Novel ini berdasarkan kisah nyata.
Nama tokoh, nama tempat, atau nama daerah sudah diganti demi menjaga kerahasiaan identitas asli.
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, laku tirakat tertentu, profesi tertentu, atau latar daerah tertentu dengan para pembaca semua, mohon dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEBUAH PESAN DAN PERINTAH TIRAKAT
Ketika aku dan almarhum kakek sedang berdiri, langsung ditunjuk ke sebuah arah. Di mana almarhum kakek sambil memperlihatkan segerombolan makhluk dari bangsa lelembut (bangsa makhluk halus) yang mungkin jumlahnya puluhan. Mereka semua menghadap ke arah kami.
Almarhum kakek berpesan kepadaku dalam mimpi itu, "Nduk, koe mesti asah mata batinmu. Mesti eling lan waspodo. Mesti terusno tirakate mbokmu. Ojo disia-siake getih wangimu yo Nduk..." ("Cucuku, kamu harus melatih ketajaman mata batinmu. Harus selalu ingat dan waspada. Harus lanjutkan tirakat Ibumu. Jangan kamu sia-siakan istimewanya kelahiran (getih wangi)mu...")
Aku memandang wajah almarhum kakek. Seolah dia ingin menjagaku dengan pesan itu. Dan aku dalam mimpi itu hanya mengangguk tanpa sepatah katapun.
Lalu aku melihat di antara puluhan bangsa lelembut itu ada sebagian dari mereka yang bersuara menggema pelan. Namun aku tidak paham bahasa mereka saat itu. Dan almarhum kakek menjawab mereka...
"Mesti teko wektune." ("Pasti akan datang waktunya.")
Lalu almarhum kakek menatapku sambil berkata sekali lagi...
"Teruske tirakatmu." ("Lanjutkan tirakatmu.")
Lalu almarhum kakek menyentuh keningku dengan tangan kanannya, tepat di antara ke dua mataku jari jempolnya dan empat jari yang lain memegang kepalaku.
Dan tiba-tiba pandanganku perlahan menjadi gelap. Sosok almarhum kakek perlahan memudar beserta seluruh penampakan yang ada saat itu.
--------------------
"Allohu Akbar, Allohu Akbar..."
Aku terbangun saat mendengar suara adzan subuh. Perlahan kubuka kedua mataku.
Tapi, ada yang aneh dengan tubuhku. Aku berkeringat. Dan terasa lemas sekujur tubuhku. Aku hanya bisa bergerak sedikit demi sedikit. Mencoba mengangkat kepalaku dan berusaha bangun.
Aku memeriksa sekitar, aku tidur sendirian. Dan memang selalu sendirian. Dan bajuku cukup basah dengan keringat. Saat aku terduduk dari tidur, masih di atas kasurku, bapak mengetuk pintu kamarku.
"Nis... Nisa... Bangun, udah subuh. Bangun Nis..."
"Iya Pak... Udah bangun aku..." jawabku.
Aku merasakan kerinduan yang besar kepada almarhum kakek, setelah aku mimpi berjumpa dengannya. Dan aku juga semakin rindu sama almarhumah ibuku. Sejurus kemudian aku memandang foto ibu di atas meja.
Aku berpikir sebentar, apakah mimpiku tadi benar-benar nyata? Dan apakah pesan almarhum kakek itu sungguhan?
Aku kembali mengingat dengan jelas seluruh perjalanan mimpiku. Dan sebelumnya aku tak pernah mengalami mimpi yang terasa begitu nyata seperti itu.
"Nis... Buruan sholat subuh..."
Suara Bapak kembali memecah lamunanku. Dan aku pun berusaha berdiri, dan syukurnya badanku sudah tidak terasa lemas seperti tadi. Dan segera aku mengambil handuk mandi serta baju ganti.
Singkat cerita, aku sholat subuh berjama'ah dengan bapak. Tapi kali ini tak bisa kupungkiri, aku sama sekali tak bisa khusyuk. Pikiranku terus saja mengingat tentang mimpi itu. Bahkan sepertinya aku sempat beberapa kali terlupa bacaan sholatku.
Ketika selesai sholat, Bapak melihat ke arahku dan bilang, "Nis, bapak mau ke kebun sekarang, soalnya ada paket pupuk yang dikirim sama si bos. Mobilnya sampai di kebun kira-kira habis shubuh ini."
"Loh, jadi bapak gak sarapan dulu di rumah? Mau bawa bekal sarapan gak?" tanyaku.
"Bapak udah bungkus nasi sama sisa telur dadar semalam kok, tinggal dibawa aja. Tapi di rumah jadi gak ada lauk matang. Kamu masak lagi aja ya nanti buat sarapan." jelas bapak.
"Oh, ya udah Pak, hati-hati di jalan sama dikebun nanti."
Aku segera mencium tangan bapak, dan bapak juga terlihat buru-buru mengganti baju, dan segera bersiap menuju ke kebun milik bosnya.
Singkat waktu, jam sudah menunjukkan pukul 05.50 pagi. Matahari sudah mulai nampak sedikit cahaya kemerahan di ujung timur. Pemandangan yang sangat indah saat pagi hari. Udara sejuk, kicauan burung yang mulai terbang. Aroma sawah padi yang tercium dari sekitar desaku. Bahkan sampai ada aroma ternak dan juga kayu bakar dari beberapa rumah tetangga. Memulai segala aktifitas warga desaku.