NovelToon NovelToon
Dark Impulsif

Dark Impulsif

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Egi Kharisma

Cerita ini mengikuti perjalanan Misca, seorang pemimpin wilayah Utara yang enggan namun sangat efisien. Di tengah perpecahan antarwilayah yang membuat mereka rentan terhadap serangan geng eksternal bernama "The Phantom", Misca mengambil keputusan radikal: menyatukan keempat wilayah di bawah satu komando melalui duel satu lawan satu melawan tiga pemimpin wilayah lainnya. Misca percaya bahwa hanya "kekerasan terstruktur" yang dapat menghentikan kekacauan dan memberikan ketentraman sejati.

Setelah berhasil menyatukan empat wilayah di bawah sistem Kuadran Presisi (KP) yang teratur, Misca harus membayar harga mahal atas kedamaian yang ia bangun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egi Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kharisma Di Balik Dinginnya Hujan

Berbeda dengan kepercayaan diri Nanda dan kelicikan Tino, suasana di markas Barat terasa sangat menegangkan. Raka, si ketua dari Barat yang terkenal sebagai ahli strategi namun pengecut dalam hal konfrontasi fisik, sedang mondar-mandir dengan gelisah di ruang kerjanya. Ia menggaruk kepalanya berkali-kali hingga rambutnya berantakan. Wajahnya menunjukkan tingkat kecemasan yang sangat tinggi.

Di depannya, duduk Doni, tangan kanannya yang terlihat sama khawatir namun berusaha tetap tenang. Mereka berdua berada di sebuah ruangan kecil yang dipenuhi dengan peta-peta kota, papan strategi, dan tumpukan catatan tentang pergerakan kelompok-kelompok di berbagai wilayah.

"Don, kamu lihat tidak sih?" keluh Raka dengan suara berbisik panik, tangannya menunjuk-nunjuk ke peta yang penuh dengan tanda merah. "Aku sudah kasih tahu dari awal! The Phantom itu bukan main-main!" Intel kita bilang mereka sudah masuk ke perbatasan Timur. Itu cuma soal waktu sampai mereka masuk ke Barat! Kita akan tamat!"

Doni mencoba tetap tenang meski dalam hati ia juga khawatir. "Tenang dulu, Rak. Kita sudah perkuat patroli di perbatasan. Kita fokus dulu ke duel. Kamu harus menang, Rak. Kamu kan yang paling cerdas dalam menyusun strategi di antara mereka."

"Strategi?" Raka hampir berteriak, tapi ia menahan diri dan menurunkan suaranya lagi. "Duel satu lawan satu itu bukan strategi. Itu pertarungan preman jalanan! Misca itu gila! Aku tidak mau mati konyol di tangan mereka!"

Raka memukul meja pelan dengan frustrasi, lalu kembali mondar-mandir sambil menggigit kukunya—kebiasaan buruk yang selalu muncul saat ia sangat stres.

"Aku tidak peduli siapa yang menang nanti, Don," ujar Raka akhirnya setelah beberapa saat hening. Suaranya terdengar pasrah. "Yang terpenting, pemimpin yang terpilih nanti harus punya visi untuk menghancurkan The Phantom. Misca... Misca itu memang dingin, tapi dia mungkin sangat cerdas. Dia mungkin satu-satunya yang punya peluang mengurus ancaman ini."

Doni menatap Raka dengan penuh perhatian. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini.

"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang, Rak?"

Raka berbalik menghadap Doni dengan mata yang tiba-tiba menyala dengan ide gila. "Kita bantu Misca," jawabnya tegas. "Kita bantu dia tanpa dia sadari. Kita alihkan perhatian The Phantom sedikit, atau kita sebarkan informasi penting tentang kelemahan Nanda dan Tino. Kita mungkin tidak akan menang, tapi kita akan pastikan Misca yang menang. Dia bilang mau mengakhiri kekacauan. Mungkin ini saatnya kita percaya pada ucapannya."

Raka adalah master strategi, tetapi ia terlalu pengecut untuk konfrontasi fisik. Kepanikannya terhadap The Phantom mendorongnya untuk mengambil keputusan berisiko yaitu mendukung Misca secara tidak langsung.

"Ambil semua informasi tentang pergerakan The Phantom," perintah Raka sambil menunjuk tumpukan dokumen di meja. "Kirim informasi itu ke Utara secara anonim. Mereka pasti akan menganggapnya sebagai umpan, tapi biarkan Misca yang menyaringnya. Kalau Misca cerdas, dia pasti akan menggunakannya."

Doni mengangguk perlahan, mulai memahami keseluruhan rencana. "Dan soal duel? Kamu tetap harus turun, Rak."

"Aku tahu," jawab Raka sambil menghela napas panjang. Ia merosot kembali ke kursi empuknya yang sudah usang, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Aku cuma berharap, Misca tidak cuma menang duel, tapi dia bisa benar-benar menyatukan kita semua untuk menghadapi hantu-hantu itu."

