NovelToon NovelToon
Will You Marry Me

Will You Marry Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang muda mudi yang lama berteman dan memulai dengan saling ada ikatan cinta Siska namanya paras cantik dan menawan mendapatkan masalah dari keluarganya dia adalah seorang tepandang namun ia harus menikah untuk mewarisi perusahaan keluarganya bertemulah Andi dan menjalin asmara dengan berbagai masalah namun di ujung mereka resmi menjalani pernikahan dengan bahagia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 20

Satu per satu, lampu-lampu di pusat kendali mulai dipadamkan, menyisakan keremangan yang hanya diterangi oleh pendar biru dari beberapa layar monitor yang masih memantau kesehatan hutan secara otomatis. Mahesa sudah kembali ke pondoknya, meninggalkan Siska dan Andi dalam keheningan yang paling dalam yang pernah mereka rasakan.

Andi bangkit dari kursi malasnya, lalu melangkah menuju pinggir teras. Ia menatap ke arah bayangan hitam pepohonan yang menjulang. "Kau tahu, Sis? Dulu aku selalu berpikir bahwa kesuksesan seorang arsitek adalah saat bangunannya tetap berdiri kokoh meski ia sudah tiada. Tapi sekarang aku sadar, kesuksesan kita adalah saat alam ini tetap tumbuh subur tanpa perlu campur tangan kita lagi."

Siska menyusul berdiri di sampingnya, membiarkan bahu mereka bersentuhan. "Seperti membesarkan anak, ya? Kita menjaganya saat masih berupa bibit, melindunginya dari badai, lalu suatu hari kita harus berani membiarkannya mandiri."

Andi mengangguk pelan. "Arlan sudah mandiri. Hutan ini sudah mandiri. Bahkan yayasan pun sudah punya jalannya sendiri. Lalu, apa yang tersisa untuk kita, Siska?"

Siska menoleh, menatap wajah pria yang telah menemaninya melalui berbagai badai korporat hingga keheningan belantara ini. Ia tersenyum, sebuah senyuman yang kini tidak lagi menyimpan beban tanggung jawab besar.

"Yang tersisa adalah kita, Andi. Hanya Siska dan Andi. Bukan sebagai CEO, bukan sebagai Arsitek Kepala. Hanya dua orang yang pernah bermimpi di sebuah warung soto, dan akhirnya melihat mimpi itu bernapas."

Andi meraih tangan Siska, lalu mereka berdua menuruni anak tangga rumah kayu itu, berjalan perlahan di atas jalan setapak yang tertutup dedaunan kering. Mereka tidak butuh senter; mereka sudah hafal setiap lekuk tanah di sana. Mereka berjalan menuju pohon Jaka, tempat di mana semuanya dimulai.

Di bawah naungan pohon raksasa itu, Andi berhenti. Ia meletakkan tangannya di batang pohon yang kasar dan kuat. "Terima kasih sudah bertahan," bisiknya, entah pada pohon itu atau pada perjalanan hidup mereka sendiri.

Siska memejamkan mata, menghirup aroma tanah dan oksigen murni yang diproduksi oleh ribuan pohon di sekeliling mereka. Di momen itu, ia merasa seluruh utang masa lalunya pada alam dan pada dirinya sendiri telah lunas. Tidak ada lagi yang perlu dikejar, tidak ada lagi yang perlu dibuktikan.

"Ayo pulang, Ndi," ajak Siska lembut. "Besok pagi kita punya agenda yang sangat penting."

Andi menaikkan alisnya, sedikit terkejut. "Agenda apa? Aku pikir kita sudah mengosongkan jadwal."

Siska tertawa kecil, suara tawanya memantul di antara batang-batang pohon ulin. "Besok pagi, kita akan melihat matahari terbit dari atas bukit, tanpa membawa kamera, tanpa membawa sensor, dan tanpa memikirkan laporan apa pun. Hanya melihat matahari terbit. Kamu tidak keberatan, kan?"

Andi tersenyum lebar, menarik Siska ke dalam pelukannya di bawah perlindungan kanopi hijau yang abadi. "Itu adalah agenda terbaik yang pernah ada."

