Arka Baskara, dikirim oleh dinas ke Desa Sukamaju. Tugasnya menjadi Pejabat (Pj) Kepala Desa termuda untuk membereskan kekacauan administrasi dan korupsi yang ditinggalkan kades sebelumnya.
Arka datang dengan prinsip kaku dan disiplin tinggi, berharap bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat lalu kembali ke kota.
Namun, rencananya berantakan saat ia berhadapan dengan Zahwa Qonita. Gadis ceria, vokal, dan pemberani, anak dari seorang Kiai pemilik pesantren cukup besar di desa.
Zahwa adalah "juru bicara" warga yang tak segan mendatangi Balai Desa untuk menuntut transparansi. Baginya, Arka hanyalah orang kota yang tidak paham denyut nadi rakyat kecil.
Bagaimanakah kisah Arka dan Zahwa selanjutnya? Hanya di Novel "Ada Cinta di Balai Desa"
Follow Me :
Ig : @author.ayuni
TT: author ayuni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fakta Yang Tertunda
Di sukamaju, sebelum matahari benar-benar naik di atas puncak kebun teh, udara dingin masih menusuk tulang, namun aktivitas di Warung Bu Sari sudah mendidih. Aroma uap nasi yang baru matang, wangi bakwan yang digoreng garing, dan denting sendok yang beradu dengan gelas kopi menjadi alunan musik pembuka hari.
Warung Bu Sari bukan sekedar tempat makan ia adalah balai rakyat informal. Di sinilah semua informasi mulai dari harga pupuk hingga urusan hati sang Kepala Desa diolah dan disajikan lebih hangat daripada gorengannya.
Beberapa minggu terakhir, topik utamanya hanya satu yaitu kabar kedekatan Pak Kades muda dengan Dokter Citra memang terus berhembus kencang, terutama karena Dokter Citra sendiri yang rajin menyiram kabar itu.
Hampir setiap hari, motor dinas puskesmas terlihat terparkir di depan Balai Desa. Dokter Citra sering terlihat menenteng tas kecil berisi vitamin atau kotak makan siang, masuk ke ruang kerja Arka dengan penuh percaya diri.
"Duh, Dokter Citra itu tidak pantang menyerah ya. Kayaknya sudah merasa jadi calon Bu Kades," bisik seorang ibu sambil memilih tempe.
Bu Sari, yang sedang mengangkat bakwan dari wajan, menimpali dengan nada sedikit sinis.
"Tapi saya bingung. Pak Kades itu tiap hari pesan makannya di sini. Pagi nasi uduk, siang nasi rames, malam juga minta dikirim. Jadi makanan yang dibawa Dokter itu dikemanakan ya? Saya lihat Pak Kades tetap saja makan masakan saya."
Komentar Bu Sari itu menjadi rahasia umum di antara para staf desa. Mereka tahu betul atasan mereka berkali-kali menolak secara halus, namun Dokter Citra seolah memiliki muka tembok. Dokter Citra menjadi tinggi hati, ia sering bersikap seolah ia memiliki akses khusus ke kehidupan Arka, membuat sebagian warga yang hanya melihat kulit luar merasa mereka memang serasi.
Di saat yang sama, Zahwa baru saja menyelesaikan rutinitas paginya. Bersama Siti, Santi, dan beberapa pemuda Karang Taruna, ia baru saja menempuh jarak 5 kilometer menyusuri jalan setapak kebun teh. Wajahnya merona kemerahan karena olahraga, tetesan keringat di dahi tertutup rapi oleh kerudung instannya.
Dalam perjalanan nya, Zahwa dan rombongan memang berniat untuk beristirahat di warung Bu Sari, karena kalau pagi di warung Bu Sari akan ada berbagai jenis gorengan dan nasi uduk, untuk warga atau staf desa yang ingin sarapan.
Rombongan kecil itu tiba di warung Bu Sari. Kehadiran Zahwa segera mengubah atmosfer. Warga yang tadinya sibuk bergosip tentang Dokter Citra, mendadak tersenyum cerah melihat putri Kiai mereka tampil begitu segar dan bersahaja.
"Nah! Ini dia bunga desa kita sudah datang. Duduk, Neng Zahwa! Es teh manis atau teh anget?" seru Bu Sari ramah.
"Es teh saja Bu, sama bakwan dua," jawab Zahwa sambil duduk di bangku panjang kayu.
Suasana menjadi riuh. Warga mulai menggoda Zahwa.
"Neng Zahwa, tadi di jalan ketemu Pak Kades nggak? Katanya beliau juga lagi patroli tuh" celetuk seorang bapak yang sedang menikmati kopi.
"Patroli? Patroli apa?" tanya Zahwa.
"Patroli menuju hati warga"
Zahwa hanya tersenyum simpul, menganggapnya sebagai candaan hangat warga yang sudah menganggapnya anak sendiri.
