NovelToon NovelToon
Surga Yang Terlupakan

Surga Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Selingkuh / Pelakor
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Menikahimu adalah ibadah terpanjang yang pernah aku ikrarkan. Namun, mengapa kini aku merasa sedang menyembah kehampaan di rumah yang tak lagi bertuan?"

Sepuluh tahun lamanya, Hana percaya bahwa kesetiaan adalah fondasi tunggal yang akan menjaga atap rumah tangganya tetap kokoh. Ia telah memberikan segalanya—masa mudanya, impian-impiannya, hingga seluruh napasnya hanya untuk melayani Aris, suaminya. Bagi Hana, rumah mereka adalah "Surga" kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat dan doa-doa di setiap sujud malamnya.

Namun, perlahan "Surga" itu mulai terasa dingin. Aris, pria yang dulu selalu pulang dengan senyum hangat, kini berubah menjadi sosok asing yang membawa aroma parfum yang tak pernah Hana kenali. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta, kini kosong dan seolah menembus tubuh Hana seakan ia adalah bayangan yang tak kasat mata.

Petaka itu dimulai saat sebuah nama dari masa lalu Aris kembali muncul. Aris tidak hanya lupa jalan pulang ke pelukan Hana, ia mulai "melupakan" sel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Gema dari Masa Lalu

Ketukan palu hakim yang menggema tiga kali di ruang sidang seolah menjadi bunyi lonceng kebebasan bagi Hana. Suaranya tidak keras, namun getarannya merambat hingga ke relung jiwanya yang paling dalam. Secara hukum, ia bukan lagi bagian dari keluarga Gunawan. Ia bukan lagi "Istri Aris". Ia adalah Hana Keiko—seorang wanita yang kembali memiliki namanya sendiri.

Aris keluar dari ruang sidang tanpa menoleh. Bahunya merosot, dan langkah kakinya tidak lagi memiliki keangkuhan yang dulu selalu ia pamerkan. Sementara Mama Sarah, yang biasanya melempar tatapan tajam, kali ini hanya bisa menutup wajahnya dengan syal sutra mahal, menghindari sorot mata orang-orang di koridor pengadilan.

"Selamat, Na," Maya memeluk sahabatnya erat begitu mereka sampai di parkiran. "Kamu resmi merdeka."

Hana tersenyum, sebuah senyuman yang tidak dipaksakan. "Terima kasih, May. Rasanya... seperti baru saja melepaskan ransel berisi batu yang sudah kupikul selama sepuluh tahun."

Namun, kemerdekaan bukan berarti tanpa tantangan. Hana kini harus benar-benar memikirkan bagaimana ia akan menyambung hidup. Meskipun ia memiliki uang muka dari hasil karyanya, ia tahu ia butuh sesuatu yang lebih stabil. Ia tidak ingin hanya dikenal sebagai wanita yang "viral" karena perceraiannya. Ia ingin membangun sesuatu yang nyata.

Dua minggu kemudian, Hana berdiri di depan sebuah ruko tua berlantai dua di daerah yang tidak terlalu ramai, namun memiliki karakter yang kuat. Catnya sudah mengelupas di beberapa bagian, dan akar tanaman liar merambat di pagar besinya. Namun, Hana melihat potensi di sana. Ia membayangkan sebuah ruang kreatif—sebuah kafe kecil yang juga berfungsi sebagai galeri dan tempat berkumpul bagi orang-orang yang ingin bercerita.

"Tempat ini butuh banyak perbaikan, Mbak," ujar Pak RT yang menemaninya melihat-lihat.

"Saya suka jiwanya, Pak," jawab Hana pelan. "Sesuatu yang retak bukan berarti tidak bisa menjadi indah kembali."

Hana memutuskan untuk menyewa ruko itu. Ia menggunakan sebagian besar tabungannya untuk merenovasi tempat tersebut. Ia ingin melakukannya sendiri, tanpa bantuan kontraktor mewah yang dulu sering digunakan Aris. Ia ingin setiap sudut tempat ini memiliki sentuhan tangannya.

Pagi itu, Hana sedang mengenakan celemek denim, tangannya belepotan cat putih saat ia mencoba mengecat dinding lantai bawah. Rambutnya diikat asal, dan ada noda cat di pipinya. Ia sedang asyik mendengarkan musik dari radio kecil saat tiba-tiba sebuah bayangan menutupi pintu masuk yang terbuka.

Hana menoleh, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. "Maaf, kami belum buka—"

Kalimatnya terhenti. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena keterkejutan yang luar biasa. Di ambang pintu, berdiri seorang pria dengan kemeja flanel biru tua dan celana jins yang sudah memudar warnanya. Wajahnya tampak lebih matang, dengan garis-garis kedewasaan di sekitar matanya, namun tatapannya masih sama.

