NovelToon NovelToon
Kukira Kita Spesial

Kukira Kita Spesial

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat
Popularitas:224
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha Aprila

Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.

Semua terasa nyata. Terasa spesial.

Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.

Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.

Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keraguan Ayah

Setelah mandi dan merapikan semua barangku, aku akhirnya berbaring di kasur.

Tubuhku terasa sangat lelah setelah perjalanan panjang dari kampung. Tanpa terasa mataku mulai terpejam.

Aku tertidur.

Padahal kalau di kampung, tidur di waktu seperti ini pasti sudah dimarahi oleh Abah karena bisa melewatkan waktu salat.

Entah karena terlalu nyaman atau terlalu lelah, aku baru terbangun ketika hari sudah mulai malam.

“Rendra… bangun, Nak. Ayo makan malam. Semuanya sudah siap.”

Suara ibu membangunkanku dari luar kamar.

Aku segera bangun dan keluar menuju ruang makan.

Di sana ibu, Kak Marissa, dan ayah sudah duduk di meja makan. Meja itu cukup besar, penuh dengan beberapa hidangan yang terlihat rapi.

Ayah duduk di ujung meja. Ia makan dengan tenang tanpa banyak bicara.

Suasana terasa sedikit canggung.

Saat kami mulai makan, ibu tiba-tiba berbicara kepadaku.

“Besok kamu beli keperluan untuk persiapan sekolah, ya. Uangnya sudah ibu transfer sekalian untuk uang jajan bulan ini.”

Ibu menatapku sebentar.

“Kartunya ada di kamu, kan?”

Mendengar itu, aku langsung teringat sesuatu.

Sebelum berangkat ke kota, Oma sempat memberiku sebuah kartu ATM. Saat itu Abah juga berkata dengan nada serius.

“Ini kartu ATM dari mamamu. Isinya tidak pernah kami pakai,” kata Abah waktu itu.

“Gunakan dengan baik. Belikan untuk hal yang kamu butuhkan saja. Jangan untuk hal yang tidak penting.”

Aku kembali dari ingatanku dan menjawab ibu.

“Oh iya, Bu. Kartunya ada di tas aku, di kamar.”

Ibu mengangguk pelan.

Tidak lama kemudian aku melihat ayah berdiri dari kursinya. Ia sudah selesai makan.

Tanpa mengatakan apa pun, ia langsung pergi meninggalkan ruang makan.

Aku sempat menoleh mengikuti langkahnya.

Kak Marissa juga terlihat heran.

“Ayah kenapa sih sikapnya begitu?” katanya pelan.

Ibu hanya menghela napas.

“Sudah, biarkan saja. Kalian lanjutkan makan,” kata ibu.

“Setelah ini langsung istirahat saja, ya.”

Ibu kemudian kembali makan dengan agak tergesa.

Suasana meja makan kembali sunyi.

Setelah selesai makan, aku kembali ke kamar.

Aku mengambil ponselku dan menelpon Oma dan Abah di kampung.

“Oma, Abah… aku sudah sampai dengan selamat,” kataku.

Mereka terdengar senang mendengar suaraku.

Aku kemudian menanyakan sesuatu yang sejak tadi terlintas di pikiranku.

“Oma… Abah… kalau uang di ATM itu tidak pernah dipakai, berarti selama ini biaya hidup aku di kampung semuanya dari Oma dan Abah?”

Di ujung telepon, mereka tertawa kecil.

“Masa sama cucu sendiri perhitungan,” kata Oma dengan lembut.

“Tapi jangan bilang ibu dan ayahmu, ya,” lanjut Abah.

“Simpan saja uang itu untuk kamu. Gunakan dengan bijak.”

Aku tersenyum kecil.

“Baik, Oma. Baik, Abah.”

Setelah beberapa saat berbicara, akhirnya telepon kami selesai.

Aku meletakkan ponsel di samping bantal dan menatap langit-langit kamar.

