NovelToon NovelToon
Long Hand

Long Hand

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Fantasi
Popularitas:254
Nilai: 5
Nama Author: Kaelits

Iago Verbal datang ke Citywon hanya untuk satu hal: hidup tenang. Namun, ibu kota Cirland tidak mengizinkannya.

​Di balik kemegahan kota itu, ingatan Iago yang pecah mulai kembali menghantuinya. Sosok-sosok dari masa lalu bermunculan—seorang putri kerajaan yang berhasil memecahkan kasus pembunuhan terumit hingga organisasi bawah tanah yang mengerikan.

​Iago baru menyadari satu fakta pahit: Dia bukan pemuda desa polos. Dia adalah bagian dari rencana gelap yang ia sendiri lupakan. Kini, tangannya harus kembali kotor, atau ia akan terkubur bersama rahasia Citywon.

​Siapakah pemuda ini sebelum amnesia merenggut segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Curiga

"Kau... Bukankah kau..."

Melihat wajah yang pucat pasi dan rambut perak basah itu, ingatan Iago meloncat mundur dengan cepat. Ada samar-samar, potongan-potongan gambar di Optherra, gang kotor yang berbau busuk, anak kecil berambut perak yang ketakutan setengah mati. Tapi wajah di depannya sekarang bukan lagi anak kecil mungil itu.

Itu remaja yang hampir dewasa, dengan mata biru yang sama tajamnya, meski sekarang dipenuhi oleh rasa kedinginan yang mendalam. Namun, sesuatu di balik tatapan itu membuat Iago yakin sepenuhnya. Ini memang dia. Anak kecil yang dulu ia selamatkan dari eksekusi di gang kotor itu.

"Iago? Siapa itu?" tanya Yuki dari meja makan.

Suara itu menarik Iago kembali ke masa kini dengan paksa. Dia menyadari dirinya telah berdiri membeku di ambang pintu terlalu lama, membiarkan udara dingin dan salju masuk ke dalam rumah.

Dengan gerakan cepat, ia membuka pintu lebih lebar dan sedikit memiringkan tubuhnya, menciptakan jalan bagi pria berambut perak yang menggigil hebat itu. Wajah Iago seketika berubah menjadi datar.

Setelah Otto melangkah masuk dengan gemetaran hebat, Iago segera menutup dan mengunci kembali pintu kayu itu, memutuskan hubungan dengan dinginnya dunia luar yang kejam.

"Te-terima kasih, Master..." Otto berbisik, suaranya hampir tak terdengar.

"Ya," jawab Iago singkat.

"Siapa dia, Iago?" Kali ini, baik Yuki maupun Edward sudah berdiri dari meja makan, mendekat sedikit dengan langkah ragu. Wajah mereka berbinar penuh rasa ingin tahu, namun ada juga kehangatan yang tulus di sana.

"Dia temanku," ucap Iago, sambil menatap wajah Otto dengan tatapan tajam yang hanya sekilas namun penuh makna—sebuah perintah diam, sebuah peringatan keras yang hanya mereka berdua pahami. "Namanya Otto."

"Otto?" Yuki memicingkan matanya yang hijau, berpikir sejenak, mencoba mengingat. Kemudian, matanya melebar. "Oh! Bukankah dia yang... yang bertopeng kelinci putih waktu itu? Yang melempar belati?"

"Benar," konfirmasi Iago. "Yuki, Edward," Iago memulai lagi, suaranya sekarang lebih rendah, lebih serius. "Aku ingin minta tolong pada kalian berdua."

Seketika, semua perhatian—termasuk tatapan Otto yang waspada meski tubuhnya masih menggigil—beralih ke Iago. Kemudian, Yuki tersenyum, sebuah ekspresi yang langsung mencairkan ketegangan yang mulai mengkristal di udara ruangan. "Astaga, Iago... Kenapa kamu jadi terlihat tegang sekali? Seperti mau mengumumkan perang dunia."

"Aku..." Iago berhenti, kata-katanya tersangkut. Tangannya, yang tergantung lemas di samping tubuhnya, bergetar halus tak terkendali. Dia mengepalkannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku ingin... kalian mengizinkannya tinggal di sini. Untuk sementara waktu. Hanya sampai badai salju ini reda dan dia cukup kuat untuk pergi." Tatapannya jatuh ke lantai kayu yang berdebu.

Suasana hening sejenak, hanya terdengar derak api di perapian. Otto ikut merasakan ketegangan itu merambat cepat ke tulang-tulangnya yang masih membeku. Dia melihat Tuannya menunduk, dan nalurinya sebagai bawahan yang setia berkata untuk mengikuti. Ia segera melakukannya, menatap sepatu botnya yang basah kuyup dan lantai kayu.

Dia percaya ini adalah bagian dari sebuah sandiwara rumit yang harus mereka mainkan bersama.

