NovelToon NovelToon
DIPANGGIL KE DUNIA LAIN UNTUK MENJADI RAJA IBLIS LEON KE-9

DIPANGGIL KE DUNIA LAIN UNTUK MENJADI RAJA IBLIS LEON KE-9

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Fantasi Isekai / Sistem
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lorenzo Leonhart

✨Rilis episode setiap hari Senin, Rabu, Jum'at, pukul 19.00 wib, dan Minggu Pukul 07.00 wib.


Di dunia lamanya Ren Akasa adalah pria kantor yang di perlakukan buruk oleh atasan dan juga rekan kerjanya.

Tekanan kerjaan yang gila, gaji yang sering di tunda juga rekan kerja yang manipulatif. Suatu ketika ia di tarik ke dunia lain, BUKAN untuk menjadi PAHLAWAN melainkan untuk menjadi RAJA IBLIS.

Antara menjadi penyelamat yang bijak, atau menjadi penguasa tirani yang dingin, mengingat selama hidupnya di dunia nyata ia diperlakukan bagai pecundang.

dengan kekuatan yang Ren miliki, apakah dunia lain akan menjadi pelampiasannya akibat perlakuan dari dunia lamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorenzo Leonhart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Runtuhnya Kesombongan Cahaya

Gema benturan antara pedang Exaltation milik Arthur dan perisai emas Zosma masih menyisakan getaran frekuensi tinggi yang memekakkan telinga. Uap panas membubung dari titik benturan, menciptakan kabut putih yang berbau logam terbakar. Di tengah kepulan uap itu, sosok Zosma berdiri seperti gunung karang yang menentang badai.

Arthur von Phoenix terengah-engah. Matanya yang biru jernih kini dipenuhi keraguan. Tangannya yang memegang gagang pedang bergetar hebat bukan karena takut, melainkan karena syok kinetik yang ia terima dari perisai Zosma. Serangan terkuatnya, Phoenix Slash , yang biasanya mampu membelah gerbang kota dalam sekali tebas, kini tertahan oleh satu individu.

"Bagaimana mungkin..." bisik Arthur. "Kau hanyalah iblis. Dari mana kau mendapatkan kekuatan suci seperti ini?"

Zosma menurunkan sedikit perisainya, memperlihatkan wajahnya yang penuh dengan garis-garis emas yang bercahaya. "Ini bukan kekuatan suci seperti yang kau banggakan, Manusia. Ini adalah kehendak yang diberikan oleh Tuan Leon. Selama ia menginginkanku menjadi dinding, maka tidak akan ada satu pun bilah pedang di dunia ini yang bisa menembusku."

Zosma kemudian menghentakkan kakinya ke tanah.

"Active Skill: Roar of Delta Leonis!"

Sebuah gelombang suara keemasan meledak dari tubuh Zosma. Gelombang itu tidak hanya mendorong mundur Arthur secara paksa, tetapi juga menyapu bersih kabut di sekitar mereka dalam radius lima puluh meter, memperlihatkan pemandangan mengerikan yang sedang terjadi di belakang sang Pahlawan Suci.

Tanpa kabut yang menutupi, pemandangan di jalan setapak rawa itu terlihat seperti neraka bagi pasukan Arthemis. Pasukan kavaleri berat yang tadinya menjadi kebanggaan kerajaan kini hancur lebur. Kuda-kuda perang mereka terjebak hingga ke perut di dalam lumpur hisap yang diciptakan oleh sihir Valeria.

Di sela-sela kekacauan itu, sosok-sosok putih pucat bermunculan dari balik air rawa yang keruh. Pasukan kerangka Shallan menyerang dengan presisi yang mematikan. Mereka tidak menyerang zirah bagian dada yang tebal, melainkan mengincar celah di leher dan ketiak para ksatria yang sedang berjuang keluar dari lumpur.

Shallan sendiri berdiri di atas salah satu bangkai kuda, matanya berkilat haus darah. Ia bergerak seperti bayangan merah yang melompat dari satu ksatria ke ksatria lainnya. Setiap kali kuku tajamnya menyentuh kulit musuh, energi kehidupan mereka tersedot seketika, membuat tubuh para ksatria itu mengkerut seperti mumi sebelum akhirnya jatuh ke dalam rawa.

"Jangan biarkan satu pun dari mereka kembali ke daratan kering!" teriak Shallan dengan nada riang yang menyeramkan. "Berikan darah mereka pada tanah Vargos!"

Di kejauhan, para penyihir cahaya Arthemis mencoba merapalkan mantra penyembuhan dan pemurnian, namun setiap kali lingkaran sihir mereka terbentuk, sebuah bola api hijau atau panah es hitam melesat dari arah kastil, menghancurkan konsentrasi mereka.

