Mengkisahkan seorang wanita yang bernama Aulia Az-Zahra yang hidup dalam dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan tipu daya orang-orang terdekatnya, dari suami yang berkhianat hingga keluarga yang ikut campur, ia belajar bahwa kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa diberikan begitu saja.
Dengan keberanian dan prinsip, Zahra memutuskan untuk membalas dengan bismillah, bukan dengan dendam, tapi dengan strategi, keteguhan, dan kejujuran...
Akan kah Zahra bisa membalaskan sakit hati nya? dan apakah Zahra juga bisa menemukan kebahagiaannya setelah ini?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar juga ya besty!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Zahra Mulai Bangkit Untuk Menata Kembali Hidupnya
Sekarang hari-hari Zahra mulai berjalan dengan ritme yang berbeda..
Tidak ada lagi suara langkah berat Bu Ratna di lorong rumah, tidak ada bentakan bernada perintah yang menyamar sebagai nasihat, tidak ada tatapan tajam Dini yang selalu membuat dadanya sesak...
Tidak ada lagi kebiasaan menunggu Genta pulang dengan rasa cemas, mencari-cari alasan atas keterlambatan yang selalu dibungkus kebohongan kecil.. yang ada kini hanyalah keheningan.
Awalnya, keheningan itu terasa asing, bahkan menakutkan..
Namun perlahan, aku belajar mengisinya, dengan kegiatan sehari-hari dirumah ibu..!
Menyeduh teh untuk ibu dan bapak ku setiap pagi, membantu membersihkan halaman, membaca kembali buku-buku lama yang dulu aku simpan rapat karena dianggap tidak penting bagi istri, dan yang paling membuat jiwa ku bergetar membuka kembali catatan keuangan dan laporan-laporan lama yang pernah aku susun dengan penuh kebanggaan.
Keahlian yang dulu aku tinggalkan demi menjadi istri yang ideal
Pagi ini, saat matahari baru naik dan udara masih sejuk, ponsel ku bergetar di samping cangkir teh ku
Nama Wulan muncul di layar!
"Zahra aku punya kabar baik untuk mu” suara Sari terdengar cerah, penuh semangat yang menular..
“Perusahaan ku lagi butuh konsultan keuangan lepas, aku langsung kepikiran kamu.” ucap nya lagi
Aku terdiam sejenak, tangan ku yang memegang ponsel sedikit mengencang..
Ada sesuatu yang bergetar di dada ku, bukan ragu, bukan takut melainkan perasaan lama yang hampir ia lupakan..
Perasaan dibutuhkan karena kemampuan.
“Perusahaan kami lagi berkembang, butuh orang yang bukan cuma pintar angka, tapi juga jujur dan aku percaya kamu Ra" lanjut Wulan
Aku menghela napas pelan, menahan emosi yang mendesak naik, sudah lama sekali aku tidak mendengar kalimat itu, aku percaya kamu
“Aku mau Lan dan aku siap" jawab ku akhirnya, suara ku mantap.
Setelah panggilan berakhir, aku menatap cermin kecil di meja rias ku!
Wajah ku terlihat lebih kurus, mata ku masih menyimpan lelah tapi ada cahaya lain di sana
Cahaya seseorang yang mulai menemukan kembali dirinya sendiri..!
Untuk pertama kalinya sejak menikah, ia merasa dihargai bukan sebagai istri Genta dan bukan pula sebagai menantu Bu Ratna melainkan sebagai Aulia Az-Zahra
***
Di sisi lain kota, di sebuah gedung perkantoran yang megah namun terasa dingin, Genta duduk terpaku di ruang kerjanya.
Meja besar di hadapannya dipenuhi laporan keuangan, angka-angka merah mendominasi. Grafik yang biasanya menanjak kini turun tajam, seolah mencerminkan hidupnya sendiri.
Pak Damar, rekan bisnis sekaligus investor utamanya, duduk berhadapan dengan wajah serius.
"Genta, kepercayaan itu mahal dan sekali rusak susah untuk diperbaiki,” katanya pelan tapi tegas..!!
Genta mengusap wajahnya.
“Aku tahu.”
"Aku dengar kabar soal kamu dan karyawan mu, Skandal seperti itu bukan cuma urusan rumah tangga, itu mencoreng nama perusahaan.” lanjut pak Damar
“Itu masalah pribadi,” Genta mencoba bertahan.
Pak Damar menggeleng..
“Tidak, kalau menyangkut uang dan reputasi, aku sedang mempertimbangkan menarik investasi ku.”
Kalimat itu seperti palu, dan Genta langsung terdiam, inilah akibat yang tak pernah ia perhitungkan...
Selama ini ia merasa aman, berpikir bahwa segalanya bisa ditutup, dikendalikan, diselesaikan dengan pengaruh dan uang.
Ternyata tidak semudah itu
Begitu Pak Damar pergi, Genta terduduk lemas, untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar sendirian di ruangan besar itu.
Sore hari, pintu ruang kerjanya terbuka tanpa ketukan, Bu Ratna masuk dengan wajah merah padam..
"Ini semua gara-gara Zahra! Perempuan itu menghancurkan kamu!” bentaknya tanpa basa-basi
Genta berdiri refleks..