Malam itu, di jantung Borneo, kisah perjuangan dua manusia itu akhirnya meluruh menjadi kedamaian yang sempurna. Mereka tidak lagi menulis sejarah; mereka telah menjadi bagian dari sejarah itu sendiri.

Fajar menyingsing dengan warna ungu yang perlahan memudar menjadi jingga keemasan. Siska dan Andi benar-benar melakukan apa yang mereka rencanakan; mereka berdiri di puncak bukit kecil di belakang kamp, tempat yang memberikan pandangan 360 derajat ke seluruh lembah yang kini tertutup hamparan hijau tak terputus.

"Lihat itu, Sis," Andi menunjuk ke arah sungai yang berkelok di bawah sana, tampak seperti urat perak yang membelah hutan. "Dulu, dari sini kita hanya melihat bekas tebangan dan tanah merah yang gersang. Sekarang, bahkan luka itu sudah tidak berbekas."

Siska menghela napas panjang, membiarkan udara pagi yang dingin membersihkan sisa-sisa kepenatan di dadanya. "Dulu aku sering terbangun dengan rasa sesak, Ndi. Takut kalau keputusan yang kubuat akan menghancurkan warisan ayahku. Tapi berdiri di sini, melihat semua ini... aku baru sadar kalau aku tidak menghancurkan warisannya. Aku hanya mengubah bentuknya dari emas menjadi oksigen."

Andi terkekeh pelan, tangannya masih menggenggam jemari Siska. "Dan itu adalah konversi nilai yang paling jenius yang pernah dilakukan seorang lulusan bisnis. Ayahmu pasti sedang tersenyum di Jakarta sekarang, tahu bahwa hartanya tidak akan habis dimakan inflasi, karena hartanya sekarang bernapas."

Mereka terdiam cukup lama, hanya menikmati detik-detik saat piringan matahari mulai muncul sepenuhnya. Cahayanya menyapu pucuk-pucuk pohon, menciptakan efek magis di mana uap air yang naik dari hutan tampak seperti tarian ribuan roh putih yang bersyukur.

"Ndi," Siska bersuara kembali, suaranya lebih tenang dari biasanya. "Apa kamu pernah merasa menyesal? Kita kehilangan masa muda kita di tengah ketegangan rapat dan lumpur ini. Kita jarang sekali pergi berlibur seperti pasangan lain."

Andi menoleh, menatap mata Siska yang memantulkan cahaya matahari pagi. "Liburan? Sis, setiap pagi aku bangun di sampingmu dengan suara hutan ini, aku merasa seperti sedang berada di tempat paling eksotis di dunia. Pasangan lain mungkin pergi ke Paris atau New York untuk mencari keindahan, tapi kita membangun keindahan itu sendiri dari nol. Itu bukan penyesalan, itu adalah kehormatan."

Siska menyandarkan kepalanya di bahu Andi. Di kejauhan, mereka melihat perahu kecil milik warga lokal mulai melintas di sungai, membawa hasil bumi menuju pasar desa. Kehidupan terus berjalan, berdenyut dalam ritme yang lebih sehat, lebih lambat, dan lebih bermakna.

"Sudah waktunya turun?" tanya Andi lembut setelah matahari benar-benar naik.

Siska menggeleng pelan, tetap memejamkan mata dalam dekapan suaminya. "Tunggu lima menit lagi, Ndi. Aku ingin benar-benar menghafal momen ini. Momen di mana kita akhirnya berhenti menjadi arsitek masa depan, dan mulai menjadi saksi dari apa yang sudah kita perjuangkan."

Di atas bukit itu, di antara desau angin dan aroma hutan yang segar, Siska dan Andi tidak lagi bicara soal proyek besar atau visi global. Mereka hanya bicara soal rasa syukur—sebuah percakapan tanpa akhir yang telah mereka mulai sejak di warung soto dulu, dan kini menemukan kedamaiannya di jantung Borneo.

Lima menit berlalu, namun keheningan itu justru terasa semakin berisi. Andi tidak mendesak Siska untuk segera beranjak; ia tahu bahwa bagi seseorang yang terbiasa hidup dengan tenggat waktu seketat Siska, momen "diam" adalah pencapaian tertinggi.

"Kau tahu, Sis," Andi memecah kesunyian dengan nada santai, "aku baru sadar kalau kita tidak pernah benar-benar punya foto berdua di puncak bukit ini tanpa memakai rompi proyek atau helm pengaman."

