Sejak kecil, Hana terbiasa dibandingkan dengan kakaknya yang cantik dan sempurna. Sementara dirinya hanya dikenal sebagai gadis dengan wajah penuh jerawat.
Ia mencoba untuk tetap tidak peduli. Namun, semuanya berubah ketika orang yang ia percaya justru mengkhianatinya.
Memasuki SMK, Hana memutuskan untuk berubah. Ia mulai merawat diri, memperbaiki penampilan, dan berusaha menjadi "cantik" seperti yang diinginkan orang-orang.
Tetapi perjalanan itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Dimulai dari masalah keluarga, tekanan pergaulan, dan luka masa lalu perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya.
Di tengah semua itu, Hana mulai bertanya pada dirinya sendiri:
Apakah kecantikan benar-benar sesuatu yang harus diperjuangkan?
Atau selama ini ia hanya berusaha menjadi orang lain demi diterima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jemputan...
Malam itu… gerbang sekolah sudah hampir kosong. Lampu-lampu mulai menyala satu per satu, menerangi halaman yang tadi siang masih ramai. Sekarang— sepi.
Hana berdiri di dekat gerbang. Tasnya tergantung di bahu. Ponselnya ada di tangan. Layar chat terbuka. Mama. Terakhir online… sudah lama.
Hana menghela napas pelan. Jempolnya mengetik lagi.
| Ma, jemput jam berapa?
Dikirim. Centang dua. Tidak dibalas.
Ia menunggu. Awalnya, ia masih berdiri. Tubuhnya sedikit condong ke depan setiap kali ada suara kendaraan mendekat, seolah siap melangkah begitu melihat wajah yang ia kenal.
Tapi setiap kali harapan itu muncul, langsung hilang begitu saja. Bukan. Bukan mobil Mama. Bukan motor kakaknya. Hanya orang lain. Selalu orang lain.
Beberapa siswa terakhir keluar dari gerbang. Mereka lewat di depannya tanpa benar-benar memperhatikan. Tertawa, mengobrol, lalu pergi.
Hana hanya diam. Melihat. Sampai akhirnya suara-suara itu ikut menghilang. Ia pindah ke bangku dekat pos satpam. Duduk pelan. Tasnya dipangku. Tangannya masih memegang ponsel, walau layarnya mulai meredup.
Ia menyalakannya lagi. Masih belum ada balasan. Waktu terasa… aneh. Tidak benar-benar lama. Tapi juga tidak cepat. Seperti tertahan.
Hana mulai menggerakkan kakinya pelan. Ujung sepatunya menyentuh lantai berulang kali, menciptakan bunyi kecil yang hampir tidak terdengar.
Ia tidak sadar melakukannya. Hanya… butuh sesuatu untuk mengisi diam. Angin malam mulai terasa. Lewat di sela rambutnya. Menyentuh kulitnya yang terbuka.
Tidak dingin.
Tapi cukup membuat suasana jadi berbeda.
Lebih sunyi. Hana menatap ke arah jalan. Lampu kendaraan lewat sesekali. Cahaya putih menyapu wajahnya sebentar, lalu hilang begitu saja.
Terang, gelap, terang lagi. Berulang terus, tapi tak ada satu pun dari mereka yang menjemput Hana.. Ia mengangkat ponselnya lagi.
Melihat chat. Tidak berubah. Ia menekan nama “Mama”.
Lalu menekan tombol panggil. Telepon berdering. Satu detik. Dua detik. Tiga detik berlalu.
Tidak diangkat. Hana menjauhkan ponsel dari telinganya. Menatap layar. Seolah berharap tiba-tiba panggilan itu dijawab.
Tidak.
Ia mencoba lagi. Nada sambung kembali terdengar. Lebih lama kali ini. Namun, hasilnya sama. Hana menurunkan ponselnya perlahan. Menghela napas.
“Kakak kemana sih…” gumamnya pelan.
Biasanya kalau Mama sibuk, kakaknya yang datang. Dan dia selalu kasih kabar. Selalu. Tapi hari ini— tidak ada apa-apa.
Hana menatap ke arah jalan lagi. Lebih sepi sekarang. Lebih kosong. Pak satpam di pos terlihat sedang duduk, sesekali melirik ke arahnya. Tidak mendekat, tapi jelas memperhatikan.
Seolah memastikan— Hana tidak benar-benar sendirian. Namun, tetap saja rasanya seperti… sendiri. Hana memeluk tasnya sedikit lebih erat. Ponselnya kembali ia buka. Aplikasi ojek online.
Pengemudi seketika muncul. Jarinya hampir menekan tombol pesan. Hampir. Tapi berhenti seketika.
Ragu. Ia tidak tahu kenapa. Mungkin karena belum terbiasa. Atau mungkin— karena hari ini sudah terlalu banyak hal yang terasa tidak nyaman.
Hana menutup aplikasi itu. Menghembuskan napas pelan. Lalu tanpa sadar— ia menoleh ke belakang. Ke arah dalam sekolah.
Gelap. Koridor panjang itu tidak terlihat jelas dari sini, hanya bayangan samar di balik pintu gerbang.
Kosong. Tidak ada siapa pun.
