hai semua ini novel pertama Rayas ya🤭
kalau ada saran atau komentar boleh tulis di kolom komentar ya. lopyouuuu 😘😘
Dalam keputusasaan, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawanya di tahun 2025. Namun, maut ternyata bukan akhir. Safira terbangun di tubuhnya yang berusia 17 tahun, kembali ke tahun 2020—tepat di hari di mana ia dikhianati oleh adik tirinya dan diabaikan oleh saudara kandungnya hingga hampir tenggelam.
Berbekal ingatan masa depan, Safira memutuskan untuk berhenti. Ia berhenti menangis, berhenti memohon, dan yang terpenting—ia tak lagi berharap pada cinta keluarga Maheswara.
kalau penasaran jangan lupa mampir ke novel pertama Rayas 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 Kehadiran yang Mengguncang
Malam itu, kediaman Maheswara yang biasanya riuh dengan tawa Maya dan saudara-saudaranya mendadak terasa mencekam. Di dalam kamarnya, Safira berdiri di depan cermin besar. Ia menanggalkan hoodie kebesarannya, menyisakan kaos hitam polos yang pas di badan, memperlihatkan siluet tubuhnya yang proporsional.
Rambut short bob-nya yang berwarna medium brown dengan poni tipis memberikan kesan imut sekaligus misterius. Ia terlihat seperti boneka porselen yang cantik, namun memiliki tatapan sedalam samudra yang tenang.
Tok tok tok.
"Waktunya makan malam, Nona," suara pelayan terdengar ragu dari balik pintu.
Safira membuka pintu dengan gerakan tenang. Pelayan itu tersentak mundur, hampir menjatuhkan nampan yang ia bawa. "N-nona Safira? Anda... Anda terlihat sangat berbeda."
Safira tidak menjawab. Ia hanya mengangguk tipis dan melangkah keluar. Suara langkah kakinya yang mantap di atas lantai marmer bergema, menciptakan irama yang menarik perhatian orang-orang di ruang makan.
Di Ruang Makan
Tawa manja Maya seketika terhenti. Garpu di tangan Raka berdenting keras saat menyentuh piring porselen. Raga, sang ayah, mendongak dengan kening berkerut tajam.
"Siapa kau—" Kalimat Raga terputus. Matanya membelalak saat menyadari bahwa sosok elegan di depannya adalah Safira, anak yang selama ini ia anggap sebagai 'pembawa sial' yang lusuh.
"Safira?" gumam Bima tidak percaya. "Kenapa rambutmu... dan baju itu? Apa-apaan penampilanmu ini?"
Safira berdiri di ujung meja. Ia tidak duduk, namun auranya yang mendominasi membuat ruangan itu terasa sempit bagi yang lain.
"Bukankah tuan tadi bertanya aku dari mana?" suara Safira mengalun datar, namun dingin. "Aku baru saja membuang sampah yang sudah terlalu lama aku simpan. Termasuk gaya rambut yang kalian paksakan padaku."
Maya mengepalkan tangan di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih. Ia merasa takhta anak kesayangan miliknya terancam melihat Safira yang sekarang tampak begitu bersinar, cerdas, dan mandiri.
"Kak Fira... kamu cantik sekali," ucap Maya dengan nada yang dibuat bergetar, seolah takut
. "Tapi bukankah Papa bilang dia suka rambut panjangmu? Kenapa dipotong tanpa izin? Apa Kakak sengaja ingin membuat Papa marah?"
Safira mengalihkan pandangannya pada Maya. Tatapan itu begitu tajam, membuat Maya merasa seolah seluruh rencana busuk di kepalanya baru saja ditelanjangi. "Tubuhku bukan properti milik siapa pun di rumah ini, Maya. Termasuk opini kalian tidak lagi memiliki harga bagiku."
"Kurang ajar!" bentak Raka, meski matanya tak bisa berpaling dari wajah adiknya. "Berani sekali kau bicara seperti itu setelah semua yang Papa berikan padamu!"
"Berikan apa, Abang Raka?" Safira bertanya balik.
Suaranya sangat tenang, justru jauh lebih menakutkan daripada teriakan Raka. "Rasa pengabaian? Tuduhan tanpa bukti? Atau kasih sayang palsu yang kalian pamerkan setiap hari? Simpan saja makan malam kalian. Aku sudah kenyang dengan drama di rumah ini."
Ruang makan itu mendadak sunyi senyap. Raka tertegun, sebuah kilatan ingatan muncul di benaknya. Dek, kamu cantik sekali... mirip seperti Mama, batin Raka tanpa sadar. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia melihat bayangan ibu kandungnya dalam diri Safira. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menyerang dadanya.
Safira berbalik pergi tanpa menunggu balasan. Raga hanya terdiam, menatap punggung putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan—antara amarah yang tertahan dan rasa penasaran yang mulai tumbuh. Ia baru menyadari bahwa selama ini ia tidak benar-benar mengenal putrinya itu.
Di dalam kamarnya yang terkunci rapat, Safira membuka laptop. Ia tidak lagi menangis. Tangisannya sudah habis di kehidupan sebelumnya. Ia segera menghubungi Andi.
Safira: "Andi, percepat rekrutmen. Aku ingin operasional stabil dalam dua minggu. Dan satu lagi, kirimkan laporan keuangan restoran bulan ini ke email pribadiku yang baru. Aku butuh data bersih."
Setelah mengirim pesan, Safira menyentuh ujung rambut barunya. Hatinya memang masih memiliki luka yang menganga, namun malam ini ia telah membuktikan satu hal: ia tidak akan lagi bersembunyi di balik bayang-bayang mereka.
Sementara itu, di kamar sebelah, Maya menatap layar ponselnya dengan benci. Foto Safira bersama Andi di kafe tadi siang terpampang jelas.
"Lo pikir dengan potong rambut lo bisa menang, Fira?" desis Maya dengan senyum iblis. "Gue bakal tunjukin ke Papa kalau lo punya hubungan gelap sama cowok rendahan ini. Kita lihat, apa Papa masih mau melihat wajah 'imut' lo itu setelah lo merusak nama baik Maheswara."
...****************...
Guyssss jangan lupa like nya ya, kalau ada yang kurang atau typo coment aja nanti, biar jadi pelajaran buat Rayas soal nya ini novel pertama rayas