Igrisia Devalona Bharata terlahir dari darah campuran dewa dan peri, hingga memiliki kekuatan dasyat dan di akui sebagai dewi alam. Namun kekuatan itu membuat para dewa merasa takut, hingga membuatnya jatuh ke dunia manusia dan kehilangan segalanya. Tekad dendam yang membara membuatnya bangkit mencari pecahan kristal jiwa, yang kini dimiliki oleh para pangeran di tiap kerajaan. Perjuangan panjang membuatnya berhasil mencapai tujuan. Namun perasaan yang terjalin dan kontak fisik yang terus terjadi membuatnya bimbang, haruskah dia membalas dendam atau tinggal di bumi dan hidup bahagia bersama pangeran yang dicintainya. Persaingan cinta pun tak terelakkan membuat igris harus mengambil keputusan di saat yang paling krusial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Usu dedek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembentukan kota baru
Igris tersenyum lebar mendengar keputusan tersebut. Sementara Zean masih ragu, dia terus mencongak ke atas balkon melihat kondisi dari permaisuri dan putra mahkota. Zean tahu, kalau keputusan hari ini akan mempengaruhi hubungannya bersaudara dan juga permaisuri.
Zean bisa merasakan aroma kebencian dan dendam kesumat yang dipendam oleh permaisuri dan juga putra mahkota. Namun kehendak dari dewi Igrisia adalah mutlak, karena sesuai perjanjian darah yang terikat, bahwa apapun permintaannya tidak boleh ditolak oleh kerajaan Ornebic.
Keputusan ini benar-benar seperti bilah pedang yang tajam, yang mampu menusuk setiap anggota tubuh dari pengguna nya dan bisa melukai dari sisi manapun bagi orang yang diserang. Zen masih tak menduga bahwa yang akan dipinta oleh Dewi alam itu adalah tahta kerajaan. Itu merupakan posisi yang paling tabu bagi dirinya. Namun siapa yang mengira jalan pikiran Sang Dewi itu. Tidak ada yang menduga bahwa sesuatu yang dipintanya melebihi jalur yang ada.
"Karena kerajaan ini sudah di serahkan kepada ku makan seluruh peraturan akan ku ubah. Yang pertama, kerajaan Ornebic akan bernaung di bawah kerajaan Neuzella. Karena kelak Neuzella akan menjadi satu-satunya negara kedaulatan. Sedangkan kerajaan Ornebic akan menjadi wilayah baru yang di sebut kota. Tidak akan lagi menyandang nama kerajaan."
Bisik-bisik para dewan istana ada yang setuju ada yang menentang. Tapi jauh sebelum melakukan kontrak darah, kerajaan Ornebic yang pertama kali menyetujui syarat pertukaran. Mereka tak bisa mengelak, karena perjanjian darah saat penobatan Igris telah jelas dan di saksikan semua kerajaan lain. Hanya saja tak di sangka, kalau pada akhirnya kerajaan Ornebic yang kini menjadi sebuah kota akan di pimpin oleh pengeran muda Zean.
"Yang kedua, posisi sebagai tuan kota atau yang biasa kalian sebut sebagai putra mahkota tidak boleh di pilih melalui keturunan, tapi harus dengan kepantasan. Pintar, kuat, dan berwibawa, yang pasti punya kemampuan untuk jadi pemimpin. Untuk saat ini aku menunjuk Zean sebagai tuan kota. Sedangkan selanjutnya akan di lakukan pemilihan, tanpa terkecuali dari kalangan manapun."
"Apa itu artinya rakyat biasa bisa menjadi penguasa kota?" potong seorang rakyat di bawah.
Sontak pertanyaan dari rakyat biasa itu mendapat pandangan sinis dari berbagai kalangan. Terutama dewan istana yang merasa sedikit keberatan dengan kebijakan itu, namun untuk saat ini mereka masih diam menunggu kesempatan untuk menyela.
Dengan tegas igrus pun menjawab.
"Tentu saja, tuan penguasa kota akan ditentukan secara bertahap. Setiap pemimpin akan diberi masa lima tahun sekali dalam kepemimpinannya. Setelah 5 tahun maka setiap kota akan melakukan kompetisi pemilihan, akan ada yang namanya ujian sastra, ujian kekuatan dan masih banyak lagi. Sehingga aku menyarankan pembentukan kota baru. Kota Ornebic akan dibentuk seperti kami di alam dewa, akan ada yang namanya parlemen yang akan mengurus ketatanegaraan yang akan mengurus segala sesuatu permasalahan di dalam kota yang kemudian akan melaporkan ke pusat negara yaitu ke kerajaan Neuzella.
"Bagus!. Bagus sekali, aku sangat menyetujui hal ini. Dengan begitu akan menunjukkan keadilan bagi sebuah kota, tidak memandang faktor keturunan, faktor fisik atau faktor sarjana, semua orang berhak mengikuti kompetisi untuk pemilihan tuan kota. Benar-benar pemikiran yang cemerlang dari seorang dewi Igrisia Devalona." Puji penasihat kerajaan Ornebic.
