"Fania, kamu tahu pernikahan ini hanya sebuah formalitas saja. Aku harap kamu merelakan aku untuk menikah dengan Zelina." __ Raditya Mahardika.
"Mas, beri aku 30 hari saja untuk mengabdi sebagai istri yang Solehah untukmu. Aku hanya ingin mewujudkan wasiat Ayah. Setelah itu, kamu berhak menceraikan aku, dan kamu bisa menikah dengan wanita itu."
Hidup Raditya Mahardika kacau sejak dijodohkan dengan Fania Azalea. Semua terjadi karena Raditya mempunyai wanita idaman lainnya.
Fania Azalea meminta waktu agar dirinya bisa mewujudkan wasiat mendiang Ayahnya. Dia ingin menjadi seorang istri yang baik untuk suaminya. Namun, takdir berkata lain. Raditya justru ingin menikah lagi dengan wanita pujaan hatinya. Dia ingin berpoligami dan meminta Fania untuk menyetujui niatnya.
Baca selengkapnya di sini!
Follow IG : romansa_love94
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romansa Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 12 (Kenyataan Pahit)
Hari bahagia Raditya dan Zelina telah tiba. Mereka sudah siap di bandara untuk terbang ke Turki. Rencana mereka tidak diketahui oleh keluarga besar karena Raditya pamit pada Ibunya untuk berbulan madu. Dua koper besar sudah berada di bandara. Begitu juga dengan Fania, dia sedang berdiri diam di belakang suami dan calon madunya.
Zelina terus mengobrol dengan Raditya untuk mencegah interaksi dengan Fania. Wanita itu sengaja memprovokasi agar Fania cemburu. "Sayang, nanti aku mau duduk dekat kamu saja. Pokoknya aku tidak mau jauh darimu. Soalnya kalau kecapekan nanti takutnya aku bisa sakit."
"Iya, aku sudah mengatur tempat duduk untuk kita berdua, kamu sama aku saja. Pokoknya kamu jangan sampai kelelahan, agar acara kita bisa berjalan dengan lancar," balas Raditya dengan suara yang sangat lembut.
Fania tidak menghiraukan mereka berdua, dia tengah fokus dengan bacanya. Meski berkali-kali dia harus menarik napas dalam untuk menetralkan rasa sesak di dadanya akibat obrolan itu. Setengah jam menunggu, sudah tiba waktunya bagi mereka untuk check in. Antrian panjang sudah mereka lalui. Selanjutnya, mereka masuk ke boarding untuk mencari gate pesawat.
Raditya dan Zelina jalan di depan dengan bergandengan mesra. Sementara itu, Fania berjalan di belakang mereka dengan sangat santai. Dia sedang menikmati musik yang diputar. Kurang lebih lima belas menit mereka sampai di gate tempat pesawat mereka berada. Fania duduk dengan santai dan kembali membuka bukunya.
Di tengah ramainya orang yang berlalu lalang, kedua mata Raditya melirik ke arah istrinya yang sedang fokus membaca. Dia membatin dalam hati tentang sikap acuh Fania. "Bagaimana bisa dia menjadi setenang itu? Apa dia benar-benar tidak mempedulikan hal di sekitarnya?"
Fania sadar jika sedang diperhatikan oleh suaminya, dia sengaja acuh dan berpura-pura tidak melihat. Setengah jam menunggu, sudah saatnya masuk pesawat. Fania berdiri dan segera antri di belakang penumpang yang lainnya. Raditya dan Zelina duduk di kelas bisnis, sedangkan Fania duduk di kelas ekonomi. Hal itu tidak menjadi masalah baginya, toh duduk di mana saja tetap sama saja.
Raditya dan Zelina masuk duluan, selang beberapa menit giliran Fania yang masuk. Dia berjalan pelan sambil mencari nomor tempat duduknya. Akhirnya dia mendapatkan tempat tepat di bagian sayap pesawat. Semua duduk di tempatnya masing-masing, Pramugari masih sibuk membantu para penumpang lainnya.
Fania duduk dengan tenang, di sampingnya juga ada ibu-ibu yang menemaninya. Suara awak kabin terdengar merdu memberikan panduan dan aturan saat berada di dalam pesawat. Perjalanan kali ini akan ditempuh kurang lebih 13 jam lamanya. Waktu yang sangat panjang dan lama hanya untuk mendukung kepentingan orang lain.
Pesawat sudah mulai berjalan, Fania memposisikan duduknya agar terasa nyaman. Dia mencoba untuk memejamkan mata agar bisa tidur dalam perjalanan. Dari sudut lain, terlihat seseorang sedang memerhatikan Fania. Sorot matanya terlihat sendu seakan ikut dalam kesedihan yang dialaminya.
Beberapa jam berlalu, sudah saatnya makan malam. Fania dibangunkan oleh salah satu pramugari. Gadis bercadar itu bangun dan menerima kotak makanannya. Sepertinya dia sedang tidak nafsu makan. "Belum lapar aku. Apa perjalanan masih lama? Lelah sekali rasanya," gumam Fania dan disahut oleh seseorang yang ada di sampingnya.
