Ketika dunia seolah runtuh di sekelilingnya, hanya cinta anak-anak yang bisa membangunnya kembali.
Rian baru saja di-PHK ketika rumah tangganya yang sudah berjalan 7 tahun hancur berkeping-keping. Dituduh selingkuh oleh istri, Novi, dan dipermalukan oleh keluarga besarnya, ia tidak punya pilihan selain kembali ke kampung halaman dengan membawa dua anaknya – Hadian dan Alea. Kedua anak itu dengan tegas memilih mengikuti ayahnya, bahkan menolak untuk bertemu dengan ibunda kandung mereka yang kini sudah hidup dengan orang lain.
Di rumah panggung peninggalan orangtuanya, Rian memulai dari nol. Dengan tangan yang terlatih bekerja keras dan dukungan tak lekang dari kedua anaknya, ia mengolah lahan pertanian, membuka peternakan, hingga akhirnya mendirikan perusahaan dan restoran yang sukses.
Setiap langkah kemajuan yang diraihnya tak pernah lepas dari kehadiran Hadian dan Alea. Ketika pertemuan tak terduga dengan Novi dan keluarga barunya terjadi berkali-kali, anak-anak itu tetap berdir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. HADIAN BERANI BICARA
Rian sedang mengecek persiapan surat lamaran untuk perusahaan konstruksi besar, sementara Novi sedang membersihkan piring sisa sarapan di dapur. Alea sedang bermain dengan boneka Kiki di lantai, sementara Hadian duduk di meja makan mengerjakan pekerjaan rumahnya dengan wajah yang penuh pikiran.
Setelah menyelesaikan sebagian pekerjaan rumahnya, Hadian mengangkat kepalanya dan melihat ayahnya yang sedang fokus dengan surat-surat di depannya, kemudian melihat ibunya yang sibuk di dapur. Seolah telah mengambil keberanian yang besar, dia berdiri dan mendekat ke arah Rian dengan langkah yang pelan namun tegas.
“Papa,” panggilnya dengan suara yang lembut namun jelas. Rian segera mengangkat kepalanya dan melihat putra sulungnya dengan wajah yang penuh perhatian.
“Apa ada yang tidak enak, Nak?” tanya Rian dengan suara yang lembut, menutup surat lamaran yang sedang dia periksa.
Hadian melihat ke arah dapur untuk memastikan bahwa Novi tidak mendengar pembicaraan mereka, sebelum kembali menatap ayahnya dengan mata yang penuh dengan kesedihan dan kebingungan. “Papa, aku ingin bilang sesuatu,” ujarnya dengan suara yang sedikit bergetar. “Aku sudah melihatnya beberapa kali, tapi aku tidak berani bilang karena takut Bu Mama marah.”
Rian merasa ada sesuatu yang tidak baik akan terjadi. Dia menarik kursinya lebih dekat dan berkata, “Tenang saja Nak, kamu bisa bilang apa saja padaku. Papa akan selalu ada untukmu dan tidak akan pernah membiarkan kamu merasa takut.”
Hadian mengambil napas dalam-dalam sebelum akhirnya membuka mulut. “Aku melihat Bu Mama sering bersama seorang pria lain di luar rumah, Papa,” ujarnya dengan suara yang jelas namun penuh dengan kesusahan. “Kali pertama aku melihatnya ketika aku pulang sekolah lebih awal karena sakit beberapa minggu yang lalu. Bu Mama sedang duduk di warung dekat pasar bersama seorang pria yang aku tidak kenal. Mereka sedang berbincang dengan riang dan pria itu bahkan menyentuh bahu Bu Mama.”
Rian merasa jantungnya berdebar kencang mendengar kata-kata putranya. Dia mencoba untuk tetap tenang agar tidak membuat Hadian semakin khawatir. “Apakah kamu yakin dengan apa yang kamu lihat, Nak?” tanya dia dengan suara yang tenang.