Suara Raka terdengar lelah namun penuh tekad. Doni menatap sahabatnya dengan pandangan penuh simpati. Ia tahu betapa beratnya keputusan yang baru saja diambil Raka.

"Baiklah," ujar Doni sambil mengambil tumpukan dokumen itu. "Aku akan urus ini sekarang."

Raka mengangguk, menatap keluar jendela dengan pandangan kosong, memikirkan hari-hari yang tersisa sebelum duel yang akan mengubah segalanya.

Sementara itu, di wilayah Utara, Misca tiba di sekolah dengan motor sport-nya. Dalam perjalanan, tiba-tiba hujan turun sangat lebat, membuatnya basah kuyup. Rambut hitamnya lepek, dan seragamnya menempel ketat di badannya yang atletis.

Di lorong sekolah, hampir semua mata siswi tertuju padanya. Bukannya terlihat menyedihkan karena kehujanan, Misca justru memancarkan aura dingin yang semakin intens dan misterius. Ia tetap berjalan dengan langkah tenang dan berwibawa, sisa air hujan menetes dari ujung rambutnya ke lantai.

Jeka dan Vino sudah menunggunya dengan cemas di depan loker.

"Mis! Kenapa kamu tidak pakai jas hujan?" tanya Jeka panik. Ia segera menyerahkan handuk kecil yang untungnya selalu ia bawa. "Nanti kamu sakit! Sudah mau duel begini, jangan sampai demam!"

Misca mengambil handuk itu dan mengusap wajahnya sebentar. "Tidak ada waktu, Jek. Sudah hampir bel masuk," jawab Misca, suaranya terdengar sedikit lebih serak. Ia seolah tidak peduli sedikit pun dengan kondisi fisiknya.

Vino, yang berdiri santai di sampingnya, justru tertawa kecil. "Wih, Mis. Kamu basah kuyup gini, auranya makin dapet."

"Diam, Vin," potong Misca pendek, lalu menatap Jeka dengan serius. "Ada kabar baru dari tiga wilayah?"

"Tino mulai menyebarkan rumor, bilang kalau kamu itu cuma boneka yang dipaksa memimpin karena tidak punya pilihan. Nanda makin gila latihannya. Raka... Raka bertingkah aneh. Dia mengirim info tentang The Phantom ke kita, tapi secara anonim," lapor Jeka dengan suara rendah. "Dia panik, Mis. Sepertinya dia secara tidak langsung ingin kita yang menang."

Misca mengangguk pelan, otaknya memproses informasi itu dengan cepat. "Informasi dari Barat itu valid. The Phantom bukan sekadar rumor kosong. Kita harus persiapkan diri lebih matang. Kita tidak cuma akan berduel, kita harus menjaga perbatasan wilayah kita sendiri."

Bel berbunyi nyaring, dan Misca segera bergegas masuk ke dalam kelas XI-A.

Raya sudah duduk tenang di bangku sebelah Misca, sedang membaca buku paket sambil menunggu guru masuk. Misca duduk di sampingnya dalam keadaan masih agak basah. Raya menoleh, sedikit terkejut melihat kondisi Misca yang kehujanan, tetapi ia memilih diam dan tidak berani berkomentar apa-apa.

Pelajaran Fisika dimulai dengan pembahasan gelombang elektromagnetik. Raya, yang sudah mulai terbiasa dengan sistem belajar di sini, ternyata masih sering bingung dengan beberapa turunan rumus yang rumit.

Misca, yang sesekali merapikan rambut basahnya, memperhatikan Raya dari sudut pandangnya. Ia melihat Raya menggaruk kepala, pensilnya terhenti lama di tengah buku.

Misca, tanpa menolehkan kepalanya, menggeser bukunya sedikit ke arah meja Raya. Ujung pulpennya mengetuk pelan sebuah kalimat yang baru saja ia catat: "E \= hf dan λ \= c/f."

Misca menulis catatan kecil di pinggir buku itu dengan tulisan tangan yang sangat rapi: "Hubungkan Frekuensi dan Panjang Gelombang. Energi ada di Frekuensi. Saring variabel f."

Raya membaca catatan singkat itu. Misca kembali tidak memberinya jawaban langsung, melainkan memberikan solusi paling tepat guna untuk memecahkan kerumitan rumus tersebut. Seketika, pikiran Raya seperti tercerahkan. Ia menyadari bahwa Misca selalu membantunya dengan cara yang sama: bukan karena dasar simpati emosional, melainkan karena Misca tidak tahan melihat ketidakpraktisan dalam pemikiran seseorang.

Raya tersenyum kecil, merasa terbantu. Ia berbisik sangat pelan, "Lagi-lagi soal ketepatan, ya, Mis."

