Min Ara wanita yang di jodohkan dengan Jeon Jason, lelaki tampan yang mempunyai kharisma kuat yang merupakan seorang putra tunggal dari keluarga Jeon.
Sebagai syarat lelaki itu mendapatkan seluruh hak warisnya, Jason harus menikah dengan Ara.
Ara mengira kehidupannya akan bahagia dengan menjadi istri Jeon Jason, tetapi semua itu hanya ada dalam angannya saja. Jason yang berstatus suaminya itu, tidak lebih dari seorang iblis yang selalu menyakiti hatinya.
Ara tidak bisa mengelak perasaannya yang mulai terjebak di dalam lingkaran yang di buat Jason, tetapi itu semua adalah sebuah kesalahan besar baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15| Khayalan Sesaat
Ara menangis di dalam bilik toilet dan Nara masih setia menunggunya di bilik toilet sampingnya, ia mendengar bagaimana suara tangis Ara yang membuatnya sebagai sahabat tidak bisa menahannya lagi.
“Ara aku akan membuat perhitungan kepadanya!” seru Nara yang keluar dari tempatnya, di susul Ara yang juga buru-buru menahan Nara.
“Nar, Nara jangan!” tahan Ara membuat Nara menatapnya tajam.
“Aku tidak bisa diam saja melihatmu seperti ini! Ara ini sudah keterlaluan dan aku tidak ingin kau semakin terluka,” jelas Nara.
“Ikut aku!” Ara menarik Nara ke dalam lift ia menekan tombol paling atas, di mana terdapat sebuah taman kecil di atas gedung kantor ini.
Tidak banyak yang mengetahuinya dan Ara tidak sengaja menemukan tempat itu saat ia iseng-iseng menekan tombol yang memang tidak ada angkanya itu.
“Di sini membuatku menjadi tenang dan aku ingin kau menemaniku di sini, aku mohon hanya sebentar saja,” pinta Ara dengan wajah memohonya yang membuat Nara tidak akan tega menolaknya.
“Kau tidak perlu menggunakan wajah itu untuk memohon kepadaku! Aku akan selalu menemanimu sampai kau benar-benar tenang,” jawab Nara dan mereka mulai terdiam menikmati pemandangan gedung-gedung di sekilingnya.
Hanya suara angin yang terdengar mereka sama-sama larut dalam pikirannya masing-masing. Ara yang berpikir bagaimana ia bisa membuat Jason menyadari perasaannya dan Nara berpikir bagaimana cara membantu sahabatnya yang memang susah untuk meluluhkan hati seseorang yang begitu keras seperti Jason.
“Aku mulai sadar,” gumam Ara dengan suara lirihnya, Nara menoleh ke arahnya dan menunggunya melanjutkan kalimatnya.
“Aku harus menjadi diriku sendiri untuk meluluhkannya, bukan menjadi orang lain ataupun meniru orang lain. Saat aku melihatnya berciuman dengan sekretarisnya sendiri di depan mataku, hatiku terasa sakit dan lukanya semakin melebar. Aku juga ingat saat dia bilang ingin membuat hari-hariku seperti di neraka, aku mulai sadar dengan maksudnya. Dia ingin melukaiku dengan cara seperti itu, tapi kau tahu? Aku tidak bisa membencinya atau pun meninggalkannya,” Ara menjedanya, karena air matanya kembali terjatuh. Ia mengusapnya dengan kasar.
“Aku pernah kehilangan dan aku tidak ingin kehilangan lagi, setelah dulu aku sangat terpuruk kehilangnya. Sekarang aku tidak ingin kembali terpuruk, ternyata semua yang aku alami sebelumnya itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan saat ini, sungguh ku kira aku akan tegar setelah melewati masa-masa itu. Tapi, aku masih saja terlalu rapuh saat menyadari semuanya. Aku rasa Tuhan tidak adil denganku, kenapa lagi-lagi aku yang terluka? Kenapa takdirku seperti ini? Kenapa Nar?” tangis Ara semakin kencang, Nara memeluknya erat dan menenangkannya.
“Ara, dengarkan aku!” seru lembut Nara.
“Kau tahu? Tuhan itu maha penyayang, jadi kau tidak perlu bersedih begini. Tuhan sedang memberimu ujian ini agar kau menjadi manusia yang tangguh, Tuhan tahu kau pasti bisa melewati semua ini. Aku yakin di setiap air mata yang kau keluarkan akan menjadi kebahagiaan yang sangat tak terduga. Kau masih ada aku yang menjadi tempatmu untuk berkeluh kesah, kau tidak sendiri di sini, aku selalu ada di sampingmu untuk menguatkanmu dan semangat..."
