"Jangan menghindar, Alana..."
dr. Raden Ganendra Adicandra adalah dokter bedah jenius yang dingin dan terhormat. Namun di balik pintu yang terkunci, ia adalah pria posesif yang menuntut kepatuhan mutlak.
Alana terjebak di antara rasa takut dan pesona berbahaya sang dokter. Bagi pewaris Adicandra itu, Alana adalah milik pribadi yang tak akan pernah ia lepaskan.
"Satu langkah lagi kau menjauh, Sayang... maka kau tak akan pernah keluar dari sini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Rahasia yang Bangkit dari Kubur
Napas Alana masih tersengal, hatinya terasa sesak. Mata bulatnya masih terpaku pada ujung jalan tempat mobil hitam itu menghilang.
Gelang giok itu... kilauannya masih teringat jelas. Itulah satu-satunya perhiasan yang sangat dicintai ibunya. Benda yang seharusnya ikut terkubur dua belas tahun lalu.
"Raden, please... katakan kalau aku tidak sedang bermimpi apalagi berhalusinasi," bisik Alana parau. Ia mendongak, menatap Raden yang berdiri di hadapannya.
Raden tidak menjawab. Ia hanya menatap Alana dengan mata tajam dan wajah mengeras. Rahangnya terkatup rapat, seolah sedang menahan badai amarah di dadanya.
Di tangan kanannya, sebuah amplop biru digenggam erat—benda yang terjatuh saat mobil misterius itu melesat pergi.
"Raden... itu ibuku! Aku yakin sekali itu Ibu! Wajahnya benar-benar mirip!" Alana mencoba berdiri meski kakinya gemetar hebat.
Tangannya terulur ingin meraih amplop itu. "Sini... berikan! Aku harus tahu siapa perempuan di dalam mobil itu!"
"Tidak Alana! Tidak di sini... bahaya!" suara Raden rendah namun penuh otoritas. Ia menarik lembut tangan Alana, menyembunyikan amplop itu di balik jas mahalnya.
"Kondisimu tidak stabil. Aku takut kamu drop setelah melihat isi amplop ini. Lebih baik kita pergi dari sini."
"Ya ampun, Alana anakku!" Suara melengking itu memecah ketegangan
Ayah Alana berlari terseok-seok dengan wig miring menutupi telinga. Daster bunga-bunganya tersingkap cukup tinggi saat ia berlari dengan sepatu hak rendah.
"Aduh, sayangnya Mama! Kenapa kamu lari cepat banget kayak dikejar mantan yang gagal move on. Jantung tua Mama hampir copot!" teriak Ayah sambil memegangi dadanya.
Begitu sampai, matanya beralih menatap Raden, lalu ke jalanan yang sudah kosong melompong seperti janji manis politisi.
"Ada apa ini? Kok mukanya tegang banget? Loh... kenapa wajahmu pucat, Nak?"
Alana menatap ayahnya dengan tatapan kosong. "Yah... tadi aku melihat Ibu."
Seketika, wajah jenaka sang ayah hilang, berganti pucat yang menyiratkan amarah.
"Alana, kamu kenapa? Ucapanmu tidak masuk akal! Ibumu sudah tenang di sana. Jangan bicara sembarangan!"
Tanpa disadari Ayah Alana, Raden menangkap gelagat aneh. Ada amarah sekaligus ketakutan yang tersirat di mata pria itu.
"Om, lebih baik kita bicarakan ini di rumah. Alana butuh penjelasan," sela Raden dingin.
Ayah Alana memalingkan wajah, menghindari tatapan tajam Raden dan mata berair Alana. Suasana parkiran yang tadinya riuh mendadak mencekam.
"Ayo, kita pulang sekarang."
Sepanjang perjalanan, keheningan menyelimuti mobil Raden. Alana hanya menatap kosong ke luar jendela dengan air mata yang terus mengalir.
Sementara di kursi belakang, ayahnya terus meremas daster, seolah tengah menyusun jawaban.