"Hana?" suara pria itu rendah dan penuh keraguan.

"R-Raka?" bisik Hana.

Raka. Pria dari masa lalu yang pernah ia cintai sebelum Aris datang. Pria yang dulu meninggalkannya karena merasa tidak cukup kaya untuk membahagiakan Hana, atau setidaknya itulah yang Hana percayai selama ini setelah dipengaruhi oleh hasutan Aris di masa lalu.

Raka melangkah masuk, matanya menyapu ruangan yang masih berantakan itu sebelum kembali menatap Hana. "Aku... aku melihat fotomu di koran lokal tentang kasus pengadilan itu. Lalu aku mendengar dari seorang teman kalau kamu menyewa tempat ini. Aku hanya ingin memastikan kalau kamu baik-baik saja."

Hana meletakkan kuas catnya. Ia merasa canggung, namun ada rasa hangat yang menjalar. "Aku baik-baik saja, Ka. Sebenarnya, aku lebih dari baik-baik saja. Aku sedang memulai hidup baru."

Raka tersenyum tipis, sebuah senyuman yang dulu selalu bisa menenangkan badai di hati Hana. "Kamu masih suka mengecat sendiri, ya? Terakhir kali kita melakukannya adalah di dinding sekolah saat kita dihukum karena terlambat."

Hana tertawa kecil, tawa yang tulus. "Kejadian itu terasa seperti ribuan tahun yang lalu."

"Boleh aku bantu?" tanya Raka sambil menggulung lengan kemejanya. "Aku dengar kamu sedang membangun tempat ini sendirian. Aku sekarang punya bengkel kayu tidak jauh dari sini. Kalau kamu butuh furnitur atau sekadar tenaga kasar untuk mengecat, aku siap."

Hana ragu sejenak. Ia baru saja keluar dari sebuah hubungan yang penuh manipulasi. Namun, saat melihat mata Raka, ia tidak melihat ada agenda tersembunyi. Ia hanya melihat seorang kawan lama yang menawarkan tangan.

"Boleh, Ka. Cat putihnya masih banyak," jawab Hana.

Sambil bekerja, mereka mulai bercerita. Raka menceritakan bagaimana ia berjuang membangun bisnis furnitur kayunya dari nol setelah ia pergi sepuluh tahun lalu. Ia bercerita tentang kegagalannya, tentang rasa sepinya, dan tentang bagaimana ia selalu mengikuti kabar Hana dari jauh, namun tidak berani mendekat karena tahu Hana sudah menjadi istri seorang pria terhormat.

"Aku selalu berpikir kamu bahagia, Na," ucap Raka sambil mengoleskan cat ke dinding dengan gerakan yang sangat rapi. "Aris tampak seperti pria yang bisa memberikan segalanya untukmu."

Hana berhenti mengecat, menatap dinding yang kini sudah mulai bersih. "Dia memberikan segalanya yang bisa dibeli dengan uang, Ka. Tapi dia mengambil segalanya yang tidak bisa dibeli dengan uang—harga diriku, suaraku, dan mimpiku. Aku baru sadar kalau aku selama ini hanya menjadi hiasan di rumahnya."

"Maafkan aku, Na," suara Raka terdengar tulus. "Dulu aku pergi karena aku merasa rendah diri. Aris bilang padaku kalau kamu butuh kehidupan yang mewah, dan aku tahu aku tidak bisa memberikannya saat itu. Aku pikir aku sedang mengalah demi kebahagiaanmu."

Hana tertegun. "Aris bilang begitu padamu? Dia bilang padaku kalau kamu pergi karena kamu sudah menemukan wanita lain yang lebih kaya."

Mereka berdua terdiam, saling menatap dalam keheningan yang menyesakkan. Kebohongan Aris ternyata sudah dimulai bahkan sebelum pernikahan mereka. Pria itu telah menenun jaring manipulasi sejak awal, memisahkan dua orang yang saling mencintai dengan fitnah agar ia bisa memiliki Hana sebagai "piala" miliknya.

"Jadi... selama ini kita dibohongi oleh pria yang sama," bisik Hana dengan nada getir.

Raka meletakkan roll catnya dan mendekati Hana, namun tetap menjaga jarak yang sopan. "Mungkin itu cara semesta menguji kita, Na. Tapi sekarang, dia tidak punya kekuatan lagi atas kita. Kamu sudah bebas, dan aku... aku masih di sini."

