NovelToon NovelToon
Santa, The Reedemed Killer

Santa, The Reedemed Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Horror Thriller-Horror / TKP / Psikopat / Pembunuhan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: YoshuaSatrio

Seorang pria tua, mantan narapidana, harus berusaha mencari kebenaran dari rentetan pembunuhan yang menyeret namanya.

"Aku masih tak mengerti, apa motif si pembunuh dengan menjadi peniru?"

"Tapi pembunuh kali ini, dia tampak lebih cerdas. dia sudah memikirkan dengan matang semua langkahnya."

"Kurasa bukan peniru, tapi memang dia sendiri pelakunya, dia... Santaroni ingin mengulang pembunuhannya dengan lebih sempurna."

Mampukah Santaroni—si residivis, membuktikan pertobatannya, dan menemukan pelaku pembunuhan yang telah meniru jejaknya?

note: mungkin akan ada beberapa adegan keji, mohon bijak saat membaca. ingat: 'ini hanya cerita karangan, jika ada kesamaan nama tokoh dan situasi, hanya kebetulan yang sengaja dibetul-betulkan.'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teka-teki Masa Lalu yang Rumit

Kesunyian kembali mengudara di ruangan mewah yang gelap dan mencekam. Para gadis tawanan semakin lemah dalam bilik masing-masing, hanya bisa menunggu nasib yang tidak pasti.

Khalila mencoba bangun, menajamkan pendengarannya, untuk memastikan pria kejam itu sedang tak ada di sana. Setelah yakin bahwa tidak ada bahaya, dia memberanikan diri menyapa.

"Hei kalian!" serunya, suaranya pelan tapi tegas.

Seorang gadis yang berada di bilik nomor tujuh, tepat di sisi Khalila, menoleh lemah sambil terbaring. Wajahnya yang pucat, bibirnya yang kering, menunjukkan dia telah dikurung setidaknya lebih dari empat hari. Tatapan gadis itu terlihat sayu dan tak bertenaga.

Gadis di bilik nomor lima pun menoleh ke arah Khalila, kemudian menggeleng tegas dengan mulut terkatup, seolah ia ingin memberi isyarat agar Khalila diam.

Khalila mengernyit, ia benar-benar tak mengerti.

"Kalian... Apa tak mencoba cari cara keluar dari sini?" tanyanya, suaranya masih pelan tapi penuh dengan rasa ingin tahu.

Gadis lain pun menggeleng keras, dengan ekspresi takut yang sangat kentara. Khalila semakin tidak mengerti, tapi dia tahu bahwa dia harus berhati-hati.

"Ada apa?" tanyanya lagi, kali ini dengan suara yang lebih pelan.

Dan benar, kemudian terdengar seseorang membuka pintu. Seketika para gadis yang tersisa kembali merebahkan diri membelakangi Khalila, seolah tak ingin terlibat dengan percakapan apapun. Sedangkan Khalila melirik ke arah pintu, jantungnya berdetak kencang.

Pria keji itu masuk ke ruangan mewah dengan ekspresi marah yang sangat kentara. Wajahnya memerah, urat-urat lehernya menonjol dan dengan tatapan tajam memandang sekeliling ruangan, dari satu gadis ke gadis yang lain.

Saat dia melihat Khalila, dia berhenti sejenak, kemudian melangkah ke arahnya dengan cepat. Khalila menatap ke arahnya dengan rasa takut, tapi dia mencoba untuk tidak menunjukkan kelemahan.

Pria keji itu berhenti di depan bilik Khalila, matanya menatap ke dalam dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca. Kemudian, dia membuka pintu bilik dengan kasar, membuat Khalila terkejut.

"Kamu, kamu yang berbicara!" serunya, suaranya keras dan marah. "Kamu pikir kamu bisa melawan aku? Kamu pikir kamu bisa keluar dari sini?"

Khalila memberanikan diri balas menatap ke arahnya dengan mata yang lebar, “Kau monster, apa yang kau dapatkan setelah menyiksa kami?” tanyanya kemudian dengan suara gemetar menahan takut.

Pria keji itu tersenyum, menunjukkan gigi-giginya yang bersih. "Jangan khawatir, Khalila," katanya, suaranya yang sebelumnya marah kini berubah menjadi tenang, tapi terasa menghipnotis. "Hanya kau yang memiliki nomor di kaki, itu artinya kau paling istimewa. Kau adalah hidangan utama."

Khalila menatap ke arah kakinya, dan memang ada sebuah nomor yang terukir di sana. Dia merasa bulu kuduknya berdiri, karena dia tahu apa artinya. ‘Aku benar-benar yang terakhir?’ pikirnya.

"Jadi, bersabarlah hingga saat lonceng natal disuarakan nanti," pria keji itu melanjutkan, suaranya penuh dengan bayangan kesenangan. "Karena saat itu, kamu akan menjadi pusat perhatian."

Khalila menatap ke arah pria keji itu dengan mata yang penuh dengan kebencian. 'Bagaimanapun caranya, aku akan keluar dari sini, bersama gadis yang masih tersisa!’ tekadnya kemudian.

Pria keji itu tertawa, seolah-olah dia tahu apa yang ada di pikiran Khalila. "Jangan mencoba untuk melawan, apalagi melarikan diri,” ucapnya tenang, namun terasa seperti sebuah pedang bermata dua yang siap menghunus kapan saja.

Pria itu berdiri bersedekap, bersandar pada meja di tengah ruangan, kembali mengedarkan pandangannya dari satu bilik ke bilik lainnya. "Karena kau berulah, jadi kali ini aku akan menunjukkan bagaimana nanti kau harus berlaku menjadi sajian utama." Ucap pria itu kemudian berjalan mengitari ruangan, memperhatikan dari satu gadis ke gadis lain.

