Kebangkitan Pewaris Rahasia
total 1 replies
Nathan Grdn
teu ngarti
MELBOURNE: Jangan lupa baca cerita terbaruku yang berjudul
Kebangkitan Pewaris Rahasia
total 2 replies
Noer Asiah Cahyono
masih menebak2 alurnya karena semakin penasaran, banyak nama
MELBOURNE: Jangan lupa baca cerita terbaruku yang berjudul
Kebangkitan Pewaris Rahasia
total 3 replies
anak panda
lanjut🤭🤭
MELBOURNE: Jangan lupa baca cerita terbaruku yang berjudul
Kebangkitan Pewaris Rahasia
total 3 replies
Irvan (イルヴァン)
👍
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di upp yaa
total 1 replies
Noer Asiah Cahyono
masih penasaran terus
anak panda
crazy up torr 🤭🤭🤭
MELBOURNE: punya hari ini udah dobel up yaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!