Sepuluh tahun yang lalu, sebuah ledakan di tepi Sungai Adige menghancurkan kejayaan keluarga Moretti dan meninggalkan Elena Moretti sebagai satu-satunya pewaris yang menanggung noda pengkhianatan. Kini, Elena kembali ke Verona bukan untuk menuntut warisan, melainkan untuk mengubur masa lalunya selamanya.
Namun, Verona tidak pernah melupakan.
Langkah Elena terhenti oleh Matteo Valenti, pria yang kini merajai langit Verona. Matteo bukan lagi pemuda yang dulu pernah memberikan mawar di balkon rumahnya; ia telah berubah menjadi sosok berdarah dingin yang memimpin bisnis gelap di balik kemegahan kota kuno itu. Bagi Matteo, kembalinya Elena adalah kesempatan untuk menuntaskan dendam keluarganya.
Elena dipaksa masuk ke dalam kehidupan Matteo—sebuah dunia yang penuh dengan aturan tanpa ampun, pertemuan rahasia di gedung opera, dan darah yang tumpah di atas batu jalanan yang licin. Namun, saat "gema" dari masa lalu mulai mengungkap kebenaran yang berbeda tentang kematian orang tua mereka,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHEENA My, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dansa Terakhir di Piazza Bra
Cahaya lampu kristal yang menggantung di langit-langit aula Balai Kota Verona seolah meledak, memantulkan ribuan titik cahaya di atas lantai marmer yang dipoles hingga mengilap. Suara orkestra memainkan komposisi Vivaldi yang cepat, menciptakan irama yang memacu detak jantung. Namun, bagi Elena, seluruh kebisingan itu seketika melenyap saat matanya terkunci pada sosok di balkon atas.
Pietro Moretti.
Pria itu tampak tak menua dalam sepuluh tahun, kecuali rambut peraknya yang kini disisir rapi ke belakang. Ia berdiri di sana, mengenakan setelan jas tuksedo yang sempurna, memegang gelas kristal dengan keanggunan seorang bangsawan sejati. Namun, saat mata mereka bertemu, Elena melihat gelas itu sedikit bergetar. Sebuah retakan kecil pada topeng ketenangannya.
"Tetaplah bernapas, Elena," bisik Matteo di samping telinganya. "Jangan biarkan dia melihat ketakutanmu. Biarkan dia melihat kehancurannya."
Matteo mengulurkan tangannya, sebuah ajakan untuk berdansa yang tak mungkin ditolak di tengah aula yang penuh sesak itu. Elena meletakkan tangannya di bahu Matteo, merasakan otot pria itu yang menegang di balik kain jas mahalnya. Saat mereka mulai bergerak mengikuti irama musik, gaun sutra hitam Elena berkibar, memperlihatkan sekilas kaki jenjangnya yang menyembunyikan maut.
Mereka berdansa menuju tengah ruangan, tepat di bawah balkon di mana Pietro mengawasi. Setiap putaran yang mereka lakukan adalah langkah catur yang diperhitungkan.
"Dia akan turun," gumam Matteo sambil memutar tubuh Elena. "Egonya tidak akan membiarkanmu berada di sini tanpa ia tunjukkan siapa penguasanya sekarang."
Benar saja, hanya dalam hitungan menit, Pietro Moretti mulai menuruni tangga melingkar yang megah. Kerumunan tamu undangan—para pejabat korup, pengusaha gelap, dan sosialita Verona—segera memberi jalan bagi sang 'Penyelamat Kota'.
Pietro berhenti tepat di pinggir lantai dansa. Ia memberikan isyarat pada pelayan untuk mengambil gelasnya, lalu melangkah maju dengan senyum yang tampak sangat tulus hingga membuat perut Elena mual.
"Elena? Keponakanku sayang?" suara Pietro terdengar hangat, seolah-olah sepuluh tahun penuh darah tidak pernah terjadi. "Tuhan pasti sedang berbaik hati malam ini. Aku mengira kau telah lama hilang ditelan kegelapan."
Matteo berhenti berdansa, namun lengannya tetap melingkar protektif di pinggang Elena. "Dia tidak hilang, Pietro. Dia hanya sedang mengasah belatinya."
Pietro tertawa kecil, suara tawa yang kering. "Tuan Valenti. Aku melihat kau masih suka memungut barang-barang yang seharusnya sudah dibuang. Tapi mari kita lupakan permusuhan sejenak. Bolehkah aku berdansa dengan satu-satunya keluarga yang tersisa bagiku?"
Matteo menatap Elena, memberinya pilihan. Elena menarik napas panjang, merasakan berat pistol di pahanya dan kunci di lehernya. "Hanya satu dansa, Paman. Untuk mengenang masa lalu."
Matteo melepaskan pegangannya dengan berat hati, mundur beberapa langkah menuju kerumunan di mana Luca sudah bersiap dengan tangannya di balik jas.
Pietro meraih tangan Elena. Telapak tangannya terasa dingin dan lembap. Saat musik berganti menjadi waltz yang lambat dan melankolis, mereka mulai bergerak.