Misca hanya memberikan anggukan, matanya tetap menatap tajam ke papan tulis. Ia telah melakukan tugasnya sebagai teman sebangku, dan ia tidak merasa perlu mencari pengakuan lebih dari itu.

Sore hari, Misca, Jeka, dan Vino berjalan keluar gerbang sekolah. Dhea, pacar Vino, sudah menunggu di sana. Misca berjalan sedikit di belakang, tepat di samping Raya yang sedang merapikan tasnya.

Vino menarik Jeka sedikit ke samping, sementara Misca dan Raya tertinggal beberapa langkah di belakang mereka.

"Jek, menurutmu Misca luluh tidak sih sama si Raya?" tanya Vino berbisik nakal, matanya melirik usil ke belakang. "Misca yang sedingin es itu, mau-mau saja membantu Raya di kelas. Itu bukan gaya Misca yang kita kenal."

Jeka membetulkan posisi kacamatanya sambil tersenyum tipis. "Aku tidak tahu pasti, Vin. Misca itu penuh misteri. Tapi Raya itu pintar. Mungkin Misca hanya melihat Raya sebagai 'teka-teki' yang menarik baginya."

Dhea datang dan menimpali, melihat Misca dan Raya yang kini sedang mengobrol singkat tentang tugas Fisika.

"Kalian ini ya," sela Dhea sambil tersenyum geli. "Misca itu bukan mesin tanpa perasaan. Dia cuma... penyendiri. Raya itu satu-satunya siswi yang berani menatap langsung matanya dan mengajak ngobrol secara normal. Cewek lain cuma bisa histeris dari jauh. Raya berbeda. Misca menghormati keberanian itu, makanya dia mau membantu."

Vino menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala. "Intinya, hati Misca itu masih sulit tersentuh."

Saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba terdengar suara klakson motor. Di depan mereka, datang Bima bersama dua temannya. Mereka turun dari motor, namun kali ini wajah mereka menunjukkan rasa malu dan hormat yang tulus, bukan lagi arogansi seperti kemarin.

Bima melangkah maju dengan langkah ragu-ragu. Pergelangan tangannya sudah tidak diperban, tetapi ia memegangnya seolah-olah rasa nyeri itu masih tersisa di sana.

"Vino," sapa Bima, nadanya rendah dan penuh penyesalan. "Aku minta maaf. Kami bertiga dan teman-temanku yang lain, kami benar-benar minta maaf soal penyergapan pengecut kemarin sore. Kami janji, tidak akan ada lagi urusan jalanan berdarah di lingkungan sekolah ini. Misca sudah memberikan pelajaran yang tidak akan pernah kami lupakan seumur hidup."

Vino menatap Bima dengan tatapan curiga yang tajam. Ia menyilangkan tangannya di depan dada, menunggu penjelasan lebih lanjut. "Kamu serius dengan ucapanmu?"

"Sumpah! Misca itu benar-benar menakutkan bagi kami sekarang. Kami tidak akan berani lagi berurusan dengannya," jawab Bima jujur dengan suara bergetar. Ia menarik napas dalam sebelum melanjutkan. "Kami... kami sudah mendengar kabar soal penyatuan wilayah itu. Kami ingin minta izin... kami ingin bergabung dengan Wilayah Utara. Kami lelah hidup luntang-lantung di jalanan tanpa arah. Kami ingin punya tujuan, kami ingin ikut menjaga tempat ini agar lebih tenang."

Vino memalingkan wajahnya sejenak, melirik ke arah Jeka yang mengangguk kecil. Ia tahu Bima adalah petarung yang emosional tetapi biasanya jujur dengan ucapannya. Namun, Vino tidak punya hak untuk mengambil keputusan sepenting ini.

Vino menunjuk ke arah Misca yang berdiri tenang di samping Raya. "Kamu tidak perlu minta izin dariku. Semua keputusan mutlak ada di tangannya. Kalau dia mau, kalian diterima. Kalau tidak, lebih baik kalian pergi sekarang."

Bima dan teman-temannya menoleh dengan penuh harap ke arah Misca. Misca hanya berdiri mematung, menatap mereka dengan pandangan datar yang sulit dibaca. Ini adalah momen krusial—menerima Bima berarti menambah kekuatan signifikan bagi Utara, sekaligus menunjukkan otoritas moral Misca sebagai pemimpin yang bijaksana.

Suasana hening beberapa detik. Hanya terdengar suara kendaraan yang lewat di jalan raya dan bisikan beberapa siswa yang mulai berkumpul memperhatikan situasi ini.

Misca menghela napas pendek. Ia berjalan perlahan ke arah Bima dengan langkah yang terukur. Setiap langkahnya membawa aura otoritas yang membuat Bima dan teman-temannya semakin gugup.

