Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.
Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.
"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."
Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.
Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Surat dari Pelatih dan Bayang-Bayang Kekuasaa
Wisma Adiwinata, Solo — Pagi Hari Berikutnya
Livia berdiri di tengah ruangan berlantai marmer dingin, mengenakan kebaya sederhana berwarna krem yang dipilihkan Mama Ratna pagi ini.
Rambutnya disanggul rapi, tapi matanya—mata seorang atlet yang terbiasa menghadapi match point—tidak menunjukkan ketakutan. Hanya kewaspadaan.
Di depannya, Mama Ratna duduk tegak di kursi kayu jati berukir naga, tangan terlipat di pangkuan. Di samping beliau, seorang pria berusia lima puluhan dengan jaket timnas PBSI yang sudah lusuh karena sering dipakai: Coach Hendra, pelatih kepala tim nasional putri. Wajahnya serius, map cokelat tebal di tangan.
Rangga berdiri di belakang Livia, tangannya diam-diam menyentuh punggung istrinya—sentuhan kecil, tapi cukup untuk mengingatkan: aku di sini.
“Selamat pagi, Livia... atau lebih tepat, Livia Adiwinata,” sapa Coach Hendra dengan suara dalam yang sudah terbiasa memarahi atlet di Pelatnas Cipayung. “Saya minta maaf datang mendadak. Tapi ini urusan resmi.”
Ia membuka map itu, mengeluarkan satu lembar surat berlogo PBSI dan cap basah Kemenpora. Livia langsung tahu ini bukan undangan biasa.
“Surat rekomendasi pencoretan sementara dari pelatnas,” lanjut Coach Hendra tanpa basa-basi. “Efektif mulai hari ini sampai evaluasi ulang enam bulan lagi. Alasan resminya: absen tanpa alasan resmi selama lebih dari satu bulan, ditambah kegaduhan citra yang memengaruhi sponsor dan ranking tim nasional.”
Livia merasakan darahnya seperti membeku. Enam bulan? Itu berarti absen dari SEA Games, mungkin Asian Games kecil, dan ranking BWF-nya bisa anjlok drastis. Juara dunia yang baru saja naik podium bisa lenyap dari radar internasional dalam hitungan bulan.
“Coach,” suara Livia tenang, tapi ada getar di ujungnya. “Absen saya karena... situasi pribadi yang sudah diketahui PBSI. Skandal Mateo sudah dibersihkan. Saya siap latihan kembali hari ini juga.”
Coach Hendra menghela napas panjang, melirik Mama Ratna sekilas. “Situasi pribadi itu memang sudah dibersihkan di media, Liv. Tapi di level atas... ada tekanan lain. Sponsor besar mulai ragu. Mereka bilang, atlet putri yang baru menikah dan ‘kabur honeymoon’ tanpa izin, apalagi dengan latar belakang keluarga yang... kompleks, sulit jadi role model.”
Livia menahan napas. Kompleks? Maksudnya Chindo? Atau pernikahan mendadak dengan keluarga Adiwinata?
Mama Ratna akhirnya angkat bicara, suaranya halus tapi berat seperti gamelan yang dipukul pelan. “Coach Hendra datang atas permintaan saya, Nduk. Keluarga Adiwinata punya tanggung jawab besar terhadap nama baik negara. Kami tidak ingin citra olahraga nasional tercoreng karena drama pribadi yang belum selesai.”
Livia menoleh tajam ke Mama Ratna. “Ibu yang minta surat ini?”
Mama Ratna tidak berkedip. “Saya yang menyarankan evaluasi ulang. Bukan pencoretan permanen—hanya sementara. Supaya kamu punya waktu fokus di sini. Belajar jadi menantu yang baik. SEA Games masih dua tahun lagi. Kamu masih muda.”
Rangga akhirnya buka suara, nada dingin yang jarang dia pakai ke ibunya. “Ibu, ini berlebihan. Livia adalah aset negara. Rankingnya baru saja naik ke top 5 dunia. PBSI tidak akan—”
“PBSI akan mendengar saran dari keluarga yang punya pengaruh,” potong Mama Ratna tenang. “Keluarga Adiwinata bukan sembarang keluarga, Rangga. Kamu tahu itu.”
Coach Hendra mengangguk pelan, seperti orang yang terpaksa jadi kurir berita buruk. “Maaf, Liv. Ini bukan keputusan saya pribadi. Atasannya langsung yang tanda tangan. Kalau kamu mau banding, harus lewat jalur resmi—tapi itu butuh waktu.”
