Dua tahun pernikahan yang Nara jalani bersama dengan Arga mulai terasa hambar ketika Arga memilih untuk sibuk dengan pekerjaan. Hingga suatu malam dia menyaksikan suaminya itu tengah berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri.
Saat dunianya terasa gelap, sosok Aditya Narendra yang merupakan sahabat baik Arga muncul sebagai pelindungnya. Rendra selalu ada di sisi Nara, memberikan dukungan dan perhatian yang telah lama tidak dia dapatkan dari suaminya.
Sentuhan lembut dan kata-kata hangat Rendra menjadi obat yang menyembuhkan luka dalam hatinya, sekaligus membawanya pada permainan penuh gairah pria itu. Namun, Nara tak menyadari bahwa di balik kebaikan Rendra tersembunyi sebuah rahasia besar.
"Jawab pertanyaanku, Nara. Lebih puas denganku, atau dengan suamimu yang selalu meninggalkanmu sendirian?" ~ Aditya Narendra.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
Nara terpaku diam membelakangi suaminya, tidak menoleh sama sekali. Hening yang mencekam menyelimuti ruangan itu, jauh lebih menakutkan daripada teriakan atau amarah.
"Mas Arga..." suara Nara terdengar datar, dingin, dan tanpa emosi. "Apa yang Mas harapkan setelah semua yang terjadi? Memecat Alya bukan berarti menghapus semua luka yang sudah Mas ukir di hatiku."
Nara memutar tubuhnya, menatap wajah Arga yang penuh harap dengan tatapan kosong dan membeku. Tidak ada lagi cinta, tidak ada lagi kemarahan, hanya ada kehampaan yang menusuk.
"Kesempatan?" Nara menggeleng pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum getir yang menyakitkan. "Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri saat suamiku bermain gila dengan sekretarisnya diruangan kantornya, dan sekarang kamu bicara tentang kesempatan?"
Nara melangkah mundur sedikit, "Buatku, semuanya sudah selesai. Rasa sayang dan percayaku pada Mas mati seketika saat aku menyaksikan pengkhianatanmu, Mas. Memecat dia sekarang juga sudah percuma, tidak ada yang perlu diperbaiki lagi diantara kita."
"Nara, tolong jangan begini..." suara Arga terdengar putus asa, tangannya terulur ingin menyentuh tangan istrinya namun segera ditepis kasar oleh Nara.
"Jangan sentuh aku!" tegur Nara dingin, matanya menatap tajam. "Aku bilang aku lelah, Mas. Aku lelah berdebat, lelah menangis, dan lelah menghadapi drama kehidupan rumah tangga kita!"
Nara menarik napas panjang, mencoba menenangkan gejolak di dalam dadanya, "Mulai sekarang, biarkan kita hidup masing-masing dulu. Aku butuh ketenangan, dan aku harap Mas mengerti dan tidak menggangguku."
Nara berbalik dan berjalan meninggalkan Arga yang terpaku diam di tempatnya. Sementara Arga hanya tertegun dengan tangan gemetar. Dia sadar, kali ini dia benar-benar hampir kehilangan segalanya akibat dari perbuatannya sendiri yang tidak bisa menahan nafsunya saat Alya menggodanya dulu.
"Brengsek...! Aku benar-benar brengsek!" Arga melayangkan pukulan ke udara, suaranya terdengar parau dan hancur.
Sementara itu, Nara menyandarkan punggungnya ke pintu yang baru saja dia tutup. Matanya terpejam erat, berusaha menahan air mata yang ingin tumpah. Hatinya masih sakit, masih perih. Diantara rasa sakit itu, tiba-tiba bayangan wajah Rendra dan kata-kata tulus yang pria itu ucapkan saat di villa tadi muncul di benaknya, memberikan sedikit kehangatan di tengah dinginnya kenyataan pahit yang sedang dia hadapi.
"Rendra..." bisiknya lirih, dia melangkahkan kakinya ke arah meja rias, meletakkan tasnya diatas meja dan mengeluarkan bunga pemberian Rendra dari sana.
Nara memandang bunga itu dengan tatapan nanar. Bunga itu seolah menjadi saksi bisu akan adanya cinta lain yang begitu tulus menantinya di luar sana, disaat dia sedang mendapatkan duri dan luka dari rumah tangganya sendiri.
"Rendra..." bisiknya lagi, kali ini suaranya bergetar penuh makna. "Kenapa harus sekarang? Apa aku pantas mendapatkan cinta darimu?"
-
-
-
Suasana di ruangan kerja Rendra terlihat tenang siang itu. Namun ketenangan itu seketika buyar saat pintu ruangannya didorong terbuka kasar, dan masuklah Arga dengan wajah lesu dan aura putus asa yang sangat terasa.
Rendra yang sedang sibuk memeriksa berkas-berkas di mejanya mendongak, melihat kedatangan sahabatnya yang tiba-tiba itu. Tatapan Rendra berubah dingin dan sulit dibaca, meski di dalam hatinya dia sudah bisa menebak apa tujuan pria itu datang.
"Ga?" sapanya singkat, tidak beranjak dari kursi kerjanya. "Ada apa? Tumben datang ke sini. Tidak sibuk kah?"
