"Aku tidak mau menikah dengan laki-laki itu, Kak. Tolong gantikan aku."
Violet tahu ia seharusnya menolak. Tapi dua puluh dua tahun ia menjadi anak pungut di rumah orang mengajarinya satu hal: hutang budi tidak pernah benar-benar lunas.
Maka ia berdiri di pelaminan itu. Mengenakan gaun yang bukan untuknya, membawa nama yang bukan miliknya sejak lahir, menikahi laki-laki yang bahkan tidak menoleh padanya sampai akad selesai diucapkan.
Jenderal Muda Adriel Voss. Kejam, dingin, dan menyimpan kehancuran di balik setiap keputusannya. Pernikahan ini seharusnya menjadi awal penderitaan Violet.
Yang tidak ia duga, justru di rumah laki-laki itulah untuk pertama kali ada seseorang yang melihatnya sebagai manusia, bukan sekadar bayangan yang mengisi ruang kosong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#2
Pukul lima pagi, ketika kota masih tidur dan jalanan di luar masih basah sisa hujan semalam, lampu di lantai tujuh gedung itu sudah menyala.
Adriel Voss tidak pernah tidur lebih dari empat jam.
Bukan karena tidak bisa. Tapi karena sejak kecil tubuhnya sudah terlatih untuk tidak membutuhkan lebih dari itu, dilatih oleh laki-laki yang menganggap tidur panjang adalah kemewahan yang melemahkan dan kelemahan adalah sesuatu yang tidak boleh ada di keluarga Voss.
Di ruangan yang tiga kali ukuran kantor kolonel manapun di kota ini, Adriel bergerak.
Tanpa musik. Tanpa instruktur. Hanya ia dan ruangan itu dan rutinitas yang sudah ia lakukan sejak usia tujuh tahun sampai tubuhnya hafal setiap gerakannya seperti hafal cara bernapas. Pukulan yang jatuh ke sansak dengan presisi yang tidak menyisakan ruang untuk kesalahan, tendangan yang mengukur sudut dan kecepatan sebelum mendarat, pergerakan kaki yang tidak pernah membuang satu langkah pun sia-sia.
Wajahnya tidak menunjukkan usaha.
Itu yang paling menakutkan dari laki-laki ini bagi orang-orang yang pernah berhadapan dengannya, bukan kekuatannya, bukan kecepatannya, tapi cara ia melakukan semua itu tanpa ekspresi yang berubah. Seperti menghancurkan sesuatu adalah hal yang sama biasanya dengan minum kopi di pagi hari.
Di luar ruangan itu, nama Adriel Voss beredar di kota ini dengan dua versi yang bergantung pada siapa yang menyebutnya.
Di kalangan militer, namanya disebut dengan nada yang datar dan hati-hati, nada orang yang tahu bahwa laki-laki itu punya telinga di mana-mana dan tidak pernah melupakan apa yang ia dengar. Usia dua puluh delapan ketika pertama kali mendapat bintang, rekor yang belum ada yang memecahkannya. Tidak pernah kehilangan satu operasi pun di bawah komandonya. Tidak pernah terlihat ragu dalam satu keputusan pun, bahkan keputusan yang membuat orang-orang di sekitarnya tidak bisa tidur berminggu-minggu sesudahnya.
Di kalangan perempuan kota ini, namanya disebut dengan nada yang berbeda.
Bisikan di kafe-kafe, di arisan, di grup pesan yang pesertanya lebih peduli dengan siapa yang belum menikah dari kalangan berduit daripada kabar dunia. Adriel Voss yang tinggi dan dingin dan tidak pernah terlihat benar-benar memperhatikan siapapun dengan cara yang cukup lama untuk disebut perhatian. Yang justru itulah masalahnya, karena tidak ada yang lebih menarik bagi sebagian orang daripada sesuatu yang terlihat tidak bisa diraih.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik semua itu ada sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapapun.
Trauma, yang membuat nya tumbuh menjadi laki-laki dingin tak tersentuh seperti saat ini.
Ibunya meninggalkan nya sejak ia berusia delapan tahun.
Tidak meninggal, tidak pula diculik. Tapi pergi dengan koper yang dikemas diam-diam dan taksi yang menjemput di depan rumah pukul dua pagi ketika semua orang seharusnya tidur. Adriel yang terbangun karena mimpi buruk dan turun ke bawah mencari air minum adalah satu-satunya yang melihat.
Ibunya melihat ia berdiri di tangga.
Dua detik. Mungkin tiga. Lalu perempuan itu mengalihkan pandangannya, masuk ke taksi, dan pintu tertutup.
Tidak ada pelukan. Tidak ada kata-kata. Tidak ada penjelasan.
Ayahnya tidak pernah membicarakannya setelah itu. Kehidupan di rumah Voss berjalan terus dengan presisi yang sama, sarapan pukul enam, latihan pukul tujuh, tidak ada yang boleh terlambat dan tidak ada yang boleh menangis, karena menangis menurut ayahnya adalah cara orang lemah membuang waktu yang bisa digunakan untuk menjadi lebih kuat.
Adriel tidak pernah menangis di depan ayahnya.
Tapi di kamarnya yang sunyi, dengan selimut ditarik sampai ke kepala, ia belajar satu hal yang tidak ada di kurikulum latihan manapun.
Bahwa orang-orang yang paling dekat adalah orang-orang yang paling berbahaya untuk dipercaya. Dan bahwa jarak adalah perlindungan paling efisien yang pernah ia temukan.