Tak lama kemudian, sebuah motor dinas desa berhenti perlahan. Arka turun bersama Pak Sugeng. Sejak menjabat, Arka memang sengaja tidak mau makan di tempat mewah. Ia mempercayakan urusan perutnya pada Bu Sari, bukan hanya karena rasa masakannya, tapi karena di sinilah ia bisa mendengar aspirasi warganya.
Begitu Arka melangkah masuk, mata semua orang di warung itu mendadak berbinar. Pandangan warga beralih secara bergantian dari Arka ke Zahwa yang sedang memegang gelas es tehnya.
"Wah, pas sekali jamnya! Seperti sudah janjian ya, Pak Sugeng?" goda Pak Maman yang kebetulan ada di sana.
Pak Sugeng tertawa lebar, "Janjian sama takdir mungkin, Man!"
Arka sedikit salah tingkah. Ia melihat Zahwa duduk di pojokan. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya melihat Zahwa dalam kondisi santai setelah olahraga. Tanpa sadar, mata Arka terpaku sedikit lebih lama pada Zahwa sebelum ia menyapa warga.
"Pagi, Bapak-bapak, Ibu-ibu. Pagi, Mbak Zahwa," sapa Arka lembut.
"Pagi, Pak Kades," jawab Zahwa singkat namun sopan.
"Pak Kades nyapa Zahwa aja nih, kita gak disapa ya" ucap Siti menyenggol tangan Santi, menggoda Arka.
Seketika warga tertawa mendengar celotehan Siti. Arka hanya tersenyum simpul.
"Pagi.. Siti dan Santi" ucap Arka, membuat yang lain terkekeh geli.
Seketika, sidang rakyat dimulai. Warga di warung itu seolah bersepakat untuk mengabaikan gosip tentang Dokter Citra. Meski Citra sering terlihat bolak-balik ke balai desa, warga lebih bisa melihat ketulusan di mata Arka setiap kali ia berada di dekat Zahwa. Bagi mereka, Citra adalah orang luar yang berusaha masuk, sementara Zahwa dan Arka adalah dua orang yang seolah memang ditakdirkan untuk menyatu dengan Sukamaju.
"Pak Kades, Neng Zahwa ini baru habis jalan jauh lho. Mungkin ya ditawari tumpangan nanti kalau pulang. Kasihan kakinya pegal," celetuk Bu Sari sambil menyodorkan sepiring nasi uduk ke meja Arka.
"Iya Pak, daripada jok motornya diisi Pak Sugeng, mending diisi sama calon Ibu Kades," sahut yang lain disambut sorakan
"Cieeee" secara bersamaan.
Wajah Arka memerah. Ia mencuri pandang ke arah Zahwa. Di sisi lain, para staf desa yang duduk tidak jauh dari Arka hanya bisa saling lirik. Mereka sudah hampir yakin seratus persen bahwa atasan mereka memang menaruh hati pada Zahwa. Cara Arka menatap Zahwa, penuh hormat namun ada binar yang sangat berbeda dengan caranya menatap Dokter Citra yang cenderung dingin dan formal.
Zahwa, meskipun digoda habis-habisan, tetap menunjukkan ketenangan yang luar biasa. Ia tidak marah, tidak juga terlihat risih yang berlebihan. Ia hanya tersenyum tipis, seolah semua godaan warga adalah musik latar yang menyenangkan.
"Aduh, jangan bikin gosip baru ya Bapak-bapak... kasian loh Pak Kades nya, takut gak fokus nanti di kantor," ujar Zahwa tenang sambil berdiri hendak membayar.
"Nggak apa-apa Mbak Zahwa, kalau untuk Mbak Zahwa, fokus saya terganggu juga gak masalah," celetuk Arka spontan.
Seluruh isi warung meledak dalam tawa dan sorak-sorai. Arka segera menunduk, pura-pura sibuk dengan nasi uduknya, menyadari bahwa kalimatnya barusan terlalu jujur untuk situasi itu.
"Cieeeeee"
"Uhuy...."
"Jadi nih kayanya nih.."
"Gas Pak Kades.. Kita sebagai warga mendukung seribu persen"
Di tengah riuhnya warung Bu Sari pagi itu, sebuah pesan jelas tersampaikan. Suara rakyat adalah suara tulus. Meskipun Citra membangun citra kedekatan dengan segala kemewahan dan vitaminnya, rakyat Sukamaju tetap memilih menjodohkan pemimpin mereka dengan putri kiai yang mereka cintai. Bagi mereka, Arka dan Zahwa adalah harmoni antara kepemimpinan modern dan kearifan tradisi.
...🌻🌻🌻...
berharap zahwa bijaksana tdk termakan fitnah kejam andini
lanjut kak thor🙏
smoga restu pak baskara segera turun