NovelToon NovelToon
A Killer Reborn

A Killer Reborn

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Elizabeth Valerie, seorang pembunuh bayaran yang terkenal kejam dan dingin, mati diracun oleh orang-orang kepercayaannya. Namun, kematian bukanlah akhir baginya. Alih-alih pergi ke alam baka, jiwanya justru terjebak di tubuh seorang gadis miskin yang mati dengan mengenaskan.

Bersama ingatan dan rasa sakit milik Elijah, Elizabeth bertekad bahwa ia harus membalaskan dendam gadis itu jika ingin pergi dengan damai. Elizabeth pun menjalani kehidupan keduanya yang sulit dan miskin demi membalaskan dendam sang gadis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AKR 12 — Kematian Pertama

⚠️ TRIGGER WARNING ⚠️

Bab ini mengandung beberapa adegan kekerasan yang mungkin tidak nyaman bagi sebagian pembaca. Mohon bijak saat membacanya. 

***

Pagi itu udara masih menyimpan sisa dingin ketika Elizabeth menyelesaikan rangkaian latihannya di ruang tamu yang belum banyak terisi perabot. Rumah baru mereka masih terasa lapang dan sunyi, cukup luas untuk menampung gerakan tubuhnya yang cepat dan terukur. 

Ia bergerak tanpa ragu, sesekali memukul, melatih tinju ataupun tendangan kakinya. Semua gerakannya tampak presisi, meski tubuhnya tak selincah dulu, setidaknya Elizabeth masih bisa merasakan kecepatan dan ketepatan gerakannya.

Latihan itu bukan hanya sekadar untuk menjaga kebugaran tubuh Elijah, tetapi juga merupakan cara dirinya mempertahankan kendali.

Ponselnya bergetar di atas meja. Elizabeth berhenti, menyeka wajahnya dengan handuk, lalu menatap layar. Nama Jean tertera di sana. Ia mengangkat panggilan itu tanpa sapaan.

“Aku sudah berhasil.” Suara Jean terdengar cepat dan tegang. “Mereka setuju datang. Malam ini, jam delapan. Gudang lama di pinggiran kota. Semua akan ada di sana, jangan terlambat datang.”

Elizabeth terdiam beberapa detik. Nada suara Jean itu terdengar terlalu dipaksakan dan tidak terdengar meyakinkan. Ia bisa merasakan sesuatu yang tidak beres.

“Baiklah,” jawabnya singkat sebelum menutup sambungan. “Kau tidak bisa membohongiku.” 

Elizabeth tak bisa begitu saja mempercayainya. Pengalaman hidup telah mengajarinya untuk mempercayai ucapan seseorang begitu saja. 

Tanpa membuang waktu, Elizabeth menghubungi Chad. Begitu panggilan tersambung, ia langsung bertanya, “Kau ada di mana sekarang?”

Chad terdengar ragu sesaat sebelum menjawab, “Aku? Aku tentu saja berada di rumah. Kenapa kau bertanya padaku? Ada apa? Apakah kau membutuhkan sesuatu lagi? Katakan saja—” 

Elizabeth menutup telepon itu secara sepihak dengan wajah mengeras. Dugaannya ternyata benar dan tepat. Jean mencoba membalikkan keadaan. Ia tidak berniat memenuhi syarat yang diberikan, Jean pasti berniat mengakhiri semuanya dengan caranya sendiri.

Malam tiba dengan cepat. Gudang tua di kawasan industri itu berdiri sunyi dan hampir terlupakan. Dindingnya kusam, sebagian atapnya miring, dan halaman depannya dipenuhi rumput liar. Tidak ada lampu jalan yang menyala. Hanya cahaya bulan yang menyorot samar melalui celah-celah jendela pecah.

Elizabeth melangkah masuk dengan tenang.

Di tengah ruangan luas yang kosong, Jean sudah menunggu. Ia berdiri kaku, wajahnya tegang. Begitu melihat Elizabeth muncul dari balik bayangan, sorot matanya berubah.

“Mana yang lainnya?” tanya Elizabeth datar tanpa basa-basi. Ia membuka hoodie hitamnya dan menatap Jean tajam.

