Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...
"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22
Mall siang itu cukup ramai.
Lampu-lampu terang memantul di lantai mengilap. Orang-orang berjalan ke sana kemari dengan kantong belanja di tangan. Suara musik lembut mengalun dari speaker besar di langit-langit.
Namun bagi Dita, semuanya terasa sedikit asing.
Sudah lama sekali ia tidak pergi ke tempat seperti ini.
Ia berjalan di samping Dokter Eros dengan langkah agak canggung, sementara pria itu terlihat sangat santai dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana.
“Masih ada waktu satu setengah jam sebelum filmnya mulai,” kata Eros sambil melihat jam tangannya.
Dita mengangguk.
“Terus gimana dok? Mau langsung ke sana?”
Eros tersenyum kecil.
“Jangan manggil Dok, dong. Kita kan lagi di luar. Panggil Eros aja.”
"Rasanya canggung karena biasa panggil Dok."
"Biasain dong, sekarang panggil Eros, atau mas aja boleh."
Dita tersenyum kecil, "Iya, Mas."
Dokter Eros menunjuk ke arah sebuah kafe kecil di dekat bioskop.
“Makan dulu, yuk.”
Dita sempat ragu.
“Tidak usah repot, Dok. Saya sudah sarapan.”
"Tuh kan, Dok lagi."
Dita nyengir. "Lupa, dok... Eh, Mas."
“Ini bukan sarapan, Dita.”
Eros sudah berjalan lebih dulu.
“Ini ajakan, alasan supaya kita bisa duduk dan ngobrol.”
Dita akhirnya tersenyum kecil lalu mengikuti.
Mereka duduk di meja kecil dekat jendela. Aroma kopi dan roti panggang memenuhi udara.
Seorang pelayan datang.
Eros memesan dua minuman dan beberapa makanan ringan.
“Donat coklat, kentang goreng, dan sandwich.”
Dita langsung mengangkat tangan kecil.
“Mas, terlalu banyak.”
“Tidak.”
Eros santai.
“Kita berbagi.”
Beberapa menit kemudian makanan datang.
Dita memegang gelas jus jeruknya sambil melihat orang-orang yang lalu lalang di mall.
Eros memperhatikannya sebentar.
“Sudah berapa lama kamu jadi caregiver?”
Pertanyaan itu membuat Dita menoleh.
“Udah lama sih, Mas. Mmm, skitar empat tahun.”
“Sebelumnya di mana?”
“Di kota sebelah, kebetulan orang yang aku rawat udah meninggal, jadi aku pulang ke kampung. Baru setelahnya ikut bu Diana.”
Eros mendengarkan tanpa menyela. Dita mengambil sepotong donat kecil.
“Bu Diana itu... Sebenarnya berhati lembut, hanya saja dia terlalu curigaan.”
Eros tertarik.
“Kenapa?”
“Awal dulu, aku disangka mau merebut dan menggoda anaknya.”
Eros tertawa pelan.“Menggoda Tama?” katanya seraya menggeleng.
Dita ikut tertawa.
“Tapi semakin ke sini, Bu Diana sangat baik.”
Matanya sedikit berbinar saat bercerita.
“Beliau suka mengajak saya ngobrol. Kadang cerita masa muda beliau. Kadang kami merawat bunga di taman, atau kasih makan ikan di kolam.”
"Oh ya?"
Dita menunjuk udara seolah taman itu ada di sana.
“Kami menanam bunga bersama.”
“Serius?”
“Iya.”
Dita tersenyum.
“Awalnya cuma satu pot kecil. Sekarang sudah banyak sekali.”
Eros memperhatikan cara Dita bicara.
Cara matanya bersinar.
Cara ia menyelipkan rambut yang jatuh di sisi wajah ke belakang telinga.
Gerakan sederhana… tapi terasa sangat lembut.
“Bu Diana juga semakin semangat terapi,” lanjut Dita.
"Itu karena kamu, Dita. Bu Diana pernah bilang padaku."
Dita tersenyum, "Aku cuma kasih motivasi, Mas. Salah satunya..."
“Bunga-bunga itu?”
“Iya.”
“Setiap pagi kami menyiram bersama. Kalau bisa jalan lebih mudah bergerak, pasti bu Diana akan merasa seperti muda lagi.”
Ia tertawa kecil.
“Tuh, kamu emang punya skil, Dit.”
Eros ikut tersenyum.
“Skil apa?”
"Merayu."