"Perjalanan masih panjang, lebih baik Mbaknya makan. Apalagi cuaca tiba-tiba menjadi buruk, mungkin akan memakan waktu yang lama," sahut orang itu hingga membuat Fania menoleh.
"Anda siapa? Bukannya tadi, yang duduk di sini adalah Ibu-ibu?" tanya Fania heran.
"Ibu-ibu yang ada di sini tadi pindah tempat ke sana karena ingin dekat dengan suaminya," jawab orang itu santai, dia menunjuk ke arah tempat duduk bagian tengah,
Fania tidak mempermasalahkan lagi, dia bersiap makan meskipun terasa malas. Sementara itu, orang di samping Fania terus melirik dan memperhatikan. Dia tidak ingin kehilangan momen tersebut. Selesai makan kondisi pesawat mulai gelap lagi, guncangan keras terasa semakin keras menandakan cuaca buruk masih berlangsung. Tasbih digital terus ditekan oleh jari Fania, dia terus berdzikir agar selalu diberikan keselamatan.
Jantung Fania bedegup kencang saat guncangan pesawat sangat sering terjadi. Dia tidak bisa duduk dengan tenang hingga ada satu kilatan terang menyambar di sisi samping pesawat. "AllahHuAkbar, Astagfirullah." Fania berteriak kaget sambil mencengkeram lengan orang di sampingnya.
"Mbak takut? Mau pindah tempat duduk biar tidak dekat dengan jendela?" tanya orang itu membuat Fania malu, karena dia memegang tanpa izin.
Fania langsung melepas pegangan tangannya. Dia kembali ke tempat duduknya dan merasa malu dengan apa yang dia lakukan. "Maaf, sudah sembarang memegang. Saya hanya takut gelap saja. Tidak apa-apa, saya akan mencoba untuk tidur saja."
Suasana semakin canggung, Fania menahan rasa takutnya dengan berusaha agar tertidur. Orang di samping Fania hanya menghela napa panjang. Dia sangat menyayangkan sikap pria yang menyiakannya. "Aku sudah betekad untuk merebutmu darinya. Aku akan membuatnya menyesal telah membuatmu menderita, Fania. Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya, tapi sejak malam itu aku sadar jika aku memang jatuh cinta pada pandangan pertama. Fania, kerlingan matamu itu sungguh memikat hati ini. Kamu selalu menjaga pandangan matamu pada semua hal. Dan itulah yang membuatku kagum."
13 jam sudah berlalu, pesawat mendarat dengan aman di bandara Turki. Fania bangun dari tidurnya, dia sedikit bingung karena kursi di sampingnya sudah kosong. "Aku ingin melaluinya dengan cepat. Semoga aku bisa kuat dalam menjalani ujian ini. Bismillah, kuserahkan semuanya padamu, Ya Allah."
Fania keluar dari pesawat, setelah melewati imigrasi, dia menuju ke tempat koper. Ternyata kopernya sudah turun dari tempatnya."Siapa yang mengambilkan? Apa Mas Radit? Ahhh ... Itu tidak mungkin," batinnya ragu.
Dalam langkah pelan, Fania berjalan sambil menarik kopernya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan suaminya. "Di mana mereka berdua? Apa aku ditinggal sendiri? Hotel ini di mana tempatnya? Untung bisa bahasa inggris, jadi aku tidak akan tersesat."
Fania menghentikan taksi, dia akan mencari hotel itu sendiri. Sebelum berangkat, Raditya sudah memberitahu tempat penginapannya. Jadi dia akan mencarinya sendiri tanpa mempedulikan mereka berdua. Sepanjang perjalanan, Fania menikmati pemandangan sekitar yang cukup indah. Dia mengabadikan momen tersebut sambil tersenyum miris.
Kurang lebih lima belas menit taksi berhenti di depan hotel tempat menginap. Fania turun sambil membawa kopernya, saat tiba di resepsionis, dia melihat suaminya bersama dengan Zelina. Mereka melihat dengan tatapan sinis. "Lelet sekali, apa kamu sengaja melakukannya? Atau kamu tidak bisa mencari tempat ini?"
Fania hanya melirik saja, dia menjawab dengan sinis. "Aku memang orang desa, tapi aku bukan orang bodoh yang tidak bependidikan. Meki di negara orang, aku bisa mencari tempat asal tau alamatnya."
"Kamu beraninya ...." Zelina ingin mendorong Fania, tapi langsung dicegah oleh Raditya.
"Sudah jangan bertengkar di sini. Ayo kita ke atas," ucap Raditya sambil menarik tangan Zelina. Sementara itu, Fania segera registrasi ulang agar mendapatkan kartu hotel. Dia bisa melakukannya sendiri sehingga tidak membutuhkan bantuan.
Setelah mendapatkan kamar, Fania segera pergi dari sana sambil menarik kopernya. Tidak lama kemudian, datanglah seseorang yang sejak tadi mengikuti Fania dari belakang. "Saya memesan kamar di samping wanita tadi. Nama saya Devan Anggara."
.ambil sapu ato apa kh gitu hantamkan ke kepalanya biar kapok...jd laki kok g jelas siram pake karbol sj..lagian mau mau nya nunggu smpe 30 hr..bisa mati kamu mun lemah kya itu😡😡