"Kau terlihat sangat mirip dengan ibumu, Elena," bisik Pietro tepat di telinganya. "Marcella selalu memiliki mata yang menantang itu. Sayang sekali, kecantikan seperti itu seringkali berakhir dengan tragis."
"Seperti bagaimana Ayah berakhir, Paman?" Elena membalas dengan nada sedingin es. "Atau bagaimana kau menjual lokasi kami untuk beberapa petak pelabuhan di Venesia?"
Langkah Pietro tidak terhenti, namun genggamannya pada tangan Elena mengencang hingga menyakitkan. "Dunia ini bukan untuk orang-orang idealis seperti ayahmu, Elena. Verona butuh pemimpin yang praktis. Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan agar nama Moretti tidak sepenuhnya musnah."
"Kau bukan Moretti," desis Elena. "Kau adalah noda yang harus dihapus dari sejarah kami."
"Dan kau pikir bocah Valenti itu akan menyelamatkanmu?" Pietro melirik ke arah Matteo yang mengawasi dari kejauhan. "Dia membawamu ke sini hanya untuk mendapatkan buku itu. Begitu dia memiliki daftar itu, kau tidak lebih dari sekadar beban baginya."
Elena mendekatkan wajahnya ke bahu Pietro, seolah-olah sedang membisikkan kata-kata manis. "Sebenarnya, Paman... buku itu ada padaku sekarang. Di dalam tas kecil ini. Dan aku sudah membacanya. Aku tahu tentang rekening di Swiss. Aku tahu tentang Jenderal kepolisian yang kau suap."
Wajah Pietro berubah pucat pasi. Ia mencoba menghentikan langkah dansanya, namun Elena menahannya.
"Jangan berhenti sekarang, Paman. Semua orang sedang melihat kita," Elena tersenyum miring, senyum yang mengandung racun. "Jika kau mencoba memanggil penjagamu, aku akan memastikan buku ini terbuka di depan meja media yang ada di pojok sana sebelum kau sempat melangkah keluar."
Di seberang ruangan, Matteo melihat perubahan ekspresi Pietro. Ia memberikan sinyal kecil pada Luca. Lampu aula tiba-tiba berkedip. Ini adalah tanda bahwa sistem keamanan balai kota telah berhasil diretas oleh tim Marco.
"Apa yang kau inginkan, Elena?" tanya Pietro, suaranya kini bergetar oleh amarah yang tertahan.
"Aku ingin kau mengaku. Di depan rakyat Verona yang kau bohongi. Atau..." Elena menurunkan tangannya, jemarinya menyentuh hulu pistol di balik gaunnya. "...aku akan mengakhiri sandiwara ini di sini, di tengah lantai dansa ini."
Tiba-tiba, suara ledakan kecil terdengar dari arah luar gedung, diikuti oleh suara teriakan kepanikan. Lampu-lampu kristal di atas mereka padam sepenuhnya, menyisakan aula dalam kegelapan yang pekat.
"Sekarang!" teriak Matteo.
Elena merasakan Pietro mencoba merenggut tasnya, namun dengan gerakan yang sudah ia latih di vila Marco, Elena memutar tubuhnya, mencabut Beretta dari pahanya, dan menempelkan moncong senjata itu tepat di bawah dagu pamannya.
"Selamat malam, Paman Pietro," bisik Elena di tengah kegelapan yang mencekam.
Kegelapan yang menyergap aula Balai Kota Verona terasa seperti entitas hidup yang dingin dan menyesakkan. Suara musik orkestra yang tadinya megah kini digantikan oleh dentingan gelas yang pecah, jeritan para tamu yang panik, dan suara kursi-kursi yang terguling. Namun, di tengah badai kekacauan itu, Elena Moretti berdiri tegak seolah waktu telah berhenti untuknya.
Lengan kirinya mengunci leher Pietro, sementara tangan kanannya menekan moncong Beretta dingin ke kulit di bawah dagu sang paman. Ia bisa merasakan detak jantung Pietro yang liar melalui punggungnya—detak jantung seorang pengecut yang menyamar menjadi raja.
"Jangan bergerak, Paman. Jika kau memanggil pengawalmu, aku akan memastikan lidahmu tak bisa lagi membual," bisik Elena, suaranya sedalam sumur yang tak berdasar.
"Elena... kau tidak akan melakukannya," Pietro terengah, suaranya serak karena tekanan pada tenggorokannya. "Kau adalah seorang Moretti. Kita bukan pembunuh. Kita adalah pemegang hukum."
"Kau yang menghapus hukum itu malam saat rumah kita terbakar!" Elena menekan senjatanya lebih keras. "Kau membunuh hukum, kau membunuh keadilan, dan kau membunuh orang tuaku demi tumpukan emas yang bahkan tidak bisa kau bawa ke liang kubur!"
Di kejauhan, suara tembakan mulai menyalak. Bang! Bang! Itu adalah Luca dan timnya yang sedang menahan pasukan keamanan pribadi Pietro di pintu-pintu keluar. Cahaya dari kilatan tembakan sesekali menerangi aula, menciptakan siluet-siluet mengerikan yang menari di dinding.