Jean tersenyum tipis. “Mereka tidak akan datang.”

Jawaban itu sudah ia duga. Rasa kesal menyelinap, namun tak terlihat di wajahnya.

“Kau benar-benar bodoh,” katanya pelan.

Tiba-tiba Jean mengangkat tangannya dan menodongkan pistol ke arahnya. “Berhenti di sana! Jangan mendekat!” teriaknya, suaranya bergetar meski ia berusaha terdengar tegas.

Gudang itu mendadak terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Bahkan angin yang berdesir di luar seperti ikut menunggu.

Namun Elizabeth tidak gentar. Tatapannya tetap tenang, seolah pistol itu tidak berarti apa-apa. Ia melangkah satu langkah ke depan.

Jean panik. Jemarinya menegang saat menekan pelatuk.

Dalam sepersekian detik, tubuh Elizabeth bergerak. Dengan gerakan cepat dan terlatih, ia memutar tubuhnya dan menendang pergelangan tangan Jean. Pistol itu terlepas dan terlempar jauh, meluncur di lantai semen sebelum berhenti di sudut ruangan.

Jean terhuyung dan kehilangan keseimbangan. Sebelum ia sempat pulih, Elizabeth sudah berada di hadapannya. 

Ketakutan yang nyata kini terpampang jelas di wajah pria itu. Lututnya melemah dan tubuhnya jatuh berlutut.

“To-tolong … a-aku mengaku salah,” katanya tergagap. “Aku takut mereka akan membunuhku sebelum kau jika mereka sampai tahu bahwa … kau sudah menghapus semuanya.”

Elizabeth menatapnya tanpa belas kasihan. “Takut?” ulangnya pelan. “Baru sekarang kau mengerti rasanya.”

Jean mencoba meraih kakinya, tetapi Elizabeth lebih cepat. Ia mencengkram kerah bajunya dan menariknya dengan keras hingga kepala pria itu terangkat. Tanpa ragu, ia melayangkan pukulan tepat ke pipi pria itu yang langsung membuat Jean terhenyak. 

Pukulan berikutnya menyusul dengan tegas. Pelan tapi cukup membuat Jean merasa kesakitan dan jatuh tersungkur dengan mengenaskan. 

“M-maaf,” cicit Jean seraya memegangi pipinya. 

Namun, seolah tak ingin memberi Jean kesempatan itu bernapas, Elizabeth menendang perutnya dengan cukup keras hingga Jean terbatuk-batuk dan memuntahkan darah segar dari mulutnya. 

“Bagaimana? Apa kau sudah tahu akibatnya?” tanya Elizabeth dengan napas terengah. 

Jean tak mampu melawan. Ia mencoba kembali berdiri, tetapi tubuhnya terhuyung dan akhirnya terjatuh lagi, tubuhnya lemah dan tak berdaya di lantai dingin gudang itu.

Elizabeth berdiri tegak di atasnya, napasnya tetap stabil meski dadanya naik turun lebih cepat. Ia menatap pria itu dengan dingin, memastikan pesan yang ingin ia sampaikan tertanam jelas.

“Ini adalah akibat mencoba menipuku,” ucapnya rendah.

Jean menatapnya dengan tatapan memelas dan memohon ampun, tetapi Elizabeth tak lagi peduli. Ia menekan leher Jean dengan kuat. 

Pria itu meronta-ronta kehabisan napas, matanya terbelalak dan tangannya mencoba menggapai-gapai wajah Elijah. Suaranya mulai terputus-putus.

Sebelum pria itu benar-benar kehilangan nyawanya, Elizabeth berdiri dan kembali menginjak kaki Jean hingga pria itu menjerit tanpa suara. 

“Sudah kukatakan, teman-temanmu yang mati atau kau yang mati,” kata Elizabeth kejam. Ia berjalan mengambil pistol yang tadi di bawa Jean. “Tapi, bukannya menuruti perintahku, kau justru ingin membunuhku?” 

Dengan susah payah, Jean mencoba untuk bangkit, tetapi rasa nyeri di sekujur tubuhnya membuat gerakannya melambat. Ia merangkak ke arah Elizabeth dan menyentuh kakinya. 