Raden sesekali melirik melalui spion. Sebagai dokter, ia tahu jantung pria di belakangnya berdetak sangat cepat. Ada rahasia besar yang hampir meledak seperti balon.
Begitu sampai di rumah sederhana Alana, sang ayah langsung turun tanpa menoleh. Ia melangkah masuk seolah ingin bersembunyi.
Begitu di dalam rumah, Alana tidak bisa lagi menahan sesak di dadanya.
"Ayah, tolong jawab jujur! Jangan ada yang disembunyikan lagi!" suara Alana memecah keheningan ruang tamu.
"Makam siapa yang selama ini aku ziarahi jika Ibu masih hidup? Apa itu hanya makam kosong?!"
Raden duduk di sebelah Alana, merangkul bahunya untuk memberi kekuatan sekaligus memberi tekanan psikologis agar pria di hadapannya bicara.
Ayah Alana menatap anaknya dengan napas memburu. "Cukup! Ayah bilang cukup, Alana! Kamu hanya anak kecil, tahu apa?!"
"Kamu tidak berhak menginterogasi Ayah!"
"Tapi ini soal Ibu, Yah! Aku berhak tahu!" balas Alana tak mau kalah.
"Ingin tahu apa kamu, hah?!" bentak Ayah Alana hingga Alana mundur ketakutan.
Ayah yang biasanya konyol berdaster kini terlihat seperti orang asing yang dipenuhi kebencian.
"Tahu kalau ibumu itu sumber masalah?! Ingin tahu kalau ibumu itu tukang selingkuh?!"
"Kamu pikir gampang membesarkanmu sendirian sambil dibayangi rasa sakit hati setiap hari?! Apa kamu mengerti rasanya, Alana?!"
Dunia Alana seolah runtuh. "Selingkuh? Tidak mungkin... Ibu orang baik!"
Raden menyempitkan mata, rahangnya mengeras. Siapa orang yang berani berselingkuh dengan ibu Alana? Dan kenapa ayahnya begitu benci fakta ini?
"Apa ini ada hubungannya dengan keluarga Adicandra, Om?" tanya Raden mengintimidasi.
Ayah Alana tertawa sumbang meratapi nasibnya. Air mata yang selama ini tertahan kini keluar penuh kemarahan.
"Cih, Adicandra? Kalian tidak lebih dari pencuri! Kalian telah mencuri kebahagiaan saya!"
"Mencuri istri saya, dan mencuri seorang ibu dari anaknya!"
"Cukup... Ayah... cukup!" tangis Alana pecah.
"Ini belum cukup!" Dengan kalap, Ayah Alana membuka laci dan melempar sebuah foto dengan kasar.
"Lihat ini! Lihat baik-baik, Dokter Raden yang terhormat! Lihat pria di foto itu! Apa Anda mengenalnya?!"
Raden memungut foto itu. Tangannya mendadak gemetar hebat saat melihat sosok pria di sana.
Seseorang yang memiliki posisi penting di keluarga Adicandra. "Tidak... tidak mungkin..." ucap Raden tak percaya.
Tiba-tiba, dari luar terdengar deru banyak mobil. Sorot lampu terang menembus jendela, menyilaukan mata mereka bertiga.
Ayah Alana langsung menegang. "Mereka datang lagi! Kali ini lebih banyak dari dulu."
"Ayah yakin, mereka tidak akan membiarkan rahasia ini keluar... apalagi sampai tercium media!"
****
Catatan Penulis:
BOOM! Rahasia besar akhirnya mulai terkuak! 😱
Siapa sangka di balik sosok Ayah yang hobi dasteran dan konyol, tersimpan luka sedalam itu? Dan siapa pria di foto itu sampai Raden pun gemetar melihatnya?
Menurut kalian, siapa yang datang dengan mobil sebanyak itu di depan rumah Alana? Apakah keluarga Adicandra beneran sejahat itu?
Yuk, bantu aku pecahkan misterinya dengan cara Klik Like, Vote, dan tulis teori kalian di kolom komentar ya! ✨🔥