Valeria berdiri di balkon kastil dengan tumpukan gulungan sihir yang mengambang di sekelilingnya. Jari-jarinya bergerak seperti konduktor orkestra, memicu satu per satu jebakan sihir yang sudah ia tanam sebelumnya.

"Terlalu lambat! Terlalu lemah!" Valeria mendengus sombong. "Kalian menyebut diri kalian elit? Di akademiku dulu, murid tingkat satu pun memiliki pertahanan mana yang lebih baik dari kalian."

Valeria menarik sebuah gulungan besar berwarna ungu tua. "Mari kita lihat bagaimana kalian menangani ini. Tier 6 Magic: Abyssal Chains!"

Dari bawah air rawa, rantai-rantai besi hitam yang dialiri petir ungu mencuat keluar, mengikat kaki dan tangan para ksatria yang mencoba mundur. Mereka tersengat listrik dan tenggelam perlahan, ditarik ke dasar rawa oleh berat zirah mereka sendiri.

Dari puncak menara, Ren Akasa memperhatikan semuanya melalui antarmuka Sistem yang melayang di depan matanya. Data demi data mengalir dengan cepat.

[Informasi Musuh: Pasukan Kavaleri Arthemis - Status: Hancur (65% Korban Jiwa)]

[Informasi Musuh: Arthur von Phoenix - Status: Frustrasi / MP Menurun (40%)]

[Peringatan: Deteksi Energi Suci Skala Besar terdeteksi dari garis belakang musuh.]

Ren mengerutkan kening. "Mereka masih punya kartu as."

Ia menoleh ke arah Mika yang setia berdiri di sampingnya. "Mika, perintahkan pasukan Lizardman Gorn untuk mulai menembakkan panah api ke arah gudang logistik mereka di seberang gerbang teleportasi. Kita tidak boleh membiarkan mereka mengatur ulang formasi."

"Dimengerti, Tuan Leon," Mika menghilang dalam sekejap, menyisakan kepulan asap tipis.

Ren kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke Arthur. Ia bisa melihat Pahlawan Suci itu mulai menggumamkan sesuatu yang tidak biasa. Tubuh Arthur mulai mengeluarkan percikan api putih yang sangat menyilaukan.

[Sistem: Bahaya! Musuh menggunakan Sacrifice of the Sun. Arthur sedang membakar sisa umurnya untuk mendapatkan kekuatan dewa sementara.]

"Zosma! Mundur sepuluh langkah dan aktifkan pertahanan absolut!" perintah Ren melalui transmisi mental.

Zosma, tanpa bertanya sedikit pun, langsung melakukan apa yang diperintahkan. Ia menancapkan perisainya lebih dalam dan berjongkok di baliknya.

Di depan sana, Arthur meledak dalam pilar api putih yang membumbung hingga menembus awan. "Aku tidak akan kalah di sini! Untuk Arthemis! Untuk Cahaya!"

Arthur melesat. Kali ini, ia tidak lagi menyentuh tanah. Ia terbang seperti komet putih, menabrak perisai Zosma dengan kekuatan yang sepuluh kali lipat lebih besar dari sebelumnya.

BOOM!

Ledakan itu sangat besar hingga menghancurkan jalan setapak batu di bawah kaki Zosma. Rawa di sekeliling mereka menguap seketika, meninggalkan lubang besar yang kering dan retak-retak. Zosma terdorong mundur, perisai emasnya mulai menunjukkan retakan kecil, dan darah mulai mengalir dari sudut bibirnya.

"Tuan... Leon..." Zosma mengerang, menahan beban yang seolah-olah beratnya seperti satu buah planet.

Di Aetherial Sanctum, keheningan yang abadi terus terjaga. Wanita berambut perak itu masih duduk di takhtanya, namun kali ini posisinya sedikit condong ke depan. Matanya yang lembut terpaku pada layar bola kristal yang menampilkan Zosma yang sedang kesulitan menahan serangan Arthur.

Jemari lentiknya menyentuh permukaan bola kaca tepat di posisi Ren Akasa berada. Sebuah senyuman tipis muncul di wajahnya yang tenang, bukan senyuman karena senang melihat kehancuran, melainkan senyuman penuh harapan.

Ia melihat Ren sedang mengepalkan tangannya, siap untuk turun tangan sendiri. Baginya, momen ini adalah momen krusial di mana Ren harus membuktikan bahwa ia bukan sekadar "pengganti", melainkan pemimpin yang sanggup melampaui takdir yang diberikan kepadanya.

Tanpa sepatah kata pun, sang Dewi memberikan sebuah "dorongan" kecil melalui jalinan takdir. Ia tidak mengubah hukum dunia, ia hanya memperjelas jalan bagi Ren untuk menggunakan kekuatannya secara maksimal. Cahaya di dalam Sanctum sedikit meredup saat ia mengalirkan sedikit energinya ke dalam sistem yang terhubung dengan Ren.