Hana merasa matanya panas. Selama sepuluh tahun ia menyalahkan Raka dalam diam, menganggapnya pengecut. Ternyata, Raka pun menjadi korban dari ambisi Aris.

"Terima kasih sudah datang hari ini, Ka," ucap Hana pelan.

"Jangan berterima kasih. Aku senang bisa melihatmu lagi, apalagi melihatmu dengan kuas cat di tangan, bukan dengan perhiasan mahal yang membuatmu tampak asing."

Hari-hari berikutnya terasa lebih cepat bagi Hana. Dengan bantuan Raka, ruko tua itu berubah menjadi sebuah tempat yang sangat cantik. Raka membuatkan meja-meja kayu jati Belanda yang kokoh dan rak buku yang estetik. Hana menata tanaman-tanaman hijau di setiap sudut, menciptakan suasana yang tenang dan asri.

Tempat itu ia beri nama "Ruang Temu". Bukan sekadar kafe, tapi tempat di mana orang boleh datang untuk berbagi cerita, atau sekadar duduk diam menikmati kopi tanpa takut dihakimi.

Sementara itu, di sebuah apartemen sewaan yang sempit di pinggiran kota, Aris duduk menatap layar televisi yang mati. Ia baru saja menerima surat pemberhentian tetap dari perusahaannya. Citra sudah menghilang entah ke mana, meninggalkan Aris dengan tumpukan utang kartu kredit yang selama ini digunakan untuk membelikan Citra barang-barang mewah.

Ponsel Aris berdering. Nama ibunya muncul.

"Aris! Bagaimana ini? Rumah kita sudah dipasangi papan 'Dijual'! Mama harus tinggal di mana?" suara Mama Sarah terdengar histeris.

"Aku tidak tahu, Ma. Aku tidak punya apa-apa lagi," jawab Aris dengan suara datar.

"Ini semua gara-gara wanita itu! Gara-gara Hana! Kalau saja dia tidak menuntut cerai, kita tidak akan hancur begini!"

Aris mematikan ponselnya. Ia menatap dinding apartemen yang kusam. Ia baru menyadari satu hal yang menyakitkan: Hana tidak menghancurkannya. Ia hancur karena fondasi hidupnya memang dibangun di atas kebohongan. Saat Hana pergi membawa "kejujuran"-nya, maka seluruh bangunan hidup Aris runtuh dengan sendirinya.

Ia teringat Hana yang dulu selalu menunggunya pulang dengan senyum hangat, meskipun Aris sering mengabaikannya. Ia teringat gulai daging buatan Hana yang selalu hangat di meja makan. Sekarang, yang tersisa hanyalah mie instan dalam kemasan plastik dan kesunyian yang mencekik.

Malam pembukaan "Ruang Temu" berlangsung dengan sangat hangat. Maya datang membawa buket bunga besar, dan beberapa teman lama Hana yang dulu dijauhkan oleh Aris juga hadir memberikan dukungan.

Raka berdiri di dekat meja barista, memperhatikan Hana yang sedang sibuk menyapa tamu-tamunya. Hana tampak sangat cantik malam itu, bukan karena riasan tebal atau gaun mahal, tapi karena cahaya dari dalam dirinya yang akhirnya kembali menyala.

"Kamu melakukannya, Na," bisik Raka saat Hana menghampirinya.

"Kita melakukannya, Ka," jawab Hana sambil menatap sekeliling. "Tempat ini adalah bukti bahwa sesuatu yang hancur bisa dibangun kembali menjadi lebih kuat."

Hana melihat keluar jendela, ke arah jalanan yang mulai gelap. Ia tahu perjalanannya masih panjang. Akan ada tantangan baru, mungkin juga Aris akan mencoba kembali mengganggunya. Namun, malam ini, ia merasa utuh. Ia telah memenangkan kembali hidupnya, hatinya, dan mungkin... ia baru saja menemukan kembali jalan menuju cinta yang dulu sempat terputus oleh kebohongan.

Hana menyesap kopinya, merasakan pahit dan manis yang berpadu sempurna. Sama seperti hidupnya. Pahit di masa lalu, namun kini memberikan rasa manis yang jauh lebih berarti karena ia mendapatkannya dengan kejujuran.

1
Weni suci Fajar wati
sungguh karya yang luar biasa,,👍
Weni suci Fajar wati
Kak aku membaca dari awal sampai di titik ini,,, banyak sekali hal yang aku pelajari dari cerita kakak,,, makasih untuk cerita yang luar biasa ini,,, semangat Kak,,,aku tunggu cerita selanjutnya,,,
PNC
bener bener Satra
PNC
kereeeeeennnn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!