"Hm... Katakan padaku Khalila, kali ini yang mana yang harus kupilih?" imbuhnya.

Para gadis lainnya gemetar ketakutan, menatap Khalila penuh harap agar diselamatkan.

Khalila balas menatap tajam pada pria itu. "Apa maumu sebenarnya? Kau monster yang tak seharusnya hidup! Aku yakin kau akan mendapatkan balasan suatu saat nanti!" pekik Khalila.

Pria itu menghentikan langkah, kemudian berbalik ke arah Khalila. "Balasan?" ulang pria itu kemudian tertawa bernada setengah meledek. "Kau bahkan tak mengenalku, bagaimana kau akan bisa membalasku?"

Khalila berpikir dalam hati. 'Mengenalnya? Siapa dia?'

Pria itu terus berbicara, suaranya yang dingin dan menekan, membuat Khalila semakin terkejut. "Kita dipisahkan saat kau masih terlalu kecil," katanya, seolah sedang menggali kenangan lama. "Kau hanya anak pelacur yang tak mungkin bisa mengingat dengan baik."

Khalila merasa seperti dipukul tepat di perut, rasa mual dan bergejolak aneh, ia rasakan seketika. ‘Anak pelacur? Apa maksudnya? Di-dia tahu masa laluku?’ pikir Khalila sungguh tak percaya. Selama ini Dia hanya tahu bahwa dia tidak memiliki keluarga, bahwa dia dibesarkan di panti asuhan, tapi dia tidak pernah tahu siapa orang tuanya.

"Siapa... siapa kamu?" tanya Khalila, suaranya hampir tidak terdengar.

Pria itu berjalan mendekati meja di tengah ruangan, kemudian memukulkan kepalan tinjunya, hingga menimbulkan suara yang keras. Membuat para gadis semakin terisak gemetar ketakutan.

"Jangan banyak bertanya, katakan cepat! mana gadis yang harus kujadikan bingkisan natal lebih dulu, Khalila?!” gertaknya penuh amarah menatap tajam pada Khalila seolah ingin mengulitinya. “Atau semuanya saja sekaligus?" Pria itu tersenyum, menikmati rasa takut yang terpancar dari mata para gadis.

Gadis-gadis itu mulai menangis, seolah memohon belas kasihan, membuat Khalila merasa dilema.

Khalila berusaha keras berpikir, matanya menatap ke sekeliling ruangan, mencari kelemahan pria itu.

Dia melihat ke arah meja di tengah ruangan, di mana pria itu meletakkan pisaunya. Dia melihat ke arah jendela, tapi terlalu tinggi dan terlalu jauh. Dia melihat ke arah pintu, tapi pria itu berdiri di depannya, menghalangi jalan keluar.

Khalila terus berpikir, mencoba mencari kelemahan pria itu. Dia tahu bahwa dia harus mencari sesuatu, sesuatu yang bisa dia gunakan untuk melawan.

Tiba-tiba, pria itu berhenti berbicara, matanya menatap ke arah Khalila dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca. "Apa yang kamu pikirkan, Khalila?" tanyanya, suaranya yang dingin membuat Khalila terkejut.

Khalila pun baru menyadari sesuatu. ‘Ibu biara terus memintaku pulang dihari ke dua belas sebelum natal tiba. Apa dia tahu akan datang seseorang yang….’ Khalila terbelalak, kemudian menggigil ketakutan dengan bayangan pikirannya sendiri, dia memikirkan bahwa hanya ibu biara dan pria itu saja yang mengenal masa lalunya.

Dengan suara yang bergetar, Khalila memberanikan diri bertanya. "Kau... kaukah ayah yang dibicarakan ibu biara?"

Pria itu menoleh tajam, ekspresinya tidak bisa dibaca. "Ibu biara? Tepat seperti yang kukira, mereka sengaja tak memberitahu darimana kau berasal!" Pria itu kembali berjalan menuju ke dekat jendela.

"Lihatlah hamparan laut disana, Khalila! Kau berasal dari sana! Kau hanya umpan yang dilempar agar ikan yang diincar keluar dan memakannya!"

"Apa maksudmu?!" Khalila masih tak mengerti.

"Kau bukan siapa-siapa, kau tak seharusnya datang, jadi aku hanya akan mengembalikanmu ke tempat asalmu, di lautan lepas!" ujar pria itu seolah dengan sengaja menekan Khalila dengan teka-teki yang benar-benar tak dipahaminya.

"Sudahlah, aku lelah. Kalian istirahatlah sejenak, aku harus mengasah pisau ini dulu!" ucap pria itu kemudian berjalan meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Khalila yang terkejut dan takut.

...****************...

Bersambung

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Lg males mikir 🤭🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Akhirnya ketahuan 😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Pembunuh bayaran 🤔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Berasa jadi detektif dadakan 🤭🤣🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sammy apa Sarah 🤔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Yomi dan anak buahnya jadi tim pembersih 😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Benang kusut mulai terurai
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Marco😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
dua kaki
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
😭😭😭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Iya,kamu salah Kanet
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kanet balas dendam karena Rey sudah membunuh ayahnya 😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
pria itu Rey 😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kasus Santaroni
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
jadi partner perempuan itu putrinya Diaz 🤔
yosh—: silakan terus menebak/Casual/
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
😭😭😭
Sunsun Shepiet
seru sih Thor seru banget..
yosh—: aseeek😁
total 1 replies
Sunsun Shepiet
nah loh, tertangkap kah?
Sunsun Shepiet
eh tp kn itu bd negara y? aku lupa 😁
Sunsun Shepiet
eh klo Roni k kantor polisi nanyain Rey bisa bahaya ga sih?
yosh—: bahaya, agak enggak, tapi ya bahaya🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!