Kebangkitan Sang Raja: Mode Regulus

Ren merasakan sebuah getaran hangat mengalir dari ubun-ubunnya hingga ke ujung kaki. Tiba-tiba, jendela Sistem di depannya berubah warna dari biru menjadi emas murni.

[Sistem: Sinkronisasi dengan Inti Vargos mencapai 100%.]

[Skill Unik Terbuka: Domain of the Lion King.]

[Efek: Seluruh jenderal rasi bintang mendapatkan pemulihan HP/MP instan dan peningkatan status sebesar 200% selama 10 menit.]

Ren tidak membuang waktu. Ia melompat dari balkon menara setinggi tiga puluh meter. Jubah merahnya berkibar seperti sayap naga. Saat ia berada di udara, ia mengulurkan tangannya ke arah Zosma.

"Zosma! Bangun! Dinding kerajaanku tidak boleh retak oleh api kecil seperti itu!" teriak Ren.

Sebuah berkas cahaya emas meluncur dari Mahkota Vargos di kepala Ren, menghantam punggung Zosma. Seketika, retakan di perisai emas itu menutup kembali. Tubuh Zosma membengkak lebih besar, dan auranya kini berubah dari kuning menjadi emas kemerahan yang intens.

Zosma meraung hebat, suaranya meruntuhkan nyali para ksatria Arthemis yang tersisa. Dengan satu dorongan bahu yang sangat kuat, ia melemparkan Arthur kembali ke udara.

"Sekarang, giliranku" ucap Zosma dengan suara yang bergema seperti guntur.

Ren mendarat di tanah dengan tenang tepat di belakang Zosma. Ia berdiri di tengah-tengah kekacauan rawa, menatap Arthur yang sedang melayang di udara dengan tatapan dingin. Di belakang Ren, empat pelindung dalam kastil kini juga muncul dari bayang-bayang.

Behemoth berlari keluar dari gerbang kastil, setiap langkahnya membuat tanah bergetar.

Alice melayang di samping Ren, dengan ekspresi haus darah. "Tuan Leon, bolehkah aku meminum darah pahlawan itu? Baunya sangat manis karena ia sedang membakar jiwanya."

Kagehisa berdiri dengan pedang terhunus, auranya yang hitam pekat mulai menelan sisa-sisa api putih milik Arthur.

Silas mengangkat tangannya, dan dari balik lumpur rawa, para ksatria Arthemis yang baru saja tewas mulai bangkit kembali, namun kali ini mata mereka bersinar hijau gelap, siap menyerang mantan rekan-rekan mereka.

Arthur von Phoenix mendarat dengan tidak stabil. Nafasnya pendek-pendek, dan api di tubuhnya mulai meredup. Ia melihat sekelilingnya dan menyadari bahwa ia sendirian. Seluruh pasukannya telah binasa atau berubah menjadi mayat hidup. Di hadapannya berdiri sang Raja Iblis Leon bersama para jenderalnya yang mengerikan.

"Ini... ini mustahil..." Arthur bergumam gemetar. "Kebenaran tidak mungkin kalah dari kegelapan..."

Ren berjalan maju, selangkah demi selangkah. Setiap langkahnya membuat sisa-sisa api di tanah padam. "Kau salah satu hal, Arthur. Ini bukan tentang kebenaran atau kegelapan. Ini tentang siapa yang memiliki tekad paling kuat untuk melindungi apa yang mereka miliki."

Ren mengangkat tangan kanannya, dan sebuah pedang yang terbuat dari Mana emas murni terkonsentrasi di tangannya ini adalah pedang Regulus.

"Dan kau, telah datang ke rumahku untuk mencoba merampasnya. Jadi, jangan harap kau bisa pulang dengan kepala masih terpasang di bahumu."

Arthur mencoba melakukan serangan terakhir. Ia memusatkan seluruh sisa Mana-nya ke ujung pedang Exaltation. "Hancurlah kau, Iblis!"

Ia melesat maju dalam satu garis lurus yang putus asa. Namun, sebelum ia sampai ke arah Ren, Kagehisa tiba-tiba muncul di antara mereka dalam sekejap mata.

SHRING!

Satu tebasan kilat dari katana hitam Kagehisa memotong pergelangan tangan kanan Arthur. Pedang Exaltation jatuh ke lumpur, kehilangan cahayanya seketika.

"Aaaaaakh!" Arthur menjerit memilukan sambil memegang lengannya yang buntung.

Ren berdiri di depan Arthur yang kini berlutut di lumpur. Ren menatapnya tanpa rasa benci, hanya ada rasa dingin yang pragmatis.