"Elena!" suara Matteo terdengar dari arah kanan. "Bawa dia ke balkon! Sekarang!"
Elena menarik Pietro mundur, memaksanya menaiki tangga menuju balkon tempat mereka pertama kali bertemu pandang malam ini. Matteo muncul dari balik kegelapan, senjatanya terhunus, wajahnya tampak seperti malaikat maut dalam cahaya remang dari kembang api yang meledak di luar jendela besar.
Tiba-tiba, pintu balkon terbanting terbuka. Dua pengawal pribadi Pietro menyerbu masuk. Sebelum mereka sempat membidik, Matteo bergerak dengan presisi yang mematikan. Dua tembakan cepat menjatuhkan mereka seketika. Namun, salah satu peluru balasan sempat menyerempet bahu Matteo, membuat pria itu terhuyung sejenak karena luka lamanya di perut kembali berdenyut sakit.
"Matteo!" Elena berteriak, perhatiannya teralih sesaat.
Itulah celah yang dibutuhkan Pietro. Pria tua itu menyikut rusuk Elena dengan keras dan merenggut tas kecil berisi buku Gema Verona dari tangan Elena. Pietro berlari menuju pagar balkon, berniat melemparkan dirinya ke bawah menuju kerumunan festival untuk menghilang.
"Berhenti!" Elena melepaskan tembakan peringatan ke udara.
Pietro berhenti di tepi pagar balkon yang tinggi. Di belakangnya, langit Verona dihiasi kembang api berwarna merah darah. Di tangannya, buku kulit itu tampak seperti piala kemenangan yang terakhir.
"Kau ingin buku ini, Elena?" Pietro tertawa histeris, wajahnya yang berwibawa kini hancur menjadi ekspresi kegilaan. "Buku ini adalah kehancuranku, tapi juga kehancuranmu! Jika kau menarik pelatuk itu, kau tidak akan pernah tahu di mana ibumu disembunyikan!"
Tangan Elena yang memegang pistol membeku. "Apa maksudmu?"
"Marcella... ibumu masih hidup," Pietro menyeringai, matanya berkilat jahat. "Isabella mengurungnya di sebuah sanatorium tua di pinggiran Pegunungan Alpen. Tanpa aku, kau tidak akan pernah menemukan lokasinya. Bunuh aku, dan kau membunuh ibumu sendiri."
Elena merasa dunianya runtuh. Ia menatap Matteo yang kini berdiri di sampingnya dengan darah merembes dari bahunya. Matteo menatap Pietro dengan kebencian murni, namun ia juga melihat keraguan yang menyiksa di mata Elena.
"Dia berbohong, Elena! Dia hanya mencoba menyelamatkan kulitnya sendiri!" teriak Matteo.
"Aku punya fotonya! Di dalam buku itu, ada kode koordinat lokasi ibumu!" Pietro berteriak balik, sambil memegang buku itu di atas ketinggian balkon. "Satu gerakan lagi, dan aku akan menjatuhkan buku ini ke dalam api festival di bawah!"
Di bawah balkon, api dari dekorasi festival mulai menjalar akibat kekacauan. Jika buku itu jatuh, rahasia itu akan hilang selamanya.
Elena berdiri di persimpangan jalan. Antara membalaskan dendam kematian ayahnya atau mengejar secercah harapan untuk menemukan ibunya yang ia kira sudah lama tiada. Jari telunjuknya gemetar di atas pelatuk. Seluruh napas Verona seolah tertahan bersamanya.
"Pilih, Elena!" Pietro menantang. "Menjadi pembunuh seperti ayahmu, atau menjadi putri yang berbakti?"
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari tangga. Itu bukan Luca. Itu adalah Isabella Valenti. Wanita itu muncul dengan gaun ungu tuanya, memegang senjata berlaras panjang. Ia tidak menatap Matteo, ia tidak menatap Elena. Matanya hanya tertuju pada Pietro.
"Kau terlalu banyak bicara, Pietro," ucap Isabella dingin.
Dor!
Sebuah tembakan meletus, bukan dari senjata Elena, melainkan dari senjata Isabella. Peluru itu menghantam tepat di jantung Pietro Moretti. Pria itu terbelalak, tubuhnya terjungkir ke belakang melewati pagar balkon, jatuh menuju kegelapan bersama buku Gema Verona.
"TIDAK!" jerit Elena.
Ia berlari menuju pagar, melihat tubuh pamannya jatuh ke dalam tumpukan tenda festival yang terbakar di bawah. Asap hitam segera menyelimuti segalanya.
Matteo segera memeluk Elena, menahannya agar tidak ikut terjatuh. Sementara itu, Isabella berdiri di sana, menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kemenangan dan rasa sakit yang dalam.
"Sekarang rahasia itu mati bersamanya," ucap Isabella tenang, seolah baru saja menyelesaikan tugas kecil. "Selamat datang kembali di Verona yang sesungguhnya, Elena Moretti."