NovelToon NovelToon
The Replacement Bride

The Replacement Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Pengantin Pengganti / Mafia
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Rafa Fitriaa

Shabiya seharusnya tidak memiliki harapan bisa memenangkan hati suaminya, ketika pernikahan mereka saja terjadi atas keinginan satu pihak. Wanita itu seharusnya mengubur semua impian tentang keluarga cemara yang selalu didambakan olehnya setiap malam.

Apalagi, ketika ia sudah mengetahui bahwa kehadirannya di hidup suaminya hanya untuk menggantikan posisi seseorang. Dan ketika Shabiya ingin menyerah, tidak ada celah untuknya melarikan diri. Dia sudah terperangkap. Pria tersebut tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.

Akankah semesta membantunya untuk lepas dari pria yang berstatus sebagai suaminya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ruang Terlarang

Tiga hari telah berlalu sejak serangan berdarah itu, namun atmosfer di dalam mansion Gemilar masih terasa seperti medan perang yang membeku. Galen telah mengubah rumah ini menjadi benteng militer. Ada wajah-wajah baru di setiap sudut koridor, pria-pria dengan setelan jas hitam yang menyembunyikan senjata di dalamnya, menatap Shabiya dengan tatapan tanpa ekspresi setiap kali ia melewati mereka.

Wanita itu tidak menyaksikan bagaimana korban dari kejadian itu tergeletak di berbagai sudut rumah. Galen tidak membiarkan dia keluar dari kamar sebelum semuanya bersih.

Shabiya merasa seperti spesimen di bawah mikroskop. Galen hampir tidak pernah meninggalkannya, namun pagi ini, sebuah panggilan darurat dari pelabuhan mengenai sabotase kargo memaksa sang pemilik kegelapan untuk turun tangan langsung. Arsen ikut pergi, membawa serta tim keamanan inti.

"Tetap di kamarmu, Shabiya. Aku akan kembali sebelum makan siang," ucap Galen sebelum pergi, mencium keningnya dengan tekanan yang terasa seperti sebuah segel kepemilikan. Selalu seperti itu.

Shabiya menunggu di balik pintu kamarnya hingga suara deru mesin mobil Galen menghilang di kejauhan. Jantungnya berdegup kencang. Ini adalah kesempatannya. Sejak kata-kata Elfahreza di kelab malam itu, sebuah lubang hitam rasa ingin tahu telah menganga di dadanya. Ia harus tahu siapa wanita itu. Ia harus tahu seberapa besar ia telah menjadi sandiwara dalam hidup Galen.

Ia menyelinap keluar. Koridor lantai tiga, yang biasanya dijaga ketat oleh Arsen, kini hanya dijaga oleh seorang pengawal baru yang tampak bosan di dekat tangga. Shabiya menggunakan jalur pelayan, sebuah lorong kecil yang ia temukan saat mengeksplorasi rumah minggu lalu yang tembus langsung ke belakang ruang kerja Galen.

Pintu kayu jati itu berdiri teguh, memancarkan aura intimidasi seolah-olah ia bisa bicara dan melarang Shabiya masuk. Shabiya mencoba gagang pintunya. Terkunci. Namun, ia teringat pada kunci cadangan yang pernah ia lihat diletakkan Galen di dalam vas bunga antik di meja koridor saat pria itu mabuk tempo hari.

Dengan tangan gemetar, ia merogoh vas itu. Logam dingin menyentuh jarinya. Klik.

Pintu terbuka dengan desisan halus. Begitu ia melangkah masuk, suhu ruangan itu terasa turun beberapa derajat. Udara di dalamnya berbau seperti perpaduan antara kertas tua, tembakau mahal, dan aroma melati yang sangat pekat. Aroma yang selama ini Galen paksakan padanya.

Ruangan itu luas, namun terasa sesak karena beban emosional yang ada di dalamnya. Tidak banyak dokumen bisnis yang terlihat. Alih-alih peta rute logistik atau grafik saham, dinding-dinding ruangan itu ditutupi oleh tirai beludru hitam yang besar.

Shabiya melangkah menuju salah satu tirai dan menariknya.

"Ya Tuhan..." bisikan itu lolos dari bibirnya, sementara tangannya menutup mulut karena terkejut.

Di balik tirai itu bukan sekadar foto, melainkan sebuah galeri dedikasi yang mengerikan. Ada puluhan foto berukuran besar yang dibingkai dengan emas. Semuanya menampilkan sosok wanita yang sama, dan dugaan Shabiya dia adalah wanita itu. Thana Malaika.

Shabiya berjalan perlahan, menyusuri galeri itu seolah sedang berjalan di dalam mimpi buruk. Di foto pertama, Thana sedang tertawa di sebuah taman. Di foto kedua, Thana mengenakan gaun merah darah yang sama dengan yang dipakai Shabiya tempo hari. Di foto ketiga, Thana sedang melukis.

Kemiripan mereka bukan lagi sekadar kebetulan, itu terlihat seperti kembaran yang identik. Bentuk rahang, garis mata, bahkan cara Thana memiringkan kepala. Namun, ada perbedaan mendasar. Di foto-foto itu, Thana tampak memiliki percikan api di matanya—sebuah keberanian yang liar. Sementara Shabiya, saat ia melihat pantulannya di kaca bingkai foto itu, ia hanya melihat wanita yang telah dipadamkan cahayanya.

Shabiya menemukan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Di atasnya terdapat sebuah kotak kaca yang berisi barang-barang pribadi. Seuntai kalung mutiara yang putus, sebuah kuas lukis yang sudah kering, dan selembar surat yang sudah menguning.