"Silas," panggil Ren.

"Ya, Tuan Leon?" Silas mendekat dengan senyum mengerikannya.

"Jangan bunuh dia dulu. Aku ingin kau mengekstrak semua informasi tentang pertahanan Kerajaan Arthemis dari kepalanya. Setelah itu... kau bebas melakukan apa saja pada tubuhnya."

"Dengan senang hati, Tuan Leon. Seorang Pahlawan Suci akan menjadi tambahan koleksi yang sangat istimewa," Silas tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti gesekan tulang.

Ren berbalik, menatap kastil Vargos yang masih berdiri kokoh di balik kabut. Ia tahu ini baru permulaan. Arthemis akan mengirimkan lebih banyak pahlawan, lebih banyak pasukan, dan mungkin suatu saat, ia akan bertemu dengan lawan yang tidak bisa ia kalahkan. Tapi untuk saat ini, Vargos telah menang.

[Sistem: Misi Utama Selesai - Pertahanan Kedaulatan Vargos.]

[Hadiah: Level Up (Ren Akasa Lv 45 -> Lv 52).]

[Hadiah: Peningkatan Peringkat Wilayah (Rawa Terkutuk -> Wilayah Berdaulat Iblis).]

[Pesan Rahasia: Seseorang dari kejauhan sangat bangga padamu.]

Ren terhenti sejenak saat membaca pesan rahasia di layar sistemnya. "Seseorang?" gumamnya. Ia menatap ke arah langit yang mulai cerah, bertanya-tanya siapa sebenarnya yang memberikan bantuan ini kepadanya. Namun, pikiran itu segera ia tepis. Baginya, yang terpenting adalah mempersiapkan Vargos untuk perang yang lebih besar di masa depan.

Epilog : Kabar yang Tersebar

Berita tentang kekalahan memalukan Arthur von Phoenix dan kehancuran total pasukan elit Arthemis menyebar ke seluruh benua Aetheria dalam hitungan hari. Nama "Raja Iblis Leon" yang tadinya hanya dianggap sebagai rumor rawa, kini menjadi nama yang membangkitkan ketakutan di hati para raja manusia.

Di ibu kota Arthemis, dewan tetua berkumpul dalam kepanikan. Mereka tidak percaya bahwa seorang Pahlawan Suci Level 85 bisa dikalahkan begitu mudah.

"Kita harus mengirimkan 'Tiga Bintang Suci'!" salah satu menteri berteriak.

"Tidak, itu terlalu berisiko. Kita harus mempelajari kekuatan mereka dulu," bantah yang lain.

Sementara itu, di Aetherial Sanctum, sang Dewi perlahan bangkit dari takhtanya. Ia berjalan menuju tepi awan, menatap ke bawah ke arah dunia fana.

"Perjuanganmu baru saja dimulai, Ren Akasa," bisiknya halus. "Teruslah tumbuh, sebelum musuh yang sebenarnya menyadari keberadaanmu."

Bersambung.

1
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
kykny....si mantan pahlawan idiot itu
Frando Wijaya
mah....spapun pasti sulit bertahan....apalg....lbh sulitny...tahan emosi
Frando Wijaya
gantz? gw merasa sedikit familiar
Frando Wijaya
trauma ya?...yah..gk heran sih...tpi utk anakny....gw gk Tau msh hidup atau dh mati
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
nee Thor...gw ingin Tanya...raja iblis ke 1 sampe 8.... apakh...dewi yg nonton itu...dh Tau?
Frando Wijaya
hmph 🙄...idiot asli
Frando Wijaya
hmph 🙄....dh mirip seperti raja iblis sebelomny
Lorenzo Leonhart
Jangan lupa rate bintang 5 nya ya kawan ✨ makasih sebelumnya 🙏🏻 ❤️❤️
Lorenzo Leonhart
Jangan lupa rate bintang 5 nya ya kawan ✨ makasih sebelumnya ✨❤️
Lorenzo Leonhart
Jangan lupa rate bintang 5 nya ya kawan ✨ makasih sebelumnya 🙏🏻 ❤️
Lorenzo Leonhart
Jangan lupa rate bintang 5 nya ya kawan ✨ makasih sebelumnya 🙏🏻
Lorenzo Leonhart
Jangan lupa rate bintang 5 nya ya kawan, biar aku makin semangat ✨
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Lorenzo Leonhart: siaap💪
total 1 replies
Frando Wijaya
jd begitu....alasan jd kejam gara2 mahkota itu ya? bner2 berbahaya
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩...sgt seru Thor
Frando Wijaya
itulh gw anggap mereka gagal
Frando Wijaya
sesuai dugaan saintess....bch tengkik ini penghancur
Frando Wijaya
di anggap NPC bneran wkwkwkwkwkwkwk 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!