Wajah Dita sedikit berubah.
"Tuh, buktinya, kamu bisa merayu bu Diana. Yang aku tau, bu Diana itu keras kepala, dan seperti yang kamu bilang, dia curigaan. Tapi, kamu bisa merayu bu Diana sampai mau diterapi."
Dita tersenyum pelan.
"O iya, selama ini apa kamu udah pernah pulang kampung? Kangen enggak?"
Dita terdiam sebentar. Lalu tersenyum tipis.
“Kangen sih sebenarnya.”
Suasana di meja itu tiba-tiba sedikit sunyi.
Eros menyesap kopinya perlahan.
"Kalau kangen, coba pulang sesekali."
"Enggak bisa."
Eros tampak heran.
“Kenapa tidak pulang?”
Dita tersenyum kecil, tapi matanya terlihat sedikit redup.
“Aku enggak bisa pulang, Mas.”
“Loh, kenapa? Kurasa, Bu Diana bisa ditinggal beberapa hari.”
Dita ragu.
“Aku tidak enak, Mas.”
Eros bersandar di kursinya.
“Kalau kamu mau pulang, aku bisa bicara dengan Bu Diana dan Tama.”
Dita langsung menggeleng.
“Tidak perlu, Mas. Sebenarnya bukan hanya tak enak sama bu Diana yang udah baik banget sama aku.”
“Terus? Kenapa?”
Ia terdiam sebentar.
“Aku enggak terlalu pengen pulang... lagian di sana juga tidak punya siapa-siapa lagi.”
Eros mengerutkan kening.
“Tidak punya siapa-siapa?”
“Orang tua ku sudah tidak ada.”
"Oh, sorry."
"Enggak papa, Mas."
“Saudara juga enggak ada?”
“Aku hanya punya bibi dan paman.”
Dita menunduk sedikit.
“Dan sepupu.”
“Sepupu juga keluarga.”
Dita tersenyum pahit.
“Sepupu itu sekarang menikah… dengan mantan pacar ku sebelum aku kemari.”
Eros terdiam.
Beberapa detik ia tidak tahu harus berkata apa.
“Ya ampun, Dit... hidupmu, emang penuh kejutan.”
Dita terkekeh, "Gitu ya, Mas?"
Dokter Eros juga ikut tertawa. "Tapi, bisa ya, nikah sama mantan pacar sepupu sendiri? Enggak ada rasa canggung gitu, atau enggak enak."
Dita tersenyum kecut, lalu menyeruput minumannya.
“Sepertinya kita harus ke bioskop sekarang.”
Eros melihat jam.
“Benar juga.”
Mereka berjalan menuju area bioskop di lantai atas mall.
Lampu di koridor bioskop sedikit lebih redup.
Poster film besar terpajang di dinding.
Dita berjalan di samping Eros sambil melihat sekeliling.
Sudah lama sekali ia tidak menonton film di bioskop.
Namun tiba-tiba langkahnya melambat.
Eros menyadarinya.
“Kenapa?”
Dita menggigit bibirnya sedikit.
“Aku kepikiran Bu Diana.”
Eros menunggu.
“Apa aku boleh menelpon bu Diana sebentar?”
“Telpon aja…” Eros tersenyum menenangkan.
“Tapi, aku yakin Bu Diana baik-baik saja.”
Dita mengeluarkan ponselnya. Ia membuka kontak Bu Diana.
Namun sebelum sempat menelepon... Ponselnya bergetar.
Nama yang muncul di layar membuat jantungnya langsung berdetak cepat.
Tama.
Dita mengerutkan kening.
“Kenapa Tuan Tama menelepon?”
Ia langsung mengangkat panggilan.
“Halo, Tuan?”
Namun suara di seberang sana tidak seperti biasanya.
Terdengar tegang.
“Dit, kamu di mana?”
“Saya di mall, Tuan. Ada apa?”
Beberapa detik hening.
Lalu suara Tama terdengar lebih rendah.
“Mama tiba-tiba sakit.”
Dita membeku.
“Apa?”
“Tadi pusing dan hampir jatuh.”
Wajah Dita langsung pucat.
“Sekarang bagaimana?”
Jantung Dita terasa jatuh ke perutnya.
“Saya langsung pulang aja sekarang!”
Ia memutus panggilan dengan tangan gemetar.
Eros yang berdiri di depannya langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres.
“Kenapa?”
Suara Dita bergetar.
“Bu Diana… tiba-tiba sakit.”