Itulah Adriel Voss yang sebenarnya.
Bukan yang di poster koran militer dengan bintang di bahu dan rahang yang tegas. Bukan yang dibisikkan di arisan dengan nada setengah kagum setengah penasaran.
Tapi laki-laki yang berolahraga pukul lima pagi sendirian di ruangan yang terlalu besar untuk satu orang karena diam adalah satu-satunya kondisi yang tidak pernah menuntut sesuatu yang tidak bisa ia berikan.
Sore itu seorang ajudan mengetuk pintu ruangannya.
"Jenderal, undangan dari keluarga Wiranto untuk malam ini sudah dikonfirmasi. Nama Bapak ada di daftar tamu kehormatan."
Adriel tidak mengangkat wajah dari dokumen di mejanya. "Iya."
"Bapak jadi hadir?"
"Iya."
Ajudan itu mengangguk dan pergi dengan cepat, karena sudah cukup lama bertugas di bawah Adriel untuk tahu bahwa percakapan yang sudah mencapai jawaban tidak perlu dilanjutkan.
Adriel meletakkan penanya.
Keluarga Wiranto. Acara seperti itu tidak pernah ia hadiri karena senang, selalu karena ada kalkulasi di baliknya, ada nama yang perlu ia lihat langsung atau situasi yang perlu ia petakan dari dekat. Malam ini tidak berbeda.
"Oh iya Pak, keluarga Hartawan juga akan hadir di jamuan itu. Sudah dikonfirmasi dia juga akan membawa dua putrinya untuk pertama kali ke pesta resmi, yang mana salah satu nya akan dijodohkan dengan bapak. "
Sudut bibir Adriel terangkat. "Menarik. Teresa dan? "
"Violet, pak. " Jawab sang ajudan. "Tapi dia hanya anak angkat yang beruntung tinggal dikeluarga itu. "
"Violet, ya. " Adriel mengetuk- ngetuk tangannya diatas meja. Seminggu lalu Hartawan sendiri yang menawarkan putrinya untuk nya, laki-laki penjilat seperti dia pasti mengincar sesuatu darinya dengan memanfaatkan soal perjodohan ini.
"Frans.Cari informasi tentang violet, aku ingin tahu semua tentang nya."
"Baik, pak. "
Ia mengambil jaketnya dari sandaran kursi dan berdiri.
Malam di jamuan nanti sepertinya akan ada sesuatu yang menyenangkan.
*****
Di sisi lain...
"Kak Violet, aku minta tolong."
Violet tidak langsung menjawab. Ia melipat baju yang baru diangkat dari jemuran dengan gerakan rapi, menumpuknya di keranjang, lalu baru menoleh ke arah pintu kamarnya.
Teresa berdiri di sana dengan mata merah dan ekspresi yang Violet kenal betul. Ekspresi yang sama ketika Teresa ingin sesuatu dan sudah tahu bahwa satu-satunya orang yang tidak akan menolaknya adalah kakak angkatnya itu.
"Masuk dulu," kata Violet.
Teresa masuk dan langsung duduk di tepi ranjang tanpa dipersilakan, memeluk bantal guling dengan kedua tangan seperti anak kecil. Matanya berkeliling sebentar ke seisi kamar Violet yang kecil dan sederhana, kamar paling ujung di lantai dua yang atapnya sedikit miring dan jendelanya menghadap tembok tetangga, lalu kembali ke wajah kakak angkatnya.
"Aku tidak bisa menikah dengan dia, Kak."
Violet meletakkan keranjang baju di pojok dan duduk di kursi belajarnya, menghadap Teresa. "Kamu sudah bicara dengan Ayah?"
"Tadi pagi kan sudah. Ayah tidak mau dengar." Teresa menggigit bibirnya. "Kamu tahu sendiri kalau Ayah sudah memutuskan sesuatu, tidak ada yang bisa mengubahnya."
"Kalau begitu, minta Ibu untuk bicara."
"Ibu yang pertama kali setuju."
Violet diam sebentar. Di luar jendela, suara motor tetangga lewat lalu sunyi lagi. Rasanya atmosfer di sekitar terlalu menyesakkan untuk nya.
"Teresa." Violet memilih kata-katanya hati-hati. "Adriel Voss bukan laki-laki sembarangan. Kalau memang kamu keberatan, harusnya ada cara yang lebih—"
"Gantikan aku, Kak."
Duarr!
Kalimat itu keluar begitu saja, cepat dan langsung, seperti Teresa takut kalau tidak diucapkan sekarang maka ia tidak akan pernah berani mengucapkannya.
Violet menatap adik angkatnya itu lama.
"Apa?"
"Gantikan aku di pernikahan itu." Teresa menegakkan tubuhnya, nada suaranya berubah menjadi nada yang Violet kenal sebagai nada Teresa ketika ia sedang meyakinkan seseorang. "Kamu pakai namaku, pakai gaunnya, duduk di pelaminan. Akad dijalankan atas namaku tapi kamu yang ada di sana. Setelah semua selesai, baru dibuka kebenarannya."
Alis Violet menyatu, kedua rahangnya mengeras, matanya menatap nyalak untuk pertama kalinya kepada adiknya itu. "Kau sadar dengan apa yang kau ucapkan ini?"
Sementara Teresa mulai menangis tersedu- sedu.
******
BERSAMBUNG