NovelToon NovelToon
Pernikahan Dini

Pernikahan Dini

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Teman lama bertemu kembali / Romansa / Cintapertama
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: hanisanisa_

Melia-Dimas yang bermula dari Hubungan Tanpa Status berakhir di jenjang pernikahan yang masih terlalu muda.

Takdir seolah tak membiarkan keduanya asing, setelah berpisah karena orang tua yang harus berpindah negara, mereka kembali di pertemukan dengan satu sama lain dengan perasaan yang masih sama tanpa berkurang sedikitpun.

Bagaimana kelanjutannya? Simak selengkapnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hanisanisa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Brak

"Kenapa kalian semua ngerahasiain hal sepenting ini sama Lia? Aku loh yang berperan penting disini, kalian juga butuh pendapat Lia dalam hal ini, kenapa main seenaknya setuju?" Melia langsung mencecar kedua orang tua nya saat sudah berada di dalam kamar yang berisikan orang tua nya.

Gina dan Josep menoleh dan melirik ke arah Dimas yang berdiri mematung di ambang pintu.

"Lia.. Nak.. Dengarin penjelasan Papa sama Mama dulu sini" ucap Gina dengan lemah lembut mencoba menuntun Melia untuk mendekat.

Josep menatap Dimas memberi isyarat untuk memberikan waktu bagi keluarga nya menjelaskan pada Melia.

Dimas mengerti dan memilih untuk meninggalkan kamar itu, dan berpindah ke kamar sebelah tempat kedua orang tua nya berada.

"Kenapa Lia baru tau sekarang.. Setelah beberapa jam sebelum acara dimulai" isak tangis Melia mulai terdengar.

"Lia.. Kamu dengarin baik-baik penjelasan Mama--Papa kamu kali ini, lalu cerna setiap kata-kata nya, bisa?" tanya Gina di angguki ragu oleh Melia.

"Kamu sama Dimas pernah berjanji? Sebelum kalian berpisah selama 4 tahun ini?" tanya Gina di angguki Melia lagi.

"Apa isi janji nya?" sahut Josep membuat Melia mencoba mengingat.

"Kak Dim--janji kembali ke Indonesia dan--menikahi Lia?" Melia selalu mengingat janji itu, tapi ia takut salah prasangka.

"Betul! Dan sekarang Dimas sedang mewujudkan janji itu, janji kalian berdua" sahut Josep membuat Melia mengerjap pelan.

"Tapi.."

"Terlalu muda? Iya, Mama tau. Kami sudah sempat menahan hal itu, tapi Dimas yang pengen cepat-cepat nikahi kamu, karna dia tau lambat laun akan kamu akan di pinang oleh nya" Gina langsung menjelaskan alasan nya.

Melia diam mencoba mencerna. "Di tambah lagi kamu satu bulan lagi harus ke Belanda buat ngelanjutin kuliah mu.. Mama Papa nggak bisa jagain kamu disana, maka dari itu lebih baik kami titipkan kamu ke Dimas" sahut Josep mendapat lirikan dari Melia yang nampak bimbang.

"Ngerti sekarang?" Melia menggeleng lirih tapi kemudian mengangguk pelan dengan jelas.

Gina tersenyum lega. "Mama tau kamu sebenarnya senang sama pernikahan ini, tapi memang ini masih terlalu muda untuk seusia mu"

Melia mengangguk, lidah nya sudah kelu tak bisa berucap apapun.

"Sekarang kita ke kamar sebelah yuk, kamu perlu di make up in" ajak Gina tapi Melia tetap tidak bergerak.

"Kenapa Li? Kamu nggak mau di make up in? Malu Li, banyak liat" Melia menggeleng lalu menatap Gina yang sudah berdiri sembari menarik tangan nya.

"Lia belum mandi Ma dari kemarin" jawab Melia membuat Gina menepis tangan itu.

"Pantes ada bau ketiak" cibir Josep mendapat lirikan tajam dari Melia. Josep hanya mencoba mencairkan suasana.

...****************...

Pernikahan berlangsung lancar tanpa hambatan, tak banyak tamu yang datang, tapi yang pasti mereka yang hadir di acara pernikahan itu sudah di beri tip untuk tutup mulut.

-

"Kakak kenapa nggak bilang soal ini dari awal? Kenapa harus kucing-kucingan selama ini?" oceh Melia saat sudah berada di dalam kamar bersama Dimas, hanya berdua.

Dimas melepas kemeja nya lalu menoleh ke belakang, dimana gadis yang ia cintai kini sepenuhnya menjadi milik nya.