Mendengar keputusan yang sangat adil bagi seluruh rakyat kerajaan Ornebic, para penduduk dan prajurit pun bertepuk tangan. Gemuruh suara tepukan tangan menyambut keputusan yang bagi mereka benar-benar mensama ratakan kedudukan. Tidak mementingkan faktor darah bangsawan maupun rakyat biasa, tak sedikit pula rakyat yang memuji keputusan itu. Namun bagi sebagian kalangan bangsawan dan kerabat para ratu, tentu saja keputusan ini mengguncang posisi mereka.
Namun Igris tidak peduli, tekadnya adalah ingin mendamaikan alam semesta agar semua faktor dan elemen bisa bersatu dan dalam satu kesatuan. Tidak akan ada yang lebih menonjol atau saling memanfaatkan. Sehingga membuat rakyat biasa dan prajurit sama-sama memiliki tujuan, yaitu untuk berkompetisi.
Sebenarnya pemikiran ini sangat sehat, bagi orang yang mengerti jalannya masa depan. Nzmun tak di pungkiri, masih ada orang yang keberatan.
"Maaf lancang tuan putri, tapi dengan adanya kompetisi pemilihan tuan kota, bukankah akan memperburuk sistem pemerintahan nantinya?" Tanya seorang panatua istana.
"Memperburuk?" Igris tercengang mendengar pernyataan tersebut. Lalu dia pun mulai menjelaskan dengan lebih hati-hati.
"Tentu saja karena adanya kompetisi seperti ini, maka rakyat Ornebic akan berlomba-lomba untuk berlatih militer, sekolah akan di buka. Dari sekolah sastra dan berbagai keahlian sehingga menjadikan satu kota sebagai kota yang kuat. Tidak hanya berpacu pada segi perlindungan prajurit saja, namun rakyat biasa juga bisa membantu bila terjadi hal yang ta k di inginkan. Negara itu akan menjadi kuat hanya jika rakyatnya memiliki kekuatan setara, pandai sastra pandai militer pandai seni dan juga pandai berpolitik. Jika hanya segelintir orang yang diberi keahlian ini maka tidak akan lama, sebuah kerajaan akan runtuh karena yang memegang dominasi hanyalah orang-orang di dalam sistem kerajaan."
Pemikiran Igrisia ya seperti ini tidak dapat diterima oleh beberapa kalangan para bangsawan. Bagi mereka, hak istimewa belajar dan militer hanya boleh diterima oleh orang-orang terpilih. Rakyat biasa yang memiliki darah campuran atau kultivasi tingkat rendah maka hanya boleh menjadi rakyat biasa yang hanya selalu dilindungi.
Igris terus mendebat dewan istana, ia mengatakan,
"Bagaimana jika suatu saat nanti terjadi serangan? Sedangkan para prajurit tidak siap untuk bertempur karena terluka. Jika rakyat biasa diberikan pendidikan militer dan pendidikan sastra maka tidak hanya akan menjadi pondasi kekuatan suatu kota, namun orang yang akan menyerang pun akan berpikir bahwa rakyatnya saja sudah kuat bagaimana mungkin prajuritnya lemah. Mereka akan berpikir dua kali untuk menjatuhkan kota. Rakyatnya saja sudah sangat pintar bagaimana pula dengan pemimpinnya? Apa kalian tidak bisa berpikir hal seperti itu?"
Sontak suara gemuruh dari tepuk tangan rakyat pun menggemari dalam aula itu. Rakyat sangat senang karena baru kali ini ada seseorang yang benar-benar mengerti dengan keadaan rakyat dan keinginan mereka. Zean yang mendengar ucapan dari sang putri pun turut merasa bangga dalam hatinya berkata,
"Ternyata aku mengikat kontrak darah kepada orang yang benar-benar tepat. Tidak hanya cantik, kuat namun berwawasan luas. Dia tidak hanya mementingkan balas dendamnya, namun keputusan diambil untuk kesejahteraan rakyat dan kemakmuran dari para penduduk. Semoga saja permaisuri dan putra mahkota bisa menerima hal ini." harap Zean dalam hati.
Bahkan raja Hermes dan Danji pun menyetujui pemikiran dari igris, pembentukan kota dan negara yang dijanjikannya ternyata membawa perubahan sebesar ini. Dengan begitu sistem kerajaan yang ambigu yang memakai faktor keturunan akan selamanya dihapuskan.
Dengan begitu akan lebih sejahtera karena akan dianggap setara tidak ada pembeda antara darah bangsawan dan darah biasa. Keputusan igris benar-benar mengguncang kerajaan Ornebic. Riuh dari suara para penduduk menggema menyetujui apapun yang dikatakannya.
Sedangkan raja Ornebic sendiri hanya tertunduk, dia membenarkan apa yang dikatakan oleh dewi alam itu, namun dibenaknya masih terpikir akan bagaimana jadinya pihak permaisuri dan keluarganya, apakah mungkin akan memberontak? itulah ketakutan dari raja Ornebic. Kemelut dalam benaknya semakin menjadi-jadi.