“Aku … aku sudah salah! Aku tidak akan mengulanginya lagi,” kata Jean lemah. 

Elizabeth menginjak lengannya keras. Jean menjerit kesakitan. Ia berharap bisa lepas dari penganiayaan perempuan itu secepat mungkin. Namun, semuanya sudah terlambat. Ia melihat Elijah sudah berdiri di depannya sambil memegang pistol yang dibawanya. 

“Dua hal yang harus kau tahu,” katanya sambil menodongkan pistol itu tepat ke arah kepala Jean. “Pertama, aku tidak pernah memberi kesempatan kedua pada siapapun.” 

Jean menatap dan mendengarkannya dengan takut. Jantungnya berdetak keras, tangannya gemetar bersamaan dengan keringat dingin yang membanjiri pelipisnya. Satu-satunya hal yang bisa ia lihat dengan baik adalah aura dingin yang begitu kuat terpancar di mata perempuan itu. 

Dor! 

Satu tembakan melesat, dan tepat mengenai betis kiri Jean. Pria itu berguling-guling kesakitan bersama dengan darah yang mengalir deras. Ia meraung keras kesakitan sambil memohon ampun. 

"Ti-tidak ... kumohon ... jangan," rintih Jean kesakitan sekaligus putus asa.

Namun, Elizabeth sama sekali tidak mempedulikannya. Sama seperti saat pria itu tidak peduli dengan jerit kesakitan Elijah.

Dor! 

Elizabeth menarik pelatuknya lagi. Satu tembakan yang lain tepat mengenai bahu, Jean semakin menjerit. Darahnya mulai membasahi lantai semen yang dingin itu. Air matanya mengalir deras. 

“Dan yang kedua,” katanya tegas. Aku tidak pernah mengampuni pendosa sepertimu.” 

Dor! 

Tembakan terakhir tepat mengenai kepala Jean dan mengakhiri semua rasa sakit pria itu. Elizabeth berjongkok di depannya dan meletakkan pistol itu di tangan kanan Jean. 

Ia menatap tubuh pria yang sudah mati itu dengan datar. “Kau membuatku harus mengejar mereka satu persatu, merepotkan.” Elizabeth mendesah berat, lalu berjalan pergi tanpa menoleh lagi. 

1
awesome moment
mesti mengumpulkan ingatan utk merangkai cerita meski cm sekedar baca
Night Watcher
mood ku mulai hilang tor, karna terlalu lama teka teki sulivan.
kalo bab berikutnya masih gak terungkap, kyknya mending gak lanjut deh..😇
❤️⃟Wᵃf༄SNѕ⍣⃝✰🥑⃟ᴢͣʏᷮᴀͬɴͥ🦀
mulai curiga.
awesome moment
smg eliz ttp tersamar dlm tubuh elijah
awesome moment
d yg jd stalker eliz
awesome moment
eliz sdg bermain. spt mrk mempermainkan elijah dlu. melecehkan elijah. merekam dan menjual. bahkan dajjalpun spt.nya hrs berguru ke mrk soal kekejian
awesome moment
good. kehadiran eliz jd bukti kesakitan yg slama n elijah derita
awesome moment
bikin perkara n manusia buzuk 1
awesome moment
smg eli tdk dihalangi
awesome moment
😄😄😄mrk butuh disiksa, eli
Night Watcher
sayangnya elij gak bisa menyamarkan sikapnya agar gak menimbulkan kecurigaan, utk memuluskan langkah selanjutnya.
awesome moment
👍👍👍cerdik
awesome moment
duh...kasihan bgts ternyata elijah..
awesome moment
duh...smg elijah bukan sasaran pelecehan berkali2
Night Watcher
sudah saatnya ikutan sukreb..👌
Night Watcher
hingga bab ini, alurnya bagus & penyajiannya simpel dan asyik diikuti.👌💪
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ada, Elijah buktinya 🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Fisik nya sama tapi roh nya beda 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sekarang sudah berubah 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
dan sekarang akan balas dendam 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!