Ia membuka laci meja tersebut dan menemukan sebuah album kulit berwarna cokelat. Di dalamnya terdapat catatan medis, potongan koran tentang kecelakaan kebakaran lima tahun lalu, dan yang paling mengejutkan adalah sketsa-sketsa wajah.

Sketsa itu dibuat oleh tangan Galen. Ada sketsa wajah Thana, dan di sampingnya, ada sketsa wajah Shabiya. Galen telah membuat perbandingan fitur demi fitur. Ada catatan di bawah sketsa Shabiya dengan tulisan tangan Galen yang tajam. "Hidungnya identik. Mata perlu sedikit penekanan riasan di sudut luar. Rambut harus lebih panjang 5 cm agar jatuh dengan cara yang sama."

Shabiya merasakan mual yang luar biasa. Ia ternyata bukan hanya pengganti, ia adalah proyek renovasi. Galen tidak mencintainya. Galen sedang melakukan eksperimen untuk menghidupkan kembali mayat melalui dirinya. Setiap pujian, setiap ciuman, setiap kado yang ia terima selama minggu-minggu "bahagia" kemarin, semuanya adalah upah karena ia berhasil bertransformasi menjadi Thana dengan baik.

Di bagian paling bawah laci, Shabiya menemukan sebuah buku harian kecil milik Thana. Ia membukanya secara acak dan membaca sebuah entri terakhir.

_"Galen semakin posesif. Dia tidak mencintaiku, dia mencintai kontrol yang dia miliki atasku. Aku takut. Jika aku mencoba pergi, dia bilang dia akan membakar dunia agar aku tidak punya tempat kembali. Kadang aku berpikir, kematian adalah satu-satunya cara untuk bebas darinya."_

Shabiya terduduk di lantai, memeluk buku itu. Air matanya jatuh membasahi lantai kayu. Ternyata Thana pun tidak bahagia. Thana tidak mencintai Galen seperti yang selama ini Galen ceritakan. Galen telah mengedit memori tentang Thana menjadi sosok wanita yang memujanya, padahal kenyataannya adalah tragedi pengejaran yang obsesif.

"Jadi, kau sudah menemukannya."

Suara itu datang dari arah pintu. Shabiya tersentak hebat hingga album di tangannya jatuh.

Galen berdiri di sana. Ia tidak lagi di pelabuhan. Ia berdiri dalam kegelapan ambang pintu, matanya yang sedingin es menatap Shabiya dengan intensitas yang melampaui amarah. Tatapan seorang pria yang rahasia sucinya baru saja dinodai.

"Galen... aku..." Shabiya mencoba berdiri, namun kakinya terasa lemas.

Galen melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan dentuman pelan namun final. Ia berjalan mendekati Shabiya, setiap langkahnya terasa seperti detak jam menuju eksekusi. Pria itu berlutut di depan Shabiya, meraih dagunya, dan memaksanya menatap galeri foto Thana di dinding.

"Lihat dia, Shabiya," bisik Galen, suaranya mengandung kegilaan yang tenang. "Lihat betapa indahnya dia. Dan lihat betapa beruntungnya kau bisa memiliki wajah yang sama dengannya."

"Kau gila, Galen! Dia takut padamu! Aku membaca catatannya!" Shabiya berteriak, mencoba melepaskan diri.

Cengkeraman Galen di dagu Shabiya mengencang. "Dia tidak tahu apa yang baik untuknya. Tapi kau... kau punya kesempatan untuk memperbaikinya. Kau akan menjadi Thana yang tidak akan pernah meninggalkanku. Kau akan menjadi Thana yang mencintaiku tanpa syarat."

"Aku bukan Thana! Namaku Shabiya Sena Cantara!"

Galen menampar meja di samping mereka hingga barang-barang di atasnya berhamburan. "Shabiya sudah mati! Aku membelinya dari ayahnya yang pecundang! Kau ada di rumah ini karena wajah itu, bukan karena jiwamu!"

Galen menarik Shabiya berdiri dan menyeretnya menuju cermin besar yang ada di ruangan itu. Ia menekan wajah Shabiya ke arah cermin. "Lihat! Siapa yang kau lihat di sana? Itu Thana! Dan mulai hari ini, kau tidak akan pernah keluar dari ruangan ini sampai kau lupa bagaimana cara menjadi Shabiya."

Shabiya meraung kesakitan dan ketakutan, namun ia juga menyadari satu hal, di dalam ruang terlarang ini, ia tidak hanya menemukan rahasia Galen, ia menemukan kuburan bagi identitasnya sendiri. Sang pemilik kegelapan tidak lagi berpura-pura. Topeng cinta itu telah hancur, menyisakan monster obsesif yang siap melakukan apa saja agar mangsanya tidak hilang untuk kedua kalinya.

Malam itu, Shabiya dikunci di dalam kamar kerja yang penuh dengan foto wanita mati. Ia dikelilingi oleh masa lalu yang mencekik, menyadari bahwa pelariannya baru saja menjadi mustahil. Mungkin, sangkar emasnya kini telah berubah menjadi peti mati yang indah.

1
Kustri
qu koq benci yo ama galen, obsesi sm egois selangit
👊nggo galen🤭
Kustri
penasaran gmn cara sabyan melawan galen💪
Kustri
punya penyakit apa itu si galen, aneh☹️😤
Kustri
eh, apa ada di dunia nyata ya sifat egois ky galen
Kustri
nama'a susah diingat, ingat nama panggilan aja
baru mulai... ky'a seru
Silfanti Ike puspita
:
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!