"Kamu nya aja yang nggak peka" sahut Dimas dengan santai, lalu duduk di pinggir kasur empuk yang di taburi kelopak bunga mawar dan di hias berbentuk hati.

Melia mencebik kesal. "Tau gitu aku milih tema weeding yang meriah" sungut Melia, ia sebenarnya tak terlalu menyesal karena tema rustic sudah termasuk impian nya.

Tetapi tetap saja, rasanya ada yang mengganjal di hati nya setelah tau pernikahan itu untuk nya.

Melia lalu melirik ke arah cincin yang terpasang di jari manis nya, dengan bertuliskan nama Dimas yang di pahat.

"Kalau tau cincin ini buat ku, ku pilih yang paling mahal dan mewah" gumam Melia terus mendumel.

Dimas terkekeh lalu berjalan menuju koper nya yang berisi satu set pakaian untuk nya dan untuk Melia, di tambah satu kotak beludru yang isi nya masih belum di ketahui Melia.

"Kakak tau kamu pilih cincin itu karena ngira Kakak nikah nya sama orang lain, tapi.. Kakak udah siapin hal itu untuk jaga-jaga, dan benar aja" ujar Dimas segera membuka kotak itu dan memperlihatkan nya pada Melia.

Melia termenung menatap cincin yang begitu indah dan mencerminkan diri nya yang memang begitu terang.

"Kemahalan nggak sih Kak? Pakai yang ini aja dulu deh, sayang kalau di pakai" lirih Melia menolak memakai cincin yang ada di kotak karena merasa berharga.

Dimas terkekeh lagi lalu mengangguk. ia pun mengembalikan kotak cincin itu ke dalam koper.

"So? Kamu nggak mau lepas-"

Melia dengan sigap menutup bagian dada nya dengan tangan menyilang dan mundur beberapa langkah menjauh dari Dimas.

Dimas mengernyit. "Pikiran nya jangan macam-macam" tegur Dimas sembari mencubit pipi Melia.

Melia nampak memanyunkan bibir nya lalu mencoba menepis kasar tangan Dimas yang berada di pipi nya.

"Sakit!" ketus nya, padahal nyata nya cubitan Dimas tak berasa, hanya saja ia sudah malu dan ingin bersembunyi.

"Ya ampun sampai merah ternyata, sini ku cium biar nggak sakit lagi" goda Dimas hendak mendekatkan wajah nya pada pipi Melia.

Melia langsung kabur dan masuk ke dalam kamar mandi tak lupa ia membawa handuk dan mengunci diri di dalam.

Dimas menggeleng pelan di sertai kekehan gemas. Niat nya menggoda Melia selalu berhasil, seperti nya gombalan Dimas yang nampak datar itu tetap mampu meluluhkan hati Melia.

Tak lama Melia keluar dengan handuk yang melilit tubuh nya yang masih lumayan basah.

Dimas yang sedang memeriksa pekerjaan nya pun terhenti saat tak sengaja menghirup aroma sabun yang menarik perhatian nya.

"Mama ada nitipin baju nggak Kak?" tanya Melia dengan nada resah, ia tak mengetahui jika koper di samping Dimas itu ada satu piyama beserta dalaman nya.

Dimas mengangguk dengan mata yang tak berkedip, lalu menunjuk ke arah koper yang ada di samping kaki nya.

"Ambilin dong Kak" pinta Melia, ia tak ingin bergerak maju karena takut kaki nya yang masih basah akan membuat lantai licin.

"Ambil sendiri Sayang" balas Dimas lalu mencoba untuk kembali melakukan mengecek pekerjaan nya, berharap Melia menghampiri nya.

Melia berdecak lalu berkacak pinggang dengan sebal menatap Dimas. "Kata nya sayang, ambilin baju aja nggak mau" cibir Melia lalu mulai melangkah pelan.

Sampai akhirnya ia melewati Dimas yang tetap duduk di kursi dengan ujung mata yang terus mengikuti pergerakan Melia.

Saat Melia berjongkok dan membuka koper itu, Dimas tak sengaja melihat belahan da da milik Melia yang nampak berisi dan kencang.

"Besar juga" cetus Dimas tanpa sadar mengucapkan secara gamblang.

Melia mendongak lalu mengikuti arah pandangan Dimas yang benar-benar tertuju pada tubuh atas nya.

"Kak Dimas me sum!"

1
ハニサ
yg smpt bca komen aku, baca ya🙏

buat yg vote, like, komen, dan meraih peringkat 1 akan aku kasih hadiah kecil-kecilan buat nambah semangat kalian supaya rajin ngegift hehe🤭
ハニサ: klau bsa rebut peringkat ku jg sih🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!