NovelToon NovelToon
Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Fantasi Timur / Roh Supernatural
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Pewaris Tubuh Suci Legendaris adalah novel fantasi kultivasi yang mengikuti perjalanan Shou Wei, seorang pemuda yang sejak kecil dianggap biasa, lemah, dan tidak menonjol, tetapi ternyata menyimpan rahasia besar dalam tubuhnya. Di balik kehidupannya yang penuh penindasan dan kehilangan, tersimpan benih kekuatan langka yang perlahan membawanya ke jalan berbahaya: jalan warisan kuno, formasi legendaris, tubuh naga, dan konflik antar dunia.

Cerita ini menyuguhkan banyak tempat skala dunia: sekte-sekte manusia, negeri demon, pulau-pulau melayang, kerajaan asing, hingga dunia lain yang memiliki teknologi, formasi, dan kekuatan jauh melampaui bayangan manusia biasa. Pertarungan yang dihadapinya bukan lagi sekadar soal hidup dan mati, melainkan soal masa depan banyak dunia.

Perpaduan cerita antara kultivasi, pertarungan, formasi, warisan kuno, intrik politik, dunia demon, perjalanan lintas dunia, dan rahasia takdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam di Hutan Mosenlin

Malam turun di Pegunungan Mou seperti kain hitam yang dibentangkan dari puncak ke puncak. Angin berdesir di sela pepohonan tua Hutan Mosenlin, membuat ranting-ranting bergesekan seperti bisikan arwah. Di kaki tebing yang tandus, tersembunyi di balik dinding batu dan semak belukar, ada sebuah goa tambang kecil yang tak pernah tercatat di peta mana pun.

Di sanalah Shou Wei hidup.

Atau lebih tepatnya, di sanalah ia belum mati.

Usianya baru dua belas tahun, tubuhnya kurus dan penuh debu batu. Telapak tangannya keras dan pecah-pecah akibat menggali dinding tambang setiap hari dari fajar hingga malam. Punggungnya dipenuhi bekas cambuk lama, sebagian telah menghitam, sebagian masih merah basah. Di tambang itu tidak ada nama, tidak ada masa depan, dan tidak ada belas kasihan. Yang ada hanya anak-anak berumur sepuluh hingga lima belas tahun yang dipaksa menambang batu roh mentah untuk bandit-bandit Hutan Mosenlin.

Setiap hari, para bandit berteriak seolah mereka sedang menggembala hewan, bukan manusia. Siapa yang lambat dipukul. Siapa yang jatuh ditendang. Siapa yang mencoba melawan, akan dijadikan contoh.

Shou Wei sudah melihat semuanya.

Ia juga sudah belajar satu hal yang paling penting: orang yang ingin hidup tak boleh menangis terlalu lama.

Di sudut goa utama, di antara puluhan anak yang tertidur dengan tubuh meringkuk, Shou Wei membuka matanya perlahan. Ia sudah menunggu saat ini sejak tiga bulan lalu. Malam tanpa bulan. Penjagaan luar lebih renggang. Dua bandit mabuk sejak senja. Dan dari perhitungan langkah serta pola ronda yang ia hafal dalam kepala, ada celah kecil sebelum pergantian jaga.

Hari ini ia akan mencoba kabur.

Shou Wei bangkit hati-hati. Napasnya tipis, kakinya nyaris tak bersuara saat melangkahi tubuh-tubuh kurus yang terbaring di lantai batu. Bau lembap, darah, dan keringat memenuhi rongga goa. Di kejauhan, terdengar suara dengkur penjaga dari dekat pintu masuk.

Ia terus bergerak.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Jangan lihat ke belakang, pikirnya.

Di dekat mulut goa, obor yang tertancap di dinding hanya menyisakan nyala kecil. Shou Wei menempelkan tubuhnya ke batu, lalu menyelinap melewati celah bayangan. Keringat dingin membasahi tengkuknya. Bila tertangkap, ia tahu akibatnya. Tapi bila tetap di sini, ia hanya menunggu hari di mana tubuhnya tak lagi sanggup memecah batu.

Dunia luar menyambutnya dengan udara dingin yang menggigit paru-paru.

Selama beberapa saat, Shou Wei hanya berdiri diam, menatap langit malam. Ia hampir lupa bagaimana rasanya menghirup udara yang tidak bercampur debu tambang. Hutan Mosenlin membentang kelam di hadapannya, liar dan dalam. Dari kejauhan terdengar lolongan binatang malam.

Kebebasan ada di depan matanya.

Namun sebelum sempat melangkah turun dari lereng, ia melihat cahaya lain di balik batu besar dekat jalur gerobak. Cahaya lentera. Bayangan orang-orang. Shou Wei segera merendahkan tubuh dan merangkak ke balik semak.

Dari sela dedaunan, matanya menyipit.

Ada tiga gerobak kayu berhenti di jalan setapak. Masing-masing dipenuhi batu roh mentah yang baru ditambang, belum dipoles, masih kusam dan bercampur tanah. Di samping gerobak berdiri beberapa bandit tambang yang ia kenal dari cambuk dan tendangan mereka. Namun malam ini mereka tidak sedang berteriak.

