NovelToon NovelToon
Kutukan Yang Ditulis Saat Hujan

Kutukan Yang Ditulis Saat Hujan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horror Thriller-Horror
Popularitas:666
Nilai: 5
Nama Author: Mawarhirang94

Malam itu hujan turun dengan derasnya, membasahi setiap sudut desa yang sepi dan terpencil. Di tengah derasnya air yang menembus tanah, seseorang menulis nama-nama di tanah basah—tanpa sadar, setiap huruf yang terbentuk membawa kutukan yang mengerikan.

Rina, seorang wanita muda yang baru pindah ke desa itu, menemukan catatan-catatan aneh yang tertinggal di halaman rumah barunya. Setiap malam hujan, suara bisikan menakutkan mulai terdengar, bayangan misterius muncul, dan orang-orang di sekitarnya mulai mengalami kejadian-kejadian mengerikan yang seolah dipandu oleh tulisan-tulisan itu.

Ketika Rina mencoba mengungkap misteri di balik kutukan tersebut, ia sadar bahwa tulisan-tulisan itu bukan sekadar simbol, melainkan catatan dendam dari arwah yang tak pernah tenang. Semakin ia menggali, semakin kuat kutukan itu menghantuinya—hingga akhirnya, ia harus menghadapi keputusan paling mengerikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Hujan Kembali, Arwah Baru

Hujan turun lagi tiga hari setelah ritual itu.

Bukan hujan biasa.

Rina sudah tahu sejak tetes pertama menyentuh atap seng rumahnya—bunyi itu berbeda. Lebih berat. Lebih dalam. Seolah bukan air yang jatuh, tapi sesuatu yang membawa ingatan.

Ia berdiri di dekat jendela, memandangi halaman yang perlahan kembali menjadi lumpur. Tanah basah itu seperti bernapas, menggelembung kecil di beberapa titik, sama persis seperti sebelum semua teror dimulai.

“Tidak… ini terlalu cepat…” bisiknya.

Sejak ritual Simbol Terlarang, desa memang sempat tenang. Tidak ada teriakan di malam hari. Tidak ada bayangan di balik jendela. Tidak ada nama yang muncul sendiri di tanah. Warga mulai berani keluar malam, anak-anak kembali bermain di jalanan, dan orang-orang mulai percaya bahwa kutukan telah berakhir.

Tapi Rina tidak pernah benar-benar percaya pada kata berakhir.

Ia merasakan sesuatu di dadanya sejak kemarin sore—seperti ada benang tipis yang ditarik dari dunia lain, mengikat jantungnya pelan-pelan. Tanda itu kini terasa lebih kuat, lebih dingin.

Rina mengambil jaket dan senter, lalu melangkah keluar rumah. Hujan langsung membasahi rambut dan wajahnya. Jalan tanah di depan rumah sudah mulai licin, dan di beberapa titik, air menggenang lebih cepat dari seharusnya.

Ia berjalan menuju gudang tua—tempat simbol itu masih tersembunyi di bawah papan dan karung-karung usang.

Setiap langkah terasa berat. Bukan karena lumpur, tapi karena perasaan diawasi.

Dan benar saja.

Di antara tirai hujan, Rina melihat sesuatu berdiri di bawah pohon asem besar di ujung jalan. Sosok itu tinggi, kurus, dan diam tak bergerak. Bajunya seperti seragam sekolah lama, kusam dan robek di beberapa bagian.

“Siapa…?” gumam Rina.

Sosok itu tidak menjawab.

Namun ketika kilat menyambar, Rina melihat wajahnya—pucat, dengan mata yang hitam seluruhnya, tanpa putih mata. Mulutnya sedikit terbuka, seolah ingin berbicara tapi tak punya suara.

Jantung Rina berdegup keras.

“Arwah baru…” bisiknya.

Sosok itu perlahan mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah tanah di depan kakinya sendiri.

Rina menunduk.

Dan di sana, di tanah basah yang baru saja tersiram hujan, mulai muncul goresan huruf. Seperti ditulis oleh jari tak kasatmata.

S

A

R

I

Nama itu selesai terbentuk tepat saat kilat berikutnya menyambar.

Rina mundur selangkah. “Sari…? Siapa Sari…?”

Sosok di bawah pohon itu perlahan menggeleng, lalu tubuhnya mulai memudar, bercampur dengan hujan dan kabut malam. Tapi sebelum benar-benar hilang, suara lirih masuk ke kepala Rina—bukan lewat telinga, tapi langsung ke pikirannya.

"Aku… belum ditemukan…"

Hujan makin deras.

Rina berjongkok, menyentuh tanah yang bertuliskan nama itu. Dingin. Terlalu dingin untuk sekadar tanah basah. Dan saat jarinya menyentuh huruf terakhir, kilatan ingatan asing menghantam kepalanya—

Seorang gadis berlari di malam hari.

Napas terengah.

Tangisan tertahan.

Dan suara air… banyak air…

Rina tersentak dan jatuh terduduk. Dadanya naik turun, napasnya berat.

“Bukan dari desaku…” gumamnya. “Ini… ini arwah dari luar…”

Itu berarti satu hal yang sangat buruk.

Simbol Terlarang bukan hanya membangunkan yang lama—ia juga memanggil yang baru.

Dengan tangan gemetar, Rina menutup tulisan di tanah itu dengan jaketnya, seolah ingin menghentikan hujan menambah bentuk huruf-huruf lain. Ia menatap ke arah gudang tua.