Livia merasakan dunia seperti berputar pelan. Kariernya—yang dia bangun sejak umur delapan tahun, keringat di Pelatnas, medali demi medali—tergantung di ujung surat itu.
“Izinkan saya tanya satu hal,” kata Livia akhirnya, suaranya kembali terkendali. “Kenapa keluarga Adiwinata punya pengaruh sebesar ini sampai bisa ‘menyarankan’ pencoretan atlet nasional?”
Mama Ratna menatap Livia lama, seperti sedang menimbang apakah menantu ini sudah layak tahu.
“Keluarga Adiwinata bukan hanya konglomerat biasa, Nduk,” jawab beliau akhirnya. “Kakek buyut Rangga adalah salah satu pendiri partai besar pasca-kemerdekaan. Kita banyak membantu…negara ini”
Coach Hendra mengiyakan pelan, seperti ini bukan rahasia lagi di kalangan atas.
“Pengaruh kami tidak kami gunakan sembarangan,” lanjut Mama Ratna. “Tapi ketika nama keluarga tercoreng—skandal Mateo, kabur honeymoon tanpa pamit, gossip bahwa menantu kami ‘tidak tahu adat’—kami harus bertindak. Citra keluarga Adiwinata adalah citra negara juga. Kalau satu atlet bermasalah, sponsor cabut, anggaran olahraga dipotong, program pembinaan terancam. Kami tidak bisa biarkan itu.”
Livia tertawa kecil—tawa pahit yang membuat Rangga langsung meremas bahunya lebih erat.
“Jadi saya dikorbankan demi citra politik keluarga?” tanya Livia langsung.
“Bukan dikorbankan,” jawab Mama Ratna dingin. “Diberi waktu untuk membuktikan prioritas. Kalau kamu serius jadi bagian keluarga ini, kamu akan kembali ke pelatnas dengan lebih kuat—dengan dukungan penuh dari kami. Kalau tidak... mungkin memang waktunya kamu pensiun dini dan fokus keluarga.”
Coach Hendra bangkit, menyerahkan salinan surat ke tangan Livia. “Saya harap kamu paham, Liv. Ini bukan akhir. Tapi... kamu harus pilih sekarang.”
Ia pamit dengan hormat ke Mama Ratna, lalu pergi—meninggalkan ruangan yang kini terasa lebih dingin dari AC maksimal.
Begitu pintu tertutup, Livia menatap surat itu lama. Enam bulan. Ranking turun. Sponsor hilang. Mungkin tidak pernah kembali ke level sebelumnya.
Rangga memeluk Livia dari belakang, dagunya bertumpu di pundak istrinya. “Liv... aku tidak tahu Ibu akan sejauh ini.”
Livia tidak menjawab langsung. Ia hanya memegang tangan Rangga yang melingkar di pinggangnya—erat, seperti takut suaminya lenyap.
“Ibu kamu bilang saya harus pilih,” bisik Livia akhirnya. “Antara raket atau nama Adiwinata.”
Rangga menolehkan wajah Livia ke arahnya, matanya penuh tekad. “Kamu tidak harus pilih. Aku akan lawan Ibu kalau perlu. Kariermu adalah bagian dari kamu—dan aku jatuh cinta sama kamu yang utuh.”
Tapi di luar pendopo, di koridor panjang berfoto leluhur, Mama Ratna berdiri sendirian. Ia memandang foto kakek buyut Rangga—pria berblangkon yang pernah duduk di samping presiden pertama.
“Kamu harus mengerti, Nduk,” gumam Mama Ratna pelan pada dirinya sendiri. “Ini bukan soal masak atau adat. Ini soal kekuasaan. Dan kekuasaan tidak pernah memberi tanpa mengambil.”
***
Malam itu, Livia tidak tidur. Ia duduk di balkon kamar pengantin, memandang taman melati yang harum. Rangga duduk di sampingnya, diam—memberi ruang.
“Besok aku akan ke Jakarta,” kata Livia akhirnya. “Aku akan temui PBSI sendiri. Kalau harus banding, aku akan banding.”
Livia mengernyitkan dahi. “Kenapa? Kamu bilang akan bantu saya lawan Ibu?”
Rangga menghela napas panjang, lalu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah berita yang baru saja tayang satu menit yang lalu. “Bukan cuma soal PBSI, Liv. Malam ini, paspor kamu dan semua akses perjalanan kita... sudah dibekukan oleh sistem. Ibu serius soal 'menahan' kamu di sini selama tiga puluh hari.”