Namun, Hana tidak langsung mengalihkan pandangan. Ia menatap beberapa detik lebih lama. Seolah mencoba memastikan sesuatu. Atau… merasakan sesuatu.
Perasaan itu muncul lagi. Tipis. Sangat tipis. Tapi cukup untuk membuat dadanya sedikit mengencang. Seperti, ada yang melihat. Hana mengerutkan alis pelan. Menggeleng kecil. Mungkin cuma kepikiran tadi…
Ia kembali menatap ponselnya. Dan tepat saat itu— ponselnya bergetar. Notifikasi masuk. Dari Mama. Hana langsung membukanya.
| Hana maaf ya, Mama lagi di RS.
Alis Hana langsung mengerut begitu membaca pesan dari mamanya.
| Kakak kamu jatuh di kamar mandi, sekarang lagi diperiksa.
Hana langsung menegakkan badan.
“Jatuh…?” bisiknya pelan.
Pesan berikutnya masuk tanpa jeda.
| Kamu pulang naik ojek online aja ya. Hati-hati.
Hana terdiam sedikit lebih lama dari pada biasanya. Matanya masih menatap layar. Jarinya tidak bergerak. Perasaannya campur aduk. Khawatir iya, tapi juga sedikit… kesal.
Ia menghela napas panjang. Kenapa nggak bilang dari tadi sih… Ia menutup chat itu pelan. Lalu membuka aplikasi ojek online lagi. Kali ini benar-benar berniat memesan.
“Han?"
Suara itu membuatnya menoleh. Arga. Ia berjalan mendekat dari arah dalam sekolah. Tasnya disampirkan di satu bahu.
“Kamu belum pulang?” tanyanya.
Hana menggeleng kecil. “Belum.”
Arga berhenti di depannya. “Kenapa?”
Hana ragu sebentar. Lalu menjawab singkat, “Nggak ada yang jemput.”
Arga mengangguk pelan. Seolah mengerti situasinya.
“Kamu sendiri?” tanya Hana balik.
Arga mengangkat bahu sedikit. “Ekstrakurikuler.”
“Oh…” Hana mengangguk kecil. Hening sebentar.
Lalu Arga kembali bicara. “Rumah kamu di mana?”
“Blok C,” jawab Hana.
Arga langsung mengangguk. Seolah memastikan sesuatu di kepalanya.
“Searah." Ujarnya pelan.
Hana sedikit mengernyit. “Hm?”
Arga menatapnya. “Gue anter.”
Hana langsung menggeleng. “Nggak usah, aku bisa naik ojek online.”
Arga melirik ke arah jalan yang sudah mulai sepi. “Udah malam.”
Hana terdiam. “Masih ada kok,” jawabnya pelan.
Arga kembali menatapnya. Kali ini lebih serius. “Lebih aman gue anter.”
Hana tidak langsung menjawab. Ia menatap layar ponselnya sebentar. Lalu ke jalan. Lalu kembali ke Arga.
“Rumah kita searah,” lanjut Arga singkat.
Tidak memaksa. Tapi cukup meyakinkan. Hana akhirnya menghela napas kecil.
“…ya udah.”
Beberapa menit kemudian— Hana sudah duduk di belakang motor Arga. Tangannya ragu sebentar… lalu akhirnya hanya memegang bagian belakang jok.
Motor mulai berjalan. Meninggalkan gerbang sekolah yang semakin jauh di belakang. Sepanjang jalan— tidak banyak bicara. Hanya terdengar deru mesin motor yang stabil.
Lampu jalan bergantian melewati mereka. Menciptakan bayangan yang datang dan pergi. Hana menatap ke depan.
Pikirannya kosong. Atau mungkin— terlalu penuh. Tentang hari ini. Tentang Eliza, Nisa. Tentang masa lalu. Tetapi sekarang— tentang kakaknya di rumah sakit.
Ia menghela napas pelan. Tanpa sadar. Di depan— Arga sempat melirik ke spion. Melihat sekilas ke arah Hana.
Tapi tidak berkata apa-apa.
Ia hanya kembali fokus ke jalan. Waktu terasa cepat. Tanpa terasa— motor mulai melambat.
“Ini?” tanya Arga.
Hana menoleh seketika, rumahnya. “Iya.”
Motor berhenti di depan pagar. Hana turun perlahan.
“Makasih ya,” katanya pelan.
Arga mengangguk kecil. “Iya.”
Hana berdiri sebentar. Seolah ingin berkata sesuatu lagi. Tapi tidak jadi.
Arga menatapnya sebentar. Lalu berkata, “Jangan kebanyakan mikir.”
Hana sedikit terdiam. Kalimat itu sederhana.
Tapi— kena.
Ia tersenyum tipis. “Hmm…”
Arga tidak menunggu lama. Ia langsung menyalakan motor lagi.
“Masuk.”
“Iya.” Hana mengangguk.
Motor itu pun pergi. Perlahan menjauh. Sampai akhirnya hilang di ujung jalan. Hana berdiri sendiri di depan rumah. Sunyi.
Ia menatap pintu. Lalu menarik napas panjang. Hari ini… terlalu banyak. Dan entah kenapa— perasaan tidak enak itu masih belum hilang.