"Kalian benar-benar ingin bergabung?" tanya Misca, suaranya sangat pelan namun berwibawa. Matanya menatap langsung ke mata Bima, seolah mencoba membaca ketulusan di balik kata-katanya.

"Iya, Misca. Kami janji akan patuh pada aturanmu. Kami ingin membantu menjaga wilayah ini," jawab Bima dengan cepat, suaranya sedikit bergetar karena nervous.

Misca terdiam sejenak, masih menatap Bima dengan pandangan yang menyelidik. Kemudian ia berbicara dengan nada yang sangat tegas.

"Wilayah Utara tidak butuh sekadar kekuatan otot yang emosional dan liar," ujar Misca pelan tapi sangat jelas. "Kami butuh disiplin dan ketenangan."

Bima menelan ludah, menunggu keputusan akhir dengan harap-harap cemas.

"Kalian akan diterima di Wilayah Utara," Misca mengambil jeda sejenak, membuat Bima menahan napasnya. Teman-teman Bima saling berpandangan dengan penuh harap. "Tetapi kalian harus membuktikan bahwa kalian bisa mengendalikan diri sendiri. Kalian harus menjaga lorong sekolah ini tetap tenang, mulai dari besok pagi. Tanpa kekerasan. Tanpa intimidasi. Kalian sanggup?"

Bima mengangguk mantap tanpa ragu sedikit pun. Wajahnya berseri-seri mendengar keput

usan itu. "Sanggup, Misca! Kami akan buktikan itu padamu!"

Kedua teman Bima juga mengangguk kompak, mata mereka berbinar penuh semangat dan tekad. Ini adalah kesempatan kedua yang tidak pernah mereka bayangkan akan datang.

Misca mengangguk sekali, lalu berbalik membelakangi mereka. "Vino, Jeka. Urus administrasi dan penempatan mereka. Mereka mulai dari tugas pengawasan dasar."

"Siap, Mis!" sahut Vino sambil tersenyum sangat lebar. Ia menghampiri Bima dan menepuk bahunya dengan ramah. "Welcome to the team, Bim. Tapi ingat, satu kesalahan, dan kamu tahu konsekuensinya."

Bima tersenyum lebar sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Vino. "Aku nggak akan mengecewakan kalian. Janji."

Jeka yang berdiri di samping Vino menghela napas lega sambil membetulkan kacamatanya. "Baiklah, kalian bertiga ikut aku dulu. Kita perlu ngobrol soal struktur dan aturan dasar di Wilayah Utara. Kita nggak sembarangan, semua ada sistemnya."

Saat Bima dan teman-temannya mengikuti Jeka ke samping untuk pengarahan, Vino kembali menghampiri Misca yang sudah berjalan beberapa langkah ke depan bersama Raya. Dhea menggandeng lengan Vino sambil berbisik pelan.

"Misca baru saja memperkuat armada Utara tanpa perlu mengeluarkan setetes keringat pun lewat diplomasi yang dingin," bisik Dhea kagum. "Dia memang berbeda dari ketua lainnya."

Vino mengangguk sambil tersenyum tipis. "Itulah Misca. Dia nggak perlu teriak-teriak atau pamer kekuatan. Cukup dengan kata-kata yang tepat dan tatapan yang dingin, orang sudah mau ikut tanpa paksaan."

Di depan mereka, Misca berjalan dengan tenang, tidak menunjukkan ekspresi apa pun seolah apa yang baru saja terjadi adalah hal yang biasa. Raya yang berjalan di sampingnya sesekali melirik ke arah Misca dengan perasaan campur aduk—kagum, penasaran, dan sedikit khawatir.

"Mis," panggil Raya pelan, suaranya hampir tertelan oleh kebisingan jalanan. "Kamu yakin menerima mereka? Maksudku, mereka baru saja menyerang Vino kemarin."

Misca tidak langsung menjawab. Ia terus berjalan dengan pandangan lurus ke depan, seolah sedang memikirkan jawaban yang paling tepat untuk disampaikan.

"Orang bisa berubah kalau diberi kesempatan dan struktur yang tepat," jawab Misca akhirnya dengan nada datar. "Bima dan teman-temannya bukan orang jahat. Mereka cuma tersesat tanpa arah. Sekarang mereka punya arah. Mereka punya tujuan. Itu yang mereka butuhkan."

Raya terdiam sejenak, memproses kata-kata Misca. Ia mulai mengerti bahwa di balik sikap dingin dan tampilan yang menyeramkan, Misca sebenarnya punya empati yang tersembunyi—hanya saja cara ia mengekspresikannya sangat berbeda dari orang kebanyakan.

"Kamu selalu berpikir beberapa langkah ke depan, ya?" tanya Raya sambil tersenyum kecil.

"Itu cara yang terbaik," jawab Misca singkat, tapi ada sedikit nada yang lebih lembut di suaranya saat menjawab Raya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!