“Mak, jangan....”
“Kalau saja kamu tegas dari awal, kalau kamu tidak membiarkannya mempermalukan keluarga kita, semua ini tidak akan pernah terjadi Genta” lanjut Bu Ratna
Genta menatap ibunya dengan mata lelah. “Mak… cukup. Ini salahku.”
Bu Ratna terdiam seketika.
“Kamu… membelanya?” tanyanya tak percaya.
“Aku tidak membela siapa pun Mak, aku menanggung akibat dari perbuatanku sendiri.” jawab Genta lirih
Bu Ratna mengepalkan tangan..
“Kalau begitu, biar Mak yang membereskan.”
Nada suaranya dingin bahkan terlalu dingin, Genta menatap ibunya dengan perasaan tidak enak yang mengendap di dadanya..
“Mak mau apa?” tanya Genta penuh selidik
Bu Ratna tidak menjawab, ia hanya tersenyum tipis, senyum yang tidak pernah membawa kebaikan, Genta tahu akan ada badai lain yang akan ibu nya ciptakan
Malam ini di rumah orang tuanya, Zahra duduk di meja kecil di kamarnya, laptop terbuka, layar dipenuhi angka dan tabel, jemarinya bergerak lincah, pikirannya fokus.
Ia sedang menyusun laporan keuangan pertamanya untuk klien baru.
Ada kepuasan kecil setiap kali ia menemukan ketidak sesuaian, memperbaiki arus kas, menyederhanakan laporan yang selama ini rumit, dunia ini adalah dunia angka selalu memberinya rasa kendali yang jujur.
Ibunya mengetuk pintu pelan..!
“Kamu kelihatan sibuk,” katanya sambil masuk.
“Aku bekerja, Bu.” ucap Zahra sambil tersenyum
Ibunya menatap layar laptop, lalu melihat wajah putrinya, disana ia melihat ada kebanggaan yang tak ia sembunyikan..!
“Teruskan nak, jangan lagi mengecilkan dirimu demi siapa pun, ibu dan bapak akan selalu mendukung mu"
Aku mengangguk, kata-kata itu menguatkan ku lebih dari yang ibu ku tahu.
Keesokan harinya, Zahra datang ke kantor kecil Wulan, tempatnya sederhana, tapi hangat...
Ia dikenalkan pada beberapa klien lain, cara bicara Zahra tenang, terstruktur, ia tidak tergesa-gesa, tidak berlebihan dan oang-orang mendengarkan..
"Zahra ini punya pengalaman yang sangat bagus, dan dia sangat teliti.” ucap Wulan dengan bangga
Zahra menunduk sopan...
"Terima kasih atas kepercayaannya, saya akan bekerja sebaik mungkin.”
Semua yang berada disana merasa tertegun dan bangga
"Selamat bergabung Bu Zahra" ucap salah satu klien yang berada disana
"Terima kasih" ucap ku singkat
Saat istirahat tiba, Zahra membuka ponsel, sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal..
("Hati-hati dengan langkahmu, jangan lupa kamu masih istri Genta")
Zahra menatap layar lama, dadanya mengeras..
Aku tahu siapa pengirimnya, Bu Ratna.
Jemarinya bergerak perlahan, membalas singkat namun tegas..
("Status tidak menghapus hak saya untuk hidup bermartabat") balas Zahra
Aku mematikan ponsel, menolak membiarkan ketakutan lama merayap kembali, kali ini, ia tidak akan mundur..
Sore harinya Genta datang ke rumah orang tua Zahra, kali ini sendirian, tidak ada Bu Ratna dan tidak ada tekanan tambahan.
Wajahnya lelah dan matanya redup.
“Zahra aku kehilangan investor,” katanya jujur.
Aku menatap Mas Genta dengan empati yang tenang..
“Aku ikut prihatin.”
“Aku butuh kamu, bukan hanya sebagai istri, tapi sebagai partner.” lanjut Mas Genta suaranya pecah
Kata itu, partner datang terlambat namun tidak sepenuhnya sia-sia..
“Aku bisa membantu secara profesional, tapi dengan syarat" kata Alya akhirnya.
Mas Genta mengangguk cepat..
“Apa saja.?”
"Aku tidak mau kembali ke rumah itu, aku tidak tunduk pada tekanan ibumu dan semua keputusan harus jujur.” tegas ku
Mas Genta terdiam sesaat, lalu mengangguk.
“Aku setuju.”
“Dan satu lagi Mas, jangan pernah lagi membuat perempuan lain merasa aman di tempat yang seharusnya milikku.” lanjut ku menatap Mas Genta dengan tatapan yang sangat dalam
Mas Genta menunduk.
“Aku janji.”
Aku tidak menjawab, aku tahu, janji tidak lagi cukup, tapi kali ini, aku tidak akan percaya lagi pada kata-kata..
Malam nya Zahra kembali bersujud.
“Bismillah, jika ini awal hidup baruku, tuntun aku agar tidak kembali pada luka yang sama.” ucap nya mantap
Di kejauhan, Bu Ratna menatap layar ponselnya dengan senyum tipis, ia belum menyerah.
Dan Zahra belum tahu bahwa kebangkitan selalu diuji oleh cobaan..!!