Hadian mengangguk dengan penuh keyakinan. “Aku melihatnya lagi kemarin sore ketika aku pergi membeli minuman untuk Kakak Alea,” tambahnya dengan suara yang semakin jelas. “Bu Mama sedang naik mobil dengan pria itu, pergi meninggalkan arah pasar atau rumah Kakak Wati. Aku ingin menyapa tapi mereka sudah pergi terlalu cepat.”
Sebelum Rian bisa memberikan tanggapan, suara pecahan piring terdengar dari dapur. Mereka berdua melihat ke arah sana dan menemukan Novi berdiri dengan wajah yang memerah dan penuh dengan kemarahan, tangan kanannya masih menggenggam gagang cangkir yang sudah pecah di lantai.
“Hadian!” teriak Novi dengan suara yang tinggi dan penuh dengan emosi yang meledak. “Apa yang kamu katakan itu? Kamu tidak punya hak untuk berbohong tentang ibumu seperti itu!”
Hadian langsung menjadi pucat dan mundur sedikit akibat kemarahan ibunya. Alea yang sedang bermain juga menangis dan berlari ke arah ayahnya saat melihat ibunya marah besar.
“Novi, tenang dulu,” ujar Rian dengan suara yang tegas namun penuh dengan pengertian, membungkus Alea dengan satu lengan sambil menepuk pundak Hadian dengan lengan yang lain. “Kita tidak boleh marah pada anak sebelum kita mengetahui kebenaran apa yang sebenarnya terjadi.”
“Kebenaran?” balik Novi dengan semakin marah, berjalan cepat ke arah mereka dengan mata yang berkaca-kaca akibat kemarahan dan kesedihan. “Dia sedang berbohong, Rian! Aku tidak pernah melakukan sesuatu yang tidak pantas! Kamu tidak bisa mempercayai kata-kata seorang anak kecil yang tidak mengerti apa yang dilihatnya!”
“Aku tidak berbohong, Bu Mama!” teriak Hadian dengan suara yang penuh dengan kesusahan namun tetap tegas. “Aku benar-benar melihatnya! Kamu sedang bersama pria lain dan bahkan tertawa dengan riang padamu tidak pernah seperti itu bersama Papa lagi!”
Kata-kata itu seperti batu yang dilempar ke wajah Novi. Dia menangis deras dan mengangkat tangan seolah ingin memukul putranya, namun segera menahan diri dengan melihat wajah Hadian yang penuh dengan ketakutan dan kesedihan.
“Diam saja kamu!” teriak Novi dengan suara yang bergetar. “Kamu tidak mengerti apa-apa tentang kehidupan orang dewasa! Aku melakukan semua ini untuk keluarga kita dan kamu tidak punya hak untuk menyalahkanku seperti itu!”
Hadian segera menangis dan berlari ke kamar dengan cepat, menutup pintu dengan keras. Alea juga menangis lebih deras di pelukan Rian, sementara Rian sendiri merasa seperti ada badai yang menghantam kehidupannya. Dia melihat istri yang sedang menangis di depannya, kemudian melihat pintu kamar yang tertutup rapat, merasa bingung dan sangat sakit hati.
“Nov, duduk dulu ya,” ujar Rian dengan suara yang lembut, menempatkan Alea di kursi makan sebelum mendekat ke arah istri. “Kita harus berbicara dengan tenang tentang ini. Hadian bukan anak yang suka berbohong. Jika dia mengatakan dia melihat sesuatu, maka pasti ada sesuatu yang terjadi. Kamu harus memberitahu aku kebenarannya.”
Novi menangis pelan dan duduk di kursi dengan lembut. Dia menyandarkan wajahnya pada kedua tangan dan berkata dengan suara yang bergetar, “Aku tidak bisa berbohong padamu lagi, Rian. Pria itu adalah salah satu anggota panitia acara pengusaha yang aku kenal melalui Kakak Wati. Dia menawarkan aku pekerjaan tetap dengan gaji yang cukup tinggi di perusahaan acara miliknya.”