Jika arwah baru mulai datang… maka pekerjaannya belum selesai. Bahkan mungkin… baru saja dimulai dengan cara yang lebih mengerikan.

Di kejauhan, terdengar suara seperti langkah kaki di lumpur. Bukan satu. Bukan dua.

Banyak.

Rina berdiri perlahan, jantungnya berdegup semakin cepat.

Dan di balik tirai hujan, satu per satu, bayangan baru mulai bermunculan.

Rina tidak langsung pulang.

Langkah-langkah di balik hujan itu masih terngiang di telinganya, meski ia tahu kemungkinan besar itu hanya suara air dan lumpur. Tapi instingnya—insting yang terbentuk sejak ritual simbol terlarang—berteriak bahwa malam ini tidak akan berlalu dengan damai.

Ia melangkah cepat menuju gudang tua. Hujan membuat jarak terasa lebih panjang, lebih berat. Setiap kilat yang menyambar menyingkap bayangan-bayangan aneh di dinding rumah warga—bayangan yang sejenak tampak seperti manusia, lalu kembali menjadi bentuk biasa.

Saat sampai di gudang, Rina langsung mendorong pintu kayu yang berderit keras. Bau lembap dan tanah basah menyeruak. Di dalam, lampu minyak kecil yang ia tinggalkan masih ada, tapi cahayanya redup, seperti hampir padam.

Ia menyalakannya kembali.

Di lantai, papan-papan penutup simbol masih utuh. Tapi… ada bekas lumpur di atasnya. Jejak kaki kecil.

“Tidak mungkin…” bisik Rina.

Jejak itu mengarah ke sudut ruangan, lalu… menghilang. Seolah pemiliknya lenyap begitu saja.

Rina menelan ludah dan membuka penutup papan sedikit demi sedikit. Simbol terlarang di bawahnya masih ada—garis-garisnya samar, tapi terasa berdenyut, seperti nadi yang belum mati.

Dan tepat di tepi lingkaran simbol itu…

Muncul satu nama baru.

Ditulis dengan lumpur yang masih basah.

S A R I

Rina terduduk lemas. “Kau… sudah sampai sejauh ini…”

Udara di dalam gudang mendadak terasa lebih dingin. Nafasnya mengembun tipis. Lalu terdengar suara isak tangis pelan. Bukan dari luar. Dari dalam gudang.

Rina berdiri perlahan, senter di tangannya bergetar. “Sari…?”

Di sudut ruangan, dekat tumpukan karung beras lama, bayangan seorang gadis perlahan terbentuk. Rambutnya panjang, basah, menempel di wajahnya. Seragam sekolahnya lusuh, bagian bawahnya seperti terus meneteskan air.

Tapi yang paling membuat Rina menggigil…

Kakinya tidak menyentuh lantai.

“Aku… dingin…” suara itu seperti berbisik di dalam kepala Rina, bukan di telinganya.

Rina menahan napas. “Kau siapa? Kenapa namamu muncul di sini?”

Arwah itu mengangkat wajahnya. Matanya kini tidak sepenuhnya hitam, tapi kosong, seperti sumur tanpa dasar.

“Aku… ditinggalkan…”

Kilatan ingatan kembali menghantam Rina. Kali ini lebih jelas:

Sebuah jembatan kecil.

Hujan deras.

Suara pertengkaran.

Dan seorang gadis jatuh… atau didorong… ke sungai yang meluap.

Rina terhuyung dan memegang dinding gudang. “Kau… mati di air…”

Arwah Sari mengangguk pelan. Rambutnya bergerak seolah masih terendam.

“Namaku… tidak pernah ditulis… tidak pernah dicari…”

Rina menatap simbol di lantai. Dadanya terasa sesak. Ia mulai mengerti.

Simbol terlarang tidak hanya mengikat arwah lama. Ia memanggil arwah-arwah yang kematiannya dilupakan.

“Kenapa kau datang ke sini?” tanya Rina lirih.

Sari menoleh ke lingkaran simbol. “Karena… kau bisa menulis…”

Sekejap, pintu gudang terbanting sendiri. Lampu minyak bergetar hebat. Angin dingin berputar di dalam ruangan, membawa bisikan-bisikan lain—bukan hanya satu suara.

Banyak.

Rina memejamkan mata. Ia tahu suara-suara itu. Ia pernah mendengarnya sebelum ritual.

Arwah-arwah lain mulai menyadari keberadaannya.

Sari mundur perlahan, tubuhnya mulai kabur. “Aku… akan menunggu…”

“Menunggu apa?” tanya Rina cepat.

“Namaku… ditulis dengan benar…”

Lalu sosok itu menghilang, meninggalkan bau air sungai dan dingin yang menusuk tulang.

Gudang kembali sunyi. Terlalu sunyi.

Rina terduduk di lantai, menatap nama “SARI” di tepi simbol. Tangannya gemetar.

“Kalau aku menuliskanmu…” bisiknya, “apa yang akan terjadi pada dunia ini…?”

Di luar, hujan belum berhenti. Dan di balik suara hujan itu, Rina bisa merasakan sesuatu yang mengerikan sedang bergerak—bukan hanya satu arwah, tapi banyak, semuanya mulai menemukan jalan ke tanah basah ini.

Dan ia… adalah pintu mereka.

1
anggita
woouu serem juga😯. like iklan👍☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!