"Saya menyukai kamu, Maura. Tapi, saya sadar bahwa perbedaan umur kita terlalu jauh."
Pengakuan Setya membuat Maura mengernyitkan dahi. Mengapa dirinya ini seolah menjadi pilihan pria dewasa dihadapannya?
"Saya bukan pilihan, Pak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biby Jean, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 12 - Pemikiran yang Tiada Henti Untuknya
Maura kembali ke meja dengan langkah tenang, mengubur pertemuannya dengan Setya, seolah tidak pernah terjadi.
“Lama banget, Ra,” ujar Renata begitu Maura menarik kursi dengan alisnya terangkat, senyumnya penuh selidik. “Ngapain aja?”
Maura tersenyum kecil sambil meraih gelas airnya. “Antri.”
Renata memicingkan mata. “Kamar mandi di restoran se mewah ini nggak pernah sepanjang itu antrinya.”
“Ya nggak tahu, orang tadi ada yang lama banget di dalam kamar mandinya,” sahut Maura ringan.
Renata masih menatapnya beberapa detik, seolah mencari celah di wajah sahabatnya. Namun akhirnya ia mengangkat bahu dan kembali menyuapkan makanannya.
“Oke, gue percaya.”
“Nggak percaya juga nggak masalah, Ta,” sahut Maura.
Maura memang perempuan yang enggan untuk meyakinkan orang lain. Jadi, kalau misalnya mereka tidak percaya dengan apa yang dikatakan olehnya, maka semuanya juga tidak menjadi masalah.
She’s doing good in calming, even for the crazy one
Adrian tersenyum sopan dari seberang meja. “Restorannya memang ramai hari ini.”
Maura mengangguk dan membalas senyum itu, tapi hanya seperlunya. Pikirannya masih berisik, dan ia tidak ingin memperumit keadaan dengan terlalu banyak ekspresi.
Percakapan kembali berjalan.
Tentang pekerjaan. Tentang rencana akhir pekan. Tentang hal-hal ringan yang aman untuk dibicarakan di meja makan. Renata sesekali melirik Maura, tapi tidak lagi bertanya, seolah memahami bahwa ada sesuatu yang sengaja disimpan.
Maura bersyukur akan itu dan memutuskan untuk tidak menoleh ke arah ujung restoran. Tidak sekalipun.
“Eh gimana kalau weekend besok kita piknik. Maura suka banget itu sama piknik, Yan,” ucap Renata tiba-tiba.
Ya, memang Maura menyukai piknik hanya untuk meredam pikiran dan otaknya yang lelah karena mengajar. Jadi, keduanya memang sering piknik di taman, pantai dan tempat-tempat yang menenangkan lainnya.
“Boleh. Maura bagaimana?” tanya Adrian mengonfirmasi.
“Weekend depan ya? Emm... nggak bisa janji tapi diusahakan,” jawab Maura.
Mau bagaimana pun, gadis itu tidak bisa memberikan janji saat jadwalnya saja belum jelas. Maura bisa tiba-tiba mendadak malas dan tidak mau keluar rumah, menghabiskan waktu di apartemen dengan menonton film saja.
“Ya kok gitu sih, Ra,” rengek Renata.
“Iya nanti saja kalau sudah mepet. Sabtu deh sabtu nanti aku kasih tahu bisa atau enggak,” jawab Maura dengan menatap sahabatnya yang sudah memasang wajah cemberut.
“Raaa,” rengeknya semakin keras.
“Ih malu, Ta. Sabtu pokoknya sabtu. Gapapa kan, Pak?” kali ini Maura menoleh pada Adrian.
“Tidak masalah,” jawab Adrian.
Benar-benar manis. Kalau saja Maura memang sedang tidak dalam suasana bagus, pasti perempuan itu sudah menyukai Adrian. Pria tampan yang bertutur kata lembut dan manis tidak boleh dilewatkan begitu saja.
Beberapa menit berlalu dan akhirnya Renata mengajak pulang lebih dulu karena sudah ditelepon oleh orang tuanya.
“Ketemu weekend ya,” ucap Renata saat mereka sudah sampai di parkiran.
Maura tersenyum dan mengangguk sopan berpamitan pada Adrian. Ia berbalik saat Renata juga menarik lengan sahabatnya untuk ke arah mobilnya. Renata sudah memutar dan akan masuk, begitu pun dengan Maura, tapi suara Adrian menghentikan semua gerak tubuh keduanya.
“Maura,” panggil Adrian.
“Ya?”
“Jangan panggil Pak. Saya tidak keberatan kalau kamu memanggil saya dengan nama atau sapaan yang lebih casual,” tawar Adrian.
Gestur tubuhnya sangat sopan, seolah satu kalimat kasar bisa menyakiti Maura.