Saat itu aku sadar sesuatu.

Meskipun didikan Abah sering terasa keras, ternyata kasih sayangnya jauh lebih besar dari yang selama ini aku pikirkan.

Tiba-tiba aku teringat kembali masa-masa di kampung.

Padahal aku baru satu hari meninggalkan tempat itu.

Namun rasanya… aku sudah mulai merindukannya.

Aku kemudian mengambil ponsel lagi dan mulai menggulir media sosial tanpa tujuan.

Beberapa teman dari kampung mengunggah foto kegiatan mereka. Ada yang sedang bermain bola di lapangan dekat rumah, ada juga yang berkumpul di warung seperti biasa.

Aku hanya tersenyum kecil melihatnya.

Entah sejak kapan, mataku kembali terasa berat.

Tanpa sadar aku tertidur.

Tok… tok… tok…

Suara ketukan pelan di pintu kamar membuatku terbangun.

Aku membuka mata dengan setengah sadar dan bangkit dari tempat tidur.

Saat pintu kubuka, aku melihat ibu berdiri di depan kamar.

Wajahnya terlihat berbeda. Matanya sedikit merah, seperti habis menangis.

“Malam ini… ibu tidur di sini ya,” katanya pelan.

“Oh… iya, Bu,” jawabku bingung.

Ibu masuk ke kamar dan duduk di tepi kasur.

Aku menutup pintu kembali.

Dalam hati aku bertanya-tanya.

Ada masalah apa, ya?

Kami berbaring di kasur. Ibu membelakangiku.

Beberapa saat kemudian aku mendengar suara isakan pelan.

“Ibu capek… dan bingung harus menjelaskannya bagaimana,” katanya.

Aku langsung sedikit terkejut.

“Kenapa, Bu?” tanyaku.

Ibu terdiam sebentar sebelum akhirnya berkata,

“Ayahmu… tidak begitu percaya kalau kamu itu anak biologisnya.”

Aku langsung terdiam.

“Ibu tidak pernah melakukan apa pun dengan laki-laki lain selain ayahmu,” lanjut ibu dengan suara bergetar.

“Ibu tidak terima dituduh seperti itu.”

Ia kemudian bertanya pelan.

“Menurutmu… bagaimana hubungan kami selama ini?”

Aku bingung harus menjawab apa.

“Maksudnya…?” tanyaku pelan.

Aku berpikir beberapa saat.

“Kalau begitu… bagaimana kalau aku pulang saja lagi ke kampung?” kataku akhirnya.

Ibu langsung berbalik menghadapku.

“Tidak bisa begitu,” katanya cepat.

“Ibu dari dulu ingin mengurus kamu sendiri. Ingin tinggal bersama kamu. Ibu sudah lama merindukan itu.”

Aku kembali terdiam.

Beberapa saat kemudian aku berkata pelan.

“Kalau begitu… bagaimana kalau kita tes DNA saja?”

Ibu terlihat terkejut.

Beberapa detik kemudian ia berkata,

“Iya juga ya… kenapa dari dulu ibu tidak kepikiran itu?”

Ia menarik napas panjang.

“Baik. Besok kita tes DNA saja. Biar ayahmu tahu yang sebenarnya.”

Setelah itu ibu mulai bercerita panjang tentang ayah.

Tentang bagaimana sifat ayah yang sebenarnya sangat pencemburu, tetapi sulit mengungkapkan apa yang ia rasakan.

Aku mendengarkannya sambil berbaring.

Namun mataku semakin terasa berat.

Hari ini terlalu banyak hal yang terjadi.

Perjalanan dari kampung, rumah baru, suasana keluarga yang aneh, dan semua percakapan malam ini membuatku sangat lelah.

Tanpa sadar, mataku kembali terpejam.

Entah ibu masih bercerita apa lagi setelah itu.

Yang aku tahu… malam itu aku tertidur sebelum semuanya selesai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!