Melihat kedua pria itu tiba-tiba menjadi begitu kaku dan tertekan, Yuki tak kuasa menahan tawanya. Namun tawanya bukan ejekan atau sindiran; itu lembut dan hangat. "Ya ampun," katanya di sela-sela tawanya yang pelan. "Tentu saja dia boleh tinggal di sini! Apa kalian pikir aku ini monster yang akan mengusir orang kedinginan ke tengah badai salju? Kenapa kalian berdua tegang begitu?"

Iago menghela napas panjang dan lega, bahunya yang tegang sedikit turun. "Terima kasih, Yuki. Aku pikir... kamu akan merasa kerepotan. Rumah ini sudah kecil, dan kami sudah sangat merepotkanmu."

"Nggak apa-apa kok," ucap Yuki, melambaikan tangannya dengan ringan. "Kita bisa berbagi ruang. Lagipula, ruang kosong di dekat perapian masih ada, kan? Yang penting dia tidak tidur di salju."

"Te-terima kasih, No-nona Yuki," Otto menimpali dengan suara masih serak oleh dingin yang membekukan tenggorokannya. "Aku... saya sangat, sangat menghargai kebaikan hati Anda. Sungguh."

Otto kemudian duduk bersila di lantai kayu dekat perapian. Kehangatan mulai meresap perlahan ke dalam tubuhnya yang membeku, membuatnya sedikit mengantuk dan rileks.

Yuki membawakannya sepiring makanan hangat—sisa telur dan daging asap pagi tadi, ditambah sepotong roti gandum—dan menaruhnya dengan hati-hati di lantai kayu di depannya.

Saat Otto menatap piring itu dengan rasa lapar yang membara dan syukur yang dalam, dia merasakan sebuah tatapan berat menusuk dari samping. Dia mengangkat matanya, dan benar.

Di belakang Yuki yang sedang membungkuk, Iago yang masih duduk di meja makan sedang menatapnya lekat-lekat. Tatapan itu tidak keras atau marah, tapi penuh dengan peringatan dan instruksi yang tak terucap, sebuah kode diam yang hanya mereka berdua mengerti.

Otto awalnya merasa takut. Apakah dia melakukan kesalahan? Apakah dia terlalu mencolok?

Dengan usaha keras, dia mendongakkan kepalanya, melihat Yuki yang kini berdiri tegak di hadapannya, dan berkata dengan sopan yang agak kaku dan canggung, "Terima kasih, Nona Yuki. Anda sangat baik hati." Sebuah senyum tipis dan agak dipaksakan merekah di bibirnya yang masih pucat.

"Sama-sama, Otto." jawab Yuki dengan hangat, lalu berbalik dan kembali ke mejanya.

Setelah itu, tatapan Iago menghilang. Kali ini, pria itu sedang fokus menghabiskan makanannya yang tersisa sambil mendengar Edward bercerita tentang rencana Natalnya dengan penuh antusiasme. Wajah Iago tersenyum lemah saat mendengar celoteh anak itu, sebuah ekspresi yang begitu asing namun tulus di mata Otto. Itu membuatnya lega sekaligus bingung. Lalu, dia mulai menyantap makanannya dengan lahap.

Enak, pikir Otto saat suapan pertama masuk ke mulutnya. Rasanya sederhana, hangat, dan sangat memuaskan bagi perutnya yang keroncongan. Jadi masakan gadis berambut merah inilah yang dinikmati Master Iago selama beberapa hari terakhir... Pantas saja dia betah.

"Jadi," Yuki memulai percakapan lagi setelah duduk di kursinya. "Kenapa temanmu ini bisa kedinginan parah seperti ini, Iago? Dia terlihat seperti berjalan semalaman di tengah badai tanpa tempat berteduh."

Iago menelan ludah dengan susah payah. Matanya melihat piringnya yang sudah kosong, lalu akhirnya menatap Yuki. Wajah gadis itu masih memancarkan senyuman yang sama ramahnya

"Yah, itu—"

"Tunggu sebentar," potong Yuki dengan cepat, tiba-tiba menoleh ke arah Otto. "Aku ingin temanmu yang menjawab pertanyaan itu. Dari sudut pandangnya sendiri, sebagai orang yang mengalaminya."

Otto, yang sedang mengambil suapan besar berikutnya, tersedak seketika. Makanannya tersangkut di tenggorokan, membuatnya terbatuk-batuk hebat dan keras, wajahnya yang pucat memerah seketika.

Melihat itu, Yuki segera berdiri dengan cepat dan bergegas mengambil segelas air dari kendi di dapur.

"Maaf, apa kamu tidak apa-apa?" tanya Yuki sambil menyerahkan gelas, wajahnya penuh keprihatinan asli.

"Ah, ya... maaf, Nona." Otto berdehem keras setelah meminum air, napasnya mulai teratur. Instingnya sebagai bawahan membuatnya menoleh secara refleks ke arah Iago, mencari panduan, mencari perintah.

Tapi kali ini, Iago sama sekali tidak menatapnya. Pria itu hanya duduk tenang di meja makan, punggungnya yang tegap menghadap ke perapian dan ke Otto. Bahunya terlihat rileks, tapi Otto tahu itu adalah ketenangan yang disengaja.