“Akan saya pertimbangkan,” respon Maura.
Setelahnya Maura masuk dan sudah disambut senyum konyol sahabatnya. Namun, Maura segera meraup wajah menyebalkan itu hingga si empunya protes keras. Begitu saja, hari itu dilewati dengan Maura yang memikirkan Setya, meski pertemuannya dengan Adrian sangat berkesan.
Dua hari kemudian, Maura berdiri di depan kelas dengan spidol di tangan dan papan tulis penuh catatan.
Jam kuliah hampir usai. Mahasiswa-mahasiswinya terlihat mulai kehilangan fokus, beberapa sudah merapikan tas, beberapa lain menatap jam di pergelangan tangan, menunggu kalimat penutup yang membebaskan mereka. Maura menutup pembahasan dengan suara tenang.
“Baik, kita sudahi kelas sampai di sini. Jangan lupa membaca materi untuk pertemuan berikutnya, “ia menoleh ke kelas, bersiap mengucapkan salam penutup, namun sebuah tangan terangkat...
“Bu.”
Maura berhenti. Ia menoleh ke arah sumber suara, seorang mahasiswi di barisan tengah, wajahnya penuh rasa ingin tahu yang tidak disembunyikan.
“Iya?” tanya Maura.
Mahasiswi itu ragu sepersekian detik, lalu tersenyum. “Bu, boleh tanya di luar materi?”
Beberapa mahasiswa lain langsung menoleh. Ada yang sudah tersenyum seolah tahu arah pertanyaannya.
Maura mengangguk. “Silakan.”
Mahasiswi itu menarik napas. “Apa benar waktu acara amal kemarin... ada Pak Setya Pradana?”
Maura berkedip sekali. Satu kalimat itu saja sudah cukup membuatnya membeku.
“Iya,” jawabnya singkat, tanpa penekanan.
Dan seolah kelas itu menunggu izin, suasana langsung pecah.
“Serius, Bu?”
“Yang CEO itu?”
“Yang sering masuk majalah bisnis?”
“Katanya dingin banget ya?”
Maura menahan senyum. Ia mengangkat tangan sedikit. “Tenang, tenang.”
Namun kegaduhan belum sepenuhnya mereda.
“Bu, beliau setampan apa sih?” tanya seorang mahasiswa laki-laki dari belakang kelas, disambut tawa teman-temannya.
“Kayak di foto nggak, Bu?”
“Bener nggak auranya bikin orang segan?”
Maura menghela napas kecil, lalu tersenyum tipis. “Beliau sangat profesional.”
Jawaban itu jelas tidak memuaskan.
“Ah, Bu. Jawabannya template banget,” protes yang lain.
Maura tertawa pelan. “Karena saya dosen.”
“Tapi benar. Beliau memang hadir sebagai tamu undangan. Dan seperti yang kalian lihat di media, beliau adalah figur publik yang memiliki wibawa,” lanjut Maura, memilih kata dengan hati-hati.
“Dingin?” tanya mahasiswi yang tadi bertanya.
Maura terdiam sepersekian detik, teringat suara pintu yang dipukul. Permintaan maaf yang datang dengan paksaan dan rasa bersalah sesaat.
“Berwibawa,” koreksi Maura akhirnya.
Bel berbunyi, memecah keheningan. Mahasiswa-mahasiswi mulai berdiri, membereskan barang, sebagian masih membicarakan topik yang sama dengan suara antusias.
“Bu, kapan lagi ya kampus ngundang CEO kayak gitu?”
“Iya, Bu, kita juga ingin lihat.”
Maura hanya tersenyum sambil merapikan catatannya. Karena ia tahu, di balik figur yang mereka kagumi dari jauh, ada sisi yang tidak untuk konsumsi ramai-ramai. Dan entah kenapa, ia merasa bahwa cerita tentang Setya Pradana tidak akan berhenti di ruang gosip mahasiswa.
“Sudah sudah. Kalau ingin bertemu dengan beliau, langsung saja datang ke perusahaannya,” canda Maura.
“Yaaahhhhh Buuuu.”
“Bu Mauraaaaa.”
Terdengar rengekan dari sebagia besar mahasiswi yang membuat Maura tersenyum kecil. Ia mengangkat tasnya, melangkah keluar kelas, kembali ke koridor yang sunyi.
Sejauh ini, hidupnya kembali normal dan Maura berharap semuanya begitu. semoga saja setelah ini, nama itu tidak lagi bersinggungan dengan hidupnya.
“Setya Pradana, aku pastiin itu terakhir kalinya kita bertemu,” gumamnya pada dirinya sendiri.
Maura sudah muak dengan pria gila satu itu.