Siska tertawa kecil, suara yang terdengar begitu lepas. Ia menegakkan tubuhnya dan merapikan rambutnya yang tersapu angin. "Benar juga. Selalu ada papan jalan atau sketsa bangunan di tangan kita. Dunia mungkin mengenal kita sebagai pasangan 'beton dan hijau', tapi mereka jarang melihat kita hanya sebagai manusia biasa."

Andi mengeluarkan ponsel tua yang layarnya sudah sedikit retak di pojokan—ponsel yang ia pertahankan hanya karena menyimpan ribuan foto proses pertumbuhan pohon Jaka. Ia mengangkat ponsel itu tinggi-alih, mengarahkan kamera ke arah mereka berdua dengan latar belakang lembah yang berkabut.

Klik.

Satu potret sederhana. Tidak ada pencahayaan buatan, tidak ada penyuntingan profesional. Hanya ada dua wajah yang telah menua dengan anggun, dengan gurat lelah yang kalah oleh binar kepuasan di mata mereka.

"Bagus?" tanya Siska sambil mengintip hasilnya.

"Sempurna," jawab Andi. "Ini akan menjadi satu-satunya foto yang kupasang di meja kerja baruku nanti. Meja yang hanya akan kupakai untuk menulis surat pada Arlan, bukan untuk menghitung anggaran."

Mereka mulai melangkah turun menyusuri jalan setapak. Di tengah jalan, mereka berpapasan dengan seorang ibu dari desa lokal yang sedang menggendong anaknya menuju sekolah terapung. Ibu itu berhenti, menunduk hormat dengan senyum tulus yang tidak dibuat-buat.

"Pagi, Bu Siska... Pak Andi..." sapanya dalam bahasa lokal yang kental.

Siska membalas sapaan itu dengan kehangatan yang sama, bahkan sempat menggoda balita di gendongan ibu itu. Saat mereka melanjutkan perjalanan, Siska berbisik pada Andi. "Dulu, saat kita baru datang, mereka menatap kita dengan penuh kecurigaan. Sekarang, mereka menatap kita sebagai bagian dari keluarga mereka sendiri. Itu lebih berharga daripada semua piala penghargaan di kantor Jakarta, Ndi."

Andi mengangguk setuju. "Karena kita tidak datang untuk membeli tanah mereka, Sis. Kita datang untuk meminjamnya sebentar agar bisa kita kembalikan dalam kondisi yang lebih baik."

Sampai di depan rumah kayu, mereka mendapati Mahesa sedang sibuk menyiapkan sarapan di teras—beberapa ubi ungu rebus dan kopi jahe yang aromanya menyeruak segar.

"Akhirnya para pertapa turun dari gunung," canda Mahesa tanpa menoleh dari pancinya. "Duduklah. Aku baru saja mendapat kabar bahwa angkatan pertama sekolah alam kita sudah mulai diterima di universitas-universitas besar. Ada yang mengambil jurusan bioteknologi, ada yang arsitektur lingkungan. Mereka bilang mereka ingin kembali ke sini setelah lulus."

Siska duduk di kursi kayu, menyesap kopi jahenya dengan perlahan. Ia merasakan kehangatan yang mengalir, bukan hanya dari minuman itu, tapi dari kenyataan bahwa apa yang mereka mulai tidak akan berhenti pada mereka saja.

"Mataharinya tadi indah sekali, Ma," ujar Siska sambil menatap langit yang kini sudah biru cerah.

"Aku tahu," sahut Mahesa pelan. "Aku melihatnya dari layar pemantau suhu. Cahayanya sempurna untuk pengisian daya sensor baru."

Andi tertawa sambil mengambil sepotong ubi. "Ma, suatu hari kamu harus belajar melihat matahari dengan matamu sendiri, bukan dengan sensor. Rasanya beda."

Mahesa hanya tersenyum simpul. Di teras itu, di bawah lindungan hutan yang mereka cintai, tiga sahabat itu kembali berbagi tawa dan rencana-rencana kecil. Bukan rencana untuk mengubah dunia lagi, karena dunia mereka—dunia kecil di jantung Borneo ini—sudah berhasil mereka selamatkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!