"...Kau ingat tidak? Kekasihku yang kecelakaan pesawat tiga tahun lalu? Aku hampir saja bunuh diri saat itu, tapi kau datang dan merangkulku, sehingga aku tersadar dan mulai kembali bangkit. Kita sama-sama punya masalah yang tidak terduga, tapi kita selalu ingat pasti ada saja jalan keluar dari setiap masalah yang kita dapatkan,” ujar Nara yang membuatnya terdiam, Ara baru sadar kalau ia tidak boleh menyalahkan takdir yang Tuhan berikan kepadanya.
“Terima kasih, kau sudah menyadarkanku,” ucap tulus Ara, ia bersyukur masih ada Nara yang bisa menyadarkannya dan selalu ada saat ia butuh sandaran untuk menceritakan masalahnya.
“Kau tidak perlu berterima kasih, ini adalah tugasku sebagai seorang sahabat dan aku akan selalu berada di hatimu saat kau merasa sendiri. Hati kita sudah terhubung, kau sudah ku anggap sebagai adikku sendiri,” ujar Nara sangat tulus.
...***...
Ara sedang berada di minimarket, ia duduk di kursi yang tersedia di depan minimarket itu. Ia tidak pulang dulu, karena membutuhkan waktu untuk kembali melihat wajah Jason.
Setiap melihat wajahnya, Ara selalu teringat dengan kejadian tadi siang, wajah brengsek yang membuatnya selalu membuatnya terluka. Ara menghela na0as dan melihat ke arah langit yang bertabur bintang di atas sana, tangannya terangkat ke atas dan menyipitkan matanya, tangannya seolah-olah sedang menggapai bintang yang jauh di sana.
Ara tersenyum saat memori kecilnya mengingatkan dirinya kepada sesosok orang yang begitu melekat di otaknya.
“Kau jauh di sana dan aku di sini! Aku merindukanmu dan aku sudah jatuh hati lagi, maaf,” gumam Ara sambil meneguk soda dingin yang di belinya.
Ada yang menepuk pundaknya dan membuat Ara terkejut, Ara menoleh dan melihat Marten dengan pakaian santai menggunakan kaos hitam polos tersenyum kepadanya. Ara mengembangkan senyumnya.
“Apa aku boleh duduk bersamamu?” pertanyaan dari Marten itu berhasil membuatnya tertawa kecil.
“Kau tidak perlu bertanya begitu! Lagian kosong juga, jadi silakan duduk!” seru Ara dan Marten langsung duduk di sebelahnya.
“Kau belum pulang?” tanyanya saat melihat pakaian Ara.
“Belum,” geleng Ara.
“Kenapa?”
“Aku ingin di luar sebentar,” jujur Ara dengan tatapan lelahnya, Marten engerti dan ia tidak bertanya lagi.
“Kau sudah makan?” Marten mengalihkan topik pembicaraan.
“Sudah tadi,” bohong Ara, padahal ia seharian ini tidak makan sama sekali. Nafsu makannya berkurang dan ia enggan untuk melihat nasi.
“Sudah malam, aku harus pulang!” Ara melihat jam di ponselnya, ia langsung berdiri dan tidak sadar kalau tasnya terlilit dengan kursi yang ia duduki membuatnya terjatuh dan jatuhnya itu ke pelukan Marten.
Tapi, bukan itu yang membuat mereka membeku melainkan bibir mereka yang menyatu, karena ketidaksengajaan itu. Ara langsung menarik tubuhnya dan berlari meninggalkan Marten yang masih terdiam dan tangannya memegang bibirnya yang menyentuh bibir Ara.
Dari kejauhan ada seseorang yang melihat kejadian tersebut dan ia mengepalkan tangannya. Lalu melajukan mobil dengan kencang, ia juga merubah arah tujuannya.
...***...
Ara yang sedang terlelap dalam tidurnya merasakan sesuatu yang aneh, ia merasa ada seseorang yang menciumnya dengan kasar.
Ara membuka kedua matanya dan terkejut saat melihat Jason berada di atasnya dan menciumnya, Ara juga mencium bau alkohol yang sangat menyengat dari sang suami.
Ara meronta dan memukul dada bidang Jason, tapi lelaki itu mengunci pergerakannya.
“Lepaskan aku!” pekik Ara yang di balas senyuman miring oleh Jason.
“Kau memang wanita murahan dan aku ingin tahu seberapa murahnya dirimu ini!” desis Jason dengan keadaan mabuk berat.
Lelaki itu kembali mencium Ara dan menyentuhnya, Ara tidak bisa apa-apa kecuali menangis tanpa suara. Jason memang sangat brengsek, ia tidak hanya melukai hatinya, tetapi juga fisiknya.
“Kau hanya hayalan, tapi kenapa kau terasa begitu nyata?” gumam Jason yang masih melakukannya lagi.
Bersambung...