Arga tidak menjawab. Dia berjalan gontai, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa yang ada di sudut ruangan. Tangannya mencengkeram rambutnya sendiri kuat-kuat kebelakang.
"Ren... aku hancur, Ren. Aku benar-benar hancur." suara Arga terdengar parau, kepalanya tertunduk dalam.
Rendra meletakkan pulpennya diatas meja. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap Arga dengan tatapan tajam yang menyembunyikan ribuan rasa di dalamnya, rasa kesal, rasa iba, namun juga rasa memiliki hak yang lebih besar atas wanita yang sedang menjadi bahan pembicaraan ini.
"Apa lagi sekarang?" tanya Rendra datar, suaranya terdengar tenang namun menusuk. "Bukankah kamu bilang sudah memecat sekertarismu? Lalu apa lagi yang kurang?"
Arga mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca. "Itulah masalahnya, Ren. Aku sudah memecatnya, aku sudah buang wanita itu dari hidupku. Tapi Nara... Nara tetap saja dingin. Dia bahkan tidak mau menatap mataku, tidak mau aku sentuh, dan dia mengunci dirinya di kamar tamu."
"Dia bilang semuanya sudah selesai. Dia bilang rasa sayangnya padaku sudah mati. Apa yang harus aku lakukan, Ren? Aku takut... aku takut benar-benar kehilangan dia. Aku tidak bisa hidup tanpa Nara!" suara Arga meninggi, campuran antara marah dan putus asa.
Rendra diam mendengarkan, mengetukkan jari-jarinya diatas meja sambil menatap wajah putus asa Arga.
"Kesalahan yang sudah kamu lakukan itu bukan kesalahan kecil, Ga. Kamu mengkhianati kepercayaan wanita yang paling mencintaimu. Luka semacam itu tidak bisa sembuh hanya dengan kata 'maaf' atau dengan memecat satu orang." Rendra akhirnya bersuara, nadanya rendah dan berat. Dia berdiri dari kursinya, lalu berjalan mendekati Arga dan berdiri di hadapan sahabatnya itu.
"Nara bahkan menyaksikan sendiri perbuatan kalian berdua, pasti akan sulit baginya untuk melupakan kejadian itu." tatapan Rendra tajam menusuk, membuat Arga semakin menunduk bersalah. "Seharusnya kamu bisa menahan dirimu, Ga. Jika sudah seperti ini, kata maaf pun percuma."
"Aku memang bodoh, Ren... aku bodoh. Aku terlalu terbawa nafsu, aku buta..." isak Arga. "Tolong bantu aku, Ren. Kamu sahabatku satu-satunya. Bicaralah pada Nara, katakan padanya kalau aku benar-benar menyesal. Dia pasti mau mendengarkanmu. Aku tidak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi selain kamu."
Arga menatap Rendra dengan penuh harap, sama sekali tidak menyadari bahwa pria di hadapannya ini adalah orang yang kini menyimpan cinta yang besar pada istrinya, dan orang yang justru menjadi tempat Nara bersandar saat dia menyakiti wanita itu.
"Aku akan coba bicara padanya, Ga." jawab Rendra lambat, pandangannya beralih menatap jendela kaca besar sejenak sebelum menatap wajah sahabatnya kembali. "Tapi aku tidak bisa janji apa-apa. Karena semua keputusan tetap ada pada Nara."
Arga menghela napas panjang, seolah beban di pundaknya sedikit berkurang meski rasa cemas itu masih menggelayuti hatinya. Dia mengangguk lemah, menatap sahabatnya dengan penuh rasa terima kasih yang bercampur putus asa.
"Terima kasih, Ren... terima kasih banyak. Aku tahu aku tidak pantas meminta bantuanmu setelah semua yang aku perbuat, tapi tolong... cobalah bujuk dia. Katakan padanya kalau aku masih sangat mencintainya, kalau aku siap melakukan apa saja asal dia mau kembali padaku."
Rendra hanya mengangguk singkat, namun sorot matanya berubah gelap dan tajam. Di dalam hatinya dia tersenyum penuh kemenangan. "Kamu benar-benar bodoh, Ga. Kamu sendiri yang sedang menyerahkan wanita yang paling kamu cintai ke dalam genggamanku."
"Baiklah, akan aku usahakan," ucap Rendra datar, tangannya terulur untuk menepuk bahu Arga. "Sekarang kamu pulang saja dulu. Tidak perlu memikirkan hal-hal yang membuatmu semakin stres. Biarkan aku yang urus sisanya."
"Terima kasih, Ren. Kamu memang sahabat terbaikku," ucap Arga tulus, benar-benar tidak menyadari duri yang siap menancap punggungnya kini ada dihadapannya.
Arga keluar dari ruangan itu, meninggalkan Rendra sendirian dengan pikiran yang kini berputar merancang strategi. Begitu pintu tertutup rapat, senyum tipis terbit di bibir Rendra. Dia berjalan kembali ke mejanya, lalu mengambil ponselnya yang tergeletak diatas meja. Jarinya dengan cepat mengetik pesan.
✉️ [Nara... kita baru sehari tidak bertemu, tapi aku sudah sangat merindukanmu seperti ini. Mau bertemu?]
-
-
-
Bersambung...