Mereka sedang membungkuk.

Di hadapan mereka berdiri empat orang berpakaian putih.

Jubah mereka bersih, lengan mereka bersulam pola awan, dan di dada kiri tersemat lambang pedang putih dalam lingkaran perak. Shou Wei pernah melihat lambang itu di sebuah bendera yang dibawa pedagang keliling saat ia masih sangat kecil.

Sekte Aliran Putih. sekte Bulan Bintang

Sekte ini seingat Shou Wei masih berhubungan dengan keluarganya. Keluarga Shou.

Sekte yang konon terkenal karena menumpas kejahatan, melindungi desa-desa, dan menghukum kultivator sesat.

Salah satu pria berjubah putih memeriksa isi gerobak dengan santai. “Jumlahnya lebih sedikit daripada bulan lalu.”

Pemimpin bandit yang bermata satu menunduk sambil tersenyum kaku. “Anak-anak baru masih belum terbiasa, Tuan. Beberapa hari lagi hasilnya akan naik.”

Pria berjubah putih itu mendecakkan lidah. “Kalian selalu punya alasan. Tetua sekte tidak menyukai alasan. Mereka hanya menyukai batu roh.”

Bandit bermata satu itu buru-buru mengangguk. “Kami mengerti.”

Seorang murid sekte lain, yang wajahnya masih muda, malah tertawa kecil. “Lucu sekali. Di luar sana orang-orang memuji Sekte Aliran Putih Bulan Bintang karena telah membersihkan kawasan Kota Raya dari bandit. Padahal bandit-bandit terbaik justru bekerja untuk kita.”

Semua orang tertawa pelan.

Tubuh Shou Wei menegang.ketika mendengar Kota Raya.

Dadanya yang kecil terasa sesak, bukan karena takut, tetapi karena sesuatu yang jauh lebih dingin. Ia tidak sepenuhnya mengerti urusan sekte dan dunia kultivasi, tetapi ia cukup cerdas untuk mengerti satu hal: para bandit ini bukan sekadar perampok liar. Mereka adalah tangan kotor dari orang-orang yang berpakaian bersih.

Tambang ini bukan milik bandit.

Tambang ini milik sekte.

Shou Wei menahan napas, berusaha mengingat setiap kata. Sekte Aliran Putih. Bulan Bintang,. Tetua sekte. Batu roh. Semua itu ia simpan dalam benak seperti ukiran di batu.

Lalu daun kering di bawah lututnya berbunyi.

Krek.

Suara itu kecil. Sangat kecil.

Tapi bagi seseorang yang sudah membuka indera rohani, itu lebih nyaring daripada pekikan burung.

Kepala pria muda berjubah putih langsung menoleh.

“Siapa di sana?”

Jantung Shou Wei serasa berhenti. Ia berbalik dan berlari.

“Kejar!” teriak seseorang.

Langkah kaki menghantam tanah di belakangnya. Shou Wei menyusuri lereng berbatu secepat mungkin, mengabaikan semak berduri yang menggores betisnya. Ia masih anak-anak, tubuhnya lelah karena kerja paksa, tapi insting hidup membuat kakinya bergerak liar. Hutan di depan tampak seperti lautan hitam, begitu dekat, namun terasa tak terjangkau.

Tiba-tiba angin tajam menerpa punggungnya.

Seseorang telah muncul di hadapannya.

Pria berjubah putih itu berdiri tenang, seolah hanya melangkah sekali untuk memotong jalurnya. Wajahnya tampan, matanya dingin, dan di pinggangnya tergantung pedang tipis berwarna pucat.

Shou Wei berhenti mendadak sampai terjatuh di tanah.

Pria itu menatapnya dari atas. “Anak tambang?”

Shou Wei menatap balik tanpa bicara.

“Berani sekali menguping.” Pria itu mengangkat tangan, lalu menghantam leher Shou Wei dengan bagian samping telapaknya.

Dunia seketika gelap.

Saat ia sadar, bau darah memenuhi hidungnya.

Ia kembali berada di goa utama. Tangannya diikat ke tiang kayu. Tubuh bagian atasnya telanjang. Di depannya berdiri pemimpin bandit bermata satu, sementara dua anak lain dipaksa berlutut sambil menunduk menyaksikan hukuman itu. Para pekerja paksa lainnya menatap dari sudut-sudut goa dengan wajah pucat.

“Jadi kau ingin kabur?” suara pemimpin bandit itu serak seperti batu digesek besi. “Kau juga melihat sesuatu yang seharusnya tidak kau lihat.”

Shou Wei meludah darah ke lantai.

Bandit itu menyeringai. “Masih punya nyali.”

Cambuk pertama jatuh ke punggungnya seperti api.

Tubuh Shou Wei menegang, tetapi ia tidak berteriak.

Cambuk kedua merobek kulit yang lama.

Cambuk ketiga membuat lututnya gemetar.