Dia membiarkanku sendiri. Pikiran itu melintas cepat di benaknya. Dia ingin melihat bagaimana aku menangani situasi ini sendirian. Atau... dia sedang menguji gadis ini, melihat seberapa dalam dia akan menggali?

Setelah napasnya kembali normal dan pikirannya tenang, Otto akhirnya berbicara, memilih setiap kata dengan sangat hati-hati. "Saya... sebenarnya tidak punya rumah. Sudah lama mengembara entah ke mana, sejak kecil."

Mendengar pengakuan jujur itu, ekspresi Yuki langsung berubah drastis. Kekhawatiran yang tadi hanya sekilas kini menjadi lebih dalam. Edward, yang tadi ceria dan banyak bicara, kini diam seribu bahasa, wajahnya yang polos menunjukkan belas kasihan yang begitu tulus tanpa kepalsuan. Keheningan yang pekat dan berat turun di ruangan kecil itu, hanya diselingi oleh suara retakan kayu di perapian yang berderak pelan.

Setelah beberapa saat yang terasa seperti berjam-jam, Yuki menoleh perlahan pada Iago. Matanya yang hijau kini sedikit menyipit tajam, dan alis tipisnya berkerut mendalam.

"Iago," panggilnya. "Apa itu benar?"

Iago menunduk dalam-dalam, menatap tangannya sendiri yang terkepal erat di atas meja kayu. "...Ya. Itu benar."

"Astaga, kau ini..." Yuki menggelengkan kepalanya perlahan. "Kenapa kau tidak memberitahuku hal ini sejak awal? Kenapa kau sembunyikan? Lalu bagaimana dengan gadis itu? Yang matanya merah, yang mengancamku waktu di taman? Eliana, kan namanya? Apa dia juga... sama sepertimu?"

"Dia... juga." akui Iago, suaranya hampir tak terdengar.

Yuki terdiam cukup lama, memproses semua informasi baru yang tiba-tiba membanjiri pikirannya. Akhirnya, dia duduk kembali di kursinya dengan berat, menatap Iago dengan tatapan yang kini lebih tajam. Iago tidak sanggup menahan tatapan itu; pandangannya terkunci pada serat-serat kayu di meja, tidak berani mengangkat kepala.

"Iago... Apa kamu tidak peduli sama sekali? Dengan teman-temanmu yang lain?" tanya Yuki, suaranya lembut. "Mereka pasti kesusahan di luar sana sekarang, kedinginan, kelaparan. Sama persis seperti keadaanmu saat pertama kali kita bertemu."

Apa-apaan gadis ini? pikir Otto dengan takjub bercampur sedikit geram di dalam hati. Dia berani memarahi Tuan Iago? Berani menyalahkannya seperti ini? Siapa dia sebenarnya?

"Yah, terakhir kali kami bertemu, keadaan mereka... baik-baik saja, setahuku." Iago menjawab setelah jeda yang panjang, berhati-hati memilih setiap kata yang keluar. "Aku pikir mereka sudah menemukan tempat yang layak. Tempat persembunyian yang cukup aman untuk bertahan."

Yuki menghela napas panjang dan berat, lalu memegangi dahinya dengan telapak tangan sambil menggeleng pelan. "Aku... Aku benar-benar tidak mengerti kalian berdua ini. Dan mungkin juga gadis bermata merah itu."

"Maaf," ucap Iago. "Aku memang egois. Aku hanya memikirkan diriku sendiri."

"Bukan hanya egois, Iago." Yuki mendekatkan wajahnya sedikit, matanya yang hijau menatap dalam-dalam ke mata Iago. "Aku merasa... kau sedang menyembunyikan sesuatu yang sangat besar. Sesuatu yang penting. Dari aku. Dari Edward."

Seketika, keheningan kembali menyelimuti ruangan. Jam dinding tua berdetak dengan keras, tetapi setiap bunyi "tik" terasa seperti pukulan palu kecil yang menyakitkan di pelipis.

"Menyembunyikan?" Kali ini, Iago mengangkat kepalanya perlahan. Dia membenarkan posturnya, duduk lebih tegak di kursi. Tatapannya kini berhadapan langsung dengan tatapan Yuki.

"Iya." Yuki tak gentar sedikit pun. Matanya yang tajam beralih ke Otto, yang kini membeku total dengan sendok masih di tangan, setengah jalan ke mulut. "Kenapa dia bisa melempar belati dengan begitu akurat waktu itu? Seperti prajurit yang terlatih selama bertahun-tahun. Dan kau bilang... kau bilang kau hanya 'mengajarinya sedikit'?" Kembali menatap Iago. "Apa kamu benar-benar hanya mengajarinya sedikit, Iago? Atau... ada sesuatu yang lain?"

1
Panda%Sya🐼
Benci? kerana apa itu, btw tadi aku bacanya Lego pas di baca lagi ternyata Lago 😭
Panda%Sya🐼: Astaga iyakah maaf ya Mungkin kerana huruf I L aku kira Lago /Pray//Facepalm/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!