Rian mengangguk perlahan, menunggu istri melanjutkan penjelasannya. “Kita sering bertemu untuk membicarakan detail pekerjaan,” lanjut Novi dengan suara yang semakin lembut. “Dia juga menawarkan untuk membantu kita dengan keuangan keluarga jika aku mau bekerja untuknya secara penuh waktu. Aku tidak pernah melakukan sesuatu yang tidak pantas dengannya, Rian. Aku hanya ingin membantu keluarga kita keluar dari kesusahan yang sedang kita alami.”
Rian terdiam sejenak mendengar penjelasan itu. Dia merasa campur aduk antara kemarahan, kesedihan, dan pemahaman terhadap keadaan istri. “Mengapa kamu tidak memberitahuku tentang ini dari awal?” tanya dia dengan suara yang penuh dengan kesedihan. “Kita bisa membicarakannya bersama dan menemukan solusi yang terbaik bagi keluarga kita. Kamu tidak perlu menyembunyikannya dariku.”
“Karena aku tahu kamu akan marah dan tidak akan menyetujuinya,” jawab Novi dengan menangis. “Aku merasa sangat tertekan dengan tekanan dari keluarga dan kesulitan ekonomi kita. Ketika dia menawarkan bantuan, aku merasa seperti mendapatkan harapan baru. Aku hanya ingin memberikan kehidupan yang lebih baik bagi kamu dan anak-anak tanpa harus membuatmu semakin tertekan.”
Rian mengambil tangan istri dengan lembut dan berkata, “Aku mengerti rasamu, Sayang. Tapi kamu harus mengerti bahwa kepercayaan kita sebagai pasangan sangat penting. Jika kamu menyembunyikan sesuatu dariku, itu hanya akan menciptakan kesalahpahaman dan keraguan yang bisa merusak hubungan kita.”
Pada saat itu, pintu kamar terbuka perlahan dan Hadian keluar dengan wajah yang masih merah akibat menangis. Dia mendekat dengan hati-hati ke arah ibunya dan berkata dengan suara yang lembut, “Maafkan aku ya Bu Mama jika aku salah paham. Aku hanya khawatir kehilangan kamu dan Papa. Aku tidak ingin keluarga kita terpisah.”
Novi menangis lebih deras dan segera membungkus putranya dengan pelukan yang erat. “Maafkan Mama juga ya Nak,” ujarnya dengan suara yang bergetar. “Mama tidak boleh marah padamu seperti itu. Kamu benar untuk mengatakan apa yang kamu lihat. Mama seharusnya lebih jujur dengan Papa dan kamu semua.”
Mereka semua saling memeluk erat di ruang tamu, menangis bersama-sama sambil menyadari bahwa komunikasi yang terbuka dan kejujuran adalah hal yang paling penting dalam menjaga keharmonisan keluarga. Rian berjanji bahwa mereka akan selalu membicarakan segala sesuatu secara terbuka dan tidak akan pernah lagi menyembunyikan masalah satu sama lain.
Novi juga berjanji bahwa dia akan segera menghubungi pria itu untuk memberitahukan bahwa dia tidak akan menerima pekerjaan darinya jika itu akan merusak hubungan keluarganya. Dia menyadari bahwa tidak ada pekerjaan atau kesempatan materi yang bisa lebih berharga daripada kebahagiaan dan keharmonisan keluarga yang utuh.
Di tengah suasana yang penuh dengan kesedihan namun juga harapan, mereka semua menyadari bahwa mereka telah melalui ujian yang sangat berat namun hal itu telah membuat hubungan mereka semakin erat. Mereka tahu bahwa masih ada banyak tantangan yang akan datang, namun dengan cinta, kejujuran, dan komunikasi yang baik, mereka yakin bahwa mereka akan bisa mengatasi segala rintangan yang ada dan membangun kehidupan yang lebih baik bagi keluarga mereka yang sangat dicintai.