Suara tawa, suara tarikan napas ngeri, dan suara cambuk bercampur jadi satu. Dunia menyempit menjadi rasa sakit. Namun Shou Wei menggigit bibirnya sampai pecah. Ia tidak akan memberi mereka pekikan puas.

“Berteriaklah,” kata si bandit. “Bukankah anak-anak selalu pandai menangis?”

Cambuk keempat terangkat.

Namun kali ini, sebelum cambuk itu jatuh ke tubuh Shou Wei, seseorang menerjang dari samping.

Plak!

Suara cambuk mengenai daging terdengar berat.

Seorang pemuda berumur sekitar lima belas tahun jatuh menutupi tubuh Shou Wei. Punggungnya yang lebar untuk ukuran anak menerima hantaman itu sepenuhnya. Darah segera merembes dari bajunya yang compang-camping.

“Berhenti!” teriak beberapa anak tanpa sadar.

Bandit bermata satu membelalakkan mata. “Hui Song! Kau bosan hidup?”

Pemuda itu tidak mundur. Ia tetap menutupi tubuh Shou Wei sambil menahan gemetar. Rahangnya mengeras, matanya penuh amarah yang tertahan. “Kalau dia mati, siapa yang akan menggali goa terdalam? Bukankah kalian sendiri bilang dia paling pandai membaca tanda batu?”

Keheningan turun beberapa detik.

Bandit itu meludah ke lantai. “Berani membalas dengan otak, ya?”

Hui Song tak menjawab. Ia hanya tetap di sana, menjadi perisai.

Akhirnya si bandit mendengus kasar. “Lepaskan bocah itu. Mulai besok, mereka berdua turun ke goa paling dalam. Kalau berani bikin masalah lagi, kubiarkan tubuh mereka membusuk di bawah batu.”

Tali Shou Wei diputus. Ia nyaris roboh, tetapi Hui Song menahannya.

Para bandit pergi sambil mengumpat. Satu demi satu para pekerja paksa kembali menunduk, takut terlihat terlalu peduli. Di tempat seperti itu, rasa iba pun bisa menjadi alasan untuk dipukul.

Shou Wei bernapas berat. Punggungnya terasa seperti dibakar hidup-hidup.

Hui Song mendudukkannya di sudut goa, lalu memberikan sepotong kain kotor untuk menahan darah. “Tekan di sini.”

“Kenapa menolongku?” suara Shou Wei parau.

Hui Song duduk di sebelahnya. Wajahnya tegas, lebih dewasa dari usianya, rambutnya panjang berantakan sampai bahu. “Karena kau bodoh.”

Shou Wei menatapnya.

“Kabur sendirian di malam seperti ini?” Hui Song menghela napas. “Kalau mau lari, setidaknya harus tahu siapa lawanmu.”

Shou Wei menunduk sejenak, lalu berkata pelan, “Aku sudah tahu sekarang.”

Hui Song meliriknya. “Apa yang kau lihat?”

Shou Wei terdiam beberapa saat sebelum menjawab, “Orang-orang sekte. Jubah putih.Sekte Bulan Bintang.  Mereka mengambil batu roh.”

Untuk pertama kalinya, wajah Hui Song berubah.

Bukan kaget.

Melainkan seperti seseorang yang akhirnya mendengar kebenaran yang sudah lama ia duga.

“Sekte putih yah... Aku pikir begitu,” katanya lirih.

Malam semakin dalam. Obor di goa berkedip-kedip, menebar bayangan panjang di dinding batu. Di sekeliling mereka, anak-anak lain berpura-pura tidur, tetapi tak satu pun benar-benar terlelap.

Shou Wei menahan sakit di punggungnya dan menatap ke arah lorong gelap yang menuju bagian paling dalam tambang.

Goa terdalam.

Tempat itu terkenal lebih sempit, lebih gelap, dan lebih berbahaya. Banyak yang masuk, sedikit yang kembali dengan tubuh utuh. Namun entah kenapa, di tengah penderitaan yang baru saja ia alami, hati Shou Wei justru menjadi tenang.

Ia telah melihat wajah asli dunia.

Bandit hanyalah gigi taring.

Sekte adalah rahangnya.

Bila ia ingin hidup, ia harus lebih tajam dari keduanya.

Hui Song menyandarkan kepala ke dinding batu. “Mulai besok kita kerja bersama.”

Shou Wei memejamkan mata sejenak, lalu mengangguk.

Di luar sana, angin malam Mosenlin berembus semakin dingin, seperti pertanda bahwa hidup mereka akan segera berubah. Tak ada satu pun dari anak-anak di tambang itu yang tahu bahwa malam ini adalah awal dari runtuhnya tambang rahasia tersebut.

Namun jauh di dalam hati Shou Wei, sesuatu telah tumbuh.

Bukan keberanian.

Bukan pula dendam.

Melainkan tekad yang dingin, sunyi, dan dalam seperti jurang.

1
Muhammad Arsyad
ini...kapan saktinya...lama amat🤭🤭
Simon Semprul
nie cerita pendekar apa misterii si thor /Gosh/
Daryus Effendi
